Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Tanda-tanda Alam dan Tradisi Orang Pulau yang Tergerus Zaman

Tanda-tanda Alam dan Tradisi Orang Pulau yang Tergerus Zaman

  • account_circle
  • calendar_month Sen, 17 Mar 2025
  • visibility 1.407

Sebuah Doho doho Pendek di Pertengahan Ramadan 

Kitab Suci Alquran untuk ummat manusia, secara khusus  telah menerangkan  dengan terang benderang  fenomena alam dengan ayat- ayat kauniyah-nya. Dalam  membaca fenomena alam itu,  para leluhur negeri al-mulk  yang terdiri dari pulau pulau ini telah mempraktekan dalam setiap hidup mereka sejak dulu. Bagi mereka, setiap ada fenomena alam yang terjadi pasti memiliki makna. Baik dalam menjalani  hidup maupun urusan ritual peribadatan dengan sang pencipta. Mereka selalu percaya bahwa, tanda-tanda alam di darat dan juga di laut jadi pustaka yang selalu menuntun dalam setiap etape kehidupan.

Sebagai wilayah kesultanan, orang Ternate dan Tidore dan Maluku Utara umumnya, punya tradisi  yang beragam.  Dia sekaligus menjadi kompas  menentukan arah dalam  ketepatan dan ketetapan berbagai aktifitas hidup. Baik  kalao dan kadara. maupun  ka atas dan  kabawa.  Dari menanam di kebun, bepergian, mencari ikan, menentukan waktu puasa Ramadan hingga menghindari hari hari yang naas.  Meski  belakangan  praktiknya  mulai digilas  moderenisasi, hakikat pesan alam  itu tetap dilestarikan  turun temurun oleh sebagian orang yang  masih yakin dan percaya.

Contoh nyata  yang masih hidup dan tetap dipertahankan sebagian orang  saat ini adalah menentukan dimulainya puasa Ramadan.  Pasalnya, penentuan awal puasa ini sering memunculkan perdebatan. Ketidaksamaan waktu karena adanya metode yang digunakan dari  hisab dan rukhyatulhilal sering kali menjadi perdebatan. Nah para tetua Maluku Utara bisa mencari bahan banding lain lewat  tanda- tanda alam dan perdebatan itu bisa saja dihindari.  Khusus ketika menentukan awal puasa, selain  dua metode itu, ada  yang masih dijaga dan dipraktekan  tetua Ternate  dan Tidore dari dahulu kala. Bahkan masih dijalankan sebagian orang hingga kini.  Mereka percaya tanda- tanda alam dan segala isinya itu akan menuntun  ke jalan kebenaran.

Salah satu yang dijadikan petunjuk awal puasa  itu adalah ketika  hanyutnya  bunga padang lamun (sea grass) yang terbawa arus laut dan  terdampar di tepian pantai. Sebagai orang yang hidup di pulau-pulau  tanda- tanda alam ini oleh sebagian orang  masih digunakan hingga kini.  Jika diakhir Syaban dan sudah ditemukan bunga putih  dari lamun  hanyut dan terdampar di pantai,  petanda puasa Ramadan  telah tiba.

Seperti digambarkan dalam  sastera lisan Ternate dan Tidore dalam bentuk dola bololo     yang sering diucapkan para  leluhur.  Gasung  Ma Bunga  Ruru, Manonako Ara Fane Futurimoi. hanyutnya bunga padang lamun, pertanda bulan sudah lewat 1 malam (Ternate). atau  Gasung Ma Bunga  Ruru, Ora fane  Futu Rimoi,  artinya : hanyutnya bunga padang lamun, pertanda bulan sudah lewat 1 malam (Tidore). Pesan dola bololo ini menjadi penanda  bahwa tanda tanda alam tak berbohong.

Meskipun  sudah jarang dipraktekkan, namun di sebagian masyarakat Tidore  dan Ternate yang pantainya belum tersentuh reklamasi  masih mengamati bunga gusung atau lamun  saat  Ramadhan akan tiba. Sekadar catatan, di Ternate, ketika datang reklamasi membabat tepian pantai  karena alasan  keterbatasan ruang hidup  kota,  di situ  tradisi ini mulai tergerus dan tinggal cerita.

Melihat bunga lamun yang hanyut hanyalah satu di antara beberapa metode menentukan awal Ramadhan. Karena  sebagian besar orang sudah menggunakan alat  untuk mengamati awal bulan. Orang Ternate dalam menentukan awal ramadhan selain melihat bunga lamun yang hanyut juga mendasarkan pada rukhyatul hilal atau  dikenal dalam tradisi nyata ara/ melihat bulan dengan mata telanjang. Nyata ara dilakukan tokoh agama dan pihak kesultanan Ternate.  Prosesnya dilakukan usai salat Ashar atau  jelang Maghrib di kawasan pantai. Salah satu tempat di Ternate yang dijadikan lokasi nyata ara adalah di Kelurahan Rua.  Nyata ara ini juga kini sudah tergantikan dengan adanya tim rukhyatul hilal Kementerian Agama yang selalu melakukan pengamatan dengan dukungan peralatan yang mereka punyai   yang digelar secara nasional.

 

Kalender  Tidore dan Dasar Melihat Tanda-tanda Alam  

Dalam membaca alam,  di Kota Tidore Maluku Utara warganya  memiliki kalender lokal. Kalender ini  sebenarnya ada sejak dulu meskipun tidak dalam bentuk seperti kalender sekarang ini.  Kalender ini masih digunakan. Keberadaanya  sangat bermanfaat  terutama  dalam momen- momen  penting  seperti  penentuan awal Ramadan.

Arifin Abas tokoh di balik  pembuatan kalender adat Tidore  ini mengaku saat  menyusunnya  memantau  bulan dan menghitung  waktu  dalam  kearifan lokal Tidore.  Hal ini berdasar pada dalil lisan/dola bololo  yang dimiliki orang Tidore: ora fane mawange mega, tuga mawange enage. Artinya: bulan berawal pada hari apa, purnama  juga pada hari itu, (purnama juga pada nama hari yang sama). Didukung dalil berikutnya : futu nyagi moi se matoha, ora tuga.  Atau: ora tuga musi futu nyagi moi se matoha (malam ke – 15, bulan purnama. Atau bulan purnama idealnya terjadi pada malam ke – 15.

Arifin  ditemui Agustus 2024 lalu bercerita, penelitian yang dia lakukan untuk menyusun  kalender ini juga   dengan membaca tanda- tanda alam.  Ada sejumlah lokasi  di Tidore menjadi tempat mengamati  berbagai kejadian alam itu.  Misalnya di  Kampung Seli,  Kalodi dan Paceda. Di Seli  dia melihat bunga gusung  atau lamun  mengapung  di atas air dan pantai di awal bulan.  di Kalodi  dia mengecek  burung  maleo bertelur  dan di  Paceda dia melihat Penyu bertelur. Tanda tanda alam ini menjadi dasar menyusun kalendernya. Pengamatan tanda alam ini dilakukan  dalam waktu yang panjang  selama 2,5  tahun dimulai sejak 2013 lalu.

Kelebihan  kalender Adat Tidore, diklaim tidak hanya  dalam ketepatan waktunya,  tetapi juga  dapat melihat hari baik dan buruk (Nahas),  saat  manusia melakukan aktifitas.   Bahkan dari kalender ini sudah bisa diketahui kapan  terjadinya gerhana bulan dan matahari.     Hitungannya, tidak meleset terutama dalam menentukan pergantian bulan, tahun dan penetapan hari.

Naskah falakiah lokal yang disusun Arifin  yang juga pegawai Dinas Pariwisata  Kota Tidore Kepulauan itu, telah diseminarkan pada 2016 silam  dan diresmikan Sultan Tidore serta Wali Kota Tidore bertepatan dengan  momen Festival Maitara waktu itu.

Hingga kini sebagian masyarakat menggunakan kalender Tidore . Mereka percaya sebagaimana setiap awal bulan baru ditandai dengan fenomena alam, padang lamun berbunga. Kalender itu juga diklaim selaras dengan sains modern. Terutama fokus penempatan tanggal dalam kalender   untuk peluang terjadinya gerhana matahari   dan gerhana bulan.

Karya Arifin ini  juga telah diakui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Republik  Indonesia. Dia turut diberi penghargaan dalam Program Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2022 untuk program penghargaan AKI kategori Pencipta  Kalender Adat Tidore. Sebelumnya  penelitian Arifin  sempat diuji oleh Mendikbud Ristek  dengan mengirim 6 orang untuk mengujinya. Setelah verifikasi substantif yang diuji di lapangan, diakui  karya ini memasukan unsur Filologi, Linguistik, Semiotika dan Sejarah Peradaban.

Akhirnya, ragam tradisi yang dipraktekan orang pulau yang mendasarkan alam sebagai soko gurunya itu, jika  dibiarkan terus tergerus,   cepat atau lambat kehilangan identitas  warga dan negeri ini  bukanlah sebuah pepesan kosong.  (Disarikan dari  berbagai sumber)

 

 

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Peneliti Unkhair Coba Domestikasi Kepiting Kenari di Gemia Patani

    Peneliti Unkhair Coba Domestikasi Kepiting Kenari di Gemia Patani

    • calendar_month Sen, 18 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 296
    • 0Komentar

    Halmaherapedia— Kepiting kenari atau birgus latro adalah salah satu sumber daya perikanan di Maluku Utara. Potensi ini berada di hamper semua pulau di Maluku Utara.salah satunya di  Desa Gemia Patani Utara Kabupaten Halmahera Tengah. Untuk mengelola secara berkelanjutan sumberdaya alam ini  agar tidak habis di alam, maka perlu dilakukan pembudidayaan. Selama ini masyarakat masih mengandalkan […]

  • Pendanaan GEF-7 Crop Bio, Sasar Cengkih dan Pala

    Pendanaan GEF-7 Crop Bio, Sasar Cengkih dan Pala

    • calendar_month Jum, 22 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 445
    • 0Komentar

    Di Malut Fokus di Tidore Kepulauan dan Halsel  Halmaherapedia– Proyek Global Environment Facilities (GEF)-7 CropBio yang merupakan  hibah  dari pendanaan multilateral, masuk ke Indonesia salah satunya ke Maluku Utara. Kegiatan  yang  berhubungan dengan pemanfaatan berkelanjutan sumber daya genetika  ini  focus pada 5  komoditas yaitu padi, talas, umbi, pala, dan cengkeh.  Untuk Maluku Utara  berfokus pada cengkih dan […]

  • Nikmati Tiga Mata Air di Hutan Mangrove Gamtala

    • calendar_month Jum, 4 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 727
    • 1Komentar

    Para pengunjung menikmati kawasan wisata hutan mangrove Gamtala

  • Tersedia Rumah Kolaborasi dan Konsultasi Iklim

    • calendar_month Kam, 26 Okt 2023
    • account_circle
    • visibility 658
    • 1Komentar

    Beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo telah membuka bursa karbon nasional di Bursa Efek Indonesia. Dalam rangka mengantisipasi minat masyarakat yang tinggi terhadap perdagangan karbon, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, meresmikan Rumah Kolaborasi dan Konsultasi Iklim dan Karbon (RK2IK) di Gedung Manggala Wanabhakti, Jakarta (23/10) lalu dalam rangka mendukung pencapaian target Nationally […]

  • Aksi Lingkungan, Masyarakat Bisa Akses Dana 2 Ribu hingga 50 Ribu Dolar

    • calendar_month Jum, 16 Agu 2024
    • account_circle
    • visibility 753
    • 0Komentar

    Saat  ini pemerintah Indonesia melalui Kementerian KLHK sedang menyiapkan sekema pendanaan agar masyarakat bisa mengakses dana untuk kepentingan lingkungan hidup. Dana  itu  dikelola Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH).    Melalui dana ini  masyarakat bisa mengajukan   kepada BPDLH untuk   kegiatan yang berkaitan lingkungan hidup.Melalui Layanan Dana Masyarakat untuk Lingkungan, masyarakat   memiliki akses mudah pendanaan untuk […]

  • Dampak Perubahan Iklim di Ternate, Kota Pesisir dan Pulau Kecil (2)

    Dampak Perubahan Iklim di Ternate, Kota Pesisir dan Pulau Kecil (2)

    • calendar_month Sab, 6 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 786
    • 0Komentar

    Nelayan Terancam di Laut,  Hasil Tangkapan Makin Menurun Gafur Kaboli (59) tahun sudah dua hari tidak melaut. Ditemui Selasa (25/11/2025) sekira pukul 12.20 WIT di rumahnya di Kelurahan Jambula Kota Ternate Selatan, dia mengaku  istrahat mengingat cuaca tidak menentu. Dia bercerita jika aktivitas melaut para nelayan Kota Ternate saat ini sangat beresiko karena cuaca yang […]

expand_less