Home / Baronda

Selasa, 19 Januari 2021 - 20:46 WIT

Saatnya Pariwisata Malut Genjot Wisatawan Domestik

Kondisi pandemi  Covid-19 sangat membatasi ruang gerak. Hal ini berdampak di semua bidang kehidupan. Salah satunya   usaha di bidang pariwisata. Saat ini  perlu ada upaya  menggenjot wisatawan local ketimbang dari luar negeri.Di Maluku Utara ini yang perlu didorong adalah memperbaiki sarana prasarana untuk kepentingan pariwisata lokal.    

Setidaknya hal ini mengemuka dalam Forum Diskusi Group (FGD) yang digelar oleh Duta Kreator Indonesia  (DKI) bersama pemerintah daerah, Bank Indonesia akademisi dan  pegiat  pariwisata  di Maluku Utara Sabtu (15/1) lalu meeting rom Royal Restaurant Ternate.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Ternate Risal Marsoly berbicara awal dalam FGD  itu mengungkapkan, saat ini semua pergerakan dibatasi akibat pandemic. Karena itu  yang perlu dilakukan adalah meningkatkan pelayanan dan mengharapkan wisatawan lokal. Ternate misalnya  punya peluang besar menggenjot wisatawan local tersebut.  

“Ternate dengan banyak tempat wisatanya  sekaligus menjadi pintu masuk Maluku Utara, memiliki keunggulan.  Kondisi pandemic ini kita belum bisa berharap banyak  kunjungan wisatawan manca negara termasuk wisatwan antar provinsi di Indonesia.  Kita berharap warga dari kabupaten kota di Maluku Utara saat menyinggahi Ternate, bisa menghabiskan waktunya berwisata ke berbagai destinasi di  kota ini,” jelas Risal.   

Pengunjung Destinasi Ekowisata Taman Love yang rata rata adalah warga Maluku Utara, foto M Ichi

 Sebagai pintu masuk katanya, dalam menggenjot pariwisata ini tidak bisa dikerjakan sendiri. “Kita butuh kolaborasi dengan membuat program yang terukur. Setiap tahun akan ada event yang bisa kita dorong,”katanya.

Dia juga bilang, untuk menggerakan pariwisata Ternate destinasi yang sudah ada perlu dikelola pemerintah dan swasta. Contoh di Sulamadaha masih banyak kekurangan. Saat ini anggaran terbatas  dan refocus untuk covid-19.  Dalam mengurus pariwisata pemerintah tidak bisa kerja sendiri  butuh banyak orang menggerakannya. “Kami Ternate siap membuka diri,” katanya.

Saat ini yang didorong Ternate di masa pandemi   ini adalah wisata domestik. Pasalnya, meskipun wisatawan domestic, dalam setiap kunjungan dipastikan ada transaksi terjadi.  

Baca Juga  Ekowisata Cengkeh Afo, Padukan Sejarah dan Alam

Sementara Hario K Pamungkas- Deputi Kepala Perwakilan BI Maluku Utara menyampaikan bahwa Maluku Utara mencapai angka pertumbuhan ekonomi tertinggi hingga  6,66%. dan Tertinggi di Indonesia. Namun angka pertumbuhan   itu  di sektor tambang. Sementara di sektor Pariwisata menurun.

Senada Kadis Pariwisata Hario  mengusulkan agar di masa pandemic ini  harus diketahui wisatawan mana yang  dituju  bisa datang menikmati berbagai destinasi wisata  di daerah ini.   “Wisatawan lokal saja sudah bisa.  kita harus bangga dan maksimalkan potensi wisatwan lokal ini,” ujar Hario.

Dia bilang  untuk menjaga usaha wisata di masa pandemic  ini tetap berjalan, diperlukan  adaptasi, inovasi dan kolaborasi. Keamanan dan kebersihan   juga  perlu  diterapkan di setiap destinasi.

“Perlu me-revolusi Pariwasata  seperti dikatakan Menteri Pariwisata Sandiaga Uno yang   dimulai dari  toilet,” katanya.

Untuk wisatawan yang mengunjungi Maluku Utara sangat disayangkan jika  hanya berkunjung ke Ternate dan Tidore.  Mereka  mestinya perlu diajak ke destinasi yang lain. Misalnya ke Morotai. Apalagi Morotai sejak 2015  masuk sebagai pusat Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)  di mana di dalamnya ada program 10 Bali Baru termasuk Morotai. “ Morotai sebagai 10 Bali Baru ini  belum dimaksimalkan  sehingga tidak terdengar di kancah nasional. Soal  kesiapan  mungkin   sehingga kurang  menjadi perhatian,” ujarnya.

Dosen Pariwisata Universitas Khairun Ternate Betly   Taghulihi  mengatakan, pemulihan pariwisata saat ini lebih pada komitmen dan kesadaran. Perlu ada inovasi dari pemerintah dalam pengembangan dan penguatan tata kelola pariwisata  terutama  desa wisata secara khusus. Misalnya pengembangan fasilitasnya ikut ditingkatkan. Salah satu contoh adalah  homestay.   

Wisata pantai salah satu destinasi yang banyak diminati warga

 Selain itu,  karena kondisi pandemic maka  dibutuhkan adaptasi dengan dibutuhkan kesadaran pelaku usaha dan masyarakat mengenai destinsasi wisata yang clean, dan lingkungan yang sehat. 

“Yang kita butuhkan sekarang harus ada produk dalam mendukung upaya pemulihan. Masyarakat adalah kunci utama keberhasilan mendorong kunjungan sebuah destinasi,” ujar Betly.

Baca Juga  Presiden Resmi Cabut 11 Izin Kehutanan di Malut

Informasi digital soal tourism center juga sangat dibutuhkan sebagai  informasi bagi wisatawan.

Jandri Maninggolang dari Komunitas Jarkot Ternate  bilang, ada 6 zona pariwisata di Ternate  perlu  dikembangkan dengan model community tourism  dan ciri khasnya masing- masing. Batu Angus  dan  Danau  Tolire  misalnya,  masyarakat perlu dibantu untuk membuat paket dalam bentuk wisata minat khusus. Begiti juga Foramadiahi dengan penguatan pariwisata sejarahnya.

“Jadi narasi wisata dari gunung sampai pantainya  keluarnya sama,” katanya.  

Akademisi Fakultas Teknik Arsitektur  Maulana Ibrahim yang juga  salah satu pendiri Komunitas Ternate Heritage Society menyatakan, untuk membedah sakitnya pariwisata Malut bukan karena nanti ada  pandemic saat ini.  Tetapi sudah terjadi sejak lama,  lebih pada masalah infrastruktur yang disediakan.  Sebuah contoh seperti Toilet saja kalau kita ricek ke destinasi wisata di Kota Ternate   kadang bermasalah.

“Toilet  sebagai infrastruktur dasar di banyak destinasi wisata tidak dimiliki. Misalkan di Takome ada toilet tetapi airnya tidak ada,” katanya.  

Tidak itu saja dia menyarankan agar Pariwisata Malut ini dikuatkan  fondasinya  di bdiang budaya. Sebab untuk destinasi wisata di mana pun  akan sama. Semua punya tempat wisata alam.  Tetapi soal wisata budaya pasti berbeda. Maulana juga melihat selama ini Pemerintah belum memberikan contoh kolaborasi yang baik. Yang ada ditunjukan kolaborasi itu ada di komunitas dan warga. “Memang belum ada sinkronisasi dan kolaborasi. Harusnya  ada contoh yang kuat dari pemerintah. Kita miskin contoh terbaik dari pemerintah,” katanya. Tidak itu saja, yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi baseline– destinasi wisata Maluku Utara. (*)

Share :

Baca Juga

Baronda

KPK: Kampus Harusnya Kawal Perusahaan Tambang

Baronda

Liberika Bacan, yang Tersisa dari Warisan Belanda

Baronda

Ekowisata Cengkeh Afo, Padukan Sejarah dan Alam
Pulau Widi di Maluku Utara

Baronda

Widi, Sepotong Surga di Negeri Giman

Baronda

Mengenal Pulau SIBU,Kecil nan Indah dan Dikeramatkan

Baronda

Mtu Mya Halteng, Destinasi Eksotis yang Terancam Abrasi

Baronda

Nikmati Tiga Mata Air di Hutan Mangrove Gamtala

Baronda

Saatnya Pariwisata Go Digital