Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Ekspedisi Talaga Rano Halmahera Dimulai

Ekspedisi Talaga Rano Halmahera Dimulai

  • account_circle
  • calendar_month Ming, 22 Nov 2020
  • visibility 571

Pesan Jaga Alam, Tanam Pohon dan Peduli  Sampah    

Sebuah upaya menjaga dan memperkenalkan alam untuk kaum muda dilakukan  Duta  Kreator Pecinta Alam Maluku Utara (Dekapala). Bertitel Ekspedisi Cinta Talaga Rano dan Gerakan Cinta DAS Maluku Utara, ekspedisi ini dihelat dengan beberapa agenda dan  dikerjasamakan dengan  Forum Daerah Aliran Sungai (FORDAS), Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDAS-HL)  Malut serta  beberapa pihak terkait.

Peluncurannya telah digelar di Café Jarod Kelurahan Kampung Pisang Ternate Tengah Sabtu (21/11) malam, bertepatan dengan hari Pohon Sedunia 21 November 2020. Kesempatan itu dilakukan penyerahan beberapa jenis bibit pohon, kaus ekspedisi secara simbolis   serta  disukusi bertema  Air, Hutan dan Manusia.

Direktur Dekapala Maluku Utara, Thamrin Ibrahim menjelaskan, ekspedisi ini melibatkan semua lembaga pecinta alam di Maluku Utara. Sekaligus   mengajak generasi muda  mencintai alam  dengan  aksi nyata. Diawali eksplore ekosistem Talaga Rano  di Jailolo Halmahera Barat, Lokakarya Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Konservasi Hutan, dilanjutkan Silaturahmi Daerah (Silatda) Pecinta Alam se Maluku Utara dan   menanam 10 ribu pohon  di lima gunung  destinasi wisata alam  Maluku Utara.  “Ditargetkan diikuti  300 peserta  mahasiswa pecinta alam di Maluku Utara.Acara ini yang akan digelar Desember hingga awal 2021 mendatang,” jelas Thamrin.

Wakapolda Malut Brigjen (Pol) Lucas A Abriari saat memberi motivasi dan pandangan kepada pecinta alam.

Sementara  dalam diskusi bertema Air  Hutan dan Manusia,  dua pemateri masing masing  Kepala BPDAS-HL  Asih Yunani MP  dan M Rahmi Husen Wakil Ketua DPRD Maluku Utara, membahas beberapa hal menyangkut air dan hutan di Maluku Utara.  

Dalam pengantar diskusinya, Asih Yunani menjelaskan,  DAS, jumlah  dan kondisinya saat ini. Dia bilang,  DAS adalah permukaan daratan di mana air hujan jatuh  kemudian dialirkan ke laut. Punggung-punggung bukit   menjadi tempat jatuhnya air itulah yang dikenal dengan DAS.

“Seluruh daratan di mana air hujan jatuh dan kemudian mengalirkan airnya ke laut di situlah DAS,” jelasnya. Di Maluku Utara  ada 3568  DAS yang didominasi  DAS pulau kecil dengan berbagai kondisi.  Dari jumlah itu  kondisinya bervariasi. 89  diantaranya  dalam kondisi rusak dan dipulihkan. Pemulihannya dengan menanam kembali. “Dengan menanam kembali pohon akan mengembalikan kondisi DAS dan  otomatis memulihkan kondisi air serta lingkungan yang sangat dibutuhkan manusia,” katanya.  Dia tidak menampik jika banyaknya perizinan  dan eksploitasi hutan  lahan ikut menurunkan  kualitas DAS di daerah ini.

Sementara M Rahmi Husen, menyinggung soal kerusakan alam, terutama hutan  yang terjadi akibat eksploitasi tambang HPH dan  perkebunan besar terutama sawit. Soal ini Rahmi meminta semua pihak memiliki kesadaran yang sama. Terutama pemerintah agar  menggelontorkan izin-izin tambang dan perkebunan memerhatikan keselamatan lingkungan, terutama hutan dan ruang hidup manusia.  Baginya,   krisis saat ini  tidak hanya lingkungan  terutama hutan dan lahan tetapi krisis  dialami manusianya. “Pemerintah lebih  menggelontorkan berbagai izin yang ikut mengancam lingkungan. Sementara manusianya  punya kesadaran buang sampah yang masih rendah,” cecarnya.

Ibu Asih Yunani Kepala BPDAS-HL menyerahkan secara simbolis kaus ekspedisi kepada Program Manager Dekapala Fadila Assagaf sebagai tanda dimulainya ekspedisi Cinta Talaga Rano

Untuk perizinan dia  contohkan, aktivitas perkebunan sawit di Gane  tidak hanya mengancam habisnya hutan di wilayah itu, tetapi juga kelangsungan hidup warga  ikut sengsara.

Kesempatan itu dia ikut bercerita pengalamannya menjadi pecinta alam Maluku Utara  kepada  peserta peluncuran ekspedisi dan diskusi yang didominasi  anak muda itu.  “Maluku Utara ini negeri yang  indah jadi  perlu dinikmati dan sama- sama dijaga. Laut dan isinya,  darat,   gunung pantai dan tanjung semuanya indah. Jadi perlu  dijaga dan dilestarikan,” pesannya.

Hadir juga Wakil Kepala Polisi Daerah (Wakapolda) Maluku Utara  Brigjen Lucas A Abriari  serta Sekretaris Dinas Kehutanan Provinsi  M Zaky.

Wakapolda  turut memberikan  motivasi bagi para pecinta alam Malut. Kesempatan itu dia  mengingatkan  generasi muda menjaga alam. Salah satunya dengan  tidak membuang sampah secara sembarangan. Dia bilang Ppersoalan kota ini salah satunya juga adalah sampah.  Baik di darat dan di laut.   Dia  juga cerita pengalamannya mendaki gunung Gamalama  dan datang ke berbagai daerah  di Maluku Utara.  “Negeri ini sangat indah. Hutan, gunung laut dan pantainya.  Sayang kalau tidak dijaga tapi malah dirusak. Salah satu bentuk menjaga alam kita dengan menanam dan tidak membuang sampah sembarangan,”harapnya. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kawasan Segitiga Terumbu Karang  Didorong  Dapat  Pendanaan Berkelanjutan  

    • calendar_month Ming, 14 Sep 2025
    • account_circle
    • visibility 525
    • 0Komentar

    Sejumlah Negara termasuk Indonesia yang masuk kawasan segitiga terumbu karang dunia mendapat perhatian khusus. Perhatian itu salah satunya adalah dalam bentuk pendanaan berkelanjutan. Saat ini Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong penguatan skema pendanaan berkelanjutan sebagai langkah strategis mencapai tujuan Regional Plan of Action (RPOA) 2.0 Coral  Triangle Initiative on Coral Reefs, […]

  • Ini Hasil Kajian Climate Right Internasional

    • calendar_month Kam, 18 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 602
    • 1Komentar

    Proyek Nikel Raksasa di Halmahera Rusak  Lingkungan, Iklim dan  Pelanggaran HAM Hasil kajian yang dikeluarkan Climate Right Internasional di Jakarta pada Kamis 17 Januari 2024  menyebutkan  industri nikel raksasa bernilai milyaran dollar di Maluku Utara dan pertambangan nikel di sekitarnya telah melanggar hak asasi penduduk lokal, termasuk Masyarakat Adat, menyebabkan deforestasi yang signifikan, pencemaran udara […]

  • Tanya Izin Perusahaan, DPRD Haltim Datangi Dishut Malut

    • calendar_month Sel, 26 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 418
    • 0Komentar

    Rapat Komisi III dengan Dinas Kehutnan Provinsi Maluku Utara

  • Setahun Ribuan Kali Gempa Terjadi di Malut

    • calendar_month Jum, 4 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 547
    • 1Komentar

    Ada 11 Ancaman  Serius Bencana Bagi   Masyarakat Gempa bumi tektonik bermagnitudo M 6,1 mengguncang wilayah Maluku Utara terjadi   pukul 17.09 WIB, Kamis (3/6/2021). Gempa itu  tidak berpotensi tsunami. Berdasarkan hasil analisis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), episenter gempa bumi ini terletak pada koordinat 0.41 LU dan 126.23 BT. Lokasi tepatnya berada di laut […]

  • Pogram Perhutanan Sosial (PPS) Mati Suri

    • calendar_month Jum, 17 Jun 2022
    • account_circle
    • visibility 437
    • 2Komentar

    Hutan Halmahera

  • Pulau Kecil, Kaya Biodiversitas Tapi Rentan

    • calendar_month Sen, 10 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 527
    • 0Komentar

    Pembangunan di pulau-pulau kecil tidak cukup sekadar membangun berbagai fasilitas, salah satunya seperti pariwisata. Keberadaan  fasilitas yang menunjang wisatawan  di satu sisi bisa menjadi ancaman kelestarian sumber daya alam. Karena itu  pemerintah perlu menyusun peta jalan pembangunan berkelanjutan untuk pulau-pulau kecil. “Perlu memerhatikan daya dukung lingkungan pulau-pulau kecil,’’kata Guru Besar Kelautan Universitas Mataram Prof Sitti […]

expand_less