Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Masyarakat Sipil Ingatkan  Ancaman Serius Militerisme  

Masyarakat Sipil Ingatkan  Ancaman Serius Militerisme  

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Kam, 23 Apr 2026
  • visibility 230

Di Hari Bumi 2026, masyarakat sipil memperingatkan ancaman serius gejala menguatnya “militerisme” dan pembangunan ekstraktif.

Ketua ICJL Foundation serta Pakar Transisi Energi dan Ekologi Politik TIFA Foundation. Firdaus Cahyadi mengatakan militerisme dan ekonomi ekstraktif tidak memerlukan transparansi serta dialog dalam pengambilan kebijakan. Perpaduan keduanya dinilai akan berdampak fatal bagi keberlanjutan alam dan hak asasi manusia.

“Menguatnya militerisme tercermin dari pembentukan Satuan Tugas (Satgas) di sektor SDA. Satgas itu jelas menarik persoalan SDA ke ranah pertahanan (sekuritisasi SDA),” kata lulusan Manajemen Sains Sumberdaya Lingkungan IPB, Rabu (22/4/2026).

Lebih jauh, Firdaus mengungkapkan sekuritisasi SDA akan mengesampingkan dialog dengan para pihak dan lebih mengutamakan garis komando. Menurut dia, sekuritisasi SDA akan menyingkirkan masyarakat lokal dan masyarakat adat sejak tahap perencanaan pembangunan.

“Dampak dari ditariknya pengelolaan SDA ke ranah pertahanan adalah setiap kritik dan penolakan masyarakat di lapangan rentan dihadapi dengan kekuatan senjata,” katanya.

Di sisi lain, lanjut Firdaus, kebijakan pembangunan saat ini juga masih mengarusutamakan ekonomi ekstraktif, yakni pengambilan sumber daya alam secara masif untuk swasembada energi dan pangan. Menurut Firdaus, pengarusutamaan model pembangunan ekstraktif telah memicu kerusakan lingkungan yang luar biasa, “Berdasarkan laporan Auriga Nusantara tahun 2026, angka deforestasi di Indonesia melonjak drastis sebesar 66 persen pada 2025, dengan hilangnya 433.751 hektare hutan. Angka deforestasi itu merupakan indikasi bahwa perpaduan militerisme dan ekstraktivisme telah menyebabkan kerusakan alam,” katanya.

Firdaus mengatakan, dalam momentum Hari Bumi, masyarakat sipil mendesak pemerintah melakukan langkah-langkah untuk memperbaiki pengelolaan SDA.

Desakan itu antara lain Pertama, pemerintah harus menghentikan kecenderungan militerisme dalam pengelolaan sumber daya alam dan mengembalikan mandat pengelolaan kepada institusi sipil yang transparan serta akuntabel.

Kedua, pemerintah perlu mengutamakan dialog dengan masyarakat adat dan lokal sebagai pemilik wilayah kelola, bukan menghadapinya dengan pendekatan keamanan.

Ketiga, pemerintah harus mengevaluasi kebijakan ekonomi ekstraktif yang memicu deforestasi ugal-ugalan dan kerusakan alam lainnya di Indonesia.

“Menghentikan militerisme di ranah politik harus dimulai dengan menghentikan militerisme dalam pengelolaan sumber daya alam. Jika kita menormalisasi ini, kita sedang memberi pijakan bagi lahirnya junta militer yang akan mengorbankan petani dan rakyat kecil. Hari Bumi seharusnya menjadi pengingat bahwa alam adalah sumber kehidupan yang harus dijaga, bukan komoditas pertahanan yang dikelola dengan moncong senjata,” katanya.(*)

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Halua Kenari, Sumber Pendapatan Ibu-ibu Suma

    • calendar_month Ming, 29 Nov 2020
    • account_circle
    • visibility 833
    • 0Komentar

    Ibu Ainun (jilbab hijau) melepas tempurung kenari dari isinya dengan cara dipukul dengan batu

  • Jurnalisme Lingkungan, Jalan Pulang Melihat Isu  Publik

    • calendar_month Kam, 6 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 598
    • 0Komentar

    AMSI-BBC Media Action Program Kerjasama   Isu lingkungan  mestinya menjadi jalan pulang para jurnalis untuk melihat apa yang lebih dibutuhkan publik saat ini. Bukan sekadar traffic dan pageview atau  pengunjung. Pasalnya, dalam tren jurnalisme viral, banyak informasi penting yang terlewatkan untuk dikonsumsi publik. Pesan ini disampaikan oleh  Wenseslaus Manggut Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia […]

  • Maluku Utara Masuk Habitat Dugong di Indonesia Timur

    • calendar_month Ming, 12 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 1.565
    • 0Komentar

    Dugong yang ditemukan mati di Desa Cendana Morotai beberapa waktu lalu foto M Ichi

  • Gelar Program Save The Small Island, Warga dan Walhi Malut Tanam Mangrove

    • calendar_month Jum, 19 Agu 2016
    • account_circle
    • visibility 1.531
    • 0Komentar

    LABUHA – Masyarakat Desa Gane Dalam Kecamatan Gane Barat Selatan Halmahera Selatan, melakukan gerakan menanam 20  ribu anakan pohon mangrove. Aksi menanam di lahan-lahan mangrove yang rusak akibat perambahan orang tidak bertanggungjawab itu,  dilakukan selama  dua hari Rabu (5/11) dan Kamis (6/11) lalu. Program selamatkan lingkungan dengan menanam mangrove ini,  dilakukan bersama  LSM Wahana Lingkungan Hidup […]

  • Cara Libatkan Warga Pantau dan Kelola Data Kehati Lewat Citizen Science   

    Cara Libatkan Warga Pantau dan Kelola Data Kehati Lewat Citizen Science   

    • calendar_month Sel, 18 Agu 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 84
    • 0Komentar

    Dalam mendukung pemantauan dan pengelolaan kelestarian biodiversitas dibutuhkan data lapangan yang lebih luas. Menghadapi tantangan  luasnya wilayah dan keterbatasan sumber daya manusia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Sains Data dan Informasi menyelenggarakan DESAIN #8 (Dialog Eksplorasi Sains Data dan Informasi yang memberi Peran Citizen Science dalam Transformasi Data Biodiversitas belum lama […]

  • Indonesia Luncurkan Peta Jalan dan Panduan Aksi Ekosistem Karbon Biru di COP 30 Brazil

    Indonesia Luncurkan Peta Jalan dan Panduan Aksi Ekosistem Karbon Biru di COP 30 Brazil

    • calendar_month Sen, 1 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 382
    • 0Komentar

    BELEM, (19/11) – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Kementerian Lingkungan Hidup secara resmi meluncurkan Peta Jalan dan Panduan Aksi Ekosistem Karbon Biru Indonesia pada COP 30 UNFCCC di Belém, Brasil, Senin (17/11). Dokumen ini memberikan arah kebijakan dan langkah terkoordinasi untuk melindungi, memulihkan, dan mengelola ekosistem karbon biru, yakni mangrove, padang lamun, […]

expand_less