Home / Lingkungan Hidup

Senin, 8 Februari 2021 - 17:24 WIT

Situs Terumbu Karang Terkaya Ada di Malut, Ini Hasil Kajianya

Sumberdaya terumbu karang di Provinsi Maluku Utara sangat potensial. Dari segi ekologis terumbu karang yang terhampar di kawasan laut Maluku Utara, disebut-sebut menjadi salah satu situs terumbu karang terkaya di dunia. Hasil  riset Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia Program bekerjasama dengan USAID pada 2017 lalu, menyebutkan,daerah ini kaya secara ekologi  dan ekonomis. 

Riset yang telah dipublikasikan hasilnya dalam bentuk buku Profil Ekosistem Terumbu Karang di Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Dearah Maluku Utara itu, dikerjakan  dalam dua tahap, yakni  Maret April dan April Mei 2017. Riset dilakukan di 4 dari 8 lokasi pencadangan KKP di Provinsi Maluku Utara.  Yaitu Mare, Kepulauan Gura Ici, Kepulauan Widi,  dan Pulau Rao Morotai. Mereka mengambil sampel di 64 lokasi  terbagi atas 11 lokasi di KKP Pulau  Mare, 17 lokasi di Gura Ici , 11 lokasi di Kepulauan Widi  dan 25 lokasi di pulau Rao Morotai.  Dalam dua kali kajian riset,  timmenemukan banyak potensi sumberdaya di dalam laut Malut yang menjadi kekayaan penting daerah ini. 

Memang kekayaan terumbu karang begitu tinggi, namun  tidak terlepas dari masalah terutama adanya  perusakan.  “Tujuan survey ekologi ini untuk mengumpulkan data base awal, terkait kondisi ekosistem  terumbukarang dan keragaman hayati terumbu karang yang akan dijadikan sebagai lokasi kawasan konservasi perairan. Selain itu, mengidentifikasi lokasi-lokasi yang memiliki terumbu karang yang baik di Maluku Utara. Termasuk mengumpulkan  informasiadanya kemunculan spesies karismatik yang mendukung dilakukannya  pengelolaan kawasan perlindungan laut  dan ekowisata,” tulis WCS dalam  laporan Profil Ekosistem Terumbu Karang di Kawasan Konservasi Perairan daerah Maluku Utara itu.   

Kondisi terumbu karang di KKP Gura Ici Halmahera Selatan, masih ada sisa karang yang rusak akibat pengeboman, foto Rahmi Husen

Dijelaskan, tidak hanya kekayaan potensi yang dimiliki,ancaman kerusakan terumbu karang juga terbilang sangat tinggi akibat ulah orang-orang tidak bertanggung jawab. Membuktikan adanya kerusakan terumbu karang Mongabay.co.id pernah mengunjungi  KKP Kepulauan Gura Ici, di Halmahera Selatan belum lama ini,menemukan kerusakan kawasan terumbu karang  sangat luas.

Di kawasan pulau Rajawali  di mana tempat bermain  jenis pari manta, terlihat hamparan terumbu karang mati cukup luas. Karang matidilaut berpasir putih dengan kedalaman  kurang lebih 5 meter  itu, terlihat jelas dari atas speed boat yang ditumpangi. Mongabay  yang kala itu bersama dua divers yang mencoba spot dive di mana tempat bermain pari manta, ikut  menyaksikan karang  mati yang terhampar luas itu.M Rahmi Husen salah satu divers yang sempat turun mencoba spot di kawasan laut  yang ditempuhkurang lebih 7 menit dengan speed boat dari Desa Lelei itu,  menyatakan bahwa terumbu karang yang rusak itu dicurigai akibat penangkapan ikan menggunakan bom.“Kelihatan merata terumbu karangnya mati.Kecurigaan paling kuat karena bom.Kawasan ini dulunya  paling banyak memiliki karang dan ikan. Aktivitas pengeboman di daerah ini dulu sangat massive,” ujarnya.

Menurut warga setempat,terumbu karang mati itu akibat destruktif fishing yang dipraktekkan selama ini. ”Kawasan ini dulunya tempat orang  bom ikan,” aku  Thamrin Armaiyn  warga Lelei. Dia mengaku di kawasan laut pulau-pulau Gura Ici hingga kini aktivitas bom ikan masih berlangsung, meskipuntidak se-massive dulu.“Ada hari-hari tertentu mereka  bom ikan. Hari Jumat di saat warga  shalat Jumat sering terjadi pengeboman ikan. Biasanya orang luar Kecamatan Kayoa menggunakanboat kecepatan tinggi,” katanya. KKP  Gura Ici  hanyalah contoh  dari kondisi terumbu karang semua KKP di Malut. Gura Ici sendiritelah ditetapkan sebagai salah satu dari 8 KKP di Maluku Utara dantelah dicadangkan dengan luas 11,348,18 hektar.

Data Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Maluku Utara menyebutkan, 8 KKP itu memiliki karakteristik keanekeragaman hayati dengan beraneka sumberdaya alamnya.  8 KKP  ituterdiri dari 5  ditetapkan   sebelumnya, dan  3 baru ditetapkan 2019 ini. Masing-masing,  Pulau Rao seluas 330 hektar, Pulau Mare 2817,00 hektar.  KKP Mare dilakukan riveuw dan pengurangan luas, menjadi 2262,40 hektar berdasarkan SK Walikota Tidore. Pulau Jiew di Halmahera Tengah 717,54  hektar, Guraici 11,348,18, Gugusan Pulau Widi 94,61,00 hektar, Kepulauan Sula 117,959,88, Rao Dehegila  65, 520, 75 hektar  dan Pulau  Makian 42,799,00 hektar.  Total KKP yang telah dicadangkan  seluas 249,738,75 hektar.

Sumber DKP Provinsi Maluku Utara

Keragaman Terumbu Karang di Malut

Terkait  potensi sumberdaya ekologis dan ekonomisnya, riset WCS yang dilakukan tim  terdiri dari Azhar Muttaqien, Shinta Pardede, Sukmaraharja A Tarigan, Fahrizal Setiawan dan Muhidin itu, memaparkan beberapa kesimpulan dan rekomendasi. Laporan itu menyebutkan, terumbu karang  di kawasan laut Maluku Utara   terkaya di dunia  dengan keragaman karang keras  80 genera  dan ikan karang tercatat lebih dari 900  spesies.

Kekayaan dan keragaman ini juga sesuai kompilasi hasil kajian sebelumnya  yang dilakukan Turak dan De Vantier  pada 2008  lalu,  Allien 2008, Green dan Muljadi pada 2009.  Kajian mereka juga ternyata,baru sebagian besar wilayah terumbu karang di sekitar pulau Halmahera,  belum termasuk di Kepulauan Sula,  Taliabu, Obi  dan Bacan. “Karena itu dipastikan nilai keragaman akan semakin tinggi  jika seluruh wilayah di Maluku Utara dilakukan kajianmendalam,” tulis WCS dalam laporannya.

Baca Juga  Cerita Warga Mengolah Aren, Melindungi Hutan Halmahera
Proses identifikasi terumbu karang oleh DKP Kota Tidore di KKP Mare, foto Abdul Khalis

Hasil survey  yang dilakukan tercatat ada 73 genera  karang keras yang termasuk dalam 17 family  dari 52 lokasi  yang tersebar dari utara  sampai ke selatan Halmahera dan Morotai.   Jumlah ini merupakan yang kedua tertinggi  dibanding beberapa lokasi yang pernah  disurvei WCS.  Menurut hasil riset WCS  tertinggi pertama di Takabonerate  dengan 79 genera.  Selanjutnya kabupaten  Minahasa Utara 64 genera,  Gili Matra 60 genera,   dan Kabupaten Sitaro Sulawesi Utara 64 genera.

”Hasil studi sebelumnya oleh Turak dan DeVanter pada 2008 juga  mencatat tingginya  keragaman spesies karang  di Maluku Utara  dengan adanya 468 spesies  karang keras dari 73 genera dan 15 family yang didata di 24 lokasi  di Halmahera bagian tengah  sampai ke Utara dan Morotai. Diantara 24 lokasi itu ada 10 lokasi tercatat memiliki keragaman sepesies lebih dari 200 spesies suatu nilai keragaman  yang tertinggi menurut standar dunia. Bahkan dua lokasi di antaranya merupakan lokasi dengan keragaman  spesies karang keras  tertinggi di Indo- Pasifik  yakni di Pulau Rao Morotai dengan 277 spesies,” urai laporan WCS.

Studi ini juga mencatat  ada  2 lokasi dengan keragaman spesies karang terendah adalah di kawasan teluk KauHalmahera  Timur.  Keragaman hayati laut yang tinggi ini sudah dipotret melalui penelitian sebelumnya oleh LIPI pada 2010 dalam ekspedisi Widya Nusantara. Studi itu mencatat  ada 200 spesies sponge,  28 spesies keong laut atau gastropoda dari vamili ovulidae, 36 spesies dari total 41 spesies jenis karang jamur dari family fungidae  yang ditemukan dari seluruh Indo-Pasifik.

Selain itu ada juga 87 spesies udang-udangan palaemonid, 25 spesies nudibranchia, 31 spesies bintang laut dari family asteroidae,  30-31 spesies teripang  15 spesies bintang ular, 20 spesies parasite  pada gastropoda  dan 22 spesies  bivalvia  dari family Cardiidae.

Laporan ini juga merilis  secara ekonomis  walaupun ada lokasi  riset terlihat bekas-bekas kerusakan karang namun beberapa diantarnya  ditemukan terumbu karang  dengan tutupan karang keras masih sangat baik.Terutama di daerah transek yang dangkal.

“Secara umum  rata-rata tutupan karang keras di Maluku Utara adalah 45 persen. Sementara untuk kondisi terumbu karang yang rusak di Maluku Utara mencapai 25 persen.Kawasan  terumbu karang rusak itu  ditemukan di KKP Pulau Mare, Morotai, Gura Ici dan Widi,” tulis laporan WCS.

Dijelaskan, dari luasnya hamparan  patahan karang yang terlihat,  terumbu karang yang rusak diduga  akibatadanya aktivitas penangkapan ikan yang merusak  dengan bom ataupun racun sianida. Hingga kini kegiatan pengeboman disinyalir masih terjadi.  Terutama di Morotai dan Gura Ici. Sementara di  Mare  terumbu karang yang rusak terlihat mulai membaik  atau mengalami recovery. Ini terlihat dari tingginya kepadatan rekruitmen karang, menunjukan aktivitas  bom dan pengerusakan  lainnya  sudah tidak terjadi di kawasan ini.

Terumbu karang  Maluku Utara  berada di jantung  kawasan segitiga  terumbu karang  (triangle coral) yang terkenal dengan kekayaan ragam hayati laut tertinggi di dunia.Halmahera merupakan pulau terbesar di Maluku Utara dan ketujuh di Indonesia, berkontur berbukit-bukitdengan pulau-pulau vulkanik di bagian pesisir barat yang membentuk rantai. Pulau dengan pemandangan gunung berapi  menakjubkanini juga terkenal dengan terumbu karang yang indah, air yang jernih  serta beragam  biota laut mulai dari  karang yang kecil-kecil berwarna-warni  hingga megafauna laut yang kharismatik  seperti hiu, lumba-lumba penyu  dan pari manta.

Terubmbu karang KKP Gura Ici

Kajian sebelumnya  oleh Huffard dan kawan-kawan 2012 sebagaimana dikutip WCS dalam laporannya, terkait prioritas geografi Maluku Utara sebagai  kawasan konservasi,  tidak terlepas dari keanekaragamana hayati yang  sangat tinggi  serta keragaman fauna  Asia dan Australia. Termasuk pula peran pentingnya menghubungkan antara Papua  dan Sulawesi.

“Keragaman habitat dan kekayaan  jenissetiap  lokasi di Halmahera sangat luar biasa,  berada  di antara lokasi-lokasi dengan  jumlah ikan tertinggi di dunia.  Kekayaan jenis karang saja diperkirakan jauh melebihi 500 spesies,” tulis WCS  seraya mengutip riset  Tursk dan DeVantier 2008. Keragaman jenis biota laut ini diduga kuat  berasal dari beragamnya faktor  lingkungan yang ada. Yaitu adanya serangkaian gunung api bawah laut  di bagian barat hingga terumbu karang yang terlindung oleh pulau-pulau  karang di bagian barat daya.

Baca Juga  Makna Lelayan Bagi Orang Patani, Maba dan Weda

WCS turut mengutip Kajian  Barber dan Boyce 2006 yang menyatakan hal ini juga didukung oleh adanya konektivitas  yang tinggi dengan perairan  wilayah Kepala Burung di Papua Barat mengalir dari Timur ke Barat melalui arus khatulistiwa selatan menuju  Halmahera.  Karena itu tipikal biota yang ditemukan di Maluku Utara memiliki kemiripan dengan di Papua Barat.

Soal keragaman potensi pesisir seperti ekosistem  terumbu karang, lamun dan mangrove  di wilayah pesisir Maluku Utara  juga berperan  penting sebagai  penggerak penting pariwisata  dan juga  sebagai  sumber pendapatan ekonomi  bagi pemerintah dan masyarakat. Saat ini potensi  pesisir  dan pulau-pulau kecil  belum banyak berkembang akibat  minimnya sarana dan prasarana  yang tersedia. Contohnya seperti di Gura Ici dan Kepulauan Widi.  Sementara  Kepulauan Morotai  kegiatan pariwisata relatigf  jauh berkembang. Apalagi Pemerintah pusat telah menetapkan kawasan ini  menjadi 10 destinasi wisata baru di Indonesia.

Keragaman Spesies Ikan Karang di Perairan Malut

Bagaimana dengan potensi perikanannya? Hasil riset ini mengungkapjuga bahwa  perikanan pelagis  memiliki potensi terbesar disamping populasi ikan karang.Baik ikan target yang penting secara ekonomis  maupun ikan herbivore yang penting tercatat cukup rendah. Hal ini diduga karena penangkapan ikan berlebih dan penggunaan alat tangkap ikan yang tidak ramah lingkungan.Ini juga akibat kerusakanhabitatdan tingginya masukan limbah domestic  dari daratan ke laut. Kegiatan penangkapan ikan dengan bom yang sangat merusak masih ditemukan di wilayah-wilayah  pesisir kepulauan Halmahera.

Selain itu, minimnya akses dan infrastruktur terutama dalam mendukung  pengelolaan  perikanan menjadi salah satu masalah yang dihadapi. Di sisi lain belum terbentuknya unit pengelola  menjaga ekosistem  teurmbu karang dan sumberdaya  perikanan, merupakan salah satu tantangan yang harus dihadapi dan diselesaikan, dalam upaya menjaga kelestarian sumberdaya hayati laut  Maluku Utara.

Berbicara soal keragaman spesies ikan karang,  WCS  mencatat laut Maluku Utara adalah salah satu wilayah yang memiliki kekayaan  tertinggi di dunia. Dari 64 lokasi survey  yang diamati,  tercatat ada 580  spesies ikan  dengan estimasi  spesies ikan  karang berdasarkan  nilai Coral Fish Diversity Index (CFDI) adalah 931 spesies dengan pola yang sama  ditunjukan  dari data keragaman  genera karang  keras. Keragaman spesies ikan karang merupakan yang tertinggi dibanding beberapa  lokasi di Indonesia yang pernah disurvey WCS. Tertinggi pertama di Takabonerate  Sulsel dengan 522 spesies,   Kepulauan Tanimbar 498 spesies, Gili Matra 393 spesies dan Sitaro Sulut 332 spesies.

“Dalam eksplorasi yang sama  dilakukan Turak dan Devantier, Allen 2008 mencatat,  ada 991 spesies  dari 77 family  dan 288 spesies ikan karang.Hasil studi  pada 2005 dan 2008 dari 24 lokasi survey yang tersebar dari pertengahan pulau Halmahera ke Utara sampai  pulau Morotai, menemukan  kekayaan ragam spesies  ikan karang   dari masing-masing lokasi berkisar antara  83 sampai 267 spesies dengan rata-rata 192,6 spesies merupakan  salah satu tertinggi di dunia,” urai WCS.

Dari 24 lokasi yang disurveyWCS,  16 lokasi  atau 69 persen  memiliki jumlah  spesies ikan karang per lokasi  lebih dari 200 spesies.Angka ini   sering dipergunakan  sebagai patokan  untuk jumlah spesies per lokasi level tertinggi.  Bagi WCS  hal ini sebenarnya menunjukan  bahwa tingginya  kekayaan ragam spesies  ikan karang di Halmahera, tidak hanya terjadi di beberapa lokasi saja tetapi merata  di semua lokasi. “Bila dilihat dalam skala geografis lebih besar  keragaman spesies ikan tertinggi  di beberapa wilayah geografi utama di Halmahera berasal dari bagian  barat laut  pulau,  dengan rata-rata per lokasi yaitu 230 spesies dan di Kepulauan Widi  237 spesies,” urai laporan WCS itu.

Ikan Karang foto USAID

Sementara untuk keragaman spesies  tingkat lokasi , keragaman tertinggi  ditemukan dari Kayoa dengan 303 spesies, Tanjung Tawali Pulau Kasiruta 278 spesies  dan pulau Widi  278 spesies. Untuk keragaman terendah ditemukan di Teluk Kao Halmahera Utara sebanyak 96 spesies  per lokasi  dan juga di Morotai 104 spesies  per lokasi.Ditambahkan, lokasi dengan keragaman spesies ikan tertinggi lebih sering ditemukan di lokasi berkarang  atau berbatu dengan dominan substrat  terumbu karang  dengan beberapa bagian pasir atau rubble. Sementara  keragaman yang rendah ditemukan di lokasi  dengan substrat dominan alga dan pasir–rubble di dasar berlumpur atau di lokasi sekitar pelabuhan.“Halmahera dan Maluku Utara umumnya, merupakan salah satu lokasi dengan keragaman spesies terkaya di dunia,”tulis WCS mengutip Allen 2008.(*)

Share :

Baca Juga

Lingkungan Hidup

Mangrove Makin Terancam, Butuh Pelibatan Masyarakat

Lingkungan Hidup

55 Pulau Kecil Digempur Tambang dan Sawit Tak Dibahas Capres

Lingkungan Hidup

Kelola Hutan Bersama Masyarakat Bermanfaat Bagi Kelestarian

Lingkungan Hidup

Air Laut Coklat Kemerahan, Ikan Mati dan Warga Was-was

Lingkungan Hidup

Untuk Ikan Lestari, AS Dukung Hentikan Illegal Fishing

Lingkungan Hidup

Ini Potensi Keanekaragaman Hayati Tiga TWP di Malut (1)

Lingkungan Hidup

Potensi Keanekaragaman Hayati TWP Pulau Rao dan Mare (2)

Lingkungan Hidup

Indonesia Petakan Kembali Mangrove untuk Karbon Biru