Home / Kabar Malut / Lingkungan Hidup

Sabtu, 15 Juli 2023 - 09:49 WIT

Ada Apa, Kemarau tapi Hujan hingga Banjir?

Banjir yang melanda Waitina Sanana Maluku Utara foto istimewa

Banjir yang melanda Waitina Sanana Maluku Utara foto istimewa

Sepekan Tiga Wilayah di Malut Dihantam Banjir

Meski saat ini masih dalam periode musim kemarau, kenyataanya hamper semua wilayah di Maluku Utara dilanda hujan lebat. Bahkan dampak hujan tersebut, dalam sepekan ini sejumlah daerah dilanda banjir besar hingga menimbulkan korban harta dan rusaknya fasilitas umum. Hingga Sabtu (15/7/2023), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Ternate memprediksi ujan masih melanda beberapa wilayah di Maluku Utara.

Data terbaru BMKG, mengingatkan masyarakat melalui peringatan dini yang dikeluarkan untuk tetap waspada bahwa potensi terjadi hujan lebat disertai petir bisa menyebabkan banjir terjadi di wilayah Morotai, Patani Utara, Pulau Gebe sampai Kepualaun Widi dan sekitarnya. Sementara beberapa wilayah seperti Jailolo, Ternate Taliabu dan Sanana diprediksi terjadi hujan ringan.   

Sementara hujan sepekan ini di Kepulauan Sula  menyebabkan banjir tak terelakan. Satu desa di Pulau Mangoli Kecamatan Pulau Mangoli tepatnya di desa Waitina, akibat  hujan, Jumat (14/7/2023) sejak pukul 08.00 hingga siang menyebabkan air kali Waisenga meluap dan masuk pemukiman warga.

Kepala Desa Waitina, Sirajudin Umasangadji mengatakan seperti dilansir media media di Maluku Utara, banjir merendam 48 rumah warga, dengan ketingigian air mencapai 1 setengah meter.

“48 rumah yang terendam banjir ini, di dua RT yakni RT 01 dan R0 2.  Akibatnya  warga  harus menyelamatkan harta bendanya di tempat yang aman,” kata Sirajudin kepada media Jumat (14/7/2023). Sirajudin dan masyarakat berharap bantuan pemerintah daerah  hingga pusat. Sebab,  banjir di desanya sudah berkali-kali terjadi, namun belum dilakukan upaya penaggulangan menyeluruh dari pemerintah. “Banjir pada 2020 lalu sudah ada kunjungan dari tim penanggulangan pusat tapi sampai saat ini belum ada bantuan secara langsung yang memberikan kenyamanan bagi masyarakat Desa Waitina, khususnya yang terdampak banjir,” keluhnya.  

Pada Rabu (13/7/2023) akibat hujan deras yang terjadi di Halmahera Selatan yakni Desa Panamboang, Bacan Selatan, juga dilanda banjir  hebat. Ada puluhan rumah warga terendam banjir. Di desa ini ada 39 Kepala Keluarga (KK) terkena dampak banjir. Rumah mereka terdampak banjir karena rata rata berada  di bantaran  kali mati atau sungai yang kering saat  tidak ada hujan.

Baca Juga  Nasib Miris PLTS di Halmahera Selatan (2) Habis

Sebelumnya banjir juga merendam satu desa di wilayah Kabupaten Pulau Taliabu Provinsi Maluku Utara pada Senin (11/7/2023). Peristiwa tersebut terjadi pascahujan dengan intensitas tinggi pagi hingga sore hari. Akibatnya   sungai  di wilayah tersebut meluap dan menyebabkan banjir.

Pusat pengendalian operasi (Pusdalops) BNPB melaporkan, desa terdampak banjir adalah Desa Kabuno Kecamatan Tabona. Dilaporkan  ada 60 KK/ 170 jiwa terdampak  banjir yang  menggenangi 60 unit rumah dengan ketinggian muka air 10 sampai 30 centimeter pada saat kejadian. 

Hingga Selasa (12/7/2023) pukul 06.00 banjir masih menggenangi permukiman warga dengan ketinggian setinggi mata kaki dan sebagian warga memilih mengungsi sementara ke rumah keluarga yang lebih aman dari banjir.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pulau Taliabu sejak  kejadian terus melakukan pemantauan, assesmen dan berkoordinasi dengan pihak desa untuk melakukan penanganan.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan prakiraan cuaca untuk wilayah Kabupaten Pulau Taliabu, periode Selasa (12/7) dan Rabu (13/7) akan mengalami cuaca hujan ringan dan berawan. Sementara itu merujuk pada analisis inaRISK BNPB, wilayah Kabupaten Pulau Talibu memiliki risiko banjir tingkat sedang hingga tinggi dengan seluruh kecamatan yang terdapat di Kapubaten Pulau Taliabu berisiko terpapar banjir.

Merespon potensi banjir tersebut, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk melakukan peningkatan kapasitas kesiapsiagaan seperti membersihkan saluran air, mengetahui jalur evakuasi dan bagi warga yang bermukim di sekitar sungai ketika hujan dengan itensitas tinggi terjadi terus menerus selama satu jam untuk mempersiapkan diri melakukan evakuasi mandiri ke tempat lebih aman.

Ada Apa Kemarau Tapi Hujan hingga Banjir?

Tim Reaksi dan Analisis Kebencanaan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menjelaskan penyebab sejumlah daerah di Indonesia mengalami banjir pada musim kemarau 2021.
Menurut LAPAN meski kemarau di beberapa daerah tetap mengalami curah hujan tinggi. “Hal itu disebabkan distribusi spasial suhu permukaan di wilayah Indonesia yang secara umum dipengaruhi posisi semu matahari yang saat ini berada di belahan Bumi Utara menyebabkan permukaan di Utara Indonesia menjadi lebih tinggi,” ungkap LAPAN dalam postingan  akun Facebooknyaa, dikutip  Sabtu  (15/7/2023).
LAPAN menyebutkan pergerakan angin saat ini didominasi trade win (angin pasat) dan Monsun Australia.

Trade win merupakan angin permukaan yang terjadi sepanjang tahun karena pengaruh tekanan rendah di wilayah khatulistiwa dan efek corriolis akibat rotasi bumi yang kadang diperkuat atau diperlemah oleh sirkulasi angin lainnya seperti Enso, easerly surge dan lainnya,” jelas LAPAN. LAPAN menjabarkan wilayah Kalimantan dan Sulawesi sering kali dilalui angin pasat ini sehingga menyebabkan terjadinya konvergensi pada wilayah-wilayah tersebut.

Baca Juga  Warga Adat Sawai Halteng, Perda MA vs Omnibuslaw


 “Konvergensi dapat menyebabkan terbentuknya awan skala besar dan terbentuknya hujan. Intentisitas hujan yang dihasilkan bergantung dari kandungan uap air yang berasal dari lautan pasifik dan laut Jawa serta kandungan uap air permukaan pada wilayah itu,” kata LAPAN.

Sementara untuk Pulau Jawa, pertumbuhan awan menjadi berkurang karena wilayah daratan Jawa cenderung dingin sehingga angin pasat yang melalui Pulau Jawa tidak membangkitkan konvergensi.

“Pergerakan uap air dari Juni hingga awal Juli menunjukan kandungan uap air tinggi yang bergerak masuk ke Samudera Pasifik,” tutup LAPAN.
 
Peneliti Cuaca dan Iklim Ekstrim BMKG, Siswanto melalui rilis resminya Selasa (6/7/2023)  lalu mengatakan bahwa pada akhir Juni, gangguan atmosfer pemicu pertumbuhan awan berupa gelombang ekuatorial tropis MJO terpantau aktif dan merambat dari Samudera Hindia bagian barat.
Lalu awan itu melewati wilayah benua maritim kontinen Indonesia, dan bergerak ke arah timur hingga pertengahan dasarian II Juli 2021.

“Sirkulasi angin monsun Australia dan propagasi MJO diperkirakan akan berdampak pada peningkatan potensi hujan di wilayah Indonesia dekat dengan ekuator dan wilayah bagian utaranya,” ujar Siswanto lewat keterangan tertulisnya.  

Share :

Baca Juga

Lingkungan Hidup

Aksi Iklim BRI,akan Setop Danai Batu Bara

Lingkungan Hidup

KLHK Diminta Seriusi Dugaan Cemaran Nikel di Halmahera 

Lingkungan Hidup

Selamatkan Air Tanah, Tanam Sagu dan Buat Sumur Resapan

Kabar Malut

Pelaksanaan Perhutanan Sosial Masih Bermasalah

Kabar Malut

BMKG: Waspadai Gelombang Tinggi

Lingkungan Hidup

Kawasan Khusus Sofifi di Atas DAS Kritis

Kabar Malut

Nelayan Pulau Bisa Obi, Kantongi  SIPR

Etniq

Hutan Orang Tobaru Terus Menyusut