Home / Kabar Malut

Jumat, 19 Agustus 2016 - 01:01 WIT

Mata Air Ake Gaale Berubah Menjadi Air Mata Warga

Untuk  menemukan  sumber mata air  yang mengalir di pulau kecil seperti Ternate, terutama  di tengah pemukiman warga yang padat ,  hanya ada di dua tempat. Dua sumber mata air itu  adalah,  Ake Santosa, di Kelurahan Salero atau tepatnya berada sebuah bukit kecil di samping Kedaton Kesultanan Ternate.  Sementara yang satunya lagi ada di Bagian Utara Kelurahan Sangaji, yakni sumber mata Air  Ake Gaale. Jika  Aer  Santosa saat ini telah dilindungi dari sentuhan tangan jahil  dengan dibuatkan semacam bendungan untuk memelihara ikan, juga dikelilingi tembok pagar keraton, tidak demikian  dengan sumber  air Ake Gaale. Selain sebagian lahannya telah dikuasai Perusaahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan dibuatkan sejumlah sumur-sumur air raksasa,   juga di luar lahan yang dikuasai PDAM, telah diserbu habis untuk pembangunan  pemukiman. 

Kecurigaan kuat ini adalah  dampak  dari dua proses eksploitasi itu. Itu kemudian  membuat sumber mata air  itu  kering dan tinggal kenangan.  Seiring eksploitasi yang  dilakukan  PDAM Ternate  sejak berdiri di kawasan sumber mata air ini,  air yang biasanya mengalir dengan jernih kini kering kerontang.  Kisah pilu ini dimulai sejak 1993 ketika PDAM berdiri. Puncaknya Oktober 2014 ini,  sumber air Ake  Gaale benar-benar  habis.  

Sumber mata air yang berjarak  kurang lebih 300 meter dari bibir pantai  Sangaji  atau tepat di samping Kanan Benteng Tolluko itu, turut berdiri  kolam ikan milik warga.  Saat ini jangankan kolamnya berisi ikan, setitik air juga sudah tidak ada. Selain sumber mata air yang kering  karena dugaan kuat  eksploitasi yang berlebihan dari PDAM, juga karena lahan dan vegetasi tutupan  dia areal sumber mata air ini,  telah beralihfungsi. Serangan  karena kebutuhan lahan pemikiman yang tidak terkendali ini setidaknya  juga harus menjadi bahan analisa dari mengeringnya sumber mata air ini. 

Baca Juga  Senjakala Hutan dan Lahan di Maluku Utara

Alwan M Arief Tokoh  pemuda setempat menceritakan, sekitar 15 tahun lalu ketika air masih mengalir dengan jernihnya, kolam-kolam ikan warga masih banyak diisi beragam jenis ikan. Bahkan di mata air ini banyak sekali hidup udang, ikan gabus, lele.  Warga setempat  masih bisa menangkap udang   atau bisa memancing ikan gabus. Kondisi  kini berbalik, berbagai cerita itu tinggal kenangan. Menurutnya, sejak berdiri PDAM dengan mengeksploitasi air yang dari sumber mata air ini,  dengan dibagunnya  sumur-sumur PDAM,  sumber air ini perlahan mulai kering. Awal 1990-an warga sekitar mata air ini sudah mengeluhkan menurunnya debit air  dari sumber mata air ini. Hanya saja seperti tidak digubris.  “Pertengahan 1990 an kita sudah membuat gerakan Save Ake Gaale ketika melihat tanda-tanda menurunnya debit air   dengan mendatangi pemerintah kota Ternate meminta ada langkah seperti apa. Tetapi itu hanya dibiarkan. PDAM terus mengambil air  dengan tidak memedulikan dampak yang ditimbulkan nanti,” katanya. Kini,  mengeringnya sumber mata air ini merupakan puncak dari bentuk ketidakpedulian  selama ini.  ”Dulu orang China datang beli ikan sogili (Morea,red) di Ake Gaale. Cari udang dan ikan gabus juga gampang. Sekarang jangankan ikannya, air juga sudah tidak ada . Dalam kondisi seperti ini, untuk mengembalikan kondisi mata air  seperti sedia kala adalah sebuah pekerjaan yang nyaris  tak mungkin  bisa terlaksana. Ini bukti, ketidakpedulian atas eksploitasi yang dilakukan selama ini,” katanya.  Jika sudah begini  tidak ada lagi cerita Puan,  putri Cantik Ake Gaale yang masih kana-kanak  bersama teman-temannya  mencari  udang   dan dibakar  untuk santap siang.  Tidak ada lagi cerita  Bibi Salma  yang membasuh  pakaian di  Ake Gaale. Tidak ada lagi cerita Ongen yang dulu ketika nyetir angkot dan ingin mencuci mobilnya cukup parkir di depan Ake Gaale. Nyaris 10 tahun terakhir banyak cerita  yang hilang,  seiring  mengeringnya dua sumber mata air itu.   Yang tersisa hanya air selokan yang mengalir dari rumah-rumah warga.   

Baca Juga  Ekspedisi Maluku dan Festival Kampung Pulau

Dampak buruknya, tidak hanya Ake Gaale yang mengering, sumur milik warga juga  ikut mengering. Jika ada airnya, rasanya telah bercampur dengan air garam. “ Aer rasa salobar  (rasa air tawar dan air asin bercampur, red)  ini baru  dua bulan belakangan ini,” aku Anwar A Wahab warga Ake Gaale.  Karena keresahan warga dengan mengeringnya sumber mata air ini,  warga beramai-ramai mendatangi pihak PDAM menggelar aksi atas keringnya sumber mata  air tersebut.  Aksi ini   sekaligus menuntut pihak PDAM mengembalikan sumber air Ake Gaale yang telah kering dua bulan terakhir ini.

Pihak PDAM sendiri sulit menampik fakta ini. Saat didatangi  warga  mereka berjanji mencari solusinya. Kepala PDAM Ternate Saiful Jafar mengaku  baru akan mengkonsultasikan  dengan Pemkot Ternate  mengambil langkah dalam jangka pendek ini. Salah satunya mengatasi  kondisi air  yang berubah rasa dengan memasang  sambungan  air  PDAM Gratis pada warga. Untuk jangka panjangnya akan membangun beberapa sumur resapan di wilayah barat  (*) 

Share :

Baca Juga

Membangun reseliensi di tingkat komunitas (Foto: Bentara Papua)

Kabar Malut

Cara Menyiapkan Warga Adaptif Ketika Bencana (2 habis)

Kabar Malut

Mulai Dirintis Pembentukan Jejaring Kawasan Konservasi Perairan
Logo WALHI

Kabar Malut

Gelar Program Save The Small Island, Warga dan Walhi Malut Tanam Mangrove
Ilustrasi

Kabar Malut

Pasca Kenaikan Harga BBM
Ilustrasi Meteran Listrik

Kabar Malut

Survei Kecil Kondisi Listrik Pulau-pulau di Maluku Utara

Kabar Malut

Kayanya KKP Kepulauan Sula di Maluku Utara

Kabar Malut

Senjakala Hutan dan Lahan di Maluku Utara

Kabar Malut

Ocean Eye akan Diuji Coba di Morotai