Home / Kabar Kampung

Senin, 26 November 2018 - 01:54 WIT

Melihat Festival Kalaodi, dan Pekan Lingkungan Hidup P3K

Ajakan Kembali ke Alam  hingga Lindungi Pulau dan Laut

Gendang dan tifa mengiringi  soya-soya Kalaodi. Tarian  itu sekaligus menjadi salam pembuka kepada tamu  dan warga  yang datang   menyaksikan    festival  Buku se Dou Kalaodi   Kota Tidore Kepulauan. Selain festival Kaaodi,   dilanjutkan  dengan  Pekan Pelestarian Hutan Mangrove dan Ekowisata Pesisir Laut  di Kayoa Halmahera Selatan. Acara ini   adalah satu rangkaian  dalam rangka ulang tahun ke- 38 WALHI di Maluku Utara  Sabtu (17/11) pekan lalu. 

Di buka dengan Festival Kalaodi di Tidore,  acara itu  begitu meriah.  Para tamu yang hadir  termasuk para pembicara  selain menikmati suguhan tarian bernilai perang  dan  symbol perjuangan, mereka   juga menikmati   tarian   dan nyanyian tentang kearifan dan ajakan  kembali ke alam. Dalam    festival  ini  warga  Kalaodi turut menampilkan  tarian soya-soya kalaodi,  kabata marong nyanyian saat membersihkan kebun, kabata moro- moro  nyanyian sambil menumbuk padi  serta  memamerkan berbagai hasil kerajinan  dari bamboo  dan  batok kelapa hingga   makanan tradisional   dari hasil kebun.

Menurut  Samsudin Ali Sekretaris Kampung Kalaodi.   ada yang kurang dari festival ini,    kegiatan paca goya  atau “nyepi” nya orang Kalaodi   yang dilakuka setiap tahun itu  sudah  lewat  pelaksanaannya  beberapa waktu lalu. Paca goya  adalah     penghargaan terhadap alam  dan Tuhan atas  rezki hasil kebun yang  telah dipanen  setahun lalu,” ujarnya. 

Sementara makna yang dikandung dalam  kata buku se dou atau  Gunung dan Lembah. adalah cerita tentang bagaimana memperlakukan gunung dan lembah  dalam mendukung hidup manusia secara berkelanjutan. Kampong di puncak Tidore  diapit  perbukitan hijau cengkih dan pala  dengan udara  sejuk itu,  dibanjir warga dari berbagai penjuru  Tidore, setidaknya ingin melihat  dari dekat tradisi  yang masih dijaga warga Kalaodi selama ini.  Gemuruh   tifa,  moro-moro, dan kabata  bergema  memecah  pagi di Kampung  yang berada di   atas ± 900 mdpl   itu berbeda dari biasanya.  “Buku se dou merupakan kegiatan adat dan budaya masyarakat Kalaodi yang berkaitan erat dengan ajakan menjaga alam,”kata  Samsudin Ali.

Baca Juga  Ini Win-win Solution Konflik Tenurial TNAL dengan Warga Adat Kobe

Apa yang disampaikan ini setali tiga uang dengan  kehidupan  masyarakat Kalaodi  yang bermukim di bawah bukit dan lereng hutan Lindung Tagafura. Hingga kini daerah itu  tetap terjaga  dan hutannya tetap lestari.

Semenatara untuk   Pekan Lingkungan  Hidup Pesisir Laut dan Ekowista Pulau-pulau Kecil   itu,  ingin mengirim  pesan  bagi  semua pihak agar  tidak mengabaikan   sinergitas antara tradisi  yang dibangun warga pulau kecil   turun temurun   dengan  harmonisasi   alam yang ditempatinya.    

Kegiatan  ini  dihadiri juga Sultan Tidore H Husain Syah,  Staf Ahli Menteri KKP Bidang Ekologi dan Sumber Daya Laut Dr Aryo Hanggono,  Direktur Eksekutif Walhi  Nur Hidayati bersama Direktur Walhi Daerah seluruh Indonesia bersama Pemkot Tidore itu,  merupakan sebuah  pesta  berbasis  lingkungan yang dimulai dari  seminar lingkungan hidup  dan  pulau- pulau  kecil,  Festival Kalaodi  bahkan  menanam 5 ribu pohon mangrove di   Guruapin Kayoa Halmhera  Selatan. 

Dalam seminar nasional  pengelolaan pesisir dan pulau-pulau  kecil, Sultan Tidore bersama Direktur Walhi dan staf ahli Menteri DKP berbicara banyak hal tentang pengelolaan kelautan pesisir  dan pulau- pulau kecil di Maluku Utara.

Direktur Walhi Maluku Utara, Ismet Soelaiman  menjelaskan, kegiatan  ini dalam `memperingati Hari Ulang Tahun Walhi ke-38    17 hingga 20 November  lalu di Kalaodi – Tidore  dan Kayoa Ini  adalah sebuah rangkaian kegiatan  menjaga dan melindungi laut pesisir dan pulau-pulau kecil  termasuk pelestarian  budayanya. Pilihannya  Kalaodi karena   dijadidkan  kampong ekologi  pelindung kota Tidiore. Kalaodi dipercaya menjadi  penjaga Tidore oleh sebagian masyarakat. Posisi kampung  di pegunungan (± 900 mdpl) menjadikan Kalaodi dan tiga kampung lainnya  sebagai pelindung bagi perkampungan lain dan pusat kota   di pesisir.  Apalagi warga Kalaodi sendiri masih menjalankan tradisi yang berisi ritual-ritual kecintaan terhadap alam. Pala, cengkih, kenari, kayu manis, durian, pinang dan bambu yang menjadi sumber mata pencaharian warga, selain tanaman bulanan seperti tomat, cabe, sayur-mayur, dan rempah-rempah, berdampingan dengan hutan alam yang ada di sekitar perkampungan.

Baca Juga  Ini Cara Menyiapkan Warga Adaptif Ketika Bencana (1)

Sementara   Desa Guruapin – Kayoa untuk proses penanaman mangrove karena Kampung yang dikelilingi hutan mangrove  itu saat ini sedang menghadapi ancaman. Sementara  kegiatan  ditutup dengan ekowisata berbasis komunitas di Guraici, Lelei – Kayoa itu karena potensi wisata pulau-pulau yang dijangkau dengan speed boat kurang lebih 3 jam itu  begitu menawan.

“Sesuai tema kegiatan  berkaitan dengan pesisir laut dan pulau-pulau kecil, Kayoa menjadi pilihan untuk  pelestarian mangrove dan ekowisata berbasis komunitas. Kayoa merupakan gugusan  pulau-pulau  di Halmahera Selatan yang memiliki cerita mangrove sebagai pelindung bagi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Beberapa desa pesisir  di Kayoa merupakan contoh kampung pesisir yang dikelilingi dan dilindungi berbagai jenis mangrove dan ekosisitem laut, sehingga hasil laut seperti ikan karang berlimpah.

“Kearifan lokal masyarakat Kalaodi dan Kayoa dalam menjaga kelestarian dan keberlanjutan ekologi dapat menjadi pembelajaran bagi pengelolaan lingkungan hidup di Maluku Utara sebagai provinsi kepulauan, maupun di berbagai wilayah kepulauan lainnya di Indonesia. Kalaodi adalah laboratorium bagaimana masyarakat lokal secara turun-terumun  karena telah menjadi penjaga wilayah hutan dan pegunungan Tagafura yang melindungi perkampungan wilayah pesisir dari banjir dan bencana ekologi lainnya. Sementara  Kayoa merupakan miniatur kampung pesisir yang melindungi dan dilindungi mangrove. “Pengetahuan lokal ini harusnya dijaga serta ditransformasikan, bukannya direduksi dan diganti dengan kawasan lindung/konservasi yang ditetapkan pemerintah dan pengelolaannya diserahkan kepada investasi,” jelas Ismet.  Peran warga Kalaodi dan Kayoa dalam menjaga dan melindungi lingkungan hidup di sekitar mereka haruslah diapresiasi dan diberikan dukungan penuh oleh negara.(*) 

Share :

Baca Juga

Kabar Kampung

Petani Dapat Penguatan Usaha Kelapa dan Hortikultura

Kabar Kampung

Ini Cara Mendorong Warga Memetakkan Wilayah Adatnya

Kabar Kampung

Cerita Warga Mengolah Aren, Melindungi Hutan Halmahera

Kabar Kampung

Perkumpulan Pakatifa Ikut Kampanyekan Perlindungan Satwa Laut
Di tengah bencana warga Gane masih bisa memanfaatkan pangan lokal untuk makanan mereka

Kabar Kampung

Ini Cara Menyiapkan Warga Adaptif Ketika Bencana (1)

Kabar Kampung

Kolaborasi Dorong Perdes Pesisir dan Laut Kayoa

Kabar Kampung

Melihat Perempuan- perempuan Tangguh Pulau Kolorai

Kabar Kampung

Buat Minyak Kelapa Kampong, Lawan Ketergantungan