Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Makna Lelayan Bagi Orang Patani, Maba dan Weda

Makna Lelayan Bagi Orang Patani, Maba dan Weda

  • account_circle
  • calendar_month Sel, 2 Feb 2021
  • visibility 974

Leleyan dalam pengertain umum  orang Maluku Utara adalah sebuah gerakan gotong royong yang terus dilestarikan hingga kini.  

Tidak sekadar gotong royong,  tradisi ini  adalah  sebuah kecerdasan lokal (local genious) atas pandangan hidup masyarakat. Terutama untuk masyarakat  Patani, Maba dan Weda untuk saling membantu, mengasihi, memberi dukungan, baik materi maupun non materi terhadap dua peristiwa penting.  Yakni perkawinan dan kedukaan terutama saat meinggalnya  orang- orang terkasih.

 Leleyan juga mengandung arti bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam, dan termanivestasi dalam setiap bergaulan  masyarakat. Saya mencoba fokus menguraikan leleyan untuk  konteks keluarga yang ditinggal meninggal  orang tua saudara dan kerabat.

SEJAK ratusan tahun yang lalu, tradisi leleyan merupakan kebiasaan hidup dan warisan budaya lokal yang hadir dan  bersemayam  di tengah tengah  masyarakat Patani, Maba dan Weda. Leleyan hadir menjadi ciri khas, mengadung nilai-nilai tradisional yang dilestarikan  hingga saat ini.  Tradisi ini  sebenarnya dilakukan sebagai wujud peduli  serasa senasib sepenanggungan  dengan keluarga yang sedang berduka.

Mengunjungi rumah keluarga atau kerabat yang berduka merupakan interaksi sosial yang terwarisi  secara turun temurun. Kebersamaan dan sikap saling membantu merupakan prilaku yang mendiskripsikan rasa  persaudaraan  yang abadi.

Nilai- nilai dan kearifan local ini,  ada sepanjang hidup  dan dijaga karena dianggap peristiwa ini adalah duka, kesedihan, cinta, dan sayang terhadap sesama. Rasa ini tidak hanya dipikul  keluarga inti yang berduka tapi semua warga, yang ada wilayah sekitar. Mereka  turut merasakan bersama-sama. Tangisan dan air mata pecah seketika mewarnai perasaan sedih dan duka yang dalam warga sekampung atas kepergian atau kematian  orang- orang tercinta.

Hal ini bisa terjadi, dilatarbelakangi oleh ikatan kekeluargaan yang erat.  Ditentukan  nilai-nilai kunci kasih sayang, sopan, santun, rasa hormat, ngaku rasai budi dan bahasa dan pranata sosial beserta hukum adat  yang masih kuat terpelihara.

Leleyan dalam pengertian umum yang dipahami warga  adalah bersama-sama, berbondong-bondong dan bahu-membahu membantu orang yang sedang berduka.  Saat meninggalnya salah satu anggota keluarga,  warga berdatangan, perempuan bertugas menyiapkan kain putih, menimba air, mencuci piring, memebereskan  dalam dan luar rumah, mengganti kain gorden. Ada yang masak air atau nasi/sagu. Sementara  itu ada keluarga inti   yang memandikan jenazah.  Jika yang meninggal  itu perempuan,  laki-lakinya memasang tenda, mencari pinang-siri, mengatur dan mengangkat kursi, mencari kayu bakar dan mancing ikan serta ada yang bertugas menggali kuburan dipandu oleh Badan Syara  imam kampung atau orang yang dipercayakan keluarga.  Beberapa keluarga dari kampung tetangga juga ikut menghadiri  pemakaman orang yang meninggal.

Aktifitas itu, dikerjakan atas dasar duka dan keprihatinan bersama kepada orang atau  keluarga yang baru meninggal dunia. Leleyan akan berlangsung selama tujuh hari di rumah duka dengan disi  acara  tahlilan.

Tahlilan sebagai upacara ritual memperingati dan mendoakan orang yang telah meninggal biasanya dilakukan di hari pertama kematian hingga ketujuh, dan selanjutnya dilakukan di hari ke-40, ke-100, kesatu tahun pertama, kedua, ketiga dan seterusnya.

Tahlilan foto fb sukarsi Daud

Ada pula yang melakukan tahlilan pada hari ke-1000. Tahlil dengan pengertian berizikir dengan mengucap kalimat tauhid lafadz la ilaha ill-Allah (لاإلهإلاالله).

Dalam sosio-kultural Indonesia, tahlil adalah suatu acara seremoni sosial  keagamaan untuk memperingati dan sekaligus mendoakan orang yang meninggal.

Warga begitu kompak dengan sukarela melakukan tradisi itu. Mereka beramai-ramai dengan berjalan kaki dengan penuh semangat dalam kebersamaan. Sejak dulu para leluhur dan orang tua di kampong sudah melakukannya. Tradisi ini sangat melekat di masyarakat, tidak pernah terlewatkan jika ada kedukaan.

Tradisi leleyan menjadi wadah mempererat hubungan keluarga. Lelayan sebenarnya adalah sebuah  kearifan lokal. Dia menjadi pandangan hidup dan ilmu pengetahuan  dalam  berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas masyarakat lokal menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan.

Menurut Nasiwan dkk (2012:159), Kearifan lokal adalah kebijaksanaan atau nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kekayaan budaya lokal seperti tradisi, petatah-petitih dan semboyan hidup.

Teezzi, Marchettini, dan Rosini mengatakan bahwa akhir dari sedimentasi kearifan lokal ini akan mewujud menjadi tradisi atau agama. Dalam masyarakat kita, kearifan lokal dapat ditemui dalam nyayian, pepatah, sasanti, petuah, semboyan, dan kitab-kitab kuno yang melekat dalam perilaku sehari-hari. Kearifan lokal biasanya tercermin dalam kebiasaan-kebiasaan hidup masyarakat yang telah berlangsung lama.

Kearifan lokal merupakan perpaduan antara nilai-nilai suci firman Tuhan dan berbagai nilai, norma dan pranata sosial yang hidup dan tumbuh di masyarakat.   Kearifan lokal terbentuk sebagai keunggulan budaya setempat. Kearifan local diasosiasikan sebagai produk budaya masa lalu yang mengikat hubungan batin antar sesama yang patut di pelihara secara terus-menerus serta dijadikan pegangan hidup.

Saat ini  akibat perkembangan zaman dan derasnya alih teknologi, perlahan tradisi leleyan mulai tergerus. Sedikit demi sedikit  hilang oleh perubahan zaman.   Jika tidak dilestarikan  generasi selanjutnya, cepat atau lambat kekayaan tradisi ini akan hilang.

Akhir- akhir ini bisa dilihat, setiap ada keluarga yang berduka, mereka harus mengeluarkan biaya cukup besar untuk memenui kebutuhan selama menggelar acara tahlilan. Dari mengambil kayu bakar, membeli daging, beras, ikan, serta bahan makanan lainnya. Padahal  di kampung, ada tradisi nenek moyang yang sangat baik untuk terus dijaga dan bisa melepas semua beban tersebut.  Karena itu  penting kiranya  tradisi leleyan di kampung dihidupkan   dan terus dilestarikan.  Semoga.

Penulis: Ubaidi Abdul Halim, Direktur Jaringan Konservasi Halmahera dan  Pemerhati Masyarakat Adat

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Para Pihak Bahas Renja FOLU Net Sink di Malut  

    • calendar_month Kam, 23 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 544
    • 2Komentar

    Foto bersama usai pemaparan materi workshop, foto Ahmad David

  • Potensi Keanekaragaman Hayati TWP Pulau Rao dan Mare (2)

    • calendar_month Kam, 30 Jul 2020
    • account_circle
    • visibility 1.144
    • 0Komentar

    Tiga Taman Wisata Perairan (TWP) yang telah dtetapkan memiliki berbagai keunggulan. Terutama  potensi ekologis baik di dalam laut maupun di kawasan pesisir,  seperti  hutan mangrove,  terumbu karang  maupun padang lamun dan  biota  di dalamnya. Sesuai data Rencana Pengelolaan dan Zonasi Taman Wisata Perairan TWP 2020-2040,  ketiga TWP yang telah ditetapkan itu memiliki  kekayaan dan keunikan […]

  • Nelayan Tuna Morotai Terpukul Covid- 19

    • calendar_month Sen, 21 Sep 2020
    • account_circle
    • visibility 621
    • 0Komentar

    Penulis: Indah Indriyani Morotai Pandemi covid-19 menghantam hamper semua lini kehidupan. Tidak terkecuali masyarakat bawah seperti nelayan. Pandemic ini juga mengubah banyak hal dalam kehidupan. Termasuk nasib para nelayan. Di Desa Sangowo Kecamatan Morotai Timur, Kabupaten Pulau Morotai,  nelayanikan tuna sangat terpukul akibat jatuhnya harga.  “Dampak pandemic covid-19 yang paling dirasakan nelayan yaitu harga ikan […]

  • Ini Manfaat Zakat dan Sadaqoh Global

    • calendar_month Rab, 8 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 598
    • 2Komentar

    UNHCR: 1,6 juta Pengungsi Terbantu dari Filantropi Islam United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR)  adalah organisasi internasional yang mandat utamanya  memberikan perlindungan serta memberikan bantuan berupa pemenuhan kebutuhan dasar bagi pencari suaka dan pengungsi bekerja sama dengan beberapa mitra. Melalui mitra Zakat dan Sadaqah secara global pada tahun 2022, saat peluncuran Laporan Tahunan Filantropi Islamnya […]

  • Gorengan Tak Baik untuk Buka Puasa

    • calendar_month Sel, 4 Apr 2023
    • account_circle
    • visibility 499
    • 3Komentar

    Gorengan menjadi menu favorit bagi sebagian besar orang sebagai santapan berbuka puasa. Dikutip dari (https://www.ugm.ac.id/id/berita/23594-  Dietisien FKKMK UGM, Tony Arjuna, S.Gz., M.Nut.Diet., AN., APD  tidak menyarankan gorengan dikonsumsi sebagai menu buka puasa. Pakar-UGM itu  mengungkapkan,  alasannya bahwa  gorengan-tak-baik-untuk-buka-puasa sehingga sangat tidak direkomendasikan untuk berbuka. Hal ini  karena komposisinya dominan karbohidrat dan lemak tidak sehat.   […]

  • Negara Pulau dan Kepulauan akan Gelar Kongres

    • calendar_month Jum, 21 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 602
    • 1Komentar

    Bahas Masalah Lingkungan dan Climate Change   Indonesia yang tergabung dalam Forum Negara Pulau dan Kepulauan berencana  menggelar Forum Negara Pulau dan Kepulauan (Archipelagic and Island States/Ais Forum)  yang rencana diselenggarakan di Bali pada 10-11 Oktober 2023. Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi atau Kemenko Marves menyebut, forum tersebut akan menghadirkan delegasi dari 51 negara anggota Ais […]

expand_less