Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Makna Lelayan Bagi Orang Patani, Maba dan Weda

Makna Lelayan Bagi Orang Patani, Maba dan Weda

  • account_circle
  • calendar_month Sel, 2 Feb 2021
  • visibility 853

Leleyan dalam pengertain umum  orang Maluku Utara adalah sebuah gerakan gotong royong yang terus dilestarikan hingga kini.  

Tidak sekadar gotong royong,  tradisi ini  adalah  sebuah kecerdasan lokal (local genious) atas pandangan hidup masyarakat. Terutama untuk masyarakat  Patani, Maba dan Weda untuk saling membantu, mengasihi, memberi dukungan, baik materi maupun non materi terhadap dua peristiwa penting.  Yakni perkawinan dan kedukaan terutama saat meinggalnya  orang- orang terkasih.

 Leleyan juga mengandung arti bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam, dan termanivestasi dalam setiap bergaulan  masyarakat. Saya mencoba fokus menguraikan leleyan untuk  konteks keluarga yang ditinggal meninggal  orang tua saudara dan kerabat.

SEJAK ratusan tahun yang lalu, tradisi leleyan merupakan kebiasaan hidup dan warisan budaya lokal yang hadir dan  bersemayam  di tengah tengah  masyarakat Patani, Maba dan Weda. Leleyan hadir menjadi ciri khas, mengadung nilai-nilai tradisional yang dilestarikan  hingga saat ini.  Tradisi ini  sebenarnya dilakukan sebagai wujud peduli  serasa senasib sepenanggungan  dengan keluarga yang sedang berduka.

Mengunjungi rumah keluarga atau kerabat yang berduka merupakan interaksi sosial yang terwarisi  secara turun temurun. Kebersamaan dan sikap saling membantu merupakan prilaku yang mendiskripsikan rasa  persaudaraan  yang abadi.

Nilai- nilai dan kearifan local ini,  ada sepanjang hidup  dan dijaga karena dianggap peristiwa ini adalah duka, kesedihan, cinta, dan sayang terhadap sesama. Rasa ini tidak hanya dipikul  keluarga inti yang berduka tapi semua warga, yang ada wilayah sekitar. Mereka  turut merasakan bersama-sama. Tangisan dan air mata pecah seketika mewarnai perasaan sedih dan duka yang dalam warga sekampung atas kepergian atau kematian  orang- orang tercinta.

Hal ini bisa terjadi, dilatarbelakangi oleh ikatan kekeluargaan yang erat.  Ditentukan  nilai-nilai kunci kasih sayang, sopan, santun, rasa hormat, ngaku rasai budi dan bahasa dan pranata sosial beserta hukum adat  yang masih kuat terpelihara.

Leleyan dalam pengertian umum yang dipahami warga  adalah bersama-sama, berbondong-bondong dan bahu-membahu membantu orang yang sedang berduka.  Saat meninggalnya salah satu anggota keluarga,  warga berdatangan, perempuan bertugas menyiapkan kain putih, menimba air, mencuci piring, memebereskan  dalam dan luar rumah, mengganti kain gorden. Ada yang masak air atau nasi/sagu. Sementara  itu ada keluarga inti   yang memandikan jenazah.  Jika yang meninggal  itu perempuan,  laki-lakinya memasang tenda, mencari pinang-siri, mengatur dan mengangkat kursi, mencari kayu bakar dan mancing ikan serta ada yang bertugas menggali kuburan dipandu oleh Badan Syara  imam kampung atau orang yang dipercayakan keluarga.  Beberapa keluarga dari kampung tetangga juga ikut menghadiri  pemakaman orang yang meninggal.

Aktifitas itu, dikerjakan atas dasar duka dan keprihatinan bersama kepada orang atau  keluarga yang baru meninggal dunia. Leleyan akan berlangsung selama tujuh hari di rumah duka dengan disi  acara  tahlilan.

Tahlilan sebagai upacara ritual memperingati dan mendoakan orang yang telah meninggal biasanya dilakukan di hari pertama kematian hingga ketujuh, dan selanjutnya dilakukan di hari ke-40, ke-100, kesatu tahun pertama, kedua, ketiga dan seterusnya.

Tahlilan foto fb sukarsi Daud

Ada pula yang melakukan tahlilan pada hari ke-1000. Tahlil dengan pengertian berizikir dengan mengucap kalimat tauhid lafadz la ilaha ill-Allah (لاإلهإلاالله).

Dalam sosio-kultural Indonesia, tahlil adalah suatu acara seremoni sosial  keagamaan untuk memperingati dan sekaligus mendoakan orang yang meninggal.

Warga begitu kompak dengan sukarela melakukan tradisi itu. Mereka beramai-ramai dengan berjalan kaki dengan penuh semangat dalam kebersamaan. Sejak dulu para leluhur dan orang tua di kampong sudah melakukannya. Tradisi ini sangat melekat di masyarakat, tidak pernah terlewatkan jika ada kedukaan.

Tradisi leleyan menjadi wadah mempererat hubungan keluarga. Lelayan sebenarnya adalah sebuah  kearifan lokal. Dia menjadi pandangan hidup dan ilmu pengetahuan  dalam  berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas masyarakat lokal menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan.

Menurut Nasiwan dkk (2012:159), Kearifan lokal adalah kebijaksanaan atau nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kekayaan budaya lokal seperti tradisi, petatah-petitih dan semboyan hidup.

Teezzi, Marchettini, dan Rosini mengatakan bahwa akhir dari sedimentasi kearifan lokal ini akan mewujud menjadi tradisi atau agama. Dalam masyarakat kita, kearifan lokal dapat ditemui dalam nyayian, pepatah, sasanti, petuah, semboyan, dan kitab-kitab kuno yang melekat dalam perilaku sehari-hari. Kearifan lokal biasanya tercermin dalam kebiasaan-kebiasaan hidup masyarakat yang telah berlangsung lama.

Kearifan lokal merupakan perpaduan antara nilai-nilai suci firman Tuhan dan berbagai nilai, norma dan pranata sosial yang hidup dan tumbuh di masyarakat.   Kearifan lokal terbentuk sebagai keunggulan budaya setempat. Kearifan local diasosiasikan sebagai produk budaya masa lalu yang mengikat hubungan batin antar sesama yang patut di pelihara secara terus-menerus serta dijadikan pegangan hidup.

Saat ini  akibat perkembangan zaman dan derasnya alih teknologi, perlahan tradisi leleyan mulai tergerus. Sedikit demi sedikit  hilang oleh perubahan zaman.   Jika tidak dilestarikan  generasi selanjutnya, cepat atau lambat kekayaan tradisi ini akan hilang.

Akhir- akhir ini bisa dilihat, setiap ada keluarga yang berduka, mereka harus mengeluarkan biaya cukup besar untuk memenui kebutuhan selama menggelar acara tahlilan. Dari mengambil kayu bakar, membeli daging, beras, ikan, serta bahan makanan lainnya. Padahal  di kampung, ada tradisi nenek moyang yang sangat baik untuk terus dijaga dan bisa melepas semua beban tersebut.  Karena itu  penting kiranya  tradisi leleyan di kampung dihidupkan   dan terus dilestarikan.  Semoga.

Penulis: Ubaidi Abdul Halim, Direktur Jaringan Konservasi Halmahera dan  Pemerhati Masyarakat Adat

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kampanye Hari  Air Sedunia Lewat Konten Digital

    • calendar_month Rab, 15 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 492
    • 1Komentar

    Warga Lingkungan Ake Gaale Kelurahan Sangaji Kota Ternate Utara  akan merayakan Hari Air Sedunia 23 Maret nanti dengan beragam kegiatan. Diawali dengan kegiatan Workshop Makin Cakap Digital pada Selasa (14/3/2023) malam. Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat pentingnya memiliki pemahaman dan pengetahuan soal pemanfaatan dan penggunaan  media social dan alat digital. Tidak […]

  • Merawat Ake Sali, Warisan Air dari Kampung Tua yang Kini Jadi Hutan

    Merawat Ake Sali, Warisan Air dari Kampung Tua yang Kini Jadi Hutan

    • calendar_month Rab, 17 Des 2025
    • account_circle Penulis: Burhanuddin Jamal Warga Kelurahan Tosa Tidore Kepulauan
    • visibility 786
    • 0Komentar

    Sebuah Catatan dari Kampung Tomadou Kota Tidore Kepulauan  Di Kota Tidore Kepulauan, tepatnya di Kampung Tomadou Kelurahan Tosa Kecamatan Tidore Timur  memiliki salah satu sumber mata  air yang dikenal dengan Mata Air Ake Sali. Sekitar wilayah  mata air ini dahulunya adalah sebuah perkampungan tua yang dikenal dengan nama Kampung Buku Mira. Warga   Buku Mira ini […]

  • Suara Lirih Petani Kakao Pulau Bacan

    • calendar_month Kam, 9 Nov 2023
    • account_circle
    • visibility 635
    • 0Komentar

    Busuk Buah Bertahun-Tahun, Tak Digubris Pemerintah? Hari sudah agak siang Rabu (31/10/2023). Meski begitu di bawah perkebunan kakao yang ditumpangsarikan kelapa dan pala berjarak kurang lebih satu kilometer dari Panamboang Bacan Selatan Pulau Bacan itu terasa sejuk.     Jarum jam menujukan sekira pukul 11.20 WIT. Saif Bakar (49) sibuk mengumpulkan satu per satu buah kakao […]

  • Ini Model Mitigasi Gempabumi Siswa SD

    • calendar_month Kam, 7 Okt 2021
    • account_circle
    • visibility 611
    • 2Komentar

    Siswa SD 4 Ternate saat diberi pengetahuan mitigasi bencana

  • Ternate Kaya Keanekaragaman Hayati Laut

    • calendar_month Ming, 28 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 661
    • 1Komentar

    Dari Terumbu Karang hingga Fauna Kharismatik   Laut Pulau Ternate memiliki kaneakaragaman hayati yang luar biasa. Tidak hanya  jenis terumbu karang dan ikan kecil, tetapi juga satwa laut kharismatik. Di kawasan laut ini juga ada  hewan laut endemic seperti  hiu berjalan. Di beberapa lokasi di laut pulau Ternate ditemukan beberapa jenis satwa kharismatik laut seperti […]

  • Mata Air Ake Gaale Berubah Menjadi Air Mata Warga

    • calendar_month Jum, 19 Agu 2016
    • account_circle
    • visibility 595
    • 0Komentar

    Untuk  menemukan  sumber mata air  yang mengalir di pulau kecil seperti Ternate, terutama  di tengah pemukiman warga yang padat ,  hanya ada di dua tempat. Dua sumber mata air itu  adalah,  Ake Santosa, di Kelurahan Salero atau tepatnya berada sebuah bukit kecil di samping Kedaton Kesultanan Ternate.  Sementara yang satunya lagi ada di Bagian Utara […]

expand_less