Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Malut » Ada Apa, Kemarau tapi Hujan hingga Banjir?

Ada Apa, Kemarau tapi Hujan hingga Banjir?

  • account_circle
  • calendar_month Sab, 15 Jul 2023
  • visibility 334

Sepekan Tiga Wilayah di Malut Dihantam Banjir

Meski saat ini masih dalam periode musim kemarau, kenyataanya hamper semua wilayah di Maluku Utara dilanda hujan lebat. Bahkan dampak hujan tersebut, dalam sepekan ini sejumlah daerah dilanda banjir besar hingga menimbulkan korban harta dan rusaknya fasilitas umum. Hingga Sabtu (15/7/2023), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Ternate memprediksi ujan masih melanda beberapa wilayah di Maluku Utara.

Data terbaru BMKG, mengingatkan masyarakat melalui peringatan dini yang dikeluarkan untuk tetap waspada bahwa potensi terjadi hujan lebat disertai petir bisa menyebabkan banjir terjadi di wilayah Morotai, Patani Utara, Pulau Gebe sampai Kepualaun Widi dan sekitarnya. Sementara beberapa wilayah seperti Jailolo, Ternate Taliabu dan Sanana diprediksi terjadi hujan ringan.   

Sementara hujan sepekan ini di Kepulauan Sula  menyebabkan banjir tak terelakan. Satu desa di Pulau Mangoli Kecamatan Pulau Mangoli tepatnya di desa Waitina, akibat  hujan, Jumat (14/7/2023) sejak pukul 08.00 hingga siang menyebabkan air kali Waisenga meluap dan masuk pemukiman warga.

Kepala Desa Waitina, Sirajudin Umasangadji mengatakan seperti dilansir media media di Maluku Utara, banjir merendam 48 rumah warga, dengan ketingigian air mencapai 1 setengah meter.

“48 rumah yang terendam banjir ini, di dua RT yakni RT 01 dan R0 2.  Akibatnya  warga  harus menyelamatkan harta bendanya di tempat yang aman,” kata Sirajudin kepada media Jumat (14/7/2023). Sirajudin dan masyarakat berharap bantuan pemerintah daerah  hingga pusat. Sebab,  banjir di desanya sudah berkali-kali terjadi, namun belum dilakukan upaya penaggulangan menyeluruh dari pemerintah. “Banjir pada 2020 lalu sudah ada kunjungan dari tim penanggulangan pusat tapi sampai saat ini belum ada bantuan secara langsung yang memberikan kenyamanan bagi masyarakat Desa Waitina, khususnya yang terdampak banjir,” keluhnya.  

Pada Rabu (13/7/2023) akibat hujan deras yang terjadi di Halmahera Selatan yakni Desa Panamboang, Bacan Selatan, juga dilanda banjir  hebat. Ada puluhan rumah warga terendam banjir. Di desa ini ada 39 Kepala Keluarga (KK) terkena dampak banjir. Rumah mereka terdampak banjir karena rata rata berada  di bantaran  kali mati atau sungai yang kering saat  tidak ada hujan.

Sebelumnya banjir juga merendam satu desa di wilayah Kabupaten Pulau Taliabu Provinsi Maluku Utara pada Senin (11/7/2023). Peristiwa tersebut terjadi pascahujan dengan intensitas tinggi pagi hingga sore hari. Akibatnya   sungai  di wilayah tersebut meluap dan menyebabkan banjir.

Pusat pengendalian operasi (Pusdalops) BNPB melaporkan, desa terdampak banjir adalah Desa Kabuno Kecamatan Tabona. Dilaporkan  ada 60 KK/ 170 jiwa terdampak  banjir yang  menggenangi 60 unit rumah dengan ketinggian muka air 10 sampai 30 centimeter pada saat kejadian. 

Hingga Selasa (12/7/2023) pukul 06.00 banjir masih menggenangi permukiman warga dengan ketinggian setinggi mata kaki dan sebagian warga memilih mengungsi sementara ke rumah keluarga yang lebih aman dari banjir.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pulau Taliabu sejak  kejadian terus melakukan pemantauan, assesmen dan berkoordinasi dengan pihak desa untuk melakukan penanganan.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan prakiraan cuaca untuk wilayah Kabupaten Pulau Taliabu, periode Selasa (12/7) dan Rabu (13/7) akan mengalami cuaca hujan ringan dan berawan. Sementara itu merujuk pada analisis inaRISK BNPB, wilayah Kabupaten Pulau Talibu memiliki risiko banjir tingkat sedang hingga tinggi dengan seluruh kecamatan yang terdapat di Kapubaten Pulau Taliabu berisiko terpapar banjir.

Merespon potensi banjir tersebut, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk melakukan peningkatan kapasitas kesiapsiagaan seperti membersihkan saluran air, mengetahui jalur evakuasi dan bagi warga yang bermukim di sekitar sungai ketika hujan dengan itensitas tinggi terjadi terus menerus selama satu jam untuk mempersiapkan diri melakukan evakuasi mandiri ke tempat lebih aman.

Ada Apa Kemarau Tapi Hujan hingga Banjir?

Tim Reaksi dan Analisis Kebencanaan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menjelaskan penyebab sejumlah daerah di Indonesia mengalami banjir pada musim kemarau 2021.
Menurut LAPAN meski kemarau di beberapa daerah tetap mengalami curah hujan tinggi. “Hal itu disebabkan distribusi spasial suhu permukaan di wilayah Indonesia yang secara umum dipengaruhi posisi semu matahari yang saat ini berada di belahan Bumi Utara menyebabkan permukaan di Utara Indonesia menjadi lebih tinggi,” ungkap LAPAN dalam postingan  akun Facebooknyaa, dikutip  Sabtu  (15/7/2023).
LAPAN menyebutkan pergerakan angin saat ini didominasi trade win (angin pasat) dan Monsun Australia.

Trade win merupakan angin permukaan yang terjadi sepanjang tahun karena pengaruh tekanan rendah di wilayah khatulistiwa dan efek corriolis akibat rotasi bumi yang kadang diperkuat atau diperlemah oleh sirkulasi angin lainnya seperti Enso, easerly surge dan lainnya,” jelas LAPAN. LAPAN menjabarkan wilayah Kalimantan dan Sulawesi sering kali dilalui angin pasat ini sehingga menyebabkan terjadinya konvergensi pada wilayah-wilayah tersebut.


 “Konvergensi dapat menyebabkan terbentuknya awan skala besar dan terbentuknya hujan. Intentisitas hujan yang dihasilkan bergantung dari kandungan uap air yang berasal dari lautan pasifik dan laut Jawa serta kandungan uap air permukaan pada wilayah itu,” kata LAPAN.

Sementara untuk Pulau Jawa, pertumbuhan awan menjadi berkurang karena wilayah daratan Jawa cenderung dingin sehingga angin pasat yang melalui Pulau Jawa tidak membangkitkan konvergensi.

“Pergerakan uap air dari Juni hingga awal Juli menunjukan kandungan uap air tinggi yang bergerak masuk ke Samudera Pasifik,” tutup LAPAN.
 
Peneliti Cuaca dan Iklim Ekstrim BMKG, Siswanto melalui rilis resminya Selasa (6/7/2023)  lalu mengatakan bahwa pada akhir Juni, gangguan atmosfer pemicu pertumbuhan awan berupa gelombang ekuatorial tropis MJO terpantau aktif dan merambat dari Samudera Hindia bagian barat.
Lalu awan itu melewati wilayah benua maritim kontinen Indonesia, dan bergerak ke arah timur hingga pertengahan dasarian II Juli 2021.

“Sirkulasi angin monsun Australia dan propagasi MJO diperkirakan akan berdampak pada peningkatan potensi hujan di wilayah Indonesia dekat dengan ekuator dan wilayah bagian utaranya,” ujar Siswanto lewat keterangan tertulisnya.  

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Saatnya Pariwisata Go Digital

    • calendar_month Jum, 27 Nov 2020
    • account_circle
    • visibility 227
    • 0Komentar

    Cry Jailolo Ramaikan Ultah GenPI dan Pasar Teluk   Pada 25 November 2020 lalu,  Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Halmahera Barat dan Pasar Teluk, genap berusia dua tahun.  Dalam perayaan ulang tahun kedua itu banyak atraksi ditampilkan. Salah satunya seni tari Cry Jailolo  yang sudah go internasional itu. Rilis yang dikirimkan GenPi kepada kabarpulau.co.id/ menyebutkan, dengan […]

  • Sungai Sagea Nasibmu Kini, Keruh Belum Usai   

    • calendar_month Rab, 6 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 1.817
    • 2Komentar

    6 September 2023 “Emas Coklat” Mengalir Sampai Jauh Kuning kecoklatan air sungai Sagea dan kawasan sungai Boki Moruru di Desa Sagea Weda Halmahera Tengah Maluku Utara, yang ditengarai terjadi sejak April 2023 lalu belum juga usai. Informasi yang dihimpun kabarpulau.co.id/ dari lapangan  Selasa pagi, air sungai Sagea kembali keruh setelah sempat bersih beberapa hari.   […]

  • KLHK Diminta Seriusi Dugaan Cemaran Nikel di Halmahera 

    • calendar_month Sel, 7 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 313
    • 1Komentar

    Kondisi sungai Wale yang tercemar kerukan tambang pada 2019 lalu foto M Ichi

  • Multiusaha Kehutanan, Konsep Berbasis Lanskap

    • calendar_month Jum, 17 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 281
    • 0Komentar

    Sungai dan hutan di Bokimoruru ii tidak bisa menjadi sarana wisata masyarakat Halmahera Tengah foto M Ichi

  • Bank dan Investor Besar Ikut Dorong Deforestasi Hutan Tropis

    • calendar_month Sab, 12 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 269
    • 0Komentar

    Setidaknya ada 50 bank dan investor terbesar di dunia ikut mendorong terjadinya deforestasi, melalui investasi besar dan kebijakan yang lemah pada komoditas..  Menurut penelitian   Forests & Finance –– sebuah koalisi riset yang terdiri dari organisasi masyarakat sipil Amerika Serikat, Indonesia, Belanda, Brazil dan Malaysia menemukan bahwa bank bank dan para investor besar memiliki andil besar […]

  • Halmahera Timur, Ayam Mati di Lumbung Padi?

    • calendar_month Sel, 22 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 427
    • 0Komentar

    Kaya Tambang, Kemiskinan Ekstrem dan Stunting Tinggi Pada November 2022 lalu, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)  mengeluarkan sebuah rilis  yang sangat menyayat hati. Rilis  itu mengangkat kondisi riil  kemiskinan ekstrem masyarakat Kabipaten Halmahera Tmur. Tidak itu saja r mengungkap kondisi anak anak yang angka stuntingnya  sangat tinggi di seluruh wilayah Maluku Utara.   Rilis […]

expand_less