Home / Opini / Ragam

Rabu, 12 Juli 2023 - 10:45 WIT

Titik Nol Jalur Rempah Dunia (2) 

Benteng Oranje adalah salah satu bukti peradaban   yang tersisa saat ini.Foto cagarbudaya.Kemdikbud.go_.id_.jpg

Benteng Oranje adalah salah satu bukti peradaban yang tersisa saat ini.Foto cagarbudaya.Kemdikbud.go_.id_.jpg

Rempah adalah Identitas dan Peradaban

Sejarawan Universitas Khairun Ternate, Rustam Hasyim (2013), dalam Dari Cengkih ke Kerang Mutiara, Perdagangan di Keresidenan Ternate 1854-1930, menyebutkan Maluku Utara sendiri bukan saja menghasilkan rempah, namun telah memperdagangkan demikian banyak komoditi selain rempah, untuk dijual  ke manca negara. Rustam mencatat sirip hiu, mutiara, sirip penyu, kopra, kakao, tembakau, damar, getah, yang menjadi komoditi perdagangan antara Maluku Utara dan Papua, yang diperdagangkan ke manca negara pada zamannya.  

Tome Pires, seorang dokter Portugis yang turut menjadi saksi mata saat kejatuhan Bandar Malaka ke tangan pasukan Alfonzo de’Alberquerque pada 1511, mencatat dalam karyanya Suma Oriental (1944), bahwa cengkih dan pala, hanya berada di Kepulauan Maluku, dan tidak ditemukan di tempat lain di bagian dunia manapun. Pires menyebut, Tuhan telah menciptakan 3 emas dari Timur, pala dari Banda, cengkih dari Ternate, dan Kayu Cendana dari Timor.

Rempah memang telah menjadi identitas dari status kebangsawanan Eropa pada masanya. Tidaklah mengherankan jika Prof. A.B. Lapian (1996), pada forum diskusi “Ternate Sebagai Bandar Jalur Sutera” yang diadakan UNESCO dan Dirjen Kebudayaan di Ternate, menyebutkan bahwa peradaban dan globalisasi klasik, terjadi karena silk road, dan silk road sendiri diawali dari spice road (jalur rempah) dimana Maluku Utara adalah titik awalnya sebagai spice root.

Adapun diksi silk road sendiri atau die seidenstrassen, adalah makna metafora yang diperkenalkan oleh ahli geografi Jerman Baron Ferdinand von Richtshofen,  untuk menandai relasi antar manusia pada masa lalu yang terjalin sehalus sutera. Relasi itu telah terjalin, melintasi batas benua dan samudera yang mempengaruhi terbentuknya globalisasi modern yang kita kenal sekarang.

Richthofen menggambarkan pertukaran dan perdagangan komoditi, persentuhan gagasan, budaya dan mobilitas manusia antar Asia dan Eropa, Amerika serta Afrika, yang juga melintasi Samudera Pasifik dan Laut China Selatan, lalu akhirnya terkoneksi dengan kawasan Laut Mediterania hingga Samudera Atlantik. Relasi dan koneksi ini, telah mempertemukan dunia dalam satu jalinan peradaban besar global.  

Sejarawan Inggris Goerge F.Hourani dalam The Arab Seafaring (1963), menyebutkan bahwa para pelaut Arab-lah yang mengantar rempah-rempah nusantara ke pusat-pusat perdagangan masa lalu tersebut. Namun ada narasi lain oleh Robert Dick-Read dalam Penjelajah Bahari: Pengaruh Peradaban Nusantara di Afrika (2008), malah menyebutkan pelaut nusantara lah yang telah mencapai Afrika Timur untuk memperdagangakan rempah nusantara. Tidaklah mengherankan jika Fernand Braudel menyebutkan untuk memahami sejarah, tidak bisa kita lakukan melalui interpretasi tunggal, karena membutuhkan pendekatan yang multidisipliner untuk dapat memahami sejarah seutuhnya sebagaimana mestinya. Walaupun Braudel memposisikan kawasan Mediterania   sebagai titik sentral kajiannya, karena ia memandang perdagangan masa lalu sebagai instrumen utama perubahan yang telah menciptakan peradaban dan geopolitik dunia dewasa ini.

Braudel membawa pandangan baru bahwa kita patut bersejarah secara totalitas (totalitas sejarah). Adapun jalur rempah sendiri, telah melahirkan inovasi, ilmu navigasi dan pemetaan dunia secara benar, berkembangnya ilmu pengetahuan, teknologi maritim hingga militer, juga terjadi pertukaran budaya antar bangsa, dan berkembang serta terciptanya kota-kota dunia pada jaringan jalur rempah tersebut.

Kota-kota di belahan Asia Tengah, Eropa, Timur Tengah, hingga Afrika dan Nusantara, adalah titik-titik jalur rempah masa lalu, yang tetap eksis hingga menjadi kota modern sekarang. Amira K. Bennison dan Alison L. Gascoigne dalam Cities in the Pre-Modern Islamic World, the Urban Impact of Religion, State and Society (2007) menjelaskan tentang keberadaan kota-kota pramodern dunia Islam ini dengan baiknya, dimana jalurjalur perdagangan rempah masa lalu berlangsung dan menjadikan kota-kota tersebut sebagai pusat peradaban.

Sama halnya dengan penjelasan Valerie Hansen (2012) tentang jalur sutera yang melintasi kotakota Asia Tengah dimana jalur rempah (caravan road) masa lalu berlangsung. Adapun Maluku Utara, juga tak lepas dari titik-titik jalur rempah global tersebut. Dengan artefak benteng-benteng Eropa abad pertengahan yang terbanyak jumlahnya di kawasan nusantara hingga kini, membuktikan bahwa Maluku Utara adalah titik penting dalam geopolitik dunia sejak abad pertengahan.

Ternate memiliki benteng Ciudad Nuestra Senora del Rosario atau San Juan Bautista (Castilla/Kastela, 1522- 1663), benteng ini adalah ibukota pertama Portugis kemudian Spanyol di Maluku. Spanyol menamakannya Sao Jao (St Johanes Pembaptis), Benteng Fuerza Nueva (1606-1663) sebagai pertahanan belakang Benteng Kastela, Benteng Kayu Merah atau Santa Lucia (San Fransisco de Kalamata, 1663), Santo Pedro atau San Pablo de Don Gil (Kota Janji,1609), Fort Oranje (Benteng Melajoe,1607-1609), San Juan de Toluco (1611) atau Benteng Holandia, dan de Fort Willemstad (Takome, 1606) sebagai pertahanan kawasan utara Ternate (el fuerte del norte).

Baca Juga  Ini Optimisme Anak Muda Tentang Indonesia

Di Tidore memiliki benteng San Lucas del Rume (1618), Benteng Ome (1609), Marieku del Grande dan Marieku el Chico (1613-1662) atau Tomanira, Benteng Toloa (Kadato Biji Nagara), Benteng Tohula (Santiago de Los Caballeros, 1610-1662), 3 Baluarti Soasio/Baluartes de Soasio (1527-1529), Fuerte Torre (1534-1534), Fortaleza de Socanora (1613-1620), Benteng Pangeran (1613), Fuerte de los Reyes Magos  (Benteng Orang Majus, 1578-1613), dan Benteng Fuerte del Norte (San Jose de Chovo, 1644) di Tanjung Cobo.

Pulau Moti memiliki dua benteng, de Fort Nassau (1609) dan Redout. Sedangkan Pulau Makian memiliki benteng Fort Mauritius (1613), Benteng Poewati (1634), Benteng Tafasoho, Fort Wailoa (Fort Tabulolo, 1612-1651). Di Amasing, Pulau Bacan memiliki benteng Portugis yang dibangun Antonio de Azevedo pada 1558, kemudian di duduki Spanyol. Lalu dipugar Laksamana Muda Simon Hoen, Louis Schot dan Jan Dirkjzoon dari Belanda pada 1609 dengan mengabadikan nama sang pendiri V.O.C, Barnevelt (Johan van Oldenbarnevelt) sebagai nama benteng tersebut. Di situs benteng ini, masih dapat ditemui tanda keluarga Pieter Booth, Gubernur Jenderal V.O.C pertama di Nusantara yang berkedudukan di Ternate.

Sedangkan di Kepulauan Sula, ada benteng de Verwachting, dibangun Belanda pada 1623 oleh Victor Moll yang awalnya dinamai Het Klaverblad lalu diubah namanya menjadi de Fort Alting setelah dipugar, meminjam nama Gubernur Jenderal VOC di Batavia, Willem Arnold Alting (1780-1796). Adapun di pesisir Halmahera Barat, memiliki benteng Gamkonora, 2 benteng di Sahu, Gufasa, Gamlamo Jailolo, Sidangoli (Benteng Kota Intan), Dodinga, Oba dan Payahe, serta Benteng Say Loka Akelamo atau Saboega (1548).

Dengan melihat persebaran benteng-benteng yang diangun bangsa Portugis, Spanyol dan Belanda ini, 15 menandai bahwa Maluku Utara telah menjadi center of the wheels of commerce, jika meminjam istilah sejarawan Perancis Fernand Braudel. Tidaklah mengherankan jika Prof.Darwis Khudori (2012), guru besar Universitas Le Havre, Paris, dalam sebuah forum di Ternate menyatakan bahwa tidak ada perstiwa sejarah di pentas dunia (Eropa dan Amerika), yang tidak terkait dengan nusantara.

Bahkan Dr. Henk Niemeijer (2013), sejarawan ahli Maluku pada Leiden University, dalam diksusi buku tentang Revolusi Sultan Nuku karya Muridan S. Widjoyo di kampus UI, Depok, mengatakan bahwa semua peristiwa di Eropa sangat terkait dengan Maluku. Sebutlah antara lain penemuan Amerika sebagai benua baru oleh Christopher Columbus pada 14 Agusuts 1498 tersebut, terjadi karena kesalahan Columbus membaca navigasi mencari jalur ke Ternate dan Tidore. Lalu Perjanjian Tordesilas (1494) hingga Traktat Saragosa (1529) yang membagi dunia atas dua bagian untuk Spanyol dan Portugis, semua terjadi karena perebutan hegemoni atas Maluku Utara sebagai spice islands. Termasuk pertukaran New York dan Manhattan dengan Pulau Run, Kepulauan Banda, antara Belanda dan Inggris melalui Perjanjian Breda (1667), untuk mengakhiri Anglo-Dutch War yang melibatkan Belanda, Inggris, Perancis, Denmark dan Norwegia tersebut.

Tidak mengherankan Ternate ditempati 20 Gubernur Portugis (1522-1575) dan 19 Gubernur Spanyol (1606-1663). VOC sendiri menempatkan 4 16 Gubernur Jenderalnya di Ternate, Pieter Booth (1610- 1614), Gerard Reynst (1614-1615), Laurens Reael (1615- 1619), Jan Pieterzoon Coen (1619-1623), sebelum Coen memindahkan ibukota VOC ke Jakarta (Batavia). Gubernur VOC di Maluku sejak 1607 hingga 1810, sejumlah 55 orang. Setelahnya Ternate berada dibawah kekuasaan residen Belanda.

Ternate juga pernah ditempati 5 residen Inggris (British Resident), K.T. Farquhar (1800-1803), H. Weber (1803-1804), W. Ewer (1810-1813), R. Stuart (1813-1815), dan W.G. Mc Kenzie (1816), ketika Nusantara berada dibawah kekuasaan Inggris, hingga akhir kekuasaan Inggris berdasarkan Traktat London 13 Agustus 1814. Traktat London inilah yang kemudian menjadi dasar bagi BPUPKI yang dipimpin Dr. Radjiman Wedyodiningrat, pada sidang 10 dan 11 Juli 1945, untuk menetapkan wilayah teritorial Indonesia menjelang kemerdekaan sebagai wilayah bekas Hindia Belanda, berdasarkan Traktat London (1814) tersebut.

Baca Juga  Doho-doho Kemerdekaan  

Batas wilayah Hindia Belanda sendiri diambil dari peta yang dibuat Frank Koerten pada 1661, yang kemudian dipakai oleh VOC hingga Traktat London. Sebelumnya ada juga kartografer VOC, Willem Janszoon Blaeu (1571-1638), yang menggambarkan peta global, termasuk peta Moluccas Insulae dan Asia Tenggara. 17 Antique Map Mollucae Insulae, karya Willem Janszoon Blaeu (1630). Jurnalis perang senior Belanda Piet Hagen (2022) dalam Perang Melawan Penjajah, Dari Hindia Timur Sampai NKRI 1510-1975, mencatat telah terjadi lebih dari 500 kali perang yang brutal untuk memperebutkan kawasan sentral rempah dunia ini, yaitu nusantara. Hagen mengutip kalimat Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal VOC ke-4 yang memindahkan ibukota VOC dari Ternate ke Jakarta (Batavia): ‘Berdasarkan pengalaman, tuan-tuan harusnya paham…bahwa tidak akan ada perdagangan tanpa peperangan dan peperangan tanpa perdagangan.’

Tidak mengherankan jika sejarah berdarah Coen juga berawal dari Kepulauan Maluku, ia lah pelaku genosida atas 14,000 penduduk aseli Kepulauan Banda pada 1621, untuk memonopoli perdagangan rempah Maluku. Inilah tindakan genosida pertama dalam sejarah dunia. Coen menyewa 100 ronin atau Samurai Jepang sebagai algojo, dengan 1.600 pasukan VOC, 300 orang tahanan, 286 budak belian, 18 hingga 40 awak kapal, untuk membantai dan memutilasi penduduk Banda tanpa pandang bulu. Dari 15,000 penduduk Kepulauan Banda, hanya tersisa 1,000 yang lolos dari pembantaian Coen. Juga nafsu monomania Belanda, memakan korban sesama bangsa asing lainnya yang telah berdagang rempah di Maluku. Pada 1623 terjadi insiden berdarah Amboyna Massacre, dimana dibantainya 21 orang pedagang Inggris dari East India Company (EIC), Portugis, dan Jepang di Benteng Victoria Ambon. Mereka dituduh berkonspirasi melawan VOC. Korban-korban ini kemudian hukum pancung dan dimutilasi, lalu jenazahnya dipertontonkan dimuka umum.

Namun di tengah ketatnya monopoli VOC atas Maluku, dengan hongi tochten yang super ketat tersebut, cengkih dan pala diam-diam berhasil diselundupkan oleh seorang missionaris Perancis Pierre Poivre (1719-1786). Ia berhasil menyelundupkan bibit cengkih dan pala dari Pulau Mayau, Batang Dua (1769- 1670) ke Kepulauan Mauritius. Namun iklim Mauritius ternyata tak cocok untuk cengkih dan pala Maluku Utara ini. Pierre Poivre pun merencanakan ulang penyelundupan kedua dan berhasil. Ia tercatat mampir ke Pulau Gebe pada 6 April 1670 dan disambut hangat oleh para kepala suku (Sangaji Gamrange).

Para Sangaji ini disebutkan membanting bendera Belanda dan menaikkan bendera Perancis di Halmahera. Sebanyak 70 bibit pohon cengkih dan pala sebanyak 400 pohon  dari Patani, dan ribuan biji pala dibawa Pierre Poivre ke Madagaskar. Ditanam di Montplaisir dan taman botani di Cayenne. Dari bibit-bibit inilah pada 1790-an, Madagaskar dan Martinique menghasilkan panen cengkih yang lebih unggul dari Maluku. Termasuk yang kita kenal sebagai cengkih Zanzibar. Sedangkan bibit pala tumbuh subur di Granada, lebih subur dibanding Banda. Bahkan Granada menggunakan buah pala sebagai lambang negaranya.

Adapun Pierre Poivre tetap dikenang sebagai bapak botani karena ia adalah pendiri kebun raya Mauritius. Dari jejak Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda hingga Perancis ini, menandai rempah, bukanlah lagi sekedar bermakna komoditi, namun rempah telah menjadi identitas dan penentu takdir bagi nusantara, khususnya Maluku Utara. Karena identitas rempah inilah kita dikenal manca negara secara global, bahkan diperebutkan pada abad pertengahan oleh berbagai kekuatan dunia atau global power.

Di Maluku Utara seakan telah menjadi saksi ajang perebutan global silih berganti, sebagaimana wilayah nusantara lainnya. Di wilayah ini, telah terjadi pepatah Lord Palmerstone (1784-1865), Perdana Menteri Inggris(1859-8, 1859-65) yang menyatakan: there are no eternal allies, and there are no perpetual enemies. 20 Bocah Ternate membawa bibit cengkih (National Geographic. US Edition, June 1, 1976). (bersambung)

Share :

Baca Juga

Opini

Mudik Orang Pulau, Sebuah Coretan yang Tercecer

Ragam

Gorengan Tak Baik untuk Buka Puasa

Ragam

Seriusnya Siswa SD Belajar Buat  Eco Enzyme

Opini

Titik Nol Jalur Rempah adalah Soal Geopolitik (3)

Opini

Doho-doho Kemerdekaan  

Ragam

Ini Manfaat Zakat dan Sadaqoh Global

Opini

Dua Hari yang Sunyi di Bumi Maluku Utara 

Opini

Pengelolaan Kawasan Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut Harus Efektif