Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Nestapa Orang Obi di Atas Kekayaan Alam Berlimpah

Nestapa Orang Obi di Atas Kekayaan Alam Berlimpah

  • account_circle
  • calendar_month Ming, 1 Jun 2025
  • visibility 1.980

Hutan dan Bumi Dikuras, Jalan Keliling Pulau pun Tak Punya 

Perjalanan menuju Obi awal Mei 2025 lalu lumayan melelahkan. Setelah semalam atau kurang lebih 7 jam   perjalanan dengan kapal laut dari Ternate, sekira pukul 06.30 WIT, kapal  lego sauh di pelabuhan Kupal Pulau Bacan Halmahera Selatan Maluku Utara.  Etape pertama perjalanan telah dilewati, sekaligus menandai  dimulainya perjalanan  menuju Pulau- pulau Obi.

Di sini hamper 3 jam kapal  bersandar, menurunkan penumpang beserta barang bawaan. Sementara yang lain masih harus meneruskan perjalanan menuju Obi tiga jam  berikutnya  atau sekira pukul 9.30 WIT. Saat di Pelabuhan Kupal  jika memandang ke selatan, dari kejauhan terlihat gugusan pulau Obi. Paling depan  ada Pulau Bisa yang dipisahkan selat Obi. Di sini pintu pertama  masuk  Obi, tepatnya di Jojame.

Untuk sampai di ini menempuh waktu perjalanan hamper 3,5 jam. Artinya perjalanan mulai memasuki jazirah Kepulauan Obi. Selanjutnya menyinggahi beberapa pelabuhan berikutnya, yakni  Jikotamo  dan Pelabuhan Kawasi yang merupakan pusat industry nikel  dimiliki PT Harita dan groupnya.

Di Pelabuhan Kawasi  penumpang yang mau melanjutkan perjalanan ke kampung- kampung di bagian selatan Obi, harus bermalam  di atas kapal. Hal ini karena kapal tidak akan melanjutkan perjalanan ke kampung kampung lainnya malam itu. Sementara kapal yang bermalam di pelabuhan Kawasi,  paginya balik lagi ke Laiwui  dan esok harinya menuju ke Ternate.

Untuk penumpang yang melanjutkan perjalanan  ke Obi Selatan dan Pulau Gamumu menunggu esok paginya ada perahu bermotor yang oleh warga lokal menyebutnya ojek laut mengantar  menuju kampung-kampung pesisir seperti Soligi, Wayaloar, Oci, Fluk, Woi, Bobo hingga kampung- kampung di bagian timur Obi. Ini jika pilihan menumpang kapal yang hanya memiliki trayek terakhir sampai ke Kawasi.  Ada juga pilihan kapal lain yang langsung ke kampung- kampung di selatan hingga ke Timur pulau Obi yang tentu butuh waktu yang lumayan lama. Tidak itu saja trayeknya  ada di waktu- waktu tertentu. Memang ada banyak pilihan transportasi. Bahkan dari Manado- Obi – Ambon. Sementara  dari Bacan misalnya, bisa menyewa speed boat langsung ke kawasan Obi  tetapi biayanya perlu  merogoh kocek lebih dalam. Ambil contoh dari Bacan ke Ke Kawasi atau sebaliknya yang butuh waktu perjalanan empat jam anda harus merogoh kocek Rp350 ribu. Belum melanjutkan perjalanan ke desa desa  lebih ke selatan.

Perjalanan dari Ternate sampai ke Obi   membutukan waktu   hamper dua hari dua malam, akhirnya sampai Wayaloar ibu kota kecamatan Obi Selatan menggunakan ojek laut hamper 2 jam dari Kawasi. Akses itu begitu melelahkan  karena  di Pulau Obi tidak memiliki  jalan keliling pulau yang bisa menghubungkan antar desa. Jalan hanya ada ada di pusat ibu kota Kecamatan Obi induk di Laiwui   yang menghubungkan beberapa desa di bagian utara.

Di Obi  juga ternyata  dikelilingi  cukup banyak pulau kecil. Pulau- pulau itu adalah, Pulau Bisa, Pulau Malamala, Pulau Obilatu, Pulau Gomumu, Pulau Pasir Raja, Pulau Tapat, Pulau Belang- belang, Pulau Tobalai, Pulau Latu, Pulau Woka, dan Pulau Tomini.  Obi adalah pulau terbesar di gugusan kepulauan di selatan Halmahera itu. Dari pulau yang ada, dua  diantaranya diekspolitasi  massive untuk tambang nikel.Perjalanan dari Jikotamo ke Kawasi  kapal melewati pulau  Mala-mala yang dieksploitasi habis  nikel dikandungnya.

Nyiur Melambai. Selain hutan dan tambang, kekayaan-yang-dikelola-turun-temurun warga adalah kebun kelapa pala dan-cengkih foto M-Ichi

Sementara  jika menyaksikan Obi dari dekat baik pulau besar maupun pulau-pulau kecil di sekitarnya, memiliki kekayaan tidak terpemanai.  Ada di atas permukaan bumi, di dalam bumi hingga ke dasar lautnya.

Obi memiliki kekayaan hutan dengan kayu hingga tambang nikel di seantero  pulau besar dan pulau kecil sekitarnya.

Bukti kekayaan tambang dan hutan itu bisa dilihat dengan begitu banyaknya industri pengolahan mengeksploitasi tambang dan kayu daerah ini.

Di sana ada smelter  memproduksi bahan baku baterei. Kawasan industri yang dibangun PT Trimegah Bangun Persada (TPB) atau Harita Nickel didesain sebagai kawasan industri menempati lahan seluas 15.000 hektar itu jika dilihat di malam hari seperti Hongkong karena lampu pabriknya yang berkilauan.

Di Pulau ini selain Harita beroperasi PT Gane Permai Sentosa, PT Halmahera Jaya Feronikel dan PT Megah Surya Pertiwi (MSP) dan PT Halmahera Persada Lygend. Ada juga PT Intim Mining Sentosa (IMS). Belum lagi  ada izin perusahaan tambang emas seperti PT Amazing Tabara.   Itu  perusahaan yang  dilihat  datanya secara online.  Lalu ada lagi perusahaan yang mengeksploitasi hutan berupa kayu dan non kayu.

Khsusus untuk kayu Obi adalah surganya perusahaan pengeksploitasi kayu. Perusahaan mengambil hasil hutan di pulau ini sudah sejak lama. Terbilang  sejak tahun 70 an hingga saat ini masih berlangsung.

Sebuah perusahaan  ternama beroperasi di sini yakni PT Poleko Yubarson maupun group PT Barito pernah beroperasi di sini. Saat ini juga masih ada PT Telaga Bakti mengambil kayu di Obi.

Bukti eksploitasi yang massive sebelum datangnya industry keruk bumi mineral kritis  adalah eksploitasi hutan.  Di hampir seluruh pulau Obi, ditemukan 17 log pond atau tempat penampungan loging setelah penebangan. Hal ini bisa dilihat di tepian pantai beberapa desa di Pulau Obi. Tidak jauh dari Desa Soligi misalnya,  masih ada log pond milik PT Telaga  Bakti.

Pulau Obi dieksploitasi selain karena kaya kayu jenis rimba campuran, juga tidak kalah pentingnya memiliki kayu jenis agathis  berkualitas tinggi  banyak tumbuh  di hutan Obi. Tidak heran hingga kini masih ada perusahaan yang beroperasi. Bahkan konsesi usaha di bidang kehutanan itu  ada sampai sekarang.   Uang yang member sumbangsih bagi Negara dan bangsa dari pulau ini sudah tidak terhitung banyaknya. Sayangnya ada anomaly yang bisa dibaca di tingkat bawah. Kekayaan itu   tidak memihak kepada rakyat bawah.

Di atas kekayaan alam yang melimpah ruah ternyata ada kenyataan yang menyesakan dada.  Eksploitasi yang begitu massive tidak memberi dampak signifikan bagi kesejahteraan masyarakat secara umum. Lihat saja pembangunan infrastruktur di daerah ini. Masih jauh dari layak. Jalan dan jembatan, listrik dan kebutuhan telekomunikasi belum bisa diperoleh secara layak.

Hingga kini belum ada  jalan keliling pulau Obi. Padahal jalan keliling pulau ini sangat penting keberadanya dalam membuka akses antar desa,  ekonomi masyarakat maupun menyelesaikan masalah kebutuhan dasar warga.

Sesuai data  pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan, total ruas jalan kabupaten di pulau Obi 245,7 kilometer dari total panjang jalan Halmahera Selatan mencapai 958,8  kilometer. Dari panjang jalan itu belum bisa dinikmati masyarakat secara keseluruhan.

Jalan darat dari Desa Jiko Dolong, Soligi ke Wayaloar yang panjangnya kurang lebih 61,4 kilometer sampai saat ini  belum  terbuka.  Kondisi yang sama untuk ruas jalan dari Obi Selatan hingga timur  belum juga dibangun.

Selain itu, ada ruas jalan provinsi Laiwui –Jikotamo hingga Anggai, kondisinya juga memprihatinkan. Hingga kini  alami kerusakan parah. Ruas jalan ini menghubungkan 8 desa yakni Desa Baru, Ake Gula, Lawui, Buton, Jiko Tamo,  Sambiki, Anggai dan Air Mangga.

Kawasi dilihat dari laut. Desa ini menjadi pusat industri nikel yang sedang dikeruk oleh PT Harita foto M Ichi

Begitu juga dengan ketersediaan infrastruktur lain seperti penerangan listrik yang menjadi  kebutuhan utama hidup warga juga  sama kondisinya.  Di Wayaloar sebagai ibukota kecamatan Obi Selatan,  baru bisa menikmati  penerangan listrik dari PLN kurang lebih satu tahun ini. Meski begitu   hanya bisa  selama  12 jam yakni dari pukul 18.00 sore hingga pukul 06.00 pagi. Selebihnya di siang hari warga di ibukota kecamatan  tertua di pulau Obi ini tidak bisa menikmatinya.

Kebutuhan sarana komunikasi juga sama. Waktu sampai  di Wayaloar    tidak ada jaringan telpon. Tower mini juga rusak. Sebelumnya  di kampung ini ada tower mini  untuk akses telepon. Hanya saja sudah beberapa tahun belakangan, mengalami kerusakan dan sudah tidak ada perbaikan.

Saat ini warga terbantu dengan adanya fasilitas  layanan internet satelit yang dikembangkan SpaceX, perusahaan milik Elon Musk, (starlink,red),  yang dibeli  warga dan  disewakan kepada yang  butuh  mengakses internet atau  berkomunikasi via media social.  Kondisi infrastruktur yang begitu memprihatinkan, membuat warga  harus berjuang sendiri mememenuhi kebutuhannya. Dengan segala keterbatasan yang ada mereka tetap berjuang memenuhi kebutuhan, menyekolahkan anak dari hasil perkebunan dan pertanian yang mereka kelola.  (bersambung)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ini Gebrakan Komunitas Halmahera Wildlife Photografi

    • calendar_month Rab, 10 Mar 2021
    • account_circle
    • visibility 349
    • 0Komentar

    Hari masih sangat pagi. Jarum jam baru menunjukan pukul 0.7.00 WIT. Kawasan  Ruang Terbuka Hijau  (RTH) Taman Nukila di  Kelurahan Gamalama Ternate Minggu (28/2) sudah sangat ramai. Ratusan Ibu-ibu dan anak-anak  sudah berkumpul di kawasan itu, untuk  sekadar bermain dan  menggelar senam. Sementara beberapa anak muda yang tergabung dalam Komunitas Halmahera Wildlife Photografi (HWP) sibuk […]

  • Dari Togutil ke Tobelo Dalam: Jejak Sejarah dan Transformasi Suku Pedalaman Halmahera

    • calendar_month Ming, 5 Okt 2025
    • account_circle
    • visibility 928
    • 0Komentar

    Penulis: Jamal Adam. Animal Keeper Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata, Halmahera Pulau Halmahera di Maluku Utara tidak hanya kaya akan keanekaragaman hayati, tetapi juga menyimpan sejarah panjang masyarakat adat yang hidup berdampingan dengan alam. Salah satu   yang menarik untuk ditelusuri adalah perjalanan suku Togutil, yang kini dikenal sebagai suku Tobelo Dalam. Mereka bukan sekadar masyarakat […]

  • Mengunjungi Mayau, Pulau Terluar Kota Ternate (1)

    • calendar_month Sen, 4 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 793
    • 1Komentar

    Merekam Masalah Infrastruktur hingga Layanan Dasar    Kamis (24/8/2023) lalu saya berkesempatan  mengunjungi Pulau Mayau di Kecamatan Batang Dua. Pulau ini secara adminstratif berada di wilayah pemerintahan Kota Ternate Provinsi Maluku Utara. Di kecamatan ini ada dua  pulau yakni Mayau dan Tifure  dengan 6 kelurahan. Di Pulau Mayau ada 4 kelurahan.Sementara di Tifure ada dua […]

  • Malut United Imbang di Kandang photo_camera 4

    Malut United Imbang di Kandang

    • calendar_month Sab, 29 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 681
    • 0Komentar
  • Cerita Warga Ibukota Malut Berjuang Dapatkan Air Bersih

    • calendar_month Sel, 4 Jan 2022
    • account_circle
    • visibility 368
    • 0Komentar

    Ilustrasi kran yang airnya berjalan lancar

  • KLHK Sosialisasikan FOLU Net Sink 2030 di Maluku Utara

    • calendar_month Rab, 22 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 361
    • 0Komentar

    Indonesia Forestry and Other Land Uses (FOLU) Net-Sink 2030 merupakan suatu kondisi dimana tingkat serapan karbon sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya sudah berimbang atau bahkan lebih tinggi dari tingkat emisi yang dihasilkan sektor tersebut pada tahun 2030 merupakan   Komitmen Indonesia  untuk mendorong tercapainya tingkat emisi GRK sebesar -140 juta ton CO2e pada tahun 2030 […]

expand_less