Home / Etniq / Kabar Kampung

Sabtu, 6 November 2021 - 01:49 WIT

Tradisi Orang Tobaru Tanam Padi Lokal

Dua karung gabah teronggok di dapur Yosep Ugu (60). Gabah kering itu rencana diolah menggunakan mesin penggilingan padi di desa setempat.  Gabah padi   telah lama dikeringkan, tersimpan dalam karung dan baru dibawa ke kampung  sehari sebelumnya.

“Di dalam gabah padi ini,  ada banyak jenis ikut tercampur. Ini sisa panen tahun lalu dan sampai sekarang belum  habis dikonsumsi. Tahun ini saya sempat menanam sedikit saja. Tidak banyak sekira tiga kulak atau sekira ¼ hektar. Saya  tidak bisa menanam  di kebun yang agak luas karena turun hujan hamper sepanjang tahun, membuat  kebun tidak bisa bersihkan,” jelas Yosep saat ditemui di rumahnya Desa Togoreba Sungi Kecamatan Tabaru Halmahera Barat Provinsi Maluku Utara pertengahan  Februari lalu. 

Yosep mengaku,  sisa padi di musim tanam 2020 itu sebagian masih di lumbung  padi yang dibuat  di rumah kebun. Padi-padi itu masih aman tersimpan meski panennya sudah agak lama. Di  lumbungnya  padi hasil panen bisa disimpan  hingga satu tahun.

“Saya  tetap menanam padi setiap tahun karena tidak suka  makan nasi yang berasnya dari toko atau yang didatangkan dari luar. Karena itu harus selalu menanam padi untuk bisa memenuhi kebutuhan,” jelas Yosep. 

Yosep adalah  satu dari sekian warga Tabaru yang  tetap mempertahankan tradisi menanam padi dan mengkonsumsi beras  dari padi lokal. Beras  dari padi lokal itu oleh warga Tobaru dan masyarakat Maluku Utara  mengenalnya dengam  istilah bira sung atau  beras baru. 

Tanaman  padi sesungguhnya  adalah   tanaman pembuka ketika seseorang membuka lahan hutan atau kebun baru.  Sebagaiamana tradisi umumnya  warga asli Halmahera,  jika ada kebun  yang dibuka dari hutan primer atau hutan sekunder,  padi biasasnya menjadi tanaman pertama  sebelum tanaman pangan lain. Orang Tobaru menyebutnya  membuka kebun padi. 

“Dalam tradisi menanm padi juga sudah diatur waktunya Yakni Oktober November hingga Desember. Saat menanam, benih yang ada di isi dalam  satu ruas bambu. Tempat itu oleh orang Tobaru dikenal dengan  nama Otiba. Otiba ini biasanya  dipegang oleh perempuan,” jelas Yosias Palangi tokoh  masyarakat Tobaru.

Dijelaskan, jika luas kebun itu 1 hektar  biasanya  mereka  tanam  padi kurang lebih 8 kula, di mana 1 kula 15 cupak atau bekas kaleng susu. Sementara  orang yang melubangi tanah disebut yotuduku  sementara alatnya disebut  Otu-tuduku.

Para perempuan yang biasanya menaruh bibit  di dalam lobang atau menghambur bibit di dalam lobang, yang disebut  dengan yonoa. Setelah proses yonoa selesai maka tahapan terakhir adalah  Yodidumu atau menutupi lobang. Alatnya disebut dengan O-didimu. Untuk satu hektar dibutuhkan tiga  empat orang bekerja menutup lobang menggunakan o-didimu.

Setelah aktivitas ini, proses menanam selesai.  Tidak ada lagi aktivitas mengolah kebun atau menebang  pohon di hutan dekat dengan kebun yang baru ditanami  padi. Kepercayaan mereka jika dilakukan hal-hal seperti ini  akan mengundang hama tikus datang dan memakan benih yang baru ditanam tersebut.  Tradisi ini masih hidup dan dipakai sampai sekarang ketika proses menanam.   

“Ketika menanam juga waktunya harus bersamaan     karena  berpengaruh  pada serangan  hama  atau penyakit.  Sementara jika sampai  padi yang diusahakan     terserang hama atau penyakit para petani tidak menggunakan pestisida dalam memberantasnya.  Kebanyakan   mereka memberantas hama atau penyakit  padi  menggunakan daun dan  kulit kayu yang berbau tajam. Jika ada daun yang  berbau tajam ditaruh di dekat kebun banyak hama datang mendekat dan akhirnya mati sendiri,” jelasnya.

Tawas Tuluino kepala adat masyarakat Tobaru dari Desa Togoreba Tua bilang,  tradisi tanam padi ini berlangsung   setiap tahun. Tidak terkecuali dalam kondisi apa pun petani di masyarakat Tobaru tetap menanam. Dalam kondisi  iklim yang ekstrim misalnya tetap ada satu dua warga tetap menanam.

Baca Juga  Mengunjungi Mayau, Pulau Terluar Kota Ternate (1)

“Kadang tidak semua orang menanam padi tiap tahun. tetapi karena sudah tradisi,  setiap  musim tanam  ada  saja petani  yang menanam. Hal ini  dilakukan sudah  turun temurun. Tentu  menggunakan bibit asli dari masyarakat Tobaru,” katanya.

Banyak padi lokal  di masyarakat Tobaru. Tergantung siapa yang suka  menanam jenis apa.  Saat ini banyak ditanam itu  misalnya pulo lenso, gamtala, Pangalo, Bidoi, padi aluss, bugis atau  kayeli.  

Herman Ime menunjukan butir padi yang siap digiling, foto M Ichi

Aktivitas menanam padi  di kalangan orang Tabaru juga tidak menggunakan lahan berpuluh  hektar.  Paling banyak satu hektar. Itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Yang penting setiap tahun  menanam secara berkelanjutan.   Meski hanya sekali  hasilnya bisa dinikmati hingga setahun berikutnya. 

Padi yang  ditanam warga Tabaru benihnya dikembangkan turun-temurun.  Padi  local   yang  ditanam warga Tobaru  ada beberapa jenis  sudah jarang ditemukan. Ini lebih karena  sudah  jarang ditanam. Ada  4 jenis   masih sering ditanam warga. Yang lainnya   makin jarang dan sudah hilang karena ditanam tidaknya tergantung warga mau tanam jenis apa. Kalau mereka suka makan   beras dari jenis padi tertentu mereka akan tanam terus jenis tersebut.

Orang Tobaru menyebut ada beberapa nama padi local  misalnya nipon,  kayeli,  suuru  atau sahu  dan  gumilang. Jenis ini masih ada dan terus dikembangkan.  Setiap   panen   warga tetap menyisakan benih untuk ditanam di musim tanam berikutnya.  Di setiap lumbung juga selalu disimpan   benih. Jika gagal panen mereka tetap mencari atau membeli benih  di kampung atau tetangga kampung yang berhasil panennya.  

Tawas bilang lagi   banyak jenis padi  local yang oleh warga   juga sudah tidak tahu menyebut Namanya.  Beras pulut saja ada banyak jenis dari hitam, putih dan merah. Belum lagi jenis lainya. Ada puluhan jenis yang sudah berpuluh tahun tidak lagi ditanam.

Herman  Ime salah satu petani dari  Desa Togoreba Tua mengaku  bibit yang mereka tanam itu tidak dibeli. Berbagai jenis padi  ada,   dan  setiap musim tanam tetap ditanam. Misalnya  bidoi dan  kayeli. Sementara yang hilang itu misalnya kapuraca, misiri, suuru,  atau pulo Tibobo.

Di Desa Togoreba Tua   yang warganya ada 180 KK   adalah petani dan tetap berkebun dengan menanam padi.  Bahkan ada pegawai  juga ikut  menanam padi.  Menanam padi selalu ditumpangsarikan dengan jenis tanaman lain. Ada pisang, jagung hingga kacang-kacangan.  

Petani  Tabaru   tidak menggunakan pupuk atau pestisida ketika menanam. Warga akui seringkali pemerintah menyerahkan pupuk dan pestiaisida tetapi  tidak digunakan.  Apalagi bantuan pupuk dan pestisida  yang diserahkan kadang tanpa penjelasan atau pendampingan.  Hanya diserahkan begitu saja tanpa ada penjelasan penggunaan pupuk. 

“Bantuan pupuk  juga saya terima  beberapa karung tapi tidak digunakan. Akhirnya rusak percuma,” kata Herman Ime petani desa Togoreba Tua.       

Bulir padi milik warga Tobaru Desa Podol yang mulai berisi

Sebagian warga desa menganggap beras yang telah diproduksi melalui pengawetan paling banyak beracun  “Bayangkan saja mulai dari benih sudah ditaruh zat kimia sampai panen   diolah lalu diisi dalam  karung juga masih tetap menggunakan  zat kimia,”  ujar Yosep Ugu salah satu tokoh masyarakat Tobaru.

Lalu  bagaimana  upaya pemerintah daerah   mendukung tradisi menanam padi ladang yang dikembangkan   masyarakat  Tobaru dan Halmahera Barat umumnya?

Kepala Dinas Pertanian Halmahera Barat Totari Balatjai bilang mereka juga punya program bantuan benih lokal yang setiap tahun dibagikan kepada petani.  Ada beberapa varietas lokal yang sudah disertifikasi yang dibagikan kepada petani.   Nama lokalnya Kayeli, pako  atau jenis pulut serta bidoi. Jenis padi ladang  yang dikembangkan oleh petani di Halmahera Barat ini katanya mencapai 250 hektar. “Pas waktu pandemic Covid-19  ini petani  yang mengusahakan padi ladang naik hampir 100 persen. Dalam catatan Dinas Pertanian Halbar ada lebih dari 500 hektar padi ladang  yang diusahakan petani di Halmahera Barat termasuk oleh masyarakat Tobaru,” kata Totari.

Baca Juga  Dari Mana Kenari Makean Berasal ?

Berdasarkan  hasil inventarisasi  keragaman  sumberdaya genetic  tanaman pangan  Halmahera  Barat  dan Kota  Tidore  Kepulaua  di Maluku Utara   yang dilakukan  Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Maluku Utara menunjukan tingginya keragaman sumberdaya genetic khusus padi gogo atau padi ladang.  Hasil inventarisasi di Kabupaten Halmahera Barat diperoleh 15 aksesi padi gogo. Seluruh sumberdaya genetik  padi gogo termasuk golongan cere berumur 4–6 bulan, jenis aromatik, dan rasa nasinya pera. Umumnya padi lokal ditanam 1 tahun sekali, dengan awal tanam pada bulan November dan Desember. Tinggi tanaman rata-rata 2 m sehingga pada waktu panen, padi

direbahkan dahulu untuk memudahkan panen dengan ani-ani. Terdapat dua aksesi yang memiliki malai panjang dan lebat, seperti lokal Jingodi dan Kayoan. Warna beras semua aksesi beragam, yaitu putih, hitam, dan merah.

Ketua Program Studi Antropologi Univeristas Khairun Ternate Syafrudin Abdurahman menjelaskan, menanam padi itu menjadi tradisi penting masyarakat Tobaru.   Bahkan katanya sebenarnya dalam tradisi orang di Maluku Utara dalam menanam padi ada kesamaan-kesamaan. Hanya saja di kalangan orang di Halmahera Barat Terutama di Kecamatan Sahu dan Ibu ada kehususan dengan upacara dalam memperlakukan padi.

Diakui Syafrudin, warga Tobaru mengkonsumsi juga beras yang   didatangkan dari luar tetapi  dalam urusan menanam padi, menjadi  tradisi yang tetap dilaksanakan. Sebenarnya tanaman padi itu berhubungan dengan keselamatan  memenuhi hajat hidup sehari hari. Karena itu masyarakat Tobaru terutama petaninya begitu berharap melakukan berbagai acara hingga ritual untuk menyelamatkan pangannya agar terhindar dari penyakit dan gagal panen.  “Harapanya agar tanaman yang ditanam itu berhasil  dan  bisa makan,” katanya.

Karena itu urusan yang mampu dijangkau dan tidak mampu dijangkau yang berhubungan dengan mistis juga dilakukan untuk mengharapkan keberhasilan tanaman pangan yang ditanam. Ketika mereka menanam dan berhasil maka   akan membuka benih untuk musim tanam berikutnya. Mereka  juga membuka  bagian untuk ritual dan pesta  sisanya itu    dikonsumsi. Karena dulu orang makan nasi tidak setiap hari seperti sekarang ini. Orang mengandalkan  pangan lainnya seperti pisang sagu dan ubi-ubian lainnya.

Kalau dulu makanan beratnya pisang dan popeda atau sagu ditutup dengan nasi. Tetapi sekarang  praktek hidup ini  terbalik. Nasi sebagai makanan utama dan pangan yang lainnya hanya sebagai tambahan.

Begitu juga urusan keyakinan di gereja ada syukuran padi baru. Ritual ini yang memacu mereka untuk tetap menanam  padi  tidak hanya untuk kebutuhan  makan  tetapi juga karena kebutuhan ritual. Ritual padi baru atau bira sung.  Ada penganan nasijaha kembar yang dibuat menggunakan beras baru atau padi ladang. Rata rata  persembahan untuk syukuran. Penganan  dari padi ladang ini tidak bisa menggunakan beras lain. Misalnya penganan wajik menggunakan pulut yang ditanam  dari kebun  kebun mereka.  Ternyata padi dan beras adalah makanan yang istimewa untuk persembahan atau syukuran dari hasil panen. “Tradisi menanam padi itu sebenarnya berhubungan juga dengan  ritual. Jika dulu sebelum masuk agama mereka melakukan persembahan ke alam. Sekarang beralih dengan syukuran yang dilakukan di tempat ibadah.  (*) 

Share :

Baca Juga

Kabar Kampung

Produksi Sagu Melimpah, Butuh Bantuan Pemasaran

Etniq

Orang Tobaru dan Tradisi Menanam

Kabar Kampung

75 Tahun Warga Gane Belum “Merdeka”

Kabar Kampung

Ini Cara Mendorong Warga Memetakkan Wilayah Adatnya

Kabar Kampung

Bobato Adat Kie Goya, Jaga Hutan untuk Anak Cucu

Kabar Kampung

Safri Bubu, Pahlawan Konservasi Mamua dari Galela Halmahera

Kabar Kampung

Tugu Kenari dan Diaspora Minang di Makean

Kabar Kampung

Bokimoruru Aset Kawasan Lindung Geologi di Halmahera