Home / Kabar Kampung

Rabu, 21 Oktober 2020 - 08:47 WIT

Lebah Raksasa Kembali Ditemukan di TNAL Resort Tayawi

Sarang dan lebah raksasa yang ditemukan Anton di hutan TTNAL Resort Tayawi, foto Antonius

Sarang dan lebah raksasa yang ditemukan Anton di hutan TTNAL Resort Tayawi, foto Antonius

Lebah raksasa (Megachile Pluto) kembali ditemukan di hutan Halmahera. Penemuan ini tepatnya di dalam kawasan Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata (TNAL) Resort Tayawi Kota Tidore Kepulauan Jumat  (16/10)  lalu.

Sebelumnya, setelah dianggap punah jenis ini  ditemukan kembali pada  Januari 2019 oleh peneliti dari Amerika dan Australia, bersama  fotografer satwa liar didampingi warga di hutan Halmahera Timur. Lebah ini terakhir dilihat pada 1981.  Penelusuran empat peneliti ke lokasi hidup lebah  waktu itu, berdasarkan data dalam jurnal yang pernah ditulis peneliti sebelumnya Adam Meser pada 1981. Dari penelusuran itu mereka  menemukan kembali lebah raksasa  yang pertama kali diidentifikasi Alfred Russel Wallacea itu.

Sementara penemuan pekan lalu, oleh seorang warga Tobelo Dalam yang saat ini  bersama keluarganya bermukim di hutan  kawasan Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata (TNAL) Resort Tayawi.

Pria  yang biasa disapa  Antonius “Tayawi” Jumati itu  secara tidak sengaja menemukan sarang lebah ini tak jauh dari Resort Tayawi.  

Dihubungi Kabarpulau.co.id via hand phone Selasa (20/10), Antonius menceritakan bahwa serangga ini dia temukan saat  menuju  kawasan hutan  Tayawi untuk mencari getah damar.  “Saya berjalan menyusuri kawasan hutan Tayawi belum terlalu jauh, baru sekira 1,5 kilometer. Saya lihat ada sarang lebah besar yang tergantung di pohon,” ceritanya.  

Lebah raksasa yang keluar dari sarangnya foto Clay Bot

Antonius mengaku,  tertarik ketika  melihat sarang lebah ini karena sebelumnya ada petugas dari TNAL yang  juga  menemukan lebah sejenis  dalam kawasan taman nasional  dan mengabadikan  dalam bentuk foto.  Foto itu juga diperlihatkan kepadanya. Ini  menjadi dasar ketika menemukan sarang lebah itu, dia berinisiatif melihat lebih dekat untuk memastikan,  apakah lebah raksasa atau bukan.

“Setelah saya liat sarangnya saya tunggu lama untuk pastikan apakah lebah raksasa atau bukan. Sekira 30 menit, muncul satu ekor lebah.  Kemudian muncul lagi pasangannya,” ceritanya. 

Serangga langka yang menjadi incaran para  ahli  biologi  dunia itu, saat ditemukan sarangnya berada di atas pohon yang tingginya sekira tiga meter.   Dia  bilang  seperti sarang rayap  terletak tak jauh di atas pohon. Dia lalu melihat dari dekat sarang itu. Ternyata benda itu mirip dengan foto yang pernah ditunjukan Sukardi salah satu staf teknis di resort Tayawi.

Baca Juga  Bangun Desa Harus Dimulai dari Tata Ruang

“Saya duduk diam, lalu memperhatikan sarang lebah tersebut. Tak lama kemudian, seekor lebah besar berwarna hitam keluar dari lubang. Saya terkejut melihat  lebah  ini, mirip  foto  staf TNAL itu. Akhirnya saya  ambil hp (hand phone,red) dan berusaha mengabadikan beberapa foto yang berjarak kurang lebih dua meter dari sarang,”  cerita  Anton.  

Sofyan Ansar dari Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata yang juga salah satu petugas polisi   kehutanan di resort  mendampingi Om Anton saat dihubungi dari Ternate mengungkapkan,  Temuan “Megaachile pluto” di kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata di Pulau Halmahera, Provinsi Maluku Utara  ini  membuktikan, bahwa di dalam kawasan konservasi ini  banyak menyimpan keanekaragaman hayati jenis flora dan fauna endemik Maluku Utara. Salah satunya  spesies serangga yang paling langka dan banyak dicari  peneliti di dunia ini.

Untuk itu,  tidak bisa ditawar-tawar dan hukumnya wajib  tetap menjaga dan melestarikan kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata sebagai jantung dan benteng terahir Pulau Halmahera. Dia bilang di kawasan TNAL sendiri sudah ada dua lokasi  ditemukannya lebah raksasa ini.

“Kita sudah mengidentifikasi ada dua tempat  ditemukanya  lebah  raksasa ini. Karena setelah temuan  empat ilmuan 2019 lalu,  ada staf TNAL juga menemukan satu lokasi sebagai tempat hidup serangga ini. Ke depan  dua titik ini segera dibatasi pengunjung dan dilindungi.   Penemuan ini juga bertepatan dengan momentum hari jadi Taman Nasional Aketajawe Lolobata ke 16  19 Oktober 2020.  Ini  menjadi kabar gembira bagi kami karena   kembali menemukan sarang lebah raksasa Wallace  “Megaachile pluto” di Resort Tayawi, Kota Tidore Kepulauan,” ujarnya.

Baca Juga  Kemandirian Desa Jangan jadi Nyanyian

Karena itu sebagai petugas di lapangan dia   berharap, temuan kembali  ini menjadi informasi  penting kepada para peneliti maupun   ahli ekologi untuk bisa mengembangkan penelitiannya soal  lebah terbesar ini di TNAL dan hutan Halmahera. Terutama bagaimana  kehidupan  serangga ini.

Sekadar diketahui, referensi yang dikumpulkan  Kabarpulau.co.id dari berbagai sumber    menyebutkan, temuan empat peneliti sebelumnya sempat menghebohkan  jagat ilmu pengetahuan dunia. Mereka mendeskripsikan bahwa spesies lebah ini soliter  dengan membentuk sarang komunal di dalam sarang rayap, menggunakan rahangnya untuk mengumpulkan dan memberikan resin pohon ke dinding bagian dalam sarangnya.  Megachile Pluto memiliki ciri morfologi, betina dengan panjang 3,8 centimeter, bentang sayap 6,35 centimeter, dan digolongkan dalam lebah terbesar di dunia. 

Perbaidngan lebah madu dan lebah raksasa dari hutan Halmahera foto AFP

Spesies itu ditemukan pertama kali oleh naturalis Inggris Alfred Russel Wallace pada 1859, kemudian dia berikan kepada kawannya seorang ahli serangga Frederick Smith. Oleh Smith serangga itu dinyatakan spesies baru dan diberi nama Megachile Pluto pada 1860 dan di umumkan setahun kemudian. Setelah dideskripsi dan diberi nama, lebah yang juga disebut Wallace’s Giant Bee itu tidak pernah dijumpai lagi.

Lebah ini masuk daftar pencarian spesies yang hilang di Dunia oleh Global Wildlife Conservation (GWC). Pernah dijual dengan harga cukup mahal. Salah satu koleksi spesimen lebah betina yang berasal dari Pulau Bacan  dijual pada Februari 2018 dengan harga 127 juta. Pada 24 Maret 2018 ditawarkan kembali dengan harga US$ 39 ribu setara Rp 546 juta melalui penawaran  online yang sama,” ujar ahli entomologist LIPI Rosichon Ubaidillah seperti ditulis  Tempo, Selasa, 26 Februari 2019 lalu. Lebah raksasa ini adalah endemik di lokasi yang sangat sempit yaitu di Maluku utara yaitu di Pulau Bacan, Halmahera dan Tidore menurut Messer pada 1984. Lebah ini juga rentan kepunahan, serta perburuan yang akan terus meningkat . (*)

Share :

Baca Juga

Kabar Kampung

Ini Win-win Solution Konflik Tenurial TNAL dengan Warga Adat Kobe

Kabar Kampung

Ikan Ngafi dan Udang yang Terus Menyusut di Kao Halmahera

Kabar Kampung

Bacarita Pangan Lokal Maluku Utara

Kabar Kampung

Ini Cara Antisipasi Stok Pangan Saat Pandemi

Kabar Kampung

Di Ekspedisi Maluku Warga Suma Makean Dapat Layanan Kesehatan dan Saprodi

Kabar Kampung

Bangun Desa Harus Dimulai dari Tata Ruang

Kabar Kampung

Halua Kenari, Sumber Pendapatan Ibu-ibu Suma

Kabar Kampung

Di Mare akan Dikembangkan Jambu Mente