Home / Kabar Kampung

Senin, 18 Oktober 2021 - 13:16 WIT

Serunya Kegiatan Halmahera Overland 4×4

Dari Rusaknya Jalan hingga Mirisnya Hidup Warga Trans Janu Halmahera Barat

Catatan Dewahyudi   

Ternate Jeep Community: The Wild Of Archipelago Expedition  Nomor Anggota 2015016

Torang di sini so pamalas kasih naik bendera, karena belum merdeka (kami di sini sudah malas menaikan bendera karena belum merdeka). So 15 tahun baru saya lihat oto lewat disini (sudah 15 tahun  baru saya lihat ada mobil lewat  di sini),” kata Priyono salah satu tokoh masyarakat daerah Trans Janu  Kabupaten Halmahera Barat.

Hari itu  saya  coba  berbincang  dengan Priono pria asal Jawa  ini  sekadar ingin menangkap sedikit informasi tentang harapan dari warga transmigrasi terutama mengenai pembangunan  infrastruktur yang selama ini mereka dapatkan.  Perjalanan saya sampai ke trans Janu ini,  karena ada agenda yang digeber oleh Ternate Jeep Community.  

Sekadar tahu, Lembaga ini adalah wadah atau organisasi automotif dan sosial yang di dalamnya berhimpun orang- orang yang mempunyai kesamaan hobi automotif dan petualangan  menggunakan kendaraan berpenggerak 4×4.

Nah, dalam menggerakkan roda organisasi, Ternate Jeep Community mempunyai program kerja yang bertujuan  mengimplementasikan tujuan organisasi sebagai organisasi hobi automotif yang peduli dengan aspek automotif dan sosial.

Jembatan darurat yang dibangun peserta Halmahera Overlang 4×4 sudah bisa dilewati kendaraan mereka, foto Dewahyudi

Halmahera Overland 4×4 adalah bagian dari program organisasi yang menjadi agenda tahunan Ternate Jeep Community. Halmahera Overland di dalamnya mengandung unsur sosial (bakti sosial, penggalangan dan pendistribusian bantuan pasca bencana), expedisi, ekplore potensi kawasan wisata dan paling penting adalah memastikan ada dan layaknya trase jalan untuk ditingkatkan oleh pemerintah daerah yang berwenang dalam penyelenggaraan jalan sesuai statusnya .

Pada 29 September hingga 10 Oktober 2021 lalu  Halmahera Overland 4×4 mengambil perjalanan dengan jalur perjalanan ke Halmahera Barat dan Halmahera Utara melintasi wilayah Sidangoli-Jailolo-Ibu-Kedi-Janu-Trans Janu-Roko.

Jalur yang dipilih dikategorikan jalur favorite, karena menyajikan sensasi track yang variatif. Pengalaman 2 kali melintasi jalur ini memberikan gambaran estimasi waktu tempuh yang tidak terlalu lama (maksimal 4 hari) bisa finish di desa Ruko Halmahera Utara. Namun di luar prediksi, estimasi waktu yang direncanakan mengalami hal  yang cukup mencengangkan. Menempuh jalur Trans Janu-Roko sepanjang 12 KM membutuhkan waktu 6 hari. Dari lama perjalanan ini menjadi gambaran betapa mirisnya kondisi infrastruktur jalan  yang ada di daerah ini.

Baca Juga  WALHI: Jangan "Jual" Halmahera dan Pulau Lainnya

Potret Potensi dan Keseharian Transmigran Janu

Salah satu jalur yang dilintasi saat kegiatan Halmahera Overland 4×4,  adalah jalanan dari kawasan  transmigrasi  Janu di Halmahera Barat menuju Roko di Halmahera Utara.  Dalam jarak tempuh yang hanya 12 kilometer harus menghabiskan waktu hingga 6 hari lamanya. Kawasan transmigarasi yang diharapkan menjadi pusat pertumbuhan baru terutama untuk penyediaan pangan   dan peningakatan kesejhateraan warganya ternyata berbeda dalam kenyataannya.

Padahal jika merujuk pada UU Nomor 29 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian.  dinyatakan tujuan transmigrasi adalah untuk (1) meningkatkan kesejahteraan transmigran dan masyarakat sekitar, (2) meningkatkan pemerataan pembangunan daerah, dan (3) memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Amanat undang-undang di atas, bertolak belakang dengan kenyataannya. 

Sektor infrastruktur jalan sebagai pemutus keterisolasian kawasan dan pendukung mobilisasi produksi pertanian sangat tidak mendukung untuk tujuan kesejahteraan masyarakat sekitar dan para transmigran.

Seperti digambarkan sebelumnya, bahwa  trip yang ketiga kalinya kami  lakukan tracking di jalur ini, tidak menggambarkan upaya perubahan terhadap infrastruktur jalan. Malah yang ditemukan jalan dan jembatan semakin parah dan tidak bisa dilalui kendaraan bermotor.

Menurut   Prio salah satu warga transmigran, lahan pertanian di desa trans janu  sangat  subur, tidak perlu pupuk introduksunsur hara dari luar  untuk tanaman komoditas pertanian.

“Suburunya tanah pertanian memberikan hasil melimpah. Tapi apa lacur hasil kadang  membusuk karena sulit dipasarkan. Ya alasannya karena akses jalan yang sulit akhirnya hasil produksi pertanian kita ada yang membusuk,”katanya. 

Baca Juga   "Nagari Beta Yang Gulana"

Dia bilang hasil pertanian yang dipanen warga transmigarasi kadang membusuk karena tidak bisa dipasok keluar akibat aksesibilitas jalan yang tidak mendukung. Kalaupun dipaksakan harus dipanggul dan berjalan kaki.

Selain hasil komoditas pertanian berupa hortikultura  ada juga hasil kopra  yang mencapai   50-60 ton per bulan. Begitu juga  pala bisa dalam hitungan minggu dapat mencapai ratusan kilogram. Namun semua terkendala pada rantai pasok distribusi. Hal ini juga yang membuat sebagian dari mereka pesimis. Akhirnya  sebagian  warga transmigran   memilih  meninggalkan daerah transmigrasi ini. Sekadar informasi  kawasan transmigrasi Janu adalah perpaduan transmigran dari pulau jawa dan transmigran local Maluku Utara.

Mobil peserta mencapai kampung di Pedalaman Halmahera, foto Dewahyudi

Harapan Membangun Dari Pinggiran

Bagi sebagian warga transmigrasi Janu berpendapat bahwa, secara politik memang tidak menguntungkan. Namun skema pembangunan dan upaya pemerataan pembangunan wilayah dan kemanusiaan jangan sampai terabaikan. Membangun dari pinggiran adalah skema yang paling baik dalam menjaga semangat kebangsaan dan kecintaan serta kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.

Harapan sebagai warga  transmigran Janu perhatian pemerintah jangan sampai hanya pada pemilihan kepala daerah  saja, namun perlu  berlanjut setelahnya. Tujuanya  harapan hidup  sejahtera mampu terpenuhi.

“Tidak usah ada jaringan telpon juga tidak apa-apa.Asalkan jalan yang menghubungkan ke ibu kota kabupaten dapat direalisasikan sehingga memudahkan  warga untuk melakukan interaksi dengan pemerintah sekaligus menggunakan jalan tersebut untuk memasok hasil pertanian yang diperoleh,” tutur Prio.

Warga juga berharap komunitas mobil jeep agar selalu melintasi jalur ini agar memberikan semangat sekaligus kemudahan bagi mereka dalam melintasi jalur ini setelah tapak ban yang dilalui mobil jeep membuka jarak pandang mereka dalam melakukan aktifitas berjalan kaki ke kebun.

“Demi menjaga semangat warga  kami selalu memberikan support bahwa negara akan hadir untuk masyarakatnya. Tidak ada wilayah yang terbaikan dalam bernegara,”. (*)

Share :

Baca Juga

Kabar Kampung

Bangun IPAH di Pulau Kecil dan Terluar

Kabar Kampung

Melihat Perempuan- perempuan Tangguh Pulau Kolorai

Kabar Kampung

Di Ekspedisi Maluku Warga Suma Makean Dapat Layanan Kesehatan dan Saprodi

Kabar Kampung

Warga Bahalo Sagu di Festival Kampung Pulau

Kabar Kampung

Safri Bubu, Pahlawan Konservasi Mamua dari Galela Halmahera

Kabar Kampung

Perlindungan Sagu Tak Dilakukan, Perda Hanya Pajangan (3) Habis

Kabar Kampung

Ini Kondisi Jalan Sayoang -Yaba Pulau Bacan

Kabar Kampung

Melihat Festival Kalaodi, dan Pekan Lingkungan Hidup P3K