Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Waspada Bahaya Di Balik Curah Hujan Ekstrim

Waspada Bahaya Di Balik Curah Hujan Ekstrim

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sen, 18 Mei 2026
  • visibility 244

Penulis: Mohamamd Ridwan Lessy

(Dosen Ilmu kelautan dan Plt Ketua Forum PRB Kota Ternate)

Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih mengguyur Kota Ternate sepanjang beberapa hari belakangn ini, dengan potensi peningkatan curah hujan pada sore hingga malam hari yang disertai petir dan angin kencang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Baabullah Ternate telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrim yang diperkirakan masih akan berlangsung beberapa hari kedepan. Oleh karena itu, masyarakat dihimbau untuk mewaspadai potensi hujan lebat serta bencana hidrometeorologi.

Menyelisik kembali bencana banjir bandang pernah terjadi

Berkaca kembali pada kejadian banjir bandang di sungai Tugurara Kelurahan Tubo pada tahun 2012, kita dapat memahami bahwa bencana multi-bahaya ini terjadi karena intensitas curah hujan yang tinggi dan berlangsung selama beberapa hari.  Aliran air yang mengalir disertai aliran lumpur pekat yang terbentuk dari campuran air, partikel, bongkahan batu, dan lumpur yang bersumber dari bahan piroklastik akibat letusan gunung Gamalaman sebelumnya telah berdampak pada 272 kepala keluarga dan kerusakan sejumlah rumah dan infratsruktur.

Selanjutnya, kejadian banjir bandang di kelurahan Rua di tahun 2024. Curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat diperkirakan sebesar 75 mm yang berlangsung dari tanggal 24-25 Agustus 2024 dengan puncak curah hujan tertinggi terjadi antara jam 03.00 – 05.00 WIT telah menyebabkan bencana tersebut terjadi. Kejadian berlangsung pada malam hari dimana masyarakat masih terlelap sehingga menimbulkan kerusakan signifikan dan korban jiwa. Berdasarkan data BPBD, tercatat 39 kepala keluarga atau 139 jiwa yang menjadi korban banjir dengan dampak kerusakan 25 unit rumah rusak berat, 1 unit musallah, dan infrastruk jalan.

Interaksi yang kompleks antara faktor alam dan aktivitas manusia

Pemicu utama ancaman multi-bahaya tersebut adalah curah hujan yang ekstrim, morfologi lereng yang curam, struktur tanah vulkanik yang rentan, serta kerusakan lingkungan akibat tata guna lahan.

Kondisi cuaca dimana curah hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem yang terjadi dalam waktu lama berimplikasi membuat tanah vulkanik di lereng gunung Gamalama menjadi jenuh air. Kondisi ini menyebabkan kekuatan tanah akan menurun drastis sehingga dapat memicu pergerakan massa tanah. Akibatnya kemungkinan ancaman multi-bahaya hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, dan longsor dapat terjadi secara simultan dan menaikkan risiko bencana semakin tinggi.

Kondisi geomorfologi pulau Ternate dengan kelerengan yang curam dan garis kontur yang rapat menunjukan bentuk relief permukaan yang bergelombang dengan elevasi hingga ke puncak gunung Gamalama. Relief dan elevasi bentuk lahan merupakan salah satu faktor pemicu longsor. Kawasan longsor pada umumnya terjadi pada perbukitan curam dan daerah gunung api dengan material endapan piroklastik yang tebal dan mudah lapuk. Endapan ini umumnya membentuk bongkahan material yang besar hingga jika terjadi longsor maka akan menimbulkan daya rusak yang tinggi pula.

Alih fungsi lahan juga menjadi salah satu komponen pemicu kerusakan lingkungan yang berdampak pada potensi muti-bahaya tersebut. Adanya alih fungsi kawasan resapan air dan hutan di beberapa titik di pulau Ternate menjadi lahan permukiman telah mempercepat laju erosi dan mengurangi kestabilan lereng. Akibatnya aliran air akan langsung mengalir ke dataran rendah.

Mitigasi saat ini dan akan datang

Mengingat curah hujan yang masih tinggi serta komponen-komponen pemicu yang cukup besar serta untuk menghindari jatuhnya korban jiwa, maka Langkah mitigasi saat ini yang dapat masyarakat dan pemerintah adalah dengan melakukan pemantauan perkembangan aliran air di sungai (barangka) dan bahan rombakan hingga hulu untuk mengetahui kondisi sumber aliran bahan rombakan.

Selanjutnya, pemerintah dan semua pemangku kepentingan diminta untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang menetap di wilayah rawan bencana untuk mewaspadai potensi bahaya tersebut. Sehingga masyarakat lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi sejak dini.

Pemerintah dalam hal ini Badan Penaggulangan Bencana Daerah Kota Ternate harus memasang system peringatan dini, menyediakan jalur dan rambu evakuasi serta tempat pengungsian sementara untuk setiap wilayah rawan.

Sebagai langkah singkat juga, pemerintah dan masyarakat harus memanfaatkan semua media informasi baik sosial media, media elektronik, maupun media cetak untuk terus menyebarkan himbauan kewaspadaan ini, sehingga semua pihak bisa mengambil langkah antisipasi lebih awal.

Untuk langkah kedepannya, pemerintah harus melakukan mitigasi struktural seperti pengaturan keairan dan penahan material melalui normalisasi sungai dan perbaikan keairan terutama kondisi keairan pada hulu sungai (lereng atas dan dataran tinggi).

Pemerintah harus mempertegas pengarusutamaan Pengurangan Risiko Bencana dalam perencanaan pembangunan salah satunya melalui Rencana Tata Ruang Wilayah berbasis mitigasi bencana. Selain itu, pemerintah memperkuat tata kelola kebencanaan yang lebih baik dengan menyiapkan kajian risiko bencana, rencana penaggulangan bencana, standart operasional prosedur kedaruratan bencana serta dikumen pendukung lainnya.

Latihan evakuasi yang rutin di lingkungan kelurahan dan tempat kerja serta diseminasi hasil riset kebencnaan merupakan mitigasi non-struktural yang bisa dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan masyarakat dalam meningkatkan kesispsiagaan.

Pada akhirnya, semua pihak termasuk masyarakat, akademisi, LSM, dunia usaha, media dan pemerintah harus berperan aktif meningkatkan kesiapsiagaan dan kapasitas menghadapi bencana. Hal ini untuk mengurangi jumlah korban jiwa dan kehilangan harta benda.(*)

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemkot Ternate akan Bangun Pusat Studi dan Riset Rempah

    • calendar_month Rab, 15 Jun 2022
    • account_circle
    • visibility 792
    • 1Komentar

    Bentang Artefak sejarah tentang kejayaan rempah di masanya/ foto istimewa

  • 326 Peserta Ramaikan Mancing Mania Dies Natalis Unkhair

    • calendar_month Jum, 4 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 611
    • 1Komentar

    MaPanitia Mancing Maniia bersiap menuju Modayama Kayoa Halmahera Se;latan

  • Korban Lakalaut Tinggi, Butuh Kolaborasi Penanganan

    • calendar_month Ming, 5 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 657
    • 1Komentar

    Ketua POSSI dan SAR Ternate didampingi Danlanal Ternate menunjukan isi MoU yang telah ditandatantangani foto M Ichi

  • Sungai Sagea Nasibmu Kini, Keruh Belum Usai   

    • calendar_month Rab, 6 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 2.507
    • 2Komentar

    6 September 2023 “Emas Coklat” Mengalir Sampai Jauh Kuning kecoklatan air sungai Sagea dan kawasan sungai Boki Moruru di Desa Sagea Weda Halmahera Tengah Maluku Utara, yang ditengarai terjadi sejak April 2023 lalu belum juga usai. Informasi yang dihimpun kabarpulau.co.id/ dari lapangan  Selasa pagi, air sungai Sagea kembali keruh setelah sempat bersih beberapa hari.   […]

  • Penjahat Lingkungan Bakal Kena Sanksi Lebih Berat

    Penjahat Lingkungan Bakal Kena Sanksi Lebih Berat

    • calendar_month Rab, 31 Jan 2018
    • account_circle
    • visibility 535
    • 0Komentar

    Para penjahat lingkungan yang selama ini melakukan banyak kejahatan terutama merusak hutan  bersiap-spa mendapatkan sanksi berat. Direktorat Jenderal  Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PHLHK) bekerjasama dengan United Nations Development Programme (UNDP) saat ini  bekerjasana  memerangi para pelaku tindak pidana kejahatan bidang lingkungan hidup dan kehutanan. Bentuk kerjasama ini telah ditandatangani di  Gedung   Manggala Wanabakti Jakarta , […]

  • Ekspansi Tambang, Jadi Ancaman Serius Kawasan Biodiversitas

    Ekspansi Tambang, Jadi Ancaman Serius Kawasan Biodiversitas

    • calendar_month Sen, 27 Jul 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 186
    • 0Komentar

    AEER: 10 Izin Tambang di Halmahera Tumpang Tindih dengan 45.742 Ha Hutan Lindung   Ekspansi pertambangan nikel mulai mendesak kawasan penting keanekaragaman hayati di Indonesia termasuk di Maluku Utara. Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEER) dalam rilis resminya yang diterima media ini,  mencatat 28 dari 206 Key Biodiversity Areas (KBA) di Sulawesi dan Maluku bertumpang tindih […]

expand_less