Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Tambang  PT MAI Beroperasi,  Desa Sagea Kiya Makin Terancam

Tambang  PT MAI Beroperasi,  Desa Sagea Kiya Makin Terancam

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sel, 14 Okt 2025
  • visibility 1.037

 Warga Desa Sagea-Kiya, Weda Utara, Halmahera Tengah, Maluku Utara, yang tergabung dalam Koalisi Save Sagea kembali menggelar aksi protes  Senin, 13 Oktober 2025. Aksi ini  dilakukan berkaitan dengan  aktivitas tambang PT Mining Abadi Indonesia (PT MAI), kontraktor dari perusahaan tambang nikel PT Zhong Hai Rare Metal Mining Indonesia dan PT First Pacific Mining.

Aktivitas penambangan ini bagi warga  diduga  dilakukan secara ilegal di atas tanah milik warga tanpa persetujuan atau pemberitahuan  kepada pemiliknya. Aksi ini  juga menjadi puncak  akumulasi ketegangan yang telah berlangsung selama lebih dari dua bulan terakhir.

Beroperasinya perusahaan tersebut warga Desa Sagea-Kiya secara tegas menyatakan menolak  adanya operasi tambang yang tidak hanya melanggar hak-hak masyarakat adat atas tanah mereka, tetapi juga telah menimbulkan kerusakan lingkungan.

Koalisi Save Sagea mencatat insiden serius yang terjadi pada Minggu, 12 Oktober 2025. Sejumlah karyawan PT MAI, ditengarai menggunakan alat berat milik perusahaan,  merusak dua unit kendaraan milik warga. Tindakan  intimidatif ini memicu kemarahan warga dan memperburuk situasi yang sudah memanas.

Hingga hari ini, warga masih terus melakukan aksi blokade   jalur  operasional perusahaan sebagai bentuk perlawanan atas perlakuan semena-mena tersebut.

“Sejumlah karyawan PT MAI diduga telah merusak dua unit mobil milik warga dengan menggunakan alat berat milik perusahaan. Tindakan ini  memicu kemarahan dan  masih terus melakukan aksi  hingga  melakukan blockade jalan,” kata Mardani Legayelol, Juru Bicara Koalisi Save Sagea.

 Ancaman Serius terhadap Ruang Hidup

Koalisi Save Sagea juga menyoroti dampak jangka panjang dari operasi tambangterhadap lingkungan hidup di kawasan Sagea-Kiya, khususnya terhadap ekosistemKarst Sagea dan Telaga Yonelo atau yang dikenal sebagai Talaga Lagaelol. Kedua ekosistem ini bukan hanya penting dari sisi ekologis,  tetapi juga memiliki nilai kultural dan spiritual yang mendalam bagi warga Sagea-Kiya.

“Karst Sagea itu  benteng kami, tempat hidup kami, dan sumber air kami.  Kami tidak akan menerima jika tempat ini dirusak. Begitu juga dengan TalagaLagaelol yang tidak hanya menjadi sumber kehidupan warga, tetapi juga tempat yang menyimpan nilai budaya dan ritus-ritus leluhur kami yang masih kami jagahingga hari ini,” ujar Lada Ridwan, Warga Sagea-Kiya.

Perusahaan Tabrak  Regulasi 

Bagi Koalisi Save Sagea PT MAI diduga melanggar sejumlah regulasi  seperti  Perpres 12/2025 tentang RPJMN 2025 – 2029 (Lampiran IV) halaman 264 bahwa Kawasan Karst Bokimoruru (Sagea) merupakan 1 dari 3 kawasan prioritas

konservasi di Maluku Utara untuk perlindungan, pengelolaan, dan pemanfaatan kawasan konservasi.  Perda No. 3 Tahun 2024 tentang RTRW Kabupaten. Halmahera Tengah tahun 2024 – 2043,   yang menetapkan wilayah Sagea   sebagai zona Kawasan Karst kelas I dan diperuntukkan untuk konservasi dan penelitian. Wilayah operasi PT MAI berada di  zona penyangga Kawasan Karst Sagea, sehingga keberadaannya sangat  berpengaruh pada ekosistem karst.

PT MAI diduga tidak memiliki Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan  (PPKH), bahkan ditengarai pembangunan Jetty PT MAI tidak mengantongi izin  Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (PKKPRL). Perusahaan  juga diduga tidak

memiliki dokumen persetujuan lingkungan dari Pemerintah. Untuk itu    Komunitas Save Sage menunutut   segera dihentikan seluruh aktivitas tambang PT Mining Abadi Indonesia di wilayah Desa Sagea-Kiya.

Perusahaan   bertanggung jawab atas kerusakan lahan warga dan dua unit

kendaraan yang dirusak pada 12 Oktober 2025.  Mendesak Pemerintah Halmahera Tengah dan Pemerintah Provinsi Maluku Utara  mengeluarkan rekomendasi ke pemerintah pusat untuk

pencabutan izin operasi PT Zhong Hai Rare Metal Mining Indonesia dan PT  First Pacific Mining di wilayah Sagea-Kiya.

Mendesak aparat penegak hukum untuk menindak kegiatan ilegal yang  dilakukan oleh PT MAI

“Kami tegaskan bahwa perjuangan warga Desa Sagea-Kiya bukanlah  sekadar soal tanah atau lahan. Ini  perjuangan  mempertahankan  kehidupan, lingkungan, dan identitas budaya yang telah diwariskan turun-temurun,” ujar Mardani.

Dia menyatakan warga tidak akan diam menyaksikan tanah  dirusak dan hak mereka diinjak-injak demi kepentingan perusahaan dan alibi kemajuan ekonomi.

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Melihat Kehati Halmahera Lewat Bird Race Competition   

    Melihat Kehati Halmahera Lewat Bird Race Competition   

    • calendar_month Sel, 28 Jul 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 187
    • 0Komentar

    Halmaherapedia– International Bird Race Competition 2026 pertama digelar di  Maluku Utara. Acara  ini secara resmi dibuka pada Senin (27/7/2026). Kegiatan yang diinisiasi oleh Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (BTNAL) ini diikuti  puluhan peserta dari berbagai latar belakang.  Mahasiswa, sektor swasta, fotografer profesional, hingga  dari mancanegara. Acara ini digelar sebagai bentuk memperkenalkan potensi pusat keanekaragaman hayati di […]

  • Malut Tak Masuk Agenda Sepekan MKP Serap Aspirasi dari Timur

    • calendar_month Sab, 29 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 673
    • 0Komentar

    Pemerintah Provinsi Maluku Utara memiliki berbagai program pembangunan di bidang perikanan. Salah satunya adalah Lumbung Ikan Nasional (LIN) yang digembar gemborkan beberapa tahun lalu. Kini program yang digadang-gadang menjadi mercusuar bidang perikanan itu seperti hilang ditelan bumi. Program yang sempat menghadirkan diskursus berbagai kalangan di Malut itu,  sudah tak terdengar lagi. Padahal  terbilang sudah banyak […]

  • Menjaga Tradisi Perempuan Pesisir Patani Utara Lewat Lomba VAUF

    Menjaga Tradisi Perempuan Pesisir Patani Utara Lewat Lomba VAUF

    • calendar_month Sen, 18 Mei 2026
    • account_circle Mahmud Ici
    • visibility 411
    • 0Komentar

    Di masyarakat pesisir kecamatan Patani Utara Kabupaten Halmahera Tengah Maluku Utara, memiliki  satu  tradisi  menangkap ikan.  Namanya  Vauf.  Vauf adalah nama jorang yang dipakai dari batang bambu atau batang pelepah sagu. Orang Maluku Utara umumnya mengenal dengan huhati. Vauf dimakani sebagai memancing ikan menggunakan jorang dari bambu atau pelepah sagu. Hal ini  dilakukan mama-mama saat […]

  • Ingin Tegakkan Prinsip Politik Hijau, PHI Terbentuk

    • calendar_month Rab, 10 Mar 2021
    • account_circle
    • visibility 685
    • 1Komentar

    Kongres Online Partai Hiua Indonesia

  • Suara Kaum Disabilitas dari Ternate untuk Keadilan Iklim Dunia

    • calendar_month Ming, 31 Agu 2025
    • account_circle
    • visibility 999
    • 0Komentar

    Dampak perubahan iklim  bisa menghantam berbagai kelompok. Tidak hanya petani, nelayan, kaum buruh, perempuan dan anak-anak. Salah satu yang turut merasakan  hasil dari proses industrialisasi itu adalah kaum difabel/disabilitas. Sebagai kelompok yang memiliki kebutuhan khusus mereka sangat terdampak dengan  perubahan iklim yang terjadi saat ini. Apalagi untuk mereka yang berada di pesisir dan pulau-pulau seperti […]

  • Tambang Hadir, Kebun Hilang, Pangan Sulit 

    • calendar_month Rab, 1 Nov 2023
    • account_circle
    • visibility 1.216
    • 0Komentar

    Cerita dari Sagea dan Kiya Weda Utara Halmahera Tengah Ketika mobil yang saya tumpangi tiba di Desa Lukulamo Weda Halmahera Tengah Maluku Utara pada Selasa (10/10/20230) siang, mulai terasa memasuki kawasan industri tambang nikel yang sibuk. Kendaraan terlihat lalu lalang tak henti melewati jalan nasional poros Weda-Patani. Debu mengepul membungkus jalanan. Mobil menutup kaca jendela […]

expand_less