Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Malut » Soal Sungai Sagea, Ini Hasil dari Tim Udara dan Darat

Soal Sungai Sagea, Ini Hasil dari Tim Udara dan Darat

  • account_circle
  • calendar_month Kam, 7 Sep 2023
  • visibility 683

Ahli Geologi Sarankan Tunggu Uji Lab Kimia Air

Komunitas Save Sagea yang mengawal bencana tercemarnya sungai Sagea menjelaskan bahwa  setelah tim investigas lakukan tugasnya,  di mana tim yang merupakan gabungan masyarakat pemerintah  yang turun lapangan belum punya kesimpulan apa pun. Baik yang lakukan pemantauan melalui udara dengan  heli maupun melalui perjalanan darat.

Adlun Fikri Juru bicara Komunitas Save Sagea mengungkapkan, berdasarkan laporan yang mereka terima dari tim pemantauan udara menggunakan helikopter menyebutkan bahwa laporan hasil pemantauan melalui akses udara/coper, rekomendasikan  perlu diatur kembali jadwal pertemuan. Tujuannya kata Adlun, untuk dapat menentukan titik akurat dalam mencari tahu sumber  cemaran.

Dia bilang, sesuai hasil pantauan menggunakan helikopter ada gambaran bahwa PT WBN  melakukan kegiatan bukaan jalan untuk explorasi. “Ini  sesuai dengan data citra satelit yang telah dikantongi,” katanya.  Hanya saja  terhalang jarak pandang yang terbatas maka sumber aliran air yang keruh itu tidak kelihatan. 

Begitu juga tidak ditemukan aliran air dari jalan ring WBN yang terkoneksi dengan DAS Sungai Sagea. Untuk itu maka perlu dilakukan perencanaan yang lebih matang untuk menentukan jalur-jalur mana saja yang perlu kembali didatangi.

Sementara kata Adlun berdasarkan laporan hasil tim yang melalui darat terdiri dari masyarakat lima orang, satu orang dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Halmahera Tengah dan, dua orang dari Dinas Lingkungan Hidup  Provinsi terbilang gagal mencapai titik sasaran.

Tim darat ini ditugaskan untuk melihat titik-titik yang diduga kuat menjadi penyebab tercemarnya Sungai Sagea. “Namun kendala di lapangan ketika diantar  oleh karyawan PT HSM hanya sampai di batas patok PT HSM dan PT WBN.

Menurutnya, sesuai rencana awal tim darat akan dijemput di wilayah WBN yang berbatasan langsung dengan PT HSM tapi ternyata karena masalah komunikasi. Penanggung jawab tim darat sama sekali  tidak ada komunikasi jadi akhirnya armada dari WBN  tidak berada di lokasi di saat tim darat tiba di tempat  yang akan dijemput.

 Dia bilang, ada alternatif yang dipakai oleh tim darat bisa mencapai hingga kilometer 9.  Hanya saja tidak maksimal karena cuaca, kabut, dan  rintik hujan. Akhirnya tim darat berbalik. Di lapangan yang ditemukan itu ada jalan hauling  (jalan angkut, red) PT HSM yang tersambung langsung dengan PT WBN. Lebarnya  diperkirakan  5 sampe 6 meter.

“Dari tim memang melakukan tracking jalan ini tapi tidak mencapai km 9. Hanya saja sejauh mata memandang jalan itu ada,”tambahnya. Karena itu perlu ada kesepakatan dan pembicaraan lagi agar dibentuk tim untuk mengetahui lebih jelas sumber masalah ini.  “Tim darat yang memastikan sumber pencemaran  belum maksimal sehingga belum mendapatkan kesimpulan dari pencemaran di Sungai Sagea ini,”katanya.

Emas coklat mengalir sampai jauh: Kondisi-muara-sungai-dan-laut-di-kawasan-Sagea-berwarna-emas-foto-Save-Sagea

Sementara laporan Tim investigasi menyatakan penyebab terjadinya perubahan warna air di Sungai Sagea dan Bokimaruru di Desa Sagea-Kiya, Halmahera Tengah, bukan karena dampak aktivitas pertambangan.

Tim itu terdiri dari Dinas Lingkungan Hidup Maluku Utara, DLH Halmahera Tengah, Dinas Kehutanan, dan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS).

“Laporan tim yang ada di lokasi seperti itu, memang alirannya ke beberapa sungai  di Halmahera Tengah, tetapi tidak menyebutkan Sungai Bokimaruru,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup Maluku Utara, Fachruddin Tukuboya, kepada media Rabu, (6/9/2023). (https://www.halmaheranesia.com/2023/09/06/tim-investigasi-laporan-sementara-keruhnya-sungai-sagea-bukan-karena-tambang/)

Fachruddin bilang, tim di lapangan melaporkan bahwa ada potensi terjadinya longsoran di dalam Gua Bokimaruru. “Perlu digarisbawahi bahwa ini kesimpulan sementara,” kilahnya.

Terpisah, Ketua Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Maluku Utara Dedi Abdulkadir Arif  mengatakan soal memastikan sumber cemarannya perlu menunggu uji sampel yang telah diambil. Kalau diperkirakan terjadi longsoran kira kira  bukti yang memperkuat longsor nya apa. Dia bilang  data   hasil uji lab kimia air dengan sampling yang tepat sesuai prosedur  dan keterwakilan luasan badan sungai akan menentukan mana penyebab cemaran sebenarnya.  “Karena itu kesimpulan nya  menunggu hasil uji lab air,” katanya saat dihubungi via hand phone Rabu (6/9/2023) malam.  (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kawasan Konservasi di Malut Terancam Industri Tambang?

    • calendar_month Sen, 15 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 860
    • 1Komentar

    Kawasan konservasi dikuatirkan dimasuki  kegiatan tambang. Banyaknya izin tambang yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi yang telah ditetapkan menjadi Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata (TNAL) di Kabupaten Halmahera Tengah itu. resisten dimasuki tambang. Merujuk revisi RTRW Kabupaten Halmahera Tengah 2012 -2032 yang disampaikan Kepala Badan Perencanan Penelitian Pembangunan (Bappelitbang) Kabupaten Halmahera Tengah Salim Kamaluddin di […]

  • Setahun Ribuan Kali Gempa Terjadi di Malut

    • calendar_month Jum, 4 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 736
    • 1Komentar

    Ada 11 Ancaman  Serius Bencana Bagi   Masyarakat Gempa bumi tektonik bermagnitudo M 6,1 mengguncang wilayah Maluku Utara terjadi   pukul 17.09 WIB, Kamis (3/6/2021). Gempa itu  tidak berpotensi tsunami. Berdasarkan hasil analisis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), episenter gempa bumi ini terletak pada koordinat 0.41 LU dan 126.23 BT. Lokasi tepatnya berada di laut […]

  • Jumlah Pulau di Maluku Utara Bertambah

    • calendar_month Ming, 10 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 1.416
    • 1Komentar

    Dari 805 Jadi 1080 Pulau, Terbanyak di Halmahera Selatan Julukan negeri seribu pulau bagi Maluku Utara  benar adanya. Pasalnya jumlah pulau di daerah ini yang sebelumnya sesuai data resmi pemerintah hanya 805,   telah berubah menjadi 1080 pulau. Data ini berubah berdasarkan hasil revisi yang  dilakukan Badan Informasi Geospasial (BIG). Perubahan data jumlah pulau ini, juga […]

  • Cara Tangkap Tuna Nelayan Maluku Utara Dipresentasikan di World Expo 2025

    • calendar_month Rab, 4 Jun 2025
    • account_circle
    • visibility 1.548
    • 0Komentar

    Indonesia  membawa isu keberlanjutan perikanan tuna dalam  World Expo 2025  di Osaka, Jepang. Isu ini muncul karena tuna adalah komoditas penting bagi Indonesia, terutama para nelayan kecil dan tradisional.  World Expo 2025 Osaka  sendiri adalah pameran dunia  yang diselenggarakan di Osaka, Jepang, dari 13 April hingga 13 Oktober 2025 dengan  tema “Merancang Masyarakat Masa Depan untuk Kehidupan […]

  • Melihat Perempuan- perempuan Tangguh Pulau Kolorai

    • calendar_month Kam, 21 Feb 2019
    • account_circle
    • visibility 1.717
    • 0Komentar

    Bantu Suami Menjaring Ikan dan Menanam Rumput Laut    Fajar baru menyingsing di ufuk Timur Pulau Kolorai. Pulau kecil berpasir putih seluas 8 hektar  dengan laut tosqoea   subuh itu disapu angin  timur  yang dinginya  menusuk   hingga ke tulang- tulang.  Sepagi  itu, dalam suasana gelap dan dingin, ada seorang  perempuan berusia sekitar 38 tahun, tetap bangun pagi  membantu […]

  • Cerita Miris Desa Terang di Pulau Kecil

    • calendar_month Sab, 8 Jan 2022
    • account_circle
    • visibility 888
    • 1Komentar

    Pemandangan dari atas Pulau Laigoma Halmahera Selatan foto M Ichi

expand_less