Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Malut » Ada Apa, Kemarau tapi Hujan hingga Banjir?

Ada Apa, Kemarau tapi Hujan hingga Banjir?

  • account_circle
  • calendar_month Sab, 15 Jul 2023
  • visibility 864

Sepekan Tiga Wilayah di Malut Dihantam Banjir

Meski saat ini masih dalam periode musim kemarau, kenyataanya hamper semua wilayah di Maluku Utara dilanda hujan lebat. Bahkan dampak hujan tersebut, dalam sepekan ini sejumlah daerah dilanda banjir besar hingga menimbulkan korban harta dan rusaknya fasilitas umum. Hingga Sabtu (15/7/2023), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Ternate memprediksi ujan masih melanda beberapa wilayah di Maluku Utara.

Data terbaru BMKG, mengingatkan masyarakat melalui peringatan dini yang dikeluarkan untuk tetap waspada bahwa potensi terjadi hujan lebat disertai petir bisa menyebabkan banjir terjadi di wilayah Morotai, Patani Utara, Pulau Gebe sampai Kepualaun Widi dan sekitarnya. Sementara beberapa wilayah seperti Jailolo, Ternate Taliabu dan Sanana diprediksi terjadi hujan ringan.   

Sementara hujan sepekan ini di Kepulauan Sula  menyebabkan banjir tak terelakan. Satu desa di Pulau Mangoli Kecamatan Pulau Mangoli tepatnya di desa Waitina, akibat  hujan, Jumat (14/7/2023) sejak pukul 08.00 hingga siang menyebabkan air kali Waisenga meluap dan masuk pemukiman warga.

Kepala Desa Waitina, Sirajudin Umasangadji mengatakan seperti dilansir media media di Maluku Utara, banjir merendam 48 rumah warga, dengan ketingigian air mencapai 1 setengah meter.

“48 rumah yang terendam banjir ini, di dua RT yakni RT 01 dan R0 2.  Akibatnya  warga  harus menyelamatkan harta bendanya di tempat yang aman,” kata Sirajudin kepada media Jumat (14/7/2023). Sirajudin dan masyarakat berharap bantuan pemerintah daerah  hingga pusat. Sebab,  banjir di desanya sudah berkali-kali terjadi, namun belum dilakukan upaya penaggulangan menyeluruh dari pemerintah. “Banjir pada 2020 lalu sudah ada kunjungan dari tim penanggulangan pusat tapi sampai saat ini belum ada bantuan secara langsung yang memberikan kenyamanan bagi masyarakat Desa Waitina, khususnya yang terdampak banjir,” keluhnya.  

Pada Rabu (13/7/2023) akibat hujan deras yang terjadi di Halmahera Selatan yakni Desa Panamboang, Bacan Selatan, juga dilanda banjir  hebat. Ada puluhan rumah warga terendam banjir. Di desa ini ada 39 Kepala Keluarga (KK) terkena dampak banjir. Rumah mereka terdampak banjir karena rata rata berada  di bantaran  kali mati atau sungai yang kering saat  tidak ada hujan.

Sebelumnya banjir juga merendam satu desa di wilayah Kabupaten Pulau Taliabu Provinsi Maluku Utara pada Senin (11/7/2023). Peristiwa tersebut terjadi pascahujan dengan intensitas tinggi pagi hingga sore hari. Akibatnya   sungai  di wilayah tersebut meluap dan menyebabkan banjir.

Pusat pengendalian operasi (Pusdalops) BNPB melaporkan, desa terdampak banjir adalah Desa Kabuno Kecamatan Tabona. Dilaporkan  ada 60 KK/ 170 jiwa terdampak  banjir yang  menggenangi 60 unit rumah dengan ketinggian muka air 10 sampai 30 centimeter pada saat kejadian. 

Hingga Selasa (12/7/2023) pukul 06.00 banjir masih menggenangi permukiman warga dengan ketinggian setinggi mata kaki dan sebagian warga memilih mengungsi sementara ke rumah keluarga yang lebih aman dari banjir.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pulau Taliabu sejak  kejadian terus melakukan pemantauan, assesmen dan berkoordinasi dengan pihak desa untuk melakukan penanganan.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan prakiraan cuaca untuk wilayah Kabupaten Pulau Taliabu, periode Selasa (12/7) dan Rabu (13/7) akan mengalami cuaca hujan ringan dan berawan. Sementara itu merujuk pada analisis inaRISK BNPB, wilayah Kabupaten Pulau Talibu memiliki risiko banjir tingkat sedang hingga tinggi dengan seluruh kecamatan yang terdapat di Kapubaten Pulau Taliabu berisiko terpapar banjir.

Merespon potensi banjir tersebut, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk melakukan peningkatan kapasitas kesiapsiagaan seperti membersihkan saluran air, mengetahui jalur evakuasi dan bagi warga yang bermukim di sekitar sungai ketika hujan dengan itensitas tinggi terjadi terus menerus selama satu jam untuk mempersiapkan diri melakukan evakuasi mandiri ke tempat lebih aman.

Ada Apa Kemarau Tapi Hujan hingga Banjir?

Tim Reaksi dan Analisis Kebencanaan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menjelaskan penyebab sejumlah daerah di Indonesia mengalami banjir pada musim kemarau 2021.
Menurut LAPAN meski kemarau di beberapa daerah tetap mengalami curah hujan tinggi. “Hal itu disebabkan distribusi spasial suhu permukaan di wilayah Indonesia yang secara umum dipengaruhi posisi semu matahari yang saat ini berada di belahan Bumi Utara menyebabkan permukaan di Utara Indonesia menjadi lebih tinggi,” ungkap LAPAN dalam postingan  akun Facebooknyaa, dikutip  Sabtu  (15/7/2023).
LAPAN menyebutkan pergerakan angin saat ini didominasi trade win (angin pasat) dan Monsun Australia.

Trade win merupakan angin permukaan yang terjadi sepanjang tahun karena pengaruh tekanan rendah di wilayah khatulistiwa dan efek corriolis akibat rotasi bumi yang kadang diperkuat atau diperlemah oleh sirkulasi angin lainnya seperti Enso, easerly surge dan lainnya,” jelas LAPAN. LAPAN menjabarkan wilayah Kalimantan dan Sulawesi sering kali dilalui angin pasat ini sehingga menyebabkan terjadinya konvergensi pada wilayah-wilayah tersebut.


 “Konvergensi dapat menyebabkan terbentuknya awan skala besar dan terbentuknya hujan. Intentisitas hujan yang dihasilkan bergantung dari kandungan uap air yang berasal dari lautan pasifik dan laut Jawa serta kandungan uap air permukaan pada wilayah itu,” kata LAPAN.

Sementara untuk Pulau Jawa, pertumbuhan awan menjadi berkurang karena wilayah daratan Jawa cenderung dingin sehingga angin pasat yang melalui Pulau Jawa tidak membangkitkan konvergensi.

“Pergerakan uap air dari Juni hingga awal Juli menunjukan kandungan uap air tinggi yang bergerak masuk ke Samudera Pasifik,” tutup LAPAN.
 
Peneliti Cuaca dan Iklim Ekstrim BMKG, Siswanto melalui rilis resminya Selasa (6/7/2023)  lalu mengatakan bahwa pada akhir Juni, gangguan atmosfer pemicu pertumbuhan awan berupa gelombang ekuatorial tropis MJO terpantau aktif dan merambat dari Samudera Hindia bagian barat.
Lalu awan itu melewati wilayah benua maritim kontinen Indonesia, dan bergerak ke arah timur hingga pertengahan dasarian II Juli 2021.

“Sirkulasi angin monsun Australia dan propagasi MJO diperkirakan akan berdampak pada peningkatan potensi hujan di wilayah Indonesia dekat dengan ekuator dan wilayah bagian utaranya,” ujar Siswanto lewat keterangan tertulisnya.  

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tangkap Tuna Makin Jauh, Ukurannya juga Makin Kecil

    • calendar_month Sab, 20 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 669
    • 1Komentar

    Ikan Tuna yang ditangkap nelayan Ternate saat diturunkan di tempat pendaratan ikan dufa dufa foto M Ichi

  • WALHI Malut: Pemerintah Harus Terbuka ke Publik  Rencana  PLTN Terapung di Malut

    WALHI Malut: Pemerintah Harus Terbuka ke Publik  Rencana  PLTN Terapung di Malut

    • calendar_month Sen, 19 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 117
    • 0Komentar

    Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Maluku Utara, meminta agar Pemeirntah Indonesia bisa menjelaskan lebih detail kepada masyarakat  rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) terapung yang berkapasitas 200 MW di Maluku Utara. Bagi  WALHI rencana  ini belum mendapatkan penjelasan kepada  publik  terkait recana tata kelola lingkungan, keselamatan, dan dampaknya terhadap pesisir dan pulau-pulau kecil di […]

  • Tradisi Orang Tobaru Tanam Padi Lokal

    • calendar_month Sab, 6 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 1.090
    • 0Komentar

    Dua karung gabah teronggok di dapur Yosep Ugu (60). Gabah kering itu rencana diolah menggunakan mesin penggilingan padi di desa setempat.  Gabah padi   telah lama dikeringkan, tersimpan dalam karung dan baru dibawa ke kampung  sehari sebelumnya. “Di dalam gabah padi ini,  ada banyak jenis ikut tercampur. Ini sisa panen tahun lalu dan sampai sekarang belum  […]

  • Mata Air Ake Gaale Berubah Menjadi Air Mata Warga

    • calendar_month Jum, 19 Agu 2016
    • account_circle
    • visibility 2.587
    • 0Komentar

    Untuk  menemukan  sumber mata air  yang mengalir di pulau kecil seperti Ternate, terutama  di tengah pemukiman warga yang padat ,  hanya ada di dua tempat. Dua sumber mata air itu  adalah,  Ake Santosa, di Kelurahan Salero atau tepatnya berada sebuah bukit kecil di samping Kedaton Kesultanan Ternate.  Sementara yang satunya lagi ada di Bagian Utara […]

  • Laut Malut, Kuburan Bagi Mamalia Laut?

    • calendar_month Rab, 8 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 837
    • 0Komentar

    Bangkai-Paus-yang-mulai-hancur-dan-menmbulkan-bau-menyengat-di-Morotai-beberapa-waktu-lalu-foto-Hamsor-Yusuf

  • Peneliti BRIN Temukan 1.583 Spesies  Baru Indonesia    

    Peneliti BRIN Temukan 1.583 Spesies  Baru Indonesia   

    • calendar_month Sab, 6 Jun 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 501
    • 0Komentar

    Indonesia sebagai salah satu negara megabiodiversitas dunia memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga dan mengelola kekayaan hayatinya secara berkelanjutan. Penemuan spesies baru bukan sekadar capaian akademik, tetapi bagian penting dari upaya perlindungan lingkungan dan pembangunan berbasis ilmu pengetahuan. Setidaknya ini menjadi komitmen Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam upaya mengungkap kekayaan hayati Indonesia. Saat […]

expand_less