Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Selustrum Lara Pesisir dan Pulau Kecil di Malut  

Selustrum Lara Pesisir dan Pulau Kecil di Malut  

  • account_circle
  • calendar_month Sen, 1 Jan 2024
  • visibility 767

 Pakesang di Tahun “Policik” 2024

Sebuah video direkam seorang warga bernama Ikmal Yasir Warga Desa Maba Sangaji Halmahera Timur Maluku Utara pada  Senin (25/12 2023) sekira pukul 14.30 WIT.  Video ini viral di berbagai platform media social. Memperlihatkan laut  Halmahera Timur yang menghampar berwarna kuning kecoklatan. Sepanjang mata memandang air laut terkontaminasi  material ore hasil kerukan tambang nikel.

Dampaknya langsung dirasakan, nelayan setempat tidak bisa melaut. Padahal di kawasan laut ini warga sering kali memasang  jaring,  atau juga memancing ikan.   Ada dugaan kuat perubahan warna air laut ini karena  air bercampur lumpur mengalir dari Sungai Sangaji, Desa Maba Sangaji.

Pemkab Halmahera Timur melalui Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Harjon Gafur mengaku sudah  melihat dan memeriksa kejadian ini di hulu Sungai Sangaji. Sumber pencemarnya  dari  aktivitas  PT Wana Kencana Mineral, dulunya merupakan wilayah konsesi PT Harita.   

Lalu apakah ini adalah dampak usaha Negara lakukan hilirisasi di bidang pertambangan terutama nikel, yang selama ini diklaim memberi keuntungan berlimpah dengan harapan kesejahteraan? Apakah tidak  seperti ikut menyemai blooming  algae. Siap meledak menyuguhkan ekosida di laut dan  pulau pulau?  

Dampak industri ekstraktive terhadap kerusakan dan pencemaran laut di Maluku Utara tak terhindarkan.  Massive-nya industry tambang nikel di pulau Halmahera dan pulau kecil lainnya, menjadi sirene untuk semua pihak, bahwa laut dan pesisir Maluku Utara tidak baik baik saja. 

Ikmal Yasir yang mengabadikan video tersebut ingin mengingatkan pada kita, laut keruh yang sudah berulang kali itu menjadi sebuah isyarat  tanah kampungnya kini tak nyaman lagi. Rakyat kecil seperti dirinya ingin mengingatkan kepada semua, bunyi pasal 33 UU 1945, yang menyatakan bahwa  sumber sumber kekayaan alam  pemanfaatanya untuk kesejahtaraan seluruh rakyat hanyalah sebuah pepesan. Kesejahteraan  yang dirasakan secara berkelanjutan itu, hanyalah  mitos  dalam narasi pidato  dan kampanye.

“Sebelum-sebelumnya warga seperti kami ini tidak membuat video atau foto untuk memubilkasikan ke berbagai platform media terutama media social. Tapi kali ini sangat parah kondisinya sehingga mesti disebarluaskan agar mendapat perhatian publik.  Saat ke pantai dan lihat kondisinya seperti ini kami kaget. Kenapa sudah seperti ini,” katanya.

Pernyataan di atas memberi sebuah isyarat sekaligus sebentuk keresahan orang kampung, yang sadar bahwa tanah moyangnya yang selama ini digugu dan dijaga telah tercabik cabik  kekuatan modal  yang bersenyawa dengan kekuasaan. Kejadian di laut Maba ini menjadi penutup mirisnya kondisi laut wilayah Maluku Utara pada 2023 akibat kerukan tambang.

Nelayan-Lelilef-Sawai-saat-menurunkan-hasil-tangkapan.-Foto-Sofyan-A-Togubu

Sebulan sebelumnya, di perairan  selat Pulau Belemsi dan daratan Halmahera Timur, di depan Desa Maba Pura, juga mengalami hal serupa. Kawasan ini diduga tercemar BBM jenis Oli yang bercampur lumpur hasil kerukan tambang. Dampaknya dirasakan langsung oleh nelayan. Alat tangkap nelayan sepeti bagan dan pukat yang dipakai menjaring ikan teri juga alami kerusakan. Akhirnya nelayan bagan di pulau itu  berpindah tempat.  

Pada November 2023 kasus serupa terjadi di laut Obi. Kejadian di Pulau Garaga, air lautnya diduga terkontaminasi  kerukan tambang. Pulau kecil yang sangat dekat ke Pulau Obi itu, lautnya berwarna kuning kecoklatan seperti tanah tambang. Warna laut ini berubah setelah terjadi hujan di kawasan tersebut.

Laporan dari perusahaan mutiara yang beroperasi di Pulau Garaga, menyebtukan mereka harus bekerja ekstra  lakukan pembersihan agar tidak berdampak lebih besar lokasi budidaya mutiara milik perusahaan ini.

Informasi dari Dinas Lingkungan Hidup Halmahera Selatan menyebutkan tercemarnya laut Obi itu karena  jebolnya tanggul milik PT. GMI, kontraktor   PT. Wanatiara Persada yang bergerak di bidang tambang nikel.

Lalu  kasus lebih menghebohkan terjadi di pertengahan tahun 2023. Dugaan tercemarnya air sungai dan laut di Halmahera Tengah adalah rusaknya air sungai Sagea Halmahera Tengah akhir Juli hingga Agustus 2023 yang hingga kini belum jelas siapa pelaku penghancuran sumber kehidupan warga itu. Peristiwa ini menyita perhatian berbagai pihak termasuk lembaga internasional yang concern pada isyu perubahan iklim dan lingkungan hidup.

Dalam catatan kabarpulau.co.id/ jauh sebelum isyu hilirisasi nikel ini mencuat, berbagai peristiwa lingkungan telah terjadi. Terutama  terkait dampak kerukan tambang yang menyebabkan sungai dan laut tercemar.

Tiga wilayah yang merasakan dampak cemaran kerukan tambang ini  ada di Halmahera Tengah, Halmahera Timur dan di Obi Halmahera Selatan. Sudah hamper satu lustrum (lima tahun,red)  laut,  pesisir dan pulau-pulau kecil di Maluku Utara menjadi tong sampah raksasa menampung berbagai bahan cemaran yang datang dari hulu, (daratan,red) ke laut.

Di akhir 2018 sungai Waleh Weda Utara  tercemar hamper 2 tahun oleh aktivitas sebuah perusahaan tambang yang mengeruk nikel di wilayah itu. Begitu juga dengan peristiwa di Moronopo Halmahera Timur awal 2021 yang tenggelam karena lumpur diduga kuat dihasilkan dari aktivitas tambang  PT Aneka Tambang waktu itu.

Dosen dan juga  Ketua Pusat Kajian Akuakultur  (PUSAKA) Universitas Khairun Ternate Dr Muhammad Aris belum lama ini menjelaskan bahwa, riset di Obi, Weda Halmahera Tengah serta di kawasan laut Halmahera Timur menemukan hasil yang sungguh miris. Di perairan Kawasi, Lelilef dan Teluk Buli Halmahera Timur sudah dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Ini ditandai dengan migrasi dan matinya ikan di wilayah perairan tersebut. Kondisi habitat perairan di Teluk Buli  misalnya  alami sedimentasi yang sangat tinggi. Akbat tingginya aliran partikel tanah dari pembongkaran lahan dan pengambilan tanah  yang  diangkut keluar dari Kabupaten Halmahera Timur. 

“Tingginya kandungan Nikel, Besi dan logam berat lainnya yang terlarut dalam perairan menjadi masalah tersendiri. Hal ini  cukup serius dalam ancaman ketersediaan pangan protein di Halmahera Timur  dan Maluku  Utara,” katanya.

Dari riset yang dilakukan terakhir pada 2023  ikan- ikan sudah dalm kondisi terakumulasi logam berat sehingga sangat membahayakan sebagai ikan konsumsi. “Data hasil uji laboratoriumya lengkap.   Besi  paling tinggi terdapat dalam tubuh ikan yang diuji,” jelasnya. Karena itu dia mengingatkan semua pihak agar perlu  memberikan perhatian  serius soal ini.

Semua catatan tercemarnya air sungai, laut dan kawasan pesisir yang dipaparkan di atas adalah beberapa contoh krisis lingkungan yang jamak terjadi. Sayangnya semua itu seperti kejadian buang angin (kentut,red).  Tercium baunya tapi tak tahu siapa yang melepasnya. Padahal peristiwa itu  adalah bagian kejadian extraordinary di bidang lingkungan.

Tercemarnya pesisir laut dan pulau ini mestinya menjadi pengingat bagi semua pihak. Bahwa apa yang dihasilkan dari mengeruk bumi dengan serakah menjadi warisan kerusakan tidak hanya  saat ini tetapi juga generasi di masa depan.

Rusaknya lingkungan yang terjadi bertubi tubi, tidak pernah terdengar ada upaya penegakan hukum diambil Negara. Setali tiga uang, kelompok masyarakat sipil sebagai bagian dari elemen berdemokrasi bangsa dan daerah ini,  tak berdaya menyikapi.  Buble suara kritis, menjadi buih di lautan yang lenyap tertiup angin barat. Muncul sebentar lalu  lenyap menyatu dengan air.      

Para pelanggar hukum di bidang lingkungan seperti  tak tersentuh. Belum pernah terdengar mereka yang menyebabkan rusaknya daratan, sungai dan lautan,  diseret  ke meja peradilan.   

Riset yang dilakukan peneliti dan lembaga non pemerintah sudah menunjukan adanya kondisi memiriskan sekaligus mengkhawatirkan. Media massa juga sudah banyak memublikasikan peristiwa lingkungan yang sebenarnya bisa menjadi dasar tindak lanjut.

Tetapi apatah daya, salahkah bumi mengandung emas,  melahirkan lara?

Fakta dan peringatan  telah disampaikan. Sayangnya, semua ikhtiar itu seperti embun di daun keladi, singgah sebentar kemudian jatuh tak berbekas. Informasi dan data yang disajikan, riuh di awal  sepi di akhir, lalu hilang entah ke mana. Akhirnya kita semua tak sadar bahwa laku kita hari hari ini dan ke depan, seperti menyemai benih bencana yang akan dituai hasilnya suatu hari nanti, entah kapan.    

Sejengkal tanah adalah harapan, Laut memberi kehidupan. (quote tete  jenggot)

Selamat  bersua, 1 Januari 2024

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bokimoruru Aset Kawasan Lindung Geologi di Halmahera

    • calendar_month Jum, 17 Jun 2022
    • account_circle
    • visibility 852
    • 0Komentar

    Sungaun Fio Bokimoruru foto Adlun Fikri

  • Dampak Industri Ekstraktif di Malut Sangat Serius

    • calendar_month Jum, 23 Agu 2024
    • account_circle
    • visibility 857
    • 0Komentar

    BRIN: Kelestarian dan Kelangsungan Ekosistem Pulau-pulau Makin Terancam   Dampak industry ekstraktif bagi kelestarian dan kelangsungan ekosistem  terutama di pulau pulau kecil seperti di Maluku Utara sangat serius. Kehadiran industry padat modal  terutama pertambangan mineral diberbagai tempat termasuk di Maluku Utara disebut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)  mengancam lingkungan, biodiversitas dan manusia di dalamnya. […]

  • Tubagus Soleh Ahmadi Calon Direktur Eksekutif Nasional WALHI

    • calendar_month Sel, 19 Agu 2025
    • account_circle
    • visibility 866
    • 18Komentar

    Keputusan ini Karena Amanah Perjuangan Kolektif Tubagus Soleh Ahmadi atau yang biasa disapa Bagus resmi ditetapkan sebagai salah satu Calon Direktur Eksekutif Nasional WALHI periode 2025–2029. Penetapan ini  melalui Surat Keputusan Panitia Pengarah PNLH XIV WALHI Nomor: 07/PP/PNLH-XIV/VIII/2025 tertanggal 15 Agustus 2025. Setelah lolos seluruh tahapan seleksi, termasuk verifikasi administrasi, uji publik, dan uji kompetensi. […]

  • KLHK Diminta Seriusi Dugaan Cemaran Nikel di Halmahera 

    • calendar_month Sel, 7 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 693
    • 1Komentar

    Kondisi sungai Wale yang tercemar kerukan tambang pada 2019 lalu foto M Ichi

  • Indonesia Petakan Kembali Mangrove untuk Karbon Biru

    • calendar_month Sel, 24 Jul 2018
    • account_circle
    • visibility 544
    • 0Komentar

    Pemetaan kondisi terkini kawasan ekosistem mangrove, padang lamun (seagrass), dan kawasan pesisir di Indonesia diharapkan sudah ada pada 2019 mendatang. Proses mengungkap data terbaru itu, akan dilakukan oleh Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dengan menggandeng Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). (Mongabay.co.id http://www.mongabay.co.id/2018/07/19/indonesia-petakan-kembali-mangrove-untuk-karbon-biru/) Kebutuhan pemetaan data terbaru itu, menurut Deputi IV Bidang SDM, Iptek, dan […]

  • Makna Lelayan Bagi Orang Patani, Maba dan Weda

    • calendar_month Sel, 2 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 994
    • 0Komentar

    Leleyan dalam pengertain umum  orang Maluku Utara adalah sebuah gerakan gotong royong yang terus dilestarikan hingga kini.   Tidak sekadar gotong royong,  tradisi ini  adalah  sebuah kecerdasan lokal (local genious) atas pandangan hidup masyarakat. Terutama untuk masyarakat  Patani, Maba dan Weda untuk saling membantu, mengasihi, memberi dukungan, baik materi maupun non materi terhadap dua peristiwa […]

expand_less