Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Legu Tara No Ate 2025: Kolaborasi Budaya, Edukasi  dan Kampanye Lingkungan

Legu Tara No Ate 2025: Kolaborasi Budaya, Edukasi  dan Kampanye Lingkungan

  • account_circle
  • calendar_month Kam, 4 Sep 2025
  • visibility 923

Ketua Panitia: Semua Kesiapan  Sudah Maksimal, Siap  Digelar Oktober  

Pihak  Kesultanan Ternate  akan   menyelenggarakan Festival Legu Tara No Ate 2025. Kegiatan ini rencana dilaksanakan  pada  16  hingga 18 Oktober 2025. Acara ini akan dipusatkan di Lapangan Pelabuhan Perikanan Nusantara, Kelurahan Mangga Dua, Kota Ternate.

Legu Tara No Ate 2025 ini sendiri merupakan Iven festival  budaya pertama yang terselenggara atas kerjasama  pihak kesultanan Ternate  dan warga kelurahan Mangga Dua, Toboko dan Bastiong. Acara ini  mengusung tema “Menjalin Rasa, Merawat Warisan di Tanah Leluhur”,

Ketua Panitia Festival Legu Tara No Ate 2025, Syarif Abdullah, kepada Halmaherapedia.com menjelaskan, festival ini akan menjadi ruang kolaborasi budaya, edukasi, dan kebersamaan masyarakat Ternate.    Festival ini  rencana dibuka oleh Menteri Kebudayaan, Fadly Zon, bersama Ibu Gubernur Maluku Utara, Serly Laos, sebagai penanda  dimulainya rangkaian kegiatan budaya terbesar di Maluku Utara tahun ini.

Kedaton Kesultanan Ternate,foto Opan

Dijelaskan ada beberapa agenda   utama festival.  yakni, Pawai Obor bersama ribuan warga Kota Ternate dari berbagai kalangan yang akan membawa obor berkeliling kota.  Aksi ini merupakan simbol persatuan dan doa untuk keselamatan bersama. Ada juga Ritual “Sou Gam”. Ritual ini adalah  ritual adat khas Ternate, yakni Fere Kie, Kolokie Kie, dan Ziarah Kutub, sebagai bentuk syukur kepada Sang Kuasa dan penghormatan pada leluhur.

Ada juga   Oho Ngogu Rimo merupakan  acara jamuan makam malam dengan para tamu kehormatan yang di gelar secara terbuka di kedaton kesultanan Ternate.  “Yang unik dari jamuan makan malam ini adalah terdapat  menu makanan yang disajikan berupa makanan  tradisional khas Ternate dan tidak menggunakan peralatan makan  modern namun menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan,” jelas Syarif.

Selain itu ada juga  Dapur Rempah Kie Raha  yang merupakan  kompetisi atau lomba memasak makanan khas berbahan rempah yang mengangkat kekayaan tradisi kuliner dari empat kerajaan besar di Maluku Utara, yakni Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo (Kie Raha). Sajian kuliner berbasis rempah, menegaskan identitas  Ternate sebagai  negeri rempah dunia. Selain sarat   kegiatan pelestarian budaya dan tradisi, Legu Tara No Ate juga mengampanyekan   pentingnya menjaga dan  melestarikan lingkungan sekitar serta aksi nyata  “Gerakan Bumi Lestari”.  “Gerakan ini adalah Kampanye lingkungan untuk mendorong kesadaran akan  pentingnya menjaga bumi dari kerusakan.

Syarif Abdullah   bilang seluruh persiapan telah dilakukan secara matang, melibatkan berbagai elemen masyarakat, pemerintah daerah, hingga komunitas.  “Kami bersama tim panitia sudah bekerja keras sejak beberapa bulan terakhir untuk memastikan Festival Legu Tara No Ate 2025 berjalan sukses. Seluruh rangkaian kegiatan disusun bukan hanya sebagai hiburan, tapi juga sebagai media edukasi, spiritual, dan pelestarian warisan leluhur. Kami ingin festival ini menjadi kebanggaan masyarakat Ternate sekaligus daya tarik wisata budaya nasional,” ujar Syarif Abdullah.

Ia menambahkan, keterlibatan aktif masyarakat akan menjadi kunci suksesnya festival ini. “Mulai dari Pawai Obor hingga ritual Sou Gam, semua menghadirkan partisipasi masyarakat. Semangat kebersamaan inilah yang membuat Legu Tara No Ate berbeda dan selalu dirindukan .

Festival Legu Tara No Ate tidak hanya berfungsi sebagai perayaan budaya, tetapi juga sebagai upaya memperkuat sektor pariwisata di Maluku Utara. Dengan kombinasi ritual adat, seni pertunjukan, kuliner, hingga ruang edukasi. Festival ini diharapkan menarik ribuan pengunjung, baik dari dalam negeri maupun mancanegara.

Sultan Hidayatullah Sjah

Sementara   Sultan Ternate, Hidayatullah Sjah, dalam pernyataannya   menyampaikan  pentingnya menjaga keberlanjutan festival.  “Legu Tara No Ate adalah ikhtiar merawat warisan leluhur agar tetap hidup dan relevan dengan zaman. Ini momentum   memperkuat persaudaraan, mempererat silaturrahmi dan memupuk kebersamaan kita semua khususnya masyarakat Moloku Kieraha. Festival ini menjadi ruang generasi muda untuk belajar, berbangga, sekaligus menjaga identitas budaya kita,” ujarnya.

Sultan yang juga  sebagai anggota DPD RI itu, mengajak  seluruh masyarakat  berpartisipasi aktif dan ambil bagian  dalam   festival ini. Dikatakan   kegiatan ini  milik warga Maluku KieRaha yang menjadi cermin kekayaan budaya daerah yang harus terus  dilestarikan dan kembangkan.  “Legu Tara No Ate bukan hanya wadah  pelestarian seni dan tradisi, tetapi juga momentum  memperkuat persaudaraan, mempererat  jati diri Moloku Kieraha, serta menginspirasi generasi muda agar bangga pada warisan leluhur,” tutup Sultan.(*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Produksi Sagu Melimpah, Butuh Bantuan Pemasaran

    • calendar_month Sab, 13 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 1.029
    • 2Komentar

    Tepung sagu yang telah diisi kedalam tumang atau wadah tepung sagu foto Rusdiyanti/KPH Tidore

  • Sistem Pemantauan dan Ketertelusuran Perikanan Tuna Diperkuat

    Sistem Pemantauan dan Ketertelusuran Perikanan Tuna Diperkuat

    • calendar_month Sel, 18 Agu 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 227
    • 0Komentar

    Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus memperkuat sistem pemantauan, pengawasan dan ketertelusuran perikanan tuna di Indonesia. Langkah ini diambil sebagai komitmen pemerintah dalam mewujudkan tata kelola perikanan yang transparan, akuntabel, dan berkelanjutan. Direktur Jenderal Perikanan Tangkap KKP, Lotharia Latif, menyatakan penguatan ini mencakup kepatuhan perizinan, pemanfaatan sistem digital, hingga penyempurnaan registrasi kapal pada organisasi pengelola […]

  • Orang Tobaru dan Tradisi Menanam

    • calendar_month Jum, 5 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 1.289
    • 2Komentar

    Hari masih pagi. Jarum jam baru menunjukan pukul 07.25 WIT. Jumat (19/2) pagi  itu,  Rin Bodi (49) dan   suaminya    Lius Popo (57) sudah meninggalkan rumah menuju kebun dan dusun kelapa  yang berada kurang lebih 3 kilometer dari desa Podol Kecamatan Tabaru Kabupaten Halmahera Barat. Podol sendiri adalah satu dari 16 desa  di kecamatan Tabaru  yang […]

  • Hati hati, Kawasan Wisata Dialihkan ke Asing

    • calendar_month Ming, 19 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 688
    • 0Komentar

    Kawasan wisata Pulau Widi di Halmahera Selatan Maluku Utara

  • Jalan Pendek

    • calendar_month Sen, 1 Mei 2023
    • account_circle
    • visibility 1.001
    • 1Komentar

    Sketsa Kehidupan di Pulau Hiri Siang itu saya dan dua kawan jalan-jalan ke Pulau Hiri. Pulau kecil yang letaknya dekat dengan pulau Ternate. Hanya 20 menit menyeberangi pulau itu menggunakan perahu motor. Pulau Hiri masih terjaga, tradisi dan budayanya. Meskipun struktur geografis di pulau tersebut tidak jauh beda dengan pulau-pulau lain di Maluku Utara, namun […]

  • Mengenal Pulau SIBU,Kecil nan Indah dan Dikeramatkan

    • calendar_month Ming, 2 Jan 2022
    • account_circle
    • visibility 995
    • 1Komentar

    Pulau Sibu dilihat dari udara, foto opan Jacky

expand_less