Home / Kabar Kota Pulau

Senin, 7 Maret 2022 - 13:37 WIT

Pertanian Organik hingga Rencana Agrowisata di Ternate

Kembangkan Urban  Farming Jawab Keterbatasan Lahan  

Hari  masih agak terik sekira pukul 15.00 WIT pada Kamis (6/1/2021). Kamil Ishak (50) beristrahat di rumah kebunnya, sekira 300 meter dari kelurahan Loto Kecamatan  Ternate Barat Kota Ternate Maluku Utara. Dia baru selesai menyiangi rerumputan yang tumbuh di kebun yang dia olah  di daerah kemiringan  dengan beberapa  jenis tanaman hortikultura. Di rumah itu selain istrinya  juga ada beberapa tamu. Mereka adalah penyuluh pertanian dan petani yang punya kebun berdekatan dengan  Kamil. Di sekitar kebun Kamil para petani   mengusahakan beberapa jenis tanaman yang sama seperti mentimun, tomat, cabe serta  dan kangkung.

Di kebun ini, Kamil mempraktikkan penggunaan pupuk dan pestisida organik. Kamil mengaku telah mengembangkan kegiatan ini sejak 2013 lalu. Artinya sudah hamper 9 tahun dia bergelut dengan pertanian organik ini. “Saya kenal pupuk organik  itu ketika dibina oleh sebuah lembaga yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat,” jelasnya. 

Dia pernah dikirim   mengikuti pelatihan di Poso Sulawesi Tengah. Di sana diberi pelatihan dan  ikut belajar bagaimana memanfaatkan sisa sisa tanaman dan kotoran ternak  menjadi bahan  yang berguna untuk tanah dan tanaman.  Hasilnya selain berguna menjaga kesuburan tanah, mencegah hama dan penyakit,  juga ikut menjaga alam dari ancaman pupuk dan pestisida kimia. 

Kamil Ishak yang  biasa disapa warga   Om Nami  adalah salah seorang  warga Ternate yang bisa dibilang berhasil menggerakan pertanian organik di kampungnya. Dia sudah beberapa tahun ikut dan menggerakkan petani di beberapa kelurahan Kota Ternate mengembangkan pertanian organik.  

Baginya, model pertanian dengan memanfaatkan pupuk dan pestisida dari sisa- sisa tanaman yang diolah sendiri  atau juga mengombinasikan produk pupuk dan pestisida organik pabrik, dapat meningkatkan produksi  sekaligus menjaga alam. Ia mengaku hanya memanfaatkan apa yang ada di alam ketimbang mendatangkan pupuk dan pestisida yang dihasilkan pabrik, yang  diyakini  suatu saat selain mengancam  tanah dan lingkungan juga  zat kimia  yang menempel di hasil produksi tanaman ikut memengaruhi tubuh manusia yang mengonsumsinya.  

Kebun caeb milik petani yang ada di Loto Ternate Barat

“Hitung hitung torang (kita,red) batanam (menanam,red) dengan sistim organik ini  dapat memanfaatkan apa yang ada di alam juga membantu perbaikan tanah dan melindungi kesehatan manusia,” ujar Nami.  

Awalnya, gerakan menanam dengan  sisitim  organik ini dilakukan sendiri, lama kelamaan orang- orang sekitar  tertarik belajar dan ikut  memanfaatkan apa  yang   ada di alam.  Hasil  tanaman   seperti buah,  daun maupun  batang,  dimanfaatkan menjadi pupuk dan pestisida.

Nami kini bahkan menjadi salah satu trainer yang memberi pelatihan pembuatan berbagai pupuk organic di Kota Ternate berkat ketekunannya mendorong pertanian   ini.  Terhitung  puluhan  kelompok tani di Ternate dan Halmahera sudah mengundangnya  sebagai  salah satu trainer  pertanian organik.   

Saat ini  juga dia tidak sendiri lagi mengelola lahan untuk pengembangan  pertanian organik. Bersama beberapa rekannya di Kelurahan Loto   telah membentuk kelompok  dan mengelola lahan  seluas kurang lebih tiga hektar untuk mengembangkan beberapa jenis hortukutura seperti cabe rawit, cabe nona, tomat, mentimun, kangkung dan  beberapa sayuran lain.

Nami mengaku,  awalnya mengembangkan sendiri dengan usaha sayur mayur. Hasilnya kemudian dia tawarkan dari kantor ke kantor terutama kepada pegawai dan pejabat yang menyukai sayur-sayuran yang ditanam dengan penggunaan pupuk organik.

Tetapi belakangan ini telah beralih menanam cabe dan tomat dan bawang. Untuk cabe dia tanam kurang lebih 2000 pohon.  Cabe yang ditanam itu,  dalam tiga bulan ini hasilnya sangat lumayan. Tidak kurang dari   Rp70 juta  telah  didapatkan.

Musim tanam ini  panennya sudah 21 kali. Di mana  sekali panen bisa sampai 80 kilogram. Biasanya  dalam lima hari sekali panen.  Ini jika cabe berbuah lebat. Sementara  jika yang siap panen hanya sedikit kadang panennya antara 20 sampai 50 kilogram. Untuk harga  per kilogram Rp50 ribu.  

“Sekarang ini kami menanam cabe dan tomat yang merupakan tanaman tiga  bulanan. Sebelumya tanam sayur seperti bayam merah, petsai selada,   kangkung  dan lain-lain seusai kebutuhan konsumen atau pasar. Akhir 2020 baru masuk dengan tanaman tiga bulanan  tomat, cabe atau rica varietas laba dan lado. Jenis laba f1  yang   ditanam saat ini sudah panen ke 21.   Jika ditotalkan secara  keseluruhan  sudah lebih satu ton panen  cabe keriting.  Panen harian  kadang naik turun 80  60 70 sampai 20 kilo sekali panen juga ada,” jelasnya.

Baca Juga  Cerita Para Perempuan Dibo-dibo Ikan

Dia bilang lagi, menanam tanaman tiga bulanan ini terbilang  menguntungkan. Pasalnya, soal harga komoditi ini  juga bertahan. Apalagi di kota Ternate untuk hasil dari jenis tanaman ini, mereka tak perlu bawa sampai ke pasar. Para pedagang pengumpul sudah langsung ke kawasan pertanian ini  lakukan transaksi. Sementara jika menamam jenis sayuran  hanya sekali panen  selanjutnya harus kembali menanam.

Memang katanya, untuk jenis penyakit  kadang menjadi kendala namun dengan pupuk dan pestisida organic sangat disyukuri tanaman yang diusahakan juga aman.  “Saya hanya dapat serangan layu fusarium   dan sudah bisa diatasi, Disyukuri sejauh ini masih aman,” jelasnya. Nami sendiri mengaku menggunakan pupuk organic buatan sendiri. Tetapi    kadang menggunakan pupuk organik yang dihasilkan dari pabrikan karena masalah waktu dan tenaga.

“Di lahan saya ini butuh pupuk organik satu ton  sementara jika dikerjakan sendiri proses pembuatannya tentu sangat memberatkan karena itu kadang kami mengambil jalan tengah menggunakan pupuk organik buatan pabrik yang direkomendasikan instansi terkait,” tambahnya.

Untuk buatan sendiri itu namanya super bokasi yang dihamburkan ke dalam tanah setelah itu ditutup dengan mulsa dan diistirahatkan selama sepekan selanjutnya   dilakukan penanaman.  Ada juga pupuk organic local yang  diproduksi di Ternate  beranama   MA 11 yang dibuat  dan  dikembangkan oleh Bank Indonesia di mana   laboratoriumnya  ada  di Ternate.

Dalam  pembersihan lahan  masih dilakukan secara  manual sehingga butuh  butuh tenaga ekstra. Rerumputan yang dicabut dibiarkan saja. Selanjutnya saat tanah  dibajak menggunakan hand tractor  rerumputan   masuk dalam tanah    menjadi pupuk organik.

Saat bertanam sayur  sepenuhnya  menggunakan organik yang dibuat sendiri. Misalnya menggunakan  kotoran ternak,  air cucian beras  pertama, maupum air kelapa. Untuk pestisida pemberantas hama dan penyakit juga menggunakan   beberapa  bagian tanaman. Misalnya cabe ditambah bawang putih daun sirsak. Ada juga   menggunakan  tanaman   daun mimba, gadum serta bori atau akar tuba.

“Pupuk dan pestisida organik buatan sendiri memang  sangat efektif hanya saja   karena keterbatasan tenaga maka kadang untuk memaksimalkan waktu dan tenaga dipakai  hasil olahan pabrikan,” imbuhnya.  

Kebun Nami ternyata satu hamparan dengan beberapa petani yang tergabung dalam kelompok tani Kelurahan Loto. Sekadar diketahui lahan tersebut merupakan milik Dinas Pertanian Kota Ternate yang diberikan pengelolaanya kepada warga  setempat. Luas lahan sekira 4 hektar itu, dikelola warga  dan dinikmati hasilnya tanpa perlu dibagi ke pemerintah. 

“Lahan tersebut kami berikan pengelolaanya kepada para petani. Hasilnya menjadi milik mereka. Kami juga berikan dukungan sejumlah fasilitas dari traktor,  air hingga bantuan bibit dan sarana produksi lainnya.Termasuk upaya membantu pemasarannya,” jelas Kepala Dinas Pertanian Kota Ternate Thamrin Marsaoly  ditemui awal Januari 2021 lalu. Menurutnya, kawasan pertanian ini juga rencana dikembangakan dengan model urban farming. Mengingat lahan yang terbatas di Kota Ternate dan sebagian besar warga Ternate memiliki kebiasan lebih banyak menanam dan mengelola tanaman tahunan dari pada tanaman  bulanan  terutama jenis hortikultura.

“Prinsipnya siapa mau menanam dia akan menikmati hasilnya. Jika mereka lakukan pemerintah memberikan dukungan sepenuhnya demi kesejahteraan petani,” ujarnya.

Lahan miliki  dinas pertanian  ini setelah  setahun   ini dikelola dan diberikan dukungan oleh pemerintah kota Ternate,   sudah mulai dikunjungi berbagai pihak. Bahkan saat diadakan panen beberapa jenis tanaman hortikutura sempat  dihadiri  Dirjen Tanaman Hortikultura Kementerian Pertanian Republik Indonesia  Prihasto Setyanto.

Saat hadir dalam panen tersebut Kementan melalui Dirjen    mengikuti acara panen raya hasil pertanian  petani  di Kelurahan Loto.

Pepaya yang ikut ditanam oleh om Nami

Sekadar diketahui, Kelurahan Loto di Kecamatan Ternate Barat adalah  salah satu kelurahan yang berada di daerah rawan bencana gunungapi Gamalama, hutan dan tanah di  sini juga hamper setiap saat diguyur debu vulkanik. Debu gunung ini diyakini warga setempat sangat menyuburkan  tanah. Karena itu meskipun  bertanam di lahan yang di samping kiri kananya dipenuhi perkebunan kelapa, cengkih  pala serta durian,  lahanya terbilang  masih sangat produktif.  ”Lahan di sini masih sangat subur mungkin juga karena pengaruh abu gunung yang ada,” kata Nami. 

Baca Juga  Hemiscyllium halmahera Terancam, Perlukah Perlindungan?  

Apa yang dirintis Nami dan beberapa warga di Loto ini selain menjadi  contoh usaha berkebun organic  dengan  tanaman tanaman hortikultura, rencananya   dikembangkan menjadi kawasan agrowisata di pulau Ternate. Upaya ini didorong sebagai bentuk memanfaatkan  lahan yang terbatas karena hamper semua telah diisi tanaman tahunan. Selain itu  memanfaatkan  pemandangan alam  yang indah dari daerah puncak di Kecamatan Ternate Barat Kota Ternate. Tujuan menarik minat wisatawan lokal mengunjungi kawasan pertanian ini.

Di situ nanti selain menikmati keindahan kawasan pertanian,  juga bisa membeli dan memanen sendiri cabe, tomat maupun sayuran yang akan dibeli. Harapannya ketika mengembangkan pertanian hortikuktura di daerah puncak dengan keindahan alamnya, menarik  minat banyak orang datang ke tempat ini. Dengan begitu sebagian  warga Loto dan sekitarnya yang tidak membuka lahan  bertani, bisa membuka usaha lain misal warung kopi atau  usaha jasa yang lainnya.

“Rencana tersebut akan direalisasikan tahun 2022 ini yang diawali dengan menggenjot beberapa sarana pendukung. Misalnya akses jalan untuk kendaraan roda dua, penyediaan air dan sarana dukungan lainnya. Soal air kata Thamrin sangat penting hanya untuk disiram jika tidak ada hujan. Karena itu pengadaan profil tank yang disiapkan di lahan lahan petani juga sangat dibutuhkan.Air akan didorong dari bawah kemudian ditampung dan kemudian didistribusikan ke kebun kebun yang membutuhkan. 

“Kita kolaborasi dengan instansi terkait membangun sarana pendukungnya. Kita juga sudah dijanjikan oleh Kementan untuk mendukung rencana pengembangan urban farming ini dengan pembiayaan. Semuanya akan  kita siapkan fasilitasnya,” tutupnya.  

Rencana  Pemkot Ternate menggulirkan program   Urban Farming/Pertanian Perkotaan patut didukung, sebagai langkah untuk menyediakan pangan secara mandiri.  Dosen dan Praktisi urban farming Unversitas Khairun Ternate Dr. Hamidin Rasulu, STP., MP menyatakan, pertanian perkotaan menjadi salah satu pendukung dalam mewujudkan ketahanan pangan serta pengentasan kemiskinan di wilayah Kota Ternate.

Pemkot Ternate sudah melakukan kajian melalui kerjasama antara Universitas Khairun dan BAPELITBANGDA Kota Ternate mengenai karakteristik pertanian perkotaan di Kota Ternate.  Menurutnya dengan keterbatasan lahan yang ada di pulau Ternate maka untuk pengembangan komoditas pertanian perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah Kota Ternate melalui Organisasi Perangkat Daerah  terkait terutama untuk beberapa kelurahan di Ternate  yakni Loto, Rua, Moya, Tubo, Takome, Batang Dua, Moti, sehingga tercipta kemandirian pangan.  

Melihat potensi dan permasalahan pertanian di Kota Ternate, maka perlu dirumuskan kebijakan yang komprehensif untuk pengembangan pertanian Kota Ternate dalam rangka pengembangan kota berkelanjutan. Di mana kebijakan tersebut dapat dilakukan dengan pendekatan integratif yang mempertimbangkan 5 (lima) dimensi, yaitu dimensi ekologi, dimensi ekonomi, dimensi sosial dan dimensi teknologi. “Untuk pendekatan dimensi teknologi maka pengembangkan sektor pertanian budidaya dengan sistem hidroponik/aquaponik, serta pemanfaatan lahan pekarangan menjadi pilihan tepat.

Namun demikian tidak meninggalkan sistem pertanian konvensional yang lebih murah. Perlunya dukungan pemerintah Kota Ternate terhadap pelaku pertanian perkotaan berupa insentif dan pendampingan serta adanya kepastian hukum yang tertuang dalam Perda/Peraturan lainnya yang dapat menjadikan pertanian perkotaan berkelanjutan,”jelasnya. Dia bilang  perlunya aplikasi teknologi sederhana dan tepat guna yang mudah dilakukan seluruh kalangan masyarakat.

Sebagian lahan yang ditanami sayur kangkung oleh kelompok tani yang ada di Loto, Mahmud Ichi

Selain itu manfaatkan kembali (reuse) limbah organik kota sebagai sumber hara dan nutrisi bagi tanaman. “Kotoran-kotoran ternak dapat dimanfaatkan sebagai sumber bokasi. Sehingga  dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat,”usulnya. Adanya konsep seperti itu diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang sehat, aman, nyaman, dan bersih, serta terpenuhinya kebutuhan pangan keluarga dan masyarakat Kota Ternate secara mandiri. (*)

Tulisan pernah dimuat di situs berita mongabay.co.id

Share :

Baca Juga

Kabar Kota Pulau

Muslimat NU Morotai Diharapkan Bantu Pemda

Kabar Kota Pulau

Ingatkan Warga Kota Ternate Hemat, Jaga dan Rawat Air

Kabar Kota Pulau

Pakativa – Dinkes Lakukan Penyuluhan Kesehatan
Ilustrasi foto BMKG

Kabar Kota Pulau

Isyu Lingkungan dan Perubahan Iklim Salah Satu Poin Rekomendasi ICMI

Kabar Kota Pulau

Ekonomi dan SDA Morotai Berbasis Lingkungan akan Dibedah Bersama

Kabar Kota Pulau

326 Peserta Ramaikan Mancing Mania Dies Natalis Unkhair

Kabar Kota Pulau

Ancaman Di Masa Depan Sangat Serius Perlu Kolaborasi Lintas Sektor

Kabar Kota Pulau

Negara Pulau dan Kepulauan akan Gelar Kongres