Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Legu Tara No Ate 2025: Kolaborasi Budaya, Edukasi  dan Kampanye Lingkungan

Legu Tara No Ate 2025: Kolaborasi Budaya, Edukasi  dan Kampanye Lingkungan

  • account_circle
  • calendar_month Kam, 4 Sep 2025
  • visibility 696

Ketua Panitia: Semua Kesiapan  Sudah Maksimal, Siap  Digelar Oktober  

Pihak  Kesultanan Ternate  akan   menyelenggarakan Festival Legu Tara No Ate 2025. Kegiatan ini rencana dilaksanakan  pada  16  hingga 18 Oktober 2025. Acara ini akan dipusatkan di Lapangan Pelabuhan Perikanan Nusantara, Kelurahan Mangga Dua, Kota Ternate.

Legu Tara No Ate 2025 ini sendiri merupakan Iven festival  budaya pertama yang terselenggara atas kerjasama  pihak kesultanan Ternate  dan warga kelurahan Mangga Dua, Toboko dan Bastiong. Acara ini  mengusung tema “Menjalin Rasa, Merawat Warisan di Tanah Leluhur”,

Ketua Panitia Festival Legu Tara No Ate 2025, Syarif Abdullah, kepada Halmaherapedia.com menjelaskan, festival ini akan menjadi ruang kolaborasi budaya, edukasi, dan kebersamaan masyarakat Ternate.    Festival ini  rencana dibuka oleh Menteri Kebudayaan, Fadly Zon, bersama Ibu Gubernur Maluku Utara, Serly Laos, sebagai penanda  dimulainya rangkaian kegiatan budaya terbesar di Maluku Utara tahun ini.

Kedaton Kesultanan Ternate,foto Opan

Dijelaskan ada beberapa agenda   utama festival.  yakni, Pawai Obor bersama ribuan warga Kota Ternate dari berbagai kalangan yang akan membawa obor berkeliling kota.  Aksi ini merupakan simbol persatuan dan doa untuk keselamatan bersama. Ada juga Ritual “Sou Gam”. Ritual ini adalah  ritual adat khas Ternate, yakni Fere Kie, Kolokie Kie, dan Ziarah Kutub, sebagai bentuk syukur kepada Sang Kuasa dan penghormatan pada leluhur.

Ada juga   Oho Ngogu Rimo merupakan  acara jamuan makam malam dengan para tamu kehormatan yang di gelar secara terbuka di kedaton kesultanan Ternate.  “Yang unik dari jamuan makan malam ini adalah terdapat  menu makanan yang disajikan berupa makanan  tradisional khas Ternate dan tidak menggunakan peralatan makan  modern namun menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan,” jelas Syarif.

Selain itu ada juga  Dapur Rempah Kie Raha  yang merupakan  kompetisi atau lomba memasak makanan khas berbahan rempah yang mengangkat kekayaan tradisi kuliner dari empat kerajaan besar di Maluku Utara, yakni Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo (Kie Raha). Sajian kuliner berbasis rempah, menegaskan identitas  Ternate sebagai  negeri rempah dunia. Selain sarat   kegiatan pelestarian budaya dan tradisi, Legu Tara No Ate juga mengampanyekan   pentingnya menjaga dan  melestarikan lingkungan sekitar serta aksi nyata  “Gerakan Bumi Lestari”.  “Gerakan ini adalah Kampanye lingkungan untuk mendorong kesadaran akan  pentingnya menjaga bumi dari kerusakan.

Syarif Abdullah   bilang seluruh persiapan telah dilakukan secara matang, melibatkan berbagai elemen masyarakat, pemerintah daerah, hingga komunitas.  “Kami bersama tim panitia sudah bekerja keras sejak beberapa bulan terakhir untuk memastikan Festival Legu Tara No Ate 2025 berjalan sukses. Seluruh rangkaian kegiatan disusun bukan hanya sebagai hiburan, tapi juga sebagai media edukasi, spiritual, dan pelestarian warisan leluhur. Kami ingin festival ini menjadi kebanggaan masyarakat Ternate sekaligus daya tarik wisata budaya nasional,” ujar Syarif Abdullah.

Ia menambahkan, keterlibatan aktif masyarakat akan menjadi kunci suksesnya festival ini. “Mulai dari Pawai Obor hingga ritual Sou Gam, semua menghadirkan partisipasi masyarakat. Semangat kebersamaan inilah yang membuat Legu Tara No Ate berbeda dan selalu dirindukan .

Festival Legu Tara No Ate tidak hanya berfungsi sebagai perayaan budaya, tetapi juga sebagai upaya memperkuat sektor pariwisata di Maluku Utara. Dengan kombinasi ritual adat, seni pertunjukan, kuliner, hingga ruang edukasi. Festival ini diharapkan menarik ribuan pengunjung, baik dari dalam negeri maupun mancanegara.

Sultan Hidayatullah Sjah

Sementara   Sultan Ternate, Hidayatullah Sjah, dalam pernyataannya   menyampaikan  pentingnya menjaga keberlanjutan festival.  “Legu Tara No Ate adalah ikhtiar merawat warisan leluhur agar tetap hidup dan relevan dengan zaman. Ini momentum   memperkuat persaudaraan, mempererat silaturrahmi dan memupuk kebersamaan kita semua khususnya masyarakat Moloku Kieraha. Festival ini menjadi ruang generasi muda untuk belajar, berbangga, sekaligus menjaga identitas budaya kita,” ujarnya.

Sultan yang juga  sebagai anggota DPD RI itu, mengajak  seluruh masyarakat  berpartisipasi aktif dan ambil bagian  dalam   festival ini. Dikatakan   kegiatan ini  milik warga Maluku KieRaha yang menjadi cermin kekayaan budaya daerah yang harus terus  dilestarikan dan kembangkan.  “Legu Tara No Ate bukan hanya wadah  pelestarian seni dan tradisi, tetapi juga momentum  memperkuat persaudaraan, mempererat  jati diri Moloku Kieraha, serta menginspirasi generasi muda agar bangga pada warisan leluhur,” tutup Sultan.(*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Masyarakat Sipil Ingatkan  Ancaman Serius Militerisme  

    Masyarakat Sipil Ingatkan  Ancaman Serius Militerisme  

    • calendar_month Kam, 23 Apr 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 45
    • 0Komentar

    Di Hari Bumi 2026, masyarakat sipil memperingatkan ancaman serius gejala menguatnya “militerisme” dan pembangunan ekstraktif. Ketua ICJL Foundation serta Pakar Transisi Energi dan Ekologi Politik TIFA Foundation. Firdaus Cahyadi mengatakan militerisme dan ekonomi ekstraktif tidak memerlukan transparansi serta dialog dalam pengambilan kebijakan. Perpaduan keduanya dinilai akan berdampak fatal bagi keberlanjutan alam dan hak asasi manusia. […]

  • Literasi Keuangan Nelayan, Seperti Apa?

    • calendar_month Rab, 15 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 535
    • 1Komentar

    Kegiatan Literasi Keuangan Nelayan yang dilakukan MDPI di Seram Maluku foto MDPI

  • Nelayan Lingkar Tambang KI IWIP Was-was

    • calendar_month Jum, 3 Nov 2023
    • account_circle
    • visibility 914
    • 0Komentar

    Wilayah Tangkapan Makin Jauh, Ikan juga Sulit Didapat Penulis Sofyan A Togubu/Wartawan Dari Sofifi menuju Kecamatan Weda Tengah Kabupaten Halmahera Tengah Provinsi Maluku Utara,  butuh waktu kurang lebih 3 jam 15 menit.  Lama waktu perjalanan itu jika menggunakan kendaraan roda empat. Sementara saya hari itu dengan sepeda motor, menghabiskan waktu tempuh kurang lebih 2 jam […]

  • Kemenag Keluarkan SE  Jaga Lingkungan Satuan Pendidikan

    • calendar_month Sen, 27 Jan 2025
    • account_circle
    • visibility 653
    • 0Komentar

    Kementerian Agama membuat imbauan dalam bentuk surat edaran (SE) yang meminta satuan pendidikan proaktif dan peduli menjaga dan memelihara lingkungan. Imbauan ini tertuang dalam Surat Edaran (SE) Direktur Jenderal Pendidkan Islam (Dirjen Pendis) Nomor 1 tahun 2025 tentang Pemeliharaan Lingkungan Satuan Pendidikan. SE yang diterbitkan 14 Januari 2025 ini merupakan tindak lanjut arahan Menteri Agama […]

  • Hutan Lindung Tidore Kepulauan Rawan Dirambah

    • calendar_month Kam, 11 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 564
    • 0Komentar

    Kayu yang ditemukan saat patrroli KPH Tikep dan Halteng, foto KPH Tikep

  • Gaungkan Perikanan Berkelanjutan Melalui Jurnalisme   

    • calendar_month Jum, 6 Des 2024
    • account_circle
    • visibility 689
    • 0Komentar

    Perikanan berkelanjutan menjadi salah satu isu penting sekarang dan di masa depan. Hal ini juga  berhubungan dengan masalah pangan dari kelautan. Terutama ketersediaan ikan  yang saat ini menghadapi berbagai  masalah. Dari penangkapan yang bersifat destruktif,  budidaya dan perlindungan  untuk  generasi di masa depan. Hal ini juga menjadi salah satu tema penting dari Green Press Community […]

expand_less