Breaking News
light_mode
Beranda » Lingkungan Hidup » Keanekaragaman Hayati Teluk Buli Terancam

Keanekaragaman Hayati Teluk Buli Terancam

  • account_circle
  • calendar_month Sel, 9 Jan 2018
  • visibility 842

Butuh Perlindungan Serius Berbagai Pihak 

Di seluruh  dunia, keragaman hayati semakin cepat musnah. Meski  demikian, persebaran keragaman hayati maupun ancamannya tidak merata. Karena itu organisasi konservasi perlu memusatkan kegiatan mereka pada tempat- tempat yang paling penting dan paling terancam punah. Salah satu caranya dengan melakukan identifikasi hotspot. Ini menjadi salah satu cara paling efektif menentukan prioritas pelaksanaan kegiatan konservasi di tempat yang paling membutuhkan perhatian.

Salah satu wilayah di Maluku Utara yang masuk kawasan terancam itu adalah Teluk Buli di Kabupaten Halmahera Timur. Kawasan ini berdasarkan hasil riset yang dilakukan yayasan Studi Etnolgi Masyarakat Nelayan Kecil (SEMANK), menemukan keragaman hayatinya terancam.  Kurangnya aksi-aksi konservasi di tingkat lokal serta pertumbuhan populasi penduduk yang makin pesat menyebabkan pemanfaatan sumber daya yang   tidak terkontrol. 

Helmi Manager Program Yayasan SEMANK menjelaskan, aktivitas itu menyebabkan rusaknya ekosistem mangrove, padang lamun dan terumbu karang. Penangkapan ikan menggunakan bom, obat bius, penangkapan ikan dengan menggunakan jaring di areal terumbu karang dan tambatan perahu serta pengambilan batu karang sebagai bahan bangunan.

“Aktivitas-aktivitas  ini terus berjalan dan tanpa kendali.Bila dibiarkan akan berakibat pada degradasi ekosistem yang lebih luas dan pada satu saat akan menyebabkan hilangnya spesies utama, termasuk ancaman dari aberasi dan risiko banjir bagi pemukiman sekitar sepadan sungai dan pesisir semakin nyata,” jelasnya. Selain aktifitas masyarakat, investasi ekstraktif di daerah teluk Buli ini juga ternyata menjadi momok tersendiri bagi keanekaragaman hayati di daerah ini. “Realitas ini kemudian mendapat perhatian  kami untuk berbuat dalam aksi nyata penyelamatan lingkungan bersama masyarakat di Desa Gotowasi,” jelasnya.

Desa Gotowasi sendiri adalah salah satu desa di Kecamatan  Maba Selatan Kabupateb  Halmahera Timur. Desa ini adalah desa pesisir yang masyarakatnya dominan berprofesi sebagai petani sebanyak 50%, nelayan sebanyak 40% dan sisa 10% beragam profesi lainnya dengan jumlah KK sebanyak 334.Secara geogerafis desa ini sebagian besar berada dalam kawasan  ekosistem mangrove. Wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil  di Kecamatan Maba Selatan termasuk wilayah Desa Gotowasi ini adalah kawasan yang telah direncanakan  Pemerintah  Kabupaten Haltim sebagai zona konservasi, perikanan skala kecil dan kegiatan pariwisata. “Desa Gotowasi adalah salah satu desa yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati,  seperti terumbu karang, hutan mangrove dan padang lamun. Dalam catatan Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF) dan Burung Indonesia, teluk Buli merupakan salah satu daerah penting bagi keragaman hayati  (Key Biodiversity Areas/KBA).

Berdasarkan data  tersebut  satu lokasi ditetapkan sebagai KBA jika diduga memiliki populasi spesies terancam punah secara global, populasi spesies endemic yang signifikan secara global, atau spesies yang sangat tergantung pada konservasi daerah tersebut.

“Sudah 7 bulan kami melaksanakan pendampingan di desa ini, terhitung sejak Juni 2017  Tujuan  kita  membangun kesadaran bersama semua komponen masyarakat termasuk pemerintah dan pihak-pihak terkait dalam aksi pelestarian ekosistem pesisir dan laut,” jelas Helmi  

Dijelaskan, dalam kurun waktu 7 bulan SEMANK telah melaksanakan base line data,  pelatihan Konservasi Ekosistem Pesisir dan Laut,  Pelatihan Pembibitan   dan Penanaman Mangrove,  serta  studi  ekologi ekosistem.  Hasil studinya kita seminarkan dalam bentuk seminar kampung pada  5 Januari 2018   di kantor desa Gotowasi. Seminar kampung ini menghadirkan seluruh warga desa Gotowasi termasuk siswa-siswi Madrasah Aliyah, MTs, dan SD di desa Gotowasi bersama  unsur pemerintah  

Sementara untuk hasil studi ekologi yang dilakukan  mendapatkan fakta bahwa di daerah Gotowasi  terdapat 12 genera terumbu karang, sebanyak 9 famili  dengan 18 jenis mangrove dan lamun sebanyak 2 famili dengan 12 jenis. Sementara  data  Kementerian  KKP jenis lamun yang terdapat di Indonesia sebanyak 12 jenis dan 12 jenis itu semuanya terdapat di desa Gotowasi. Beberapa spesies  ditemukan kritis dan prioritas juga di temukan di kawasan ini seperti penyu hijau (Chelonia mydas), duyong (dugong dugon), Akar Bahar, Ikan Napoleon, Teripang (mentimun laut), Kima (T.gigas) dan beberapa burung yg hidup di kawasan Mangrove seperti burung pantai. Keberadaan ekosistem ini berada di daratan/pesisir dan beberapa pulau disekitarnya. Luas hutan mangrove di Gotowasi dan sekitarnya sebesar 1.830 hektar.

Sepanjang pesisir Desa Gotowasi sampai Waci merupakan habitat bertelur penyu, lokasi bertelur penyu betina di Desa Gotowasi antara lain di Tanjung Tapalo. Musim bertelur adalah bulan April sampai Juni atau Juli. Jumlah betina yang bertelur antara 1-2 ekor/malam sampai 5-6 ekor/malam. Hasil temuan juga masyarakat Desa Tewil (tetangga Desa Gotowasi) tidak hanya mengambil telur penyu, tetapi mereka juga menangkap penyu untuk diambil daging dan telur yang masih ada di dalam perutnya (dikonsumsi), sedangkan kulit dan tempurung untuk aksesoris.

Sementara di Pulau Plun, di sebelah timur Gotowasi yang  tidak berpenghuni, telah dijadikan tempat tujuan wisata dengan gazebo-gazebonya. Sebenarnya pulau itu merupakan habitat bagi penyu untuk bertelur. Pada malam hari saat musim bertelur, sekitar 5-7 ekor penyu mendatangi Pulau Plun untuk bertelur. Masyarakat mengambil telur di pulau tersebut untuk dijual atau dikonsumsi sendiri. Pulau Lelewi, yang terletak di sebelah timur Pulau Plun dan berhadapan dengan lautan Pasifik, juga menjadi habitat penyu untuk bertelur. Masyarakat Buli biasanya menangkap penyu untuk diambil daging maupun telurnya.

Dugong merupakan mamalia laut yang biasa merumput di padang lamun. Biota ini pernah terlihat di padang lamun Tanjung Tapalo. Namun masyarakat  desa tidak terbiasa mengkonsumsi daging dugong karena  bentuk tubuhnya yang besar dan menakutkan menurut mereka.

Pada kesempatan seminar ini, kepala dinas pariwisata Haltim bapak Hardi Musa menyampaikan bahwa pemda melalui dinas pariwisata akan meneyerahkan aset pemda yang ada di pulau Plun kepada pemerintah desa Gotowasi untuk selanjutnya dikelola oleh desa melalui kelompok Bumdes.

Anggota DPRD Haltim Bahri Hayun menyarankan agar desain pariwisata di tanjung Tapalo dan pulau Plun harus ada kerja sama antara Dinas Pariwisata Haltim, Pemerintah Desa Gotowasi dan Yayasan SEMANK. Senada Asisten II Setda Haltim   Jai Mandar mendesak agar   ada Perdes yang mengatur tentang pengelolaan dan pelestarian ekosistim pesisir dan laut. Sementara Kepala Desa Gotowasi sangat berharap agar perencanaan pengelolaan pelestarian pesisir dan laut  harus  masuk dalam RPJMDes  sehingga ke depan   lebih fokus dalam aksi pelestarian lingkungan.  

Dalam seminar kampung  itu menghasilkan salah satu kesepakatan penting yaitu kesepakatan mendasain Daerah Perlindungan Laut (DPL) sebagai salah satu upaya menjaga kelestarian sumberdaya perairan terutama ekosistem terumbu karang dan lamun yang pengelolaan dan pemanfaatannya  diatur dalam PERDES tentang DPL. Pelaksanaanya secara  partisipatif masyarakat diharapkan program ini bisa menyentuh masyarakat bawah. Salah satu partisipasi masyarakat dalam pengelolaan DPL  adalah  menetapkan kawasan DPL di Desa Gotowasi. “DPL  ini perlu diproteksi dan dipantau dalam perkembangannya, sehingga dapat dijadikan indikator keberhasilan program DPL  sebagai acuan dalam penetapan kebijakan program itu. Diharapkan kelak DPL ini dapat dipantau dan dimonitoring masyarakat .(ici)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tohoko Burung Pitta Endemik Malut

    • calendar_month Sen, 22 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 1.343
    • 0Komentar

    Di rerimbunan hutan Pulau Ternate, bersembunyi kekayaan keanekaragaman hayati burung. Melalui Pengamatan Kenakeragaman  Jenis  Burung  di  Beberapa  Objek   Wisata   di Kota  Ternate  dalam Upaya  Mengetahui dan Konservasi Habitat Burung Endemik  oleh Zulkifli Ahmad  dan kawan-kawan dari Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Khairun Ternate pada 2017,menemukan ada 21 jenis burung di pulau Ternate. Burung burung […]

  • Sampahmu adalah Hartaku

    • calendar_month Rab, 5 Jan 2022
    • account_circle
    • visibility 633
    • 1Komentar

    Ulfa Zainal di antara hasil hasil kreasinya. foto M Ichi

  • Nelayan Pulau Bisa Obi, Kantongi  SIPR

    • calendar_month Sen, 23 Jan 2023
    • account_circle
    • visibility 780
    • 0Komentar

    Rumpon yang pernah dibersihkan di laut Obi karena tak berizin foto DKP Malut

  • Pembangunan Ekonomi Belum Menghitung Kerusakan Lingkungan  

    • calendar_month Sen, 15 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 772
    • 1Komentar

    Implementasi “sustainability” dan mitigasi perubahan iklim bukan lagi pilihan tapi kewajiban. Itulah yang mendorong Indonesia ikut “Paris Agreement”, mencoba melakukan transisi energi menuju energi terbarukan, dan memiliki rencana “net zero emission” di 2060. Hanya saja untuk mencapai semua yang telah direncanakan sepertinya tak semudah membalikkan telapak tangan. Energi yang digunakan dalam pembangunan masih banyak menggunakan […]

  • Sungai Sagea Nasibmu Kini, Keruh Belum Usai   

    • calendar_month Rab, 6 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 2.652
    • 2Komentar

    6 September 2023 “Emas Coklat” Mengalir Sampai Jauh Kuning kecoklatan air sungai Sagea dan kawasan sungai Boki Moruru di Desa Sagea Weda Halmahera Tengah Maluku Utara, yang ditengarai terjadi sejak April 2023 lalu belum juga usai. Informasi yang dihimpun kabarpulau.co.id/ dari lapangan  Selasa pagi, air sungai Sagea kembali keruh setelah sempat bersih beberapa hari.   […]

  • Muslimat NU Morotai Diharapkan Bantu Pemda

    • calendar_month Sen, 21 Feb 2022
    • account_circle
    • visibility 632
    • 1Komentar

    Organisasi Perempuan Nahdlatul Ulama, Muslimat NU  resmi hadir di Kabupaten Pulau Morotai. Pengurus organisasi ini dilantik pada  Kamis (10/2/2022) malam lalu. Pelantikanya dipusatkan di Islamic Center  Morota,  dirangkai  dengan  dzikir dan doa bersama keluarga besar NU Pulau Morotai, pemerintah daerah, tokoh agama   serta tokoh masyarakat setempat.  Sementara Pengurus Muslimat NU Morotai yang dilantik adalah […]

expand_less