Home / Kabar Kampung

Rabu, 6 September 2023 - 00:57 WIT

Tugu Kenari dan Diaspora Minang di Makean

para mahasiswa berfoto bersama didepan tugu kenari foto ist

para mahasiswa berfoto bersama didepan tugu kenari foto ist

Kuliah Bersama Masyarakat (Kubermas) tahap I Universitas Khairun Ternate  di Desa Sebelei Kecamatan  Makean Barat, Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara selama satu bulan (Agustus 2023) telah tuntas. Program kerja mereka,salah satunya membuat Tugu Kenari sebagai salah satu ikon Desa Sebelei.   

Sekadar diketahui, tugu ini memiliki makna filosofis mendalam. Pohon kenari  disebut- sebut sebagai  salah satu tanaman kehidupan warga pulau Makeang termasuk warga  di Sebelei dipilih sebagai symbol utamanya.

Buah dari pohon kenari sebenarnya menjadi mesin penghasil uang, selain cengkih dan pala. Dari kenari banyak  warga  bisa naik haji, menyekolahkan anak hingga dijadikan tabungan hari tua. Pohon kenari juga menjadi identitas.  Banyak pihak mengidentikan Makean sebagai pulau Kenari.

Beberapa literature menyebutkan,  kenari menjadi salah satu tumbuhan yang diintroduksi  Belanda ke di saat VOC, perusahaan dagang Belanda di zaman penjajahan,  membeli dan membumihanguskan cengkih dari Pulau Makean.  Kegiatan ini lebih dikenal dengan  istilah  pelayaran  hongi  atau hongitochten.

Dosen Sejarah Universitas Khairun Ternate Irfan Ahmad pernah menjelaskan,  keberadaan kenari  tidak terlepas  dari sejarah cengkih zansibar.

Berdasarkan Histoy Das Maluccas laporan Gubernur  Antonio Galvao,  sejak dahulu kualitas cengkih terbaik  berada di Pulau Makean.  Hal ini diakui para pedagang Eropa sebagaimana isi laporan Gubernur Antonio Galvao dalam “History Das Maluccas”. Karena  itu juga  pulau Makean selalu menjadi rebutan.

Bahkan sempat memunculkan kemarahan Sultan Khairun di zamannya karena ada intervensi Portugis dalam melakukan transaksi dagang langsung ke pulau Makean.

Pulau Makean  menjadi  salah satu wilayah sasaran  program penebangan tersebut.  Pada 1652-1654 terjadi penebangan besar-besaran cengkih. Untuk menghindari konflik terbuka masyarakat Makeang dengan VOC-Ternate maka dibuatlah cerita bahwa pembelian  harga akar dan batang cengkeh itu lebih mahal dari buahnya. Di saat yang sama VOC juga memperkenalkan jenis tanaman baru  yakni Kenari.

Tipu daya penjajah Belanda membeli batang hingga akar cengkih ini membuat masyarakat Makeang berlomba-lomba menjual akar dan batang cengkih lalu diganti  menanam pohon kenari. 

Pohon kenari ternyata memiliki banyak manfaat. Menjelang abad 19 Belanda mengajarkan cara membuat minyak goreng mengunakan kenari jauh sebelum orang Makean mengetahui minyak goreng dari kelapa.

Hingga kini, kenari selain menjadi pelindung pulau tumbuh dari pesisir pantai hingga ke puncak puncak bukit, dia sudah menjadi pohon sumber kehidupan  warga  15 desa yang mendiami pulau ini. “Jadi kenari di Makean   didatangkan Belanda dan khusus untuk orang Makean. Beda dengan kenari di tempat lain seperti Ambon, Seram dan Hitu yang juga menjadi sasaran “penebangan  cengkih kala itu,” jelas Irfan.

Hubungannya  dengan tugu kenari yang dibangun para mahasiswa  dengan masyarakat Desa Sabelei, ternyata  tidak sekadar soal kenari.  Tetapi juga memiliki hubungan keterkaitan dengan masuknya orang Minang Sumatera Barat ke Pulau Makean.

Baca Juga  Ini Hasil Kajian Kebutuhan Air Bersih Warga Kalumata

Kepala Desa Sebelei Samiun Asari  mengatakan apa yang dibangun para mahasiswa bersama masyarakat di sana adalah sebuah kegiatan fenomenal.  Kehadiran tugu ini memiliki filosofi penting bagi masyarakat sebelei dan Makean umumnya.

“Pembuatan tugu kenari termasuk fenomenal. Memiliki  filosofi  sejarah masyarakat di Desa Sebelei,” ujar Samiun.  Tugu yang dirancang dengan simbolisasi kenari menjadi pembeda bagi masyarakat  Desa Sebelei. Tugu  ini berisikan 11 buah kenari yang menjadi symbol  kedatangan orang Minang pertama kali di Maluku Utara.

“Konon nama Sebelei  sendiri adalah penyebutan dalam bahasa Minang sabakle yang artinya angka 11. Konon pada waktu orang Minang menginjakkan kaki di Desa Sebelei, di situ hanya terdapat 10 rumah penduduk. Mereka lantas meminta izin membangun satu buah rumah dan hidup di tengah-tengah masyarakat. Selanjutnya mereka menyebut kampung 11 (artinya terdapat 11 rumah) dengan penyebut Sabakle, yang kemudian dituturkan   penduduk  setempat dengan sebutan Sebelei,” paparnya.

Tugu kenari yang dikerjakan  bersama  mahasiswa Kubermas dengan masyarakat Sebelei ini akan menjadi kenangan terindah  masyarakat  di Desa Sebelei.

Lalu bagaimana dengan diaspora Minang di Pulau Makean?

Sekadar diketahui, suku bangsa Makean di Maluku Utara  memiliki  akar cerita yang kuat dengan Minang. Beberapa kampong di Pulau Makean  diduga  memiliki keterikatan turunan dari Minang Sumatera Barat.  Mau bukti?  Ada marga besar Minangkabau di  Makeang. Marga ini tersebar di sejumlah kampong di Makeang Timur dan Makeang Barat.

Sebut saja Di Desa Ngoifa Kiaha, Desa Mailoa  Makeang Timur serta sebagian desa  di Makeang Barat.  Desa Sabelei menjadi bukti bahwa nama itu, berasal dari  Bahasa Minang  yang artinya sebelas. 

Sayangnya, cerita soal kedatangan orang Minang ke Pulau Kenari ini hanya dituturkan  turun temurun dan  hingga kini  belum ada riset atau referensi  awal kehadiran mereka,  karena apa dan seperti apa proses kedatangan mereka.

Banyak tuturan dengan berbagai versi berkembang turun temurun di kampong kampong yang memiliki marga Minangkabau.  Di  Desa Mailoa misalnya, ada peti dan  beberapa piring antic serta keris yang diklaim sebagai barang tinggalan orang Minang pertama yang   menginjakan kaki di Makean. Sementara di Sebelei ada begitu banyak bukti seperti nama Sebelei  sendiri  dan tinggalan  tuturan  cerita  diwariskan turun temurun.

Irfan Ahmad  Dosen Sejarah Fakultas Sastera  Universitas Khairun Ternate yang coba diminta  tanggapannya soal sejarah diaspora orang Minang di Pulau Makeang,   mengaku  soal ini juga dia  dengar melalui cerita cerita namun belum dalam bentuk hasil riset yang mengungkapnya. Karena itu dia mengusulkan perlu  dilakukan riset mendalam mengumpulkan data dan informasi keterkaitan diaspora Minang dengan Makean.

Baca Juga  Warga Obi Sulit Air Bersih, Tagih Janji Bupati  

Dia bilang, ada hal menarik karena selain diaspora ini  juga memiliki hubungan dengan Gamrange.

“Turunan Minangkabau sangat banyak di Pulau Makeang. Sayang  tidak teridentifikasi  karena  belum adanya riset. Di sekitar abad ke 19 ada satu pemukiman Minang  di Kecamatan Patani Halmahera Tengah. Sayangnya pemukiman itu  sekarang  telah hilang. Kampong Minang di Patani itu bersebelahan dengan Kampung Banemo sekarang,” jelas Irfan.

Sementara Dr Syaiful Bahri Ruray salah satu peminat sejarah di Maluku Utara bercerita, dia punya sedikit catatan tentang orang Sebelei  dan  diaspora Minang di Makean. Di Sebelei  yang dalam bahasa Padang berarti sebelas itu masih  tersisa kultur berdagangnya. 

Dari hasil percakapannya dengan almarhum dokter Zein Patiiha salah satu dokter yang meminati sejarah dan diaspora orang Minang di Malut  pernah beberapa kali berkunjung ke Sebelei  dan menyebutkan,  jika di kampong ini dulu ada peninggalan mangkuk porselen  tua yang diyakini  dari Padang. Barang  tersebut  sebagai  artefak tersisa  di Sebelei.

Saiful juga bilang, dari hasil obrolan dengan dokter Zein kala itu, kemudian dia cross chek ke pasar dan ruko di kawasan Bastiong,  ditemukan warga dari Sebelei  banyak dan ulet berbisnis atau berdagang. “Ini menunjukan karakter berdagang orang Minang turun di sebagian warga Sebelei.

Wartawan dan penulis asal Sumatera Barat Syofiardy  Bachyul bilang ada persoalan mendasar sejarah  Minangkabau. Menurutnya, catatan Minang nyaris tidak ada sebelum masuknya kolonial Belanda.  Apalagi bicara soal diaspora orang Minang di berbagai tempat di Indonesia.  “Ada persoalan serius  tidak ada yang mencatat di masa lalu atau di mana hal ini dicatat.  Kalau dari sisi sejarah Sumatera yang saya telusuri dari literature Portugis, Prancis Inggris,  dan Belanda sama sekali tidak ada,” katanya saat diskusi via aplikasi WhatsApp. Karean itu katanya yang bisa dilakukan adalah   membuat  catatan melalui tutur lisan.

Termasuk misalnya refrensi diaspora Minang di Makeang ini. “Beberapa tahun lalu saya sudah coba  telusuri secara literature  Makeang dan diaspora lain  di Kalimantan dan kawasan timur Indonesia.  Sayang sekali data data yang  lama dikumpulkan  di hardisk itu alami masalah sehingga  datanya tidak bisa diakses lagi,”sesalnya.

Meski demikian kata Syofiardi Sebelei atau Makeang  sulit terlacak. Karena itu yang bisa dilakukan adalah mengumpulkan story lisan dari penduduk yang berusia lebih tua  dan mengetahui cerita ini, akan menjadi semakin bagus. “Akan lebih bagus jika didukung  peninggalan kuno. Diaspora Minang ini tidak hanya di Makeang ada juga di Waerebo Flores. Di sana juga banyak artefaknya,”katanya. (*)

Share :

Baca Juga

Kabar Kampung

Bobato Adat Kie Goya, Jaga Hutan untuk Anak Cucu

Kabar Kampung

Warga “Usir” PT Priven Lestari dari Gunung Wato-wato Halmahera Timur?

Kabar Kampung

Warga Hasilkan Produk Pangan dari Sagu dan Enau

Kabar Kampung

Gane Dihantam Abrasi Parah dan Kesulitan Air Bersih

Kabar Kampung

KTH Woda Oba Tidore Kepulauan Kirim Damar ke Surabaya

Kabar Kampung

Warga Gane Timur Minta Pemerintah Perhatikan Produksi Sagu

Kabar Kampung

Kolaborasi Dorong Perdes Pesisir dan Laut Kayoa

Kabar Kampung

Tak Punya TPU, Halaman dan Teras Jadi Makam