Home / Etniq / Kabar Kampung

Jumat, 12 November 2021 - 09:37 WIT

Perempuan Tobaru Kembangkan Pangan Lokal

Dorci Polu (56) dan suaminya Herman Ime (60) Jumat siang di pertengahan Februari lalu itu duduk di depan rumah. Hari itu mereka  belum ke kebun  yang  berjarak sekira 3 kilometer dari Desa Togoreba Tua Kecamatan Tabaru Halmahera Barat Provinsi Maluku Utara.

Herman Ime duduk di  kursi sambil menatap ke arah jalan raya. Sementara Dorci langsung keluar sebentar menghadiri acara arisan warga kampung yang dilaksanakan tak jauh dari rumahnya.  

Mereka sebenarnya sedang menanti kedatangan pedagang pengumpul beragam pangan lokal dari Desa Sarau   tetangga kampung mereka. 

Hasil- hasil pangan yang akan dijual hari itu, menumpuk di dapur. Ada puluhan pohon pisang jenis mulu bebe. Keladi,  ada juga singkong  dan beberapa jenis sayur.   Di dapur itu juga ada gabah kering hasil menanam tahun sebelumnya  yang masih tersisa dan rencana  digiling untuk  kebutuhan sehari-hari. Gabah  tersebut akan diolah menggunakan mesin penggilingan padi.  “Kami masih makan beras baru (padi gogo) yang ditumbuk atau digiling,” ujarnya.

Rin Bodi saat berada di kebun padi miliknya

“Jualan  ini mama- mama pe urusan.  dorang yang tanam dengan bajual. Torang laki   ini cuma bantu kalau  bajual bagini. (Jualan ini urusan mama-mama mereka yang tanam dan jual, kita para suami hanya ikut bantu saja),” ujar Herman. 

Hasil-hasil kebun itu akan dibayar oleh para pedagang pengumpul, selanjutnya dibawa ke Jailolo Ibu Kota Halmahera Barat  atau juga ke Kota  Ternate. Pedagang pengumpul ini sudah menjadi langganan.  Seminggu dua kali  datang membayar berbagai hasil kebun   mereka.   

Herman bercerita, istrinya menanam berbagai tanaman pangan local di kebun.  Selain untuk kebutuhan makan sehari-hari juga dijual memenuhi kebutuhan hidup. Pangan local yang dijual ini biasanya dikelola  kaum perempuan. Sementara  laki laki lebih banyak mengurus tanaman tahunan seperti kelapa, pala dan cengkih.  

Dari jenis pisang mulu bebe dijual,  per pohon  Rp15 ribu hingga Rp20 ribu. Sementara untuk keladi per karung  yang beratnya 25 kilogram  dijual dengan harga Rp50 ribu.

“Harga keladi sudah turun. Sebelumnya per karung dengan berat 25 kilogram dibeli Rp100 ribu. Begitu juga dengan ubi jalar dan singkong  per karung kecil itu antara Rp30 ribu sampai Rp50 ribu,” jelas Herman.

Hari itu Herman dan istrinya menjual 12 pohon pisang mulu bebe,  empat karung  berisi bete atau keladi. Ada juga jahe dan  beragam jenis sayur.  

Keluarga ini sebenarnya juga memiliki kebun yang dikhususkan menanam kelapa, dan pala  tetapi  tanaman pangan  lokal  juga  jadi  keharusan  tetap ditanam.  

“ Satu kebun  digunakan untuk tananam pisang, keladi, jahe dan beragam pangan lokal. Di lokasi itu juga dibuka sebagian lahan untuk tanam padi. Untuk padi lading,  kami tanam tahun lalu.  Tahun ini tidak ditanam karena kondisi hujan turun hampir sepanjang tahun. Akhirnya sulit membersihkan kebun yang mau ditanami padi,” jelasnya.

Dia mengaku  mereka menanam  sekira 3 ribu pohon  keladi yang menunggu  dipanen. Begitu juga pisang ada   seribu pohon lebih. 

“Hasilnya kita tidak  jual semua, karena  untuk makan sehari-hari. Dulu Ketika  akses jalan belum terbuka seperti sekarang, pisang, bete/keladi dan sayur-sayuran tidak dijual. Mau jual juga siapa yang beli, karena  semua orang memiliki,” katanya  lagi.

Dia cerita, sebelum tahun 2017 ketika akses jalan belum terbuka seperti sekarang mereka sangat sulit  memasarkan pangan local. Tidak ada alat transportasi yang bisa masuk dari ibukota kecamatan Ibu yang jaraknya hamper 20 kilometer.  Mereka hanya mengandalkan gerobak sapi dan motor dengan kondisi  jalan yang memprihatinkan.  

Baca Juga  JETP Tak Boleh Abaikan Energi Terbarukan Berbasis Komunitas

Sekarang ketika akses jalan terbuka warga  memanfaatkan lahan mereka menanam berbagai pangan local   dan tidak saja untuk dimakan tetapi dijual.

“Akses jalan terbuka pisang dan berbagai pangan local bisa jadi uang. Kalau dulu  dibiarkan hancur percuma.

Dulu bete atau keladi misalnya, diberikan kepada teman dan tetangga juga tidak diambil. Sekarang setelah ada akses jalan terbuka seluruh bahan makanan  dari kebun itu  laris  dijual ke kota. Bahkan dengan harga cukup lumayan,” jelasnya.

Marta (40 tahun) bekeja membersihkan semak belukar di kebunnya di desa Podol Tabaru foto M Ichi

Herman dan istrinya setiap pekan  bisa mendapatkan uang jutaan rupiah dari menjual pisang dan berbagai pangan local lainnya.

“Satu kali menjual pisang dan keladi ini   bisa dapat Rp300 ribu sampai Rp400 ribu. Dalam sebulan bisa tiga kali sampai 4 kali dipasarkan hasil yang dipanen,” jelasnya.

Apa yang dilakoni suami istri ini adalah contoh mayoritas masyarakat adat Tobaru, masyarakat asli Pulau Halmahera di Kabupaten Halmahera Barat   yang dalam  kehidupannya  sangat  bergantung pada hutan dan lahan  kebun.  “Torang ini  orang  kobong  kalau ada tanah untuk bakobong maka torang bisa hidup. Selain tanam pala deng kalapa juga tanam torang pe makanan. (Kami ini petani. Jika ada tanah  untuk berkebun  maka  bisa hidup. Selain menanam kelapa dan pala sebagai tanaman perkebunan,  juga tanam  pangan  untuk dimakan sehari-hari),”katanya.

Perempuan jadi  Tulang Punggung     

Dalam  mengembangkan pangan local  beberapa kelompok masyarakat  asli Halmahera umumnya, kaum perempuan memiliki peran sangat sentral. Mereka menjadi tulang punggung  membudidayakan pangan lokal.  

Sama halnya di masyarakat adat Tobaru  Halmahera Barat. Peran mereka tidak hanya menanam bahkan ada yang sampai menyiapkan lahan kebun. “Saya bikin sendiri kebun untuk menanam padi. Kebun yang disiapkan untuk menenam padi tidak seberapa hanya seperempat hektar,” jelas Rin Bodi salah satu perempuan desa Podol.   

Rin bercerita, padi yang  ditanam  di kebunnya, pembersihan lahannya  dikerjakan  sendiri. Dia menebang pohon dan semak belukar di lahan itu, kemudian dibersihkan   dan dijadikan kebun  padi.

Cerita serupa disampaikan  beberapa ibu yang ditemui saat bekerja membersihkan lahan milik  Yusak Bulere salah satu warga Podol. Para ibu bekerja layaknya kaum lelaki. Mereka mengambil peran yang sering dikerjakan  kaum laki-laki. Ria (40 tahun) Marta (45) tahun Runi (39) mengaku selain berkebun untuk menanam tanaman pangan, mereka juga mencari pendapatan tambahan  untuk  memenuhi kebutuhan keluarga sehari hari.

Mereka bekerja bersama  membersihkan kebun  warga dengan   sewa  atau upah   dihitung    per jam.  Dalam satu jam bekerja dibayar Rp12.000.  Rata rata dalam sehari  bekerja  7 sampai 8 jam. Dengan demikian dalam sehari tiap orang bisa menghasilkan uang Rp 96 ribu yang ditabung  bersama.

Marta mengaku ada banyak kelompok perempuan yang bekerja seperti mereka.    Pekerjaan yang mereka lakukan mulai dari membuka lahan kebun baru,   membersihkan   kebun  kelapa   dan  pala dari rumput liar atau gulma.  Uang hasil sewa pekerjaan ini mereka kumpul dan dibagi sama  dalam setahun. “Biasanya pembagian hasil ini ketika masuk  natal dan tahun baru.  Tujuan torang  pas masuk natal dan tahun baru sudah bisa ada simpanan untuk belanja kebutuhan pokok ,” jelas Marta.  Setelah dibagi rata nanti dibelanjakan berbagai kebutuhan guna menyambut  natal dan tahun baru. Atau juga jika ada kebutuhan mendesak bisa diambil dan digunakan. Misalnya kebutuhan pendidikan anak atau juga  kebutuhan hajatan  keluarga dan lainnya.

Baca Juga  Perkenalkan Badan Bank Tanah di  Malut 
Tanamam tumpang sari singkong dan keladi yang ditanam di kebun Dorce Polu warga Togoreba Tua

Marta  bilang  apa yang mereka lakukan ini   bagian dari usaha membantu suami sebagai kepala keluarga menopang  kebutuhan hidup sehari-hari.

Ternyata perempuan Tobaru tak hanya sebatas menanam pangan. Mereka ikut memasarkan langsung hasil hasil kebun  ke pasar.  Jumat sore  setiap pekan mereka sudah mengangkut hasil   ke pasar di ibukota kecamatan Ibu. Di dikenal dengan  pasar Sabtu,  beragam hasil para petani dijual di pasar ini. Dari pangan local seperti pisang, singkong, talas, beragam sayur mayur hingga buah buahan.   Sejak Jumat sore hingga Sabtu dinihari  warga Tobaru dari berbagai desa mengangkut   hasil kebunnya ke pasar tersebut. Mereka  gelar dagangan dengan kondisi seadanya.  

Hal ini karena fasilitas pasar yang tidak memadai, warga Tobaru yang datang memasarkan hasil pertaniannya hanya bisa menggelar dagangan  di tepi jalan. Tidak ada  tempat  khusus. Mereka hanya bisa menggelar jualan di atas jalanan aspal yang sangat rawan diseruduk kendaraan yang  lewat.    Pengakuan beberapa warga mereka tidak punya tempat khusus untuk berjualan karena itu terpaksa  jualan di tepi jalan dan depan toko.  

“Mau bagaimana lagi karena tidak ada tempat khusus  setiap hari  pasar jualan di atas jalan dan depan toko,” ujar Mariatje salah satu pedagang di pasar Ibu.

Tokoh perempuan Tobaru  Alwina Tjiwili  bilang seperti itulah pekerjaan yang dilakoni kaum perempuan  Tobaru. Selain sebagai ibu yang mengurus rumah tangga juga menjadi tulang punggung urusan pangan. Mereka bekerja  tidak hanya di rumah tetapi juga di kebun. Mereka bahu membahu dengan suami tidak hanya dalam urusan pangan tetapi  juga dalam  mencari tambahan pendapatan menopang kebutuhan rumah tangga.

Di kebun misalnya, peran mereka sangat menentukan.  Dari mulai membuka kebun sampai menanam berbagai tanaman pangan. Bahkan katanya saat ini  ketika akses jalan mulai terbuka peran perempuan tidak hanya berkutat pada menanam tetapi   juga memasarkan hasilnya.

Keladi yang telah dikarungkan dan siap dijual

Meski begitu dia bilang karena peran perempuan yang didominasi pada urusan  domestic dan kebun pangan.  akhirnya peran peran lain nyaris tidak  diperoleh.  Dalam urusan politik atau dalam ruang ruang public,   tidak ada perempuan perempuan  Tobaru di situ. Setiap momen politik yang muncul bukan perempuan  masyarakat Tobaru yang tampil.

“Contoh nyata  urusan politik, perempuan Tobaru sangat minim. Bahkan tidak ada yang mengambil peran.   ,”katanya. 

Nurdewan SafarDirektur  LSM Daurmala Maluku Utara yang selama ini banyak mendampingi kaum perempuan untuk berbagai kasus kekerasan  perempuan di Maluku Utara bilang, perempuan sebagai tulang punggung perekonomian keluarga, untuk   beberapa kelompok etnis termasuk masyarakat adat Tobaru  sudah menjadi hal umum   dan  sudah tidak asing lagi. Perempuan katanya  menerima beban  ganda. Dari urusan domestic hingga menjadi tulang punggung ekonomi.

Tumpangsari pisang dan kelapa yang dikembangkan masyarakat Tobaru

“Yang menjadi persoalan perempuan masih menjalankan  beban ganda. Selain urusan domestic juga bekerja di sektor public dan  sektor lainnya. Meski begitu   masih

disubordinasi dalam lingkungan,” katanya.

Menurut dia, budaya patriarki yang melekat di masyarakat masih sulit diubah. Karena itu, biar pun perempuan sudah menjadi penopang ekonomi, tetapi dalam berbagai kasus yang ditanganinya masih mendapatkan diskriminasi dan kekerasan di tingkat keluarga dan masyarakat. “Di sini persoalannya,” kata  Dewa.(*)

Share :

Baca Juga

Kabar Kampung

Warga Gane Timur Minta Pemerintah Perhatikan Produksi Sagu

Kabar Kampung

Di Mare akan Dikembangkan Jambu Mente
Pantai Pulau Pagama yang masuk dalam kawasan konservasi kepulauan Sula

Kabar Kampung

KKP Kepulauan Sula Kaya Potensi Belum Terkelola Baik

Kabar Kampung

Warga Gane Keluhkan jadi Langganan Banjir

Etniq

Punahnya Sumber Daya Genetik Pangan Orang Tobaru

Kabar Kampung

Tugu Kenari dan Diaspora Minang di Makean

Kabar Kampung

Melihat Festival Kalaodi, dan Pekan Lingkungan Hidup P3K

Kabar Kampung

Banjir dan Longsor, Perparah Jalan Sayoang-Yaba