Home / Kabar Malut

Jumat, 4 Juni 2021 - 09:15 WIT

Setahun Ribuan Kali Gempa Terjadi di Malut

Ada 11 Ancaman  Serius Bencana Bagi   Masyarakat

Gempa bumi tektonik bermagnitudo M 6,1 mengguncang wilayah Maluku Utara terjadi   pukul 17.09 WIB, Kamis (3/6/2021). Gempa itu  tidak berpotensi tsunami. Berdasarkan hasil analisis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), episenter gempa bumi ini terletak pada koordinat 0.41 LU dan 126.23 BT. Lokasi tepatnya berada di laut pada jarak 134 kilometer arah Barat Kota Ternate, Maluku Utara pada kedalaman 36 kilometer.  Kepala Pusat Gempa bumi dan Tsunami BMKG, Bambang Setiyo Prayitno MSi mengatakan, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas deformasi batuan di lempeng laut Maluku. “Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan, bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault),” kata Bambang sebagaimana dilansir berbagai media. Bambang juga menegaskan, meskipun lokasi pusat gempa bumi yang terjadi ada di laut, tetapi hasil pemodelan BMKG tidak menunjukkan adanya potensi tsunami.  

Sebelumnya  Jumat (27/2/2021  gempa bumi dengan kekuatan 5,2 magnitudo juga menghantam pulau Bacan Kabupaten Halmahera Selatan Maluku Utara. Episenter gempa terletak di darat pada jarak 12 km arah timur laut Kota Labuha, Halmahera Selatan, Maluku Utara dengan kedalaman hiposentar 10 km. Gempa  itu dirasakan sangat kuat dan terdampak di  lima kecamatan di Pulau Bacan. Yakni Kecamatan Bacan, Bacan Timur, Bacan Selatan dan Bacan Barat Utara. Berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa dimaksud masuk kategori dangkal. Berada pada 0.54 LS,127,51 Bujur Timur  atau 11 kilometer Timur Laut  Labuha Maluku Utara  dengan kedalaman 10 kilometer.  Gempa dipicu adanya aktivitas sesar lokal. Akibatnya rumah sakit dan   700 rumah warga rusak.   

Wilayah Pulau Bacan dan Halmahera Selatan memang rawan gempa, di wilayah ini beberapa kali pernah terjadi gempa kuat dan merusak pada masa lalu.  Sejarah gempa Pulau Bacan dan sekitarnya mencatat bahwa di wilayah ini telah terjadi gempa merusak pada 27 November 1961 magnitudo 6,2 pada 16 April 1963 magnitudo 7,1 pada 2 Agustus 1992 magnitudo 6,3 dan pada 16 Juli 2019 magnitudo 7,2 menyebabkan 4 orang meninggal dunia, 50 menderita luka-luka, sebanyak 971 bangunan rumah rusak.

Gempa yang melanda  Ternate  dan  Bacan ini  adalah contoh  ancaman serius  bencana bagi Maluku Utara yang wilayahnya  di dominasi laut dan pulau-pulau.

Grafik Frekwensi Gempa bumi. Sumber Stasiun Geofisika BMKG Ternate

Dengan luas wilayah mencapai 140.255,32 km², sebagian besar merupakan wilayah laut, yaitu 106.977,32 km² (76,27%). Sisanya 33.278 km² (23,73%) adalah daratan,  berada di jalur ring of fire atau cincin api menghadapi berbagai bencana. Ada kurang lebih 11 jenis bencana, salah satunya yang sering dirasakan warga adalah gempa bumi.

Data Badan Penangggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Maluku Utara menyebutkan, Maluku Utara memiliki beberapa ancaman serius bencana yakni gempa bumi, gunung api, abrasi oleh air laut, gelombang pasang, banjir bandang, banjir lahar dingin, longsor, puting beliung, kebakaran hutan, tsunami, banjir rob, kekeringan dan konflik horisontal. Terbaru banyak pihak mulai mengkhawatirkan  munculnya ancaman bencana  ekologi yang siap mengancam sebagai akibat dari massive-nya izin industri tambang, IUPHHK  dan  perkebunan monokultur.

Ancaman bencana yang dihadapi Maluku Utara ini juga dibahas dalam seminar online Ikatan Ahli Geologi Indonesia – Maluku Utara  bersama Pusat Studi Bencana Universitas Khairun Ternate dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Studi Kebencanaan Universitas Hasanudin  belum lama ini. Dalam seminar itu diungkap   ragam  bencana pernah terjadi di daerah ini.  

Ternate sebagai  salah satu pusat aktivitas masyarakat Maluku Utara misalnya,   menghadapi 11 jenis bencana. Tiga jenis bencana yang paling sering terjadi di pulau ini adalah, gempa bumi, gunung meletus dan banjir lahar dingin.

Data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Geofisika Ternate menyebutkan berdasarkan data 4 tahun kejadian gempa sejak 2017 sampai 2020 lalu  kejadian gempa mencapai ribuan kali.

Baca Juga  Malut Tak Masuk Agenda Sepekan MKP Serap Aspirasi dari Timur

Kepala Stasiun Geofisika Ternate Andri Wijaya dalam  seminar tersebut  menyebutkan,   frekwensi gempa sejak 2017 hingga 2020 lalu cukup tinggi. Tertinggi yakni 2019 dan 2020. Di 2019 gempa juga melanda  Pulau Bacan dan Gane Timur Gane Barat dengan magnitude 7,2 yang menyebabkan korban harta dan nyawa. Sumber gempa potensial di wilayah Maluku Utara itu adalah karena keberadaan subduksi ganda di laut Maluku atau disebut dengan lempeng laut Maluku.   

Data kegempaan selama 4 taun terakhir,  2017 gempa tektonik yang tidak dirasakan mencapai 852 kali, sementara yang dirasakan  36 kali. Tahun 2018 gempa tektonik yang tidak dirasakan sebanyak 903 kali sementara yang dirasakan 22 kali. 2019  kejadian gempa tektonik hingga mencapai 1659 kali tidak dirasakan sementara yang dirasakan 144 kali. Begitu juga kejadian gempa di 2020 sebanyak 1414 kali gempa yang tidak dirasakan, sementara yang dirasakan sebanyak 62 kali.

Rusaknya Fasi;itas RSUD Labuha akibat gempa awal 2021 lalu

Dia  jelaskan  daerah ini juga memiliki sejarah  bencana  tsunami. Bahkan total tsunami yang pernah terjadi di Maluku Utara sebanyak 30 kali  tercatat pernah melanda pulau pulau di Maluku Utara.

Maluku Utara memiliki banyak catatan tsunami yang merusak yaitu tsunami Banggai-Sangihe tahun 1858 yang menyebabkan seluruh Kawasan pantai timur Sulawesi Banggai dan Sangihe dilanda tsunami. Lalu ada lagi tsunami Banggai-Ternate menyebabkan banyak bangunan rumah di daerah pesisir pantai disapu tsunami.Tsunami Kema-Minahasa 189 memicu tsunami mencapai atap rumah. Tsunami Gorontalo1871 menerjang pesisir pantai Gorontalo. Tsunami Tahuna tahun 1889 menerjang pesisir pantai hingga terjadi kenaikan air laut sekira 1,5 meter.Tsunami kepulauan Talaud 1907 menerjang pantai dengan ketinggian 4 meter dan tsunami pulau Salebabu 1936 yang menerjang pantai dengan ketinggian 3 meter. “ Sejarah tsunami yang pernah terjadi ini  ikut  menerjang dan merusak sejumlah pulau di Maluku Utara,” jelasnya. 

Dia juga bilang dari data data  yang ada  wilayah kepulauan Maluku Utara  juga sangat rawan tsunami yang disebabkan   adanya aktivitas gempa bumi. “Wilayah Maluku Utara juga memiliki aktivitas kegempaan yang aktif,” katanya.

Tidak hanya bencana gempa,  di Maluku Utara juga sangat rawan dengan bancana gunung berapi. Tercatat Maluku Utara mengoleksi   gunung api aktif baik di Halmahera yakni Dukono di Halmahera Utara, Ibu dan Gamkonora di Halmahera Barat,  serta Ternate dan Makean.  Lima gunung api di Maluku Utara ini terbilang aktif  hampir sepanjang tahun.

Menurut BMKG,  ancaman tsunami tidak hanya  karena akibat gempa bumi tektonik. Gunung berapi juga  memiliki potensi menyebabkan  tsunami yang disebabkan oleh adanya erupsi gunung berapi. Dalam sejarah gunungapi di Maluku Utara pernah menyebabkan terjadinya tsunami.

“ Tsunami itu terjadi tidak hanya gempa bumi tetapi juga karena akibat gunung berapi dan letusan gunung bawah laut,” jelasnya.

Letusan Gumung Gamalama beberapa waktu lalu

Karena kerawanan bencana yang dihadapi Maluku Utara dengan wilayah yang didominasi pulau pulau kecil ini,   BMKG merekomendasikan perlunya langkah mitigasi gempabumi dan tsunami. Yakni memperketat penerapan tata ruang dengan aturan yang ketat, penerapan building   code bangunan tahan gempa untuk bangunan public, bangunan vital dan bangunan strategis lainnya. Butuh peringatan dini tsunami dan penerapan system informasi. Pemasangan rambu-rambu jalur evakuasi dan tempat evakuasi. Terakhir mengkomunikasikan risiko bahaya, melakukan edukasi dan membangun budaya waspada dan siap selamat.

Soal kerawanan bencana bagi Maluku Utara yang wilayahnya didominasi pulau pulau kecil ini menurut Kepala Pusat Studi Kebencanaan Universitas Khairun Ternate Mohammad Ridwan Lessy di wilayah timur Indonesa termasuk Maluku Utara   dengan  11 item maka diperlukan upaya mitigasi untuk meminimalkan  dampak dari suatu bencana kepada masyarakat. Upaya mitigasi itu dilakukan baik secara structural maupun non structural. Mitigasi structural itu misalnya dengan penyediaan infrastruktur sementara untuk mitigasi non structural yakni memperkuat aturan atau regulasi yang menyangkut dengan mitigasi bencana.

Baca Juga  Korban Lakalaut Tinggi, Butuh Kolaborasi Penanganan

“Dalam penanggulangan bencana di Maluku Utara ada tantangan serius menyangkut  kondisi geologi dan  geografis. Dimana aksesiblitasnya rendah dan berada di wilayah terpencil,” jelas Ridwan.

Yang paling serius juga katanya   belum tersedianya kerangka hukum penanggulangan bencana di daerah. Pengarusutamaan penangunggalangan resiko bencana  dalam perencanaan serta kemitraan multipihak  dalam penanggulangan bencana juga belum terbangun dengan baik. Tantangan yang dihadapi dalam penanggulangan bencana di Maluku Utara yakni lemahnya tata kelola  penanggulangan bencana, minimnya dukungan anggaran,  sarana dan prasarana yang tidak memadai dan personil yang minim. “Kesiapsiagaan dalam penanggulangan darurat bencana juga lemah terutama dalam hal peringatan dini, informasi kawasan rawan bencana dan SOP penanganan darurat yang terintegrasi,” ungkapnya.   

Ancaman Bencana Ekologis   juga  Serius 

Dalam dua tahun terakhir, banjir besar melanda beberapa daerah  Maluku Utara. Terutama  di Halmahera Tengah, Halmahera Utara Kepulauan Sula dan Halmahera Selatan.   Jumat (16/1/2021) lalu  banjir melululantakan 7 Kecamatan di Halmahera Utara.  Sementara  pada 26 Agusutus 2020 lalu  juga banjir besar melanda Kawasan industry PT IWIP  salah satu perusahaan raksasa nikel yang mengeksploitasi bumi Halmahera. Banjir itu    berdampak   terhadap masyarakat   desa desa sekitar. 

Banjir di Halmahera Utara membuat warga mengungsi dan jembatan penghubung antara Galela dan Loloda   hancur.  Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara melalui Badan Penanggulangn Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten  Halmahera Utara  memperkirakan  kerugian  akibat banjir  mencapai Rp9 miliar lebih. Nilai perkiraan ini belum termasuk  putusnya jembatan yang menghubungkan Galela Loloda di Kali Tiabo.  

Bencana  ini  diduga adanya  alihfungsi lahan yang tidak terkendali di daerah aliran Sungai (DAS).  

Ahsun Inayati,SP, MP dari Forum Daerah Aliran Sungai (ForDAS) Dukono Kabupaten Halmahera Utara beberapa   waktu lalu menyatakan, tidak bisa dipungkiri alihfungsi lahan  nyata terjadi.

 Dia bilang,  amatan waktu ke waktu menunjukan adanya  perubahan  tutupan hutan  dan lahan karena adanya  pembukaan lahan yang massive terjadi di daerah DAS.

Pertama menurutnya, adalah pembukaan lahan di areal hutan (alih fungsi lahan,red) dari hutan menjadi kebun. Tanaman hutan diganti komoditi perkebunan seperti kelapa, dan pala oleh masyarakat setempat.   

Selain aktivitas pembukaan lahan perkebunan, yang tidak kalah bermasalahnya adalah ada aktivitas tambang rakyat  masih beroperasi di Gogoroko. Masih  ada   pengusaha  hingga hari ini,  beroperasi di kawasan hutan DAS Tiabo. “Dulu pernah sampai  33 aktifitas menggali lubang (tambang) di kawasan itu,” jelas Ahsun yang juga mantan  camat di Kecamatan Galela Barat itu.

Banjir yang melanda Halmahera Utara awal 2021 lalu

Selain itu, ada juga aktifitas penebangan untuk pemanfaatan kayu  dalam memenuhi kebutuhan papan.  Ini menurutnya lebih  pada   nilai ekonomi kayu tanaman hutan yang dikejar. “Jadi menurut saya masalah pokok  adalah alih fungsi lahan di hutan   di  Gunung Gogoroko, Tuguraci dan beberapa gunung lainnya di kawasan itu,” jelasnya.  

Karena itu,  menyarankan segera dilakukan berbagai langkah pembenahan.   Hal yang bisa dilakukan adalah mengembalikan fungsi hutan dengan melakukan reboisasi atau  rehabilitasi hutan dengan tanaman hutan atau tanaman yang memiliki kemampuan daya serap air yang cukup bagus.  

Doktor pada Program Studi Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan konsetrasi ekonomi sumberdaya alam  Dr Asis Hasyim mengingatkan  pemerintah daeah tak bangga  atas investasi tambang yang begitu besar masuk  ke daerah ini. Baginya  kebanggan  pemerintah daerah iu sama halnya merasa bangga melihat semakin cepatnya laju penurunan tutupan hutan dan ancaman  teralineasi- nya masyarakat Halmahera  dari ruang hidup. Bahkan  mendorong laju rusaknya ekosistem alam akibat ekstraksi sumberdaya  alam  secara massive.(*)   

Share :

Baca Juga

Kabar Malut

Pelaksanaan Perhutanan Sosial Masih Bermasalah
Penanaman bersama yang dilakukan di tepi sungai Kali Upa Tobelo Selatan Halmahera Utara

Kabar Malut

Peringati Kemerdekaan dengan Tanam Pohon

Kabar Malut

Kejar Kualitas Riset, LIPI-Unkhair Jalin Kerjasama

Kabar Malut

Kondisi Lingkungan Malut Kritis? (1)

Kabar Malut

Soal Sungai Sagea, Ini Hasil dari Tim Udara dan Darat

Kabar Malut

Nelayan Pulau Bisa Obi, Kantongi  SIPR
Membangun reseliensi di tingkat komunitas (Foto: Bentara Papua)

Kabar Malut

Cara Menyiapkan Warga Adaptif Ketika Bencana (2 habis)

Kabar Malut

Harus Ada Kolaborasi Media Dorong Isu Lingkungan