Home / Kabar Kampung

Rabu, 10 Agustus 2022 - 13:26 WIT

Ini Cara Perkuat Kapasitas Warga Kampung

Belajar Pemetaan  dan Perencanaan Wilayah Kelola Rakyat  

Puluhan anak muda   dari  beberapa lembaga dan pemuda kampung berkumpul di Training Centre Wahana Lingkungan Hidup (WALHI)  Maluku Utara Selasa hingga Sabtu (9-13/8/2022). Mereka mengikuti Pelatihan, Pemetaan serta Perencanaan Wilayah Kelola Rakyat (WKR) dan Perlindungan  Hutan Kampung. Pelatihan  ini  digelar oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) PAKATVA Maluku Utara.   Direktur PakaTiva Maluku Utara Norsyahid Musa, Selasa (9/8/2022) menjelaskan,  kegiatan ini  melibatkan belasan anak muda yang tergabung dalam komunitas pencinta alam, Estuaria, dan beberapa perwakilan dari kampung dampingan Perkumpulan Pakativa. Kegiatan ini  bertujuan  meningkatkan sumber daya

pemetaan partisipatif berbasis komunitas dan membangun komitmen penuh untuk  menunjang inisiatif kampung dalam konteks mitigasi adaptasi krisis iklim, berupa upaya resiliensi, perlindungan, dan pemulihan, serta pemanfaatan secara berkelanjutan.  Dengan pelatihan ini kita harapkan ada eningkatan mutu dan sumber daya pemetaan, pengelolan data desa, dan perencanaan pembangunan kampung (Wilayah Kelola Rakyat),”jelasnya. Dia bilang  peningkatan pemahaman anak muda ini terkait penguatan basis data kampung  terutama tata kuasa dan tata kelola hutan dan lahan. Selain itu dengan pelatihan ini wacana pusat layanan pemetaan pesisir dan pulau kecil di Ternate yang diinsiatif oleh anak muda di Maluku Utara bisa direalisasikan. “Paling penting terbangunnya kesadaran di level kampung,  akan pentingnya pengelolaan potensi alam untuk penguatan ekonomi yang sangat bergantung pada pelestarian dan  perlindungan kawasan terutama kegiatan pemanfaatan yang padat karbon.

Mereka juga bisa memahami dalam menyusun dan merencanakan pengelolaan wilayah di desa. Melalui pelatihan ini hadir  kampiun-kampiun pemetaan di kalangan anak muda Maluku Utara dan dapat menunjang upaya-upaya mitigasi krisis iklim.  Menurutnya,  Maluku Utara memiliki luas kawasan hutan 2.515.220 Ha  (SK.302/MENHUT/II/2013), terbagi atas Hutan Konservasi ± 218.499 Ha, Hutan Lindung  ± 584.058 Ha, dan Hutan Produksi ± 1.712.663 Ha. Sementara, pada kawasan tersebut  telah terdapat izin pemanfaatan lahan yang terdiri dari 11 Izin Usaha Pemanfaatan Hasil  Hutan Kayu pada Hutan Alam (IUPHHK – HA) 609.119 Ha. 4 ijin Usaha Pemanfaatan Hasil  Hutan Kayu pada Hutan Tanaman (IUPHHK – HT) seluas 59.138 Ha; 4 Izin Usaha. Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman Rakyat (IUPHHK – HTR) 19.438 Ha; dan Pinjam Pakai Kawasan Hutan Untuk Kegiatan Pertambangan 76.800,51 Ha.

Data WALHI Maluku Utara (2022), terdapat 112 Izin Usaha Pertambangan (IUP) dengan total luasan konsesi 662.403,08 Ha.  Selain itu   ada  sawit.  Karena itu memunculkan degradasi hutan yang masif  terutama  di wilayah Gane – Halmahera Selatan dengan luasan konsesi 11.003,09 Ha. Alih fungsi kawasan ini berdampak signifikan  terjadinya deforestasi dan degradasi hutan di wilayah pesisir  laut dan pulau-pulau kecil.  

Baca Juga  Pulau  Kecil  Meradang  Karena  Ditambang 

“Lemahnya inisiatif kampung dalam perencanaan serta pendokumentasian secara tertulis pengelolaan wilayah merupakan tantangan  dalam upaya mendorong rekognisi wilayah kelola untuk perlindungan, pemulihan , dan pemanfaatan di level tapak.  Dalam kondisi ini  posisi desa makin rentan tergerus keputusan-keputusan politik penguasaan ruang,” jelasnya.   

Di  Desa Samo dan sekitarnya,   Gane Barat Utara pernah  dilanda banjir namun pemberian izin lokasi bagi IUPHHK HA atas nama PT. Nusa Pala Nirwana dengan total luasan ±28.892 ha akan turut meningkatkan risiko. Dengan tiadanya strategi perencanaan  pengelolaan wilayah secara berkelanjutan itulah, inisiatif kampung yang telah terbangun sebelumnya tergerus kemudian dengan masuknya investasi yang sama di atas lahan bekas konsesi PT.NPN tersebut.

Hal ini mengindikasikan bahwa pada aras makro, kebijakan pembangunan berkelanjutan  belum sepenuhnya dimplementasikan sebagaimana mestinya. Minimnya pemahaman  akan isu di level pengambil kebijakan daerah juga turut mempengaruhi tidak  terpenuhinya kaidah dalam skema pembangunan berkelanjutan yang telah dicanangkan berupa perlindungan dan pemulihan kawasan kritis dan berisiko dalam situasi krisis iklim.

Perkumpulan Pakativa menilai cara pandang pembangunan ‘bias daratan’ semacam itu  harus ditanggalkan. Sebagai wilayah pesisir laut dan pulau-pulau kecil maka paradigma  pembangunan mesti selaras dengan lokus isu di daerah seturut dengan perlu  memasukkan analisis risiko kebencanaan dan kerentanan sebuah wilayah dalam melakukan rancangan, perencanaan, dan strategi implementasi.

“Daerah tersebut sebelumnya memiliki vegetasi hutan sangat lebat dan luas yang telah dieksploitasi HPH di masa Orde Baru (mulai pada 1989), PT Barito Pasifik Timber Group dengan konsesi mencapai 38 ribu hektar lebih selama 10 tahun beroperasi hingga  berhenti pada 2000. Tentunya—usaha pemanfaatan kayu skala besar pada hutan primer oleh anak perusahaannya atas nama PT. Taiwi II Camp Samo—berkonsekuensi pada  perubahan bentang alam yang dapat berakibat banjir yang melanda perkampungan di sekitar,” katanya.  Secara akumulatif, bila kegiatan restorasi tidak dijalankan dan izin polusi terus diterbitkan di wilayah tersebut, maka dapat dipastikan sebagian besar petani dan nelayan subsisten  dari sekira 6.503 jiwa di 12 perkampungan pada wilayah seluas 501,70 Km2 di sana berisiko terdampak bencana iklim yang dapat berakibat pada terjadinya kelangkaan  pangan.

Atas dasar itu, pemahaman akan isu dan lokus di daerah serta bagaimana strategi mitigasi adaptasi perlu dirumuskan secara integratif. Semua stakeholder mesti terlibat bersama termasuk masyarakat di tingkat tapak agar dapat terbangun sinergisitas. Paling tidak inisiatif-inisiatif publik dalam konteks mendorong pembangunan berkelanjutan terbuka peluang untuk kemudian terakomodir dalam rumusan kebijakan di daerah.

Baca Juga  Tanam Mangrove agar “Merdeka” dari Abrasi

Melalui kegiatan pelatihan (ToT) diharapkan beberapa keterampilan dasar dapat meningkatkan mutu dan meringankan kerja-kerja strategis ke depan.

Sementara pelatihan ini difasilitasi   dua fasilitator masing masing Zulhan A. Harahap  Akademisi FPIK Universitas Khairun Ternate dan Fahrudin Buamona (Simpul Layanan Pemetaan Partisipatif Maluku Utara). 

Saat memfasilitasi kegiatan di hari pertama Zulhan mengantar pemahaman peserta dengan sejarah pemetaan  di mulai dari sejarah pencarian daerah rempah oleh penjajah dengan pelayaran antar dunia yang tidak terlepas juga  dengan peta. Dengan peta,  mereka berlayar dari Eropa ke Indonesia.  Peta peta yang ada digambar secara manual. Saat bahkan pembuatan peta sudah mengunakan drone. 

“Saat ini karena sudah  menggunakan satelit orang bisa melakukan pemetaan setiap minggu,” katanya.

Dia menjelaskan,  peta yang dibuat biasanya  tergantung  kepentingan si pembuat peta.  Karena  warga  harus memiliki peta kampung sebagai peta tandingan  dari   yang dibuat berbagai pihak berdasarkan kepentingan mereka.Dia contohkan, Peta HPH jika ditampilkan tidak ada kampung, karena itu jangan langsung dipercaya, harus ditelusuri dulu. Setiap kampung  wajib  membuat peta  masing masing. Saat ini  masih banyak  desa yang belum membuat peta. Sejarah dan profil desa menjadi hal penting wajib di miliki dalam peta. “Siapa  yang terlibat dalam pembuatan  peta  juga harus bisa menguasai perkembangan teknologi  agar bisa dipakai  saat  pembuatan peta. Saat ini semua orang  sudah bisa membuat peta,”jelasnya.

Jika di kampung  wilayahnya  sudah membuat peta yang sesuai kepentingan kampung  maka bisa bermanfaat bagi warga kampung. Jika kampung tidak punya peta  maka  tidak bisa dijadikan bahan perlawanan.  Misalnya   batas wilayah ketika ada investasi atau korporasi yang masuk mencaplok wilayah kita.   Peta   tidak hanya peta saja, tapi menjadi  catatan penting  kampung. Karena itu harus tertera  sejarah kampung  dan kepemilikan tanah leluhur.  

Dalam pelatihan ini turut diperkenalkan peta digital dengan menggunakan android Alat GPS–Kamera Komputer + Program QGIS.   “Kita harus memulai dengan yang kita punya  dan memanfaatkan teknologi yang ada sehingga bisa menghasilkan peta yang bermutu dan  standar sesuai yang diinginkan. Terutama skala, sumber, legenda dan system kordinat.  

Saat ini walaupun pemerintah sudah membantu membuat peta, namun kadang posisinya salah atau tidak tepat. Jadi penting memiliki peta sendiri untuk dijadikan bahan perbandingan dengan peta pemerintah.  “Peta yang kita buat harus sesuai standar nasional yang ada. Semakin bagus peta yang kita gunakan, maka akan semakin akurat,” jelasnya. (*)  

Share :

Baca Juga

Kabar Kampung

Ini Cara Ibu- ibu Halmahera Selatan Belajar Ilmu Bertani

Kabar Kampung

Warga Obi Sulit Air Bersih, Tagih Janji Bupati  

Kabar Kampung

Sungai Sagea Nasibmu Kini, Keruh Belum Usai   
Jamal pakai topi membantiu dokter hewan melakukan seekor nuri kalung ungu yang nanti dirawat di SPB foto Jalam Adam

Kabar Kampung

Kiprah Jamal Adam Jaga dan Rawat Paruh Bengkok    

Kabar Kampung

Sisir Pulau dan Kampung Layani Warga

Kabar Kampung

Ini Masalah Pembangunan di Pulau Makeang dan Kayoa

Kabar Kampung

Tak Punya TPU, Halaman dan Teras Jadi Makam  

Kabar Kampung

Tradisi Gotong-Royong Tangkap Ikan di Mayau