Home / LAUT dan Pesisir / Lingkungan Hidup

Kamis, 11 Juli 2024 - 11:08 WIT

Data Berbeda-beda, BRIN Gagas Riset Ikan Hias   

ikan karang hias

ikan karang hias

Sebagai upaya koreksi terhadap biodiversitas perdagangan ikan hias laut (Marine Ornamental Fishes – MOF), saat ini Indonesia memiliki project riset berjudul “Indonesia Marine Ornamental Fishes in New Paradigm (Indonesia Mantap)”. Kegiatan ini dilakukan dibawah kerja sama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan LPDP Kementerian Keuangan RI pada skema pendanaan Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) serta dukungan para stakeholder pelaku perdagangan MOF di Indonesia.

Data spesies ikan hias laut dunia tengah menjadi perdebatan internasional. Pasalnya, hingga saat ini belum ada angka pasti terkait jumlah spesies MOF yang diperdagangkan secara global. Dalam Technical Workshop on Marine Ornamental Fishes CITES yang berlangsung pada 7 – 10 Mei 2024 lalu, para ahli dan lembaga dunia menyebutkan angka yang berbeda-beda.

Berdasarkan kajian Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) dan UN Environment Programme World Conservation Monitoring Centre (UNEP-WCMC), terdapat sebanyak 1764 spesies MOF yang diperdagangkan di dunia. The Ornamental Aquatic Trade Association (OATA) dan Ornamental Fish International (OFI) melaporkan 1040 spesies, International Union for Conservation of Nature (IUCN) sebanyak 2682 spesies, sedangkan lembaga dan pakar lainnya menyebutkan sekitar 258-2667 spesies MOF dalam perdagangan global.

 Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Kunto Wibowo menyampaikan  hingga saat ini data ikan hias laut sulit sekali diakses, termasuk Indonesia. Sehingga para ahli di dunia melakukan berbagai pendekatan untuk mendapatkan data jenis hingga volume perdagangan MOF guna menetapkan prioritas konservasi dan manajemen ikan hias laut ini. Hasilnya, bisa benar, bisa juga salah. Namun harapannya bisa mendekati,” kata  Kunto.

Di Indonesia, hasil pendataan yang dilakukan Yayasan LINI dan pihak asosiasi eksportir ikan hias (Asosiasi Koral, Kerang, dan Ikan Hias Indonesia – AKKII dan Indonesia Ornamental Fish Exporters Association – INOFE) mencatat sebanyak 616 spesies MOF yang diperdagangkan Indonesia di pasar global. Namun berdasarkan kajian CITES dan UNEP WCMC, Indonesia dilaporkan memasarkan sebanyak 1175 spesies atau sekitar 62% dari total spesies MOF yang diperdagangkan dunia.

Baca Juga  Jaring Nusa: Visi Indonesia Emas 2045, Wajib Pastikan Hak Masyarakat Pesisir dan Pulau Kecil  

Mengomentari perbedaan data perdagangan MOF Indonesia dengan hasil studi CITES-UNEP WCMC, taksonom yang sejak tahun 2010 fokus meneliti biodiversitas ikan laut ini memberikan tanggapannya.

“Mungkin saja terjadi kesalahan identifikasi. Karena selama ini pelaku perdagangan ikan hias melakukan identifikasi menggunakan foto atau gambar bukan melalui pengamatan dan pengukuran spesimen. Sehingga bisa saja dua spesies berbeda dihitung menjadi satu spesies yang sama (terjadi pengurangan). Atau justru sebaliknya, satu spesies dihitung menjadi dua spesies berbeda sehingga double counting,” tambah Kunto. Dia  mengusulkan perlunya koreksi selanjutnya  

“Kondisi ini perlu koreksi, misal dengan memastikan kebenaran tatanama MOF melalui identifikasi langsung dari berbagai jenis spesimen yang diperdagangkan. Di sinilah bidang ilmu biosistematika bekerja,” tegasnya.

Terkait dampak yang akan timbul dari kesalahan identifikasi ini, peneliti yang menamatkan pendidikan doktoral di negeri Sakura tersebut memberikan pandangannya bahwa spesies hingga level genetik merupakan unit terkecil dalam upaya konservasi atau manajemen. Jika tidak ada koreksi dan klarifikasi maka akan terjadi kesalahan juga dalam prioritisasi konservasi dan manajemen. Akibatnya tentu akan berdampak bagi para pelaku perdagangan MOF itu sendiri. Misal ikan tidak lagi dapat diperdagangkan karena statusnya terancam punah padahal melimpah di alam,” ungkapnya

Sebagai upaya koreksi terhadap biodiversitas perdagangan MOF, saat ini Indonesia memiliki project riset yang berjudul “Indonesia Marine Ornamental Fishes in New Paradigm (Indonesia Mantap)”. Kegiatan ini dilakukan di bawah kerja sama BRIN dengan LPDP Kementerian Keuangan RI pada skema pendanaan Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) serta dukungan para stakeholder pelaku perdagangan MOF di Indonesia.

Baca Juga  Ini Masalah Warga Pulau Kecil di Halmahera Selatan  

 Ketua Tim Indonesia Mantap, Kunto menjelaskan tujuan  kegiatan ini  untuk melakukan updating status biodiversitas, valuasi perdagangan, dan kondisi sosial ekonomi perdagangan MOF sebagai dasar pemetaan masalah dan merumuskan arah kebijakan pengelolaan serta perdagangan MOF di Indonesia. Sehingga tidak hanya kajian biodiversitas saja, namun juga terdapat riset sosial ekonomi para pelaku perdagangan MOF.

“Kegiatannya ya mulai dari koleksi spesimen, preparasi spesimen, dokumentasi, koleksi DNA, identifikasi spesies berdasarkan morfologi maupun molekuler, penyimpanan koleksi MOF di Museum Zoological Bogoriense, hingga publikasi untuk pengembangan ilmu pengetahuan ke depan,”  jelasnya.

Ia menambahkan, untuk sosial ekonomi sendiri akan dikaji permasalahan mata pencaharian para pelaku usaha, pemetaan pengetahuan nelayan terhadap kondisi sumberdaya, musim penangkapan, regulasi, termasuk mengkaji nilai perdagangan MOF di Indonesia.

Kunto berharap seluruh stakeholder perdagangan MOF di Indonesia dapat bergerak bersama mendukung inisiatif ini demi menjaga kelestarian dan keberlanjutan perdagangan MOF Indonesia di pasar global. Dengan adanya inisiatif Indonesia Mantap ini, dirinya berharap masyarakat Indonesia termasuk nelayan, pengepul, pecinta ikan, hingga eksportir bisa turut berpartisipasi mengambil contoh yang terjadi di Jepang.

“Di Jepang, antusiasme warga terkait pengungkapan  jenis ikan sangatlah tinggi, bahkan di tingkat nelayan sekalipun. Ketika mereka menemukan ikan yang tidak dikenal, mereka dengan penuh semangat akan segera membawanya ke museum untuk diidentifikasi,” tutupnya. (*)

Share :

Baca Juga

Lingkungan Hidup

Penemuan Lebah pluto di Halmahera Jadi Perbincangan Ilmuan Dunia

Lingkungan Hidup

Ini Hasil Kajian Climate Right Internasional

LAUT dan Pesisir

Ini 13 Komitmen Pengelolaan Pesisir dan Pulau Kecil di Indonesia

Lingkungan Hidup

Kelola Hutan Bersama Masyarakat Bermanfaat Bagi Kelestarian

Lingkungan Hidup

Ajak Warga Kao Lindungi Mangrove dan Satwa Endemik

Kabar Kota Pulau

Mangrove Mangga Dua Ternate Nasibmu Kini

Lingkungan Hidup

Tambang Hadir, Burung di Kawasan Goa Bokimoruru Terancam

Lingkungan Hidup

 Ini Urgensinya Energi Bersih dan Terbarukan