Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Sampah Plastik di Laut Malut Menghawatirkan

Sampah Plastik di Laut Malut Menghawatirkan

  • account_circle
  • calendar_month Sen, 16 Nov 2020
  • visibility 632

Sampah plastik yang masuk ke laut sudah sangat memprihatinkan. Ketika datang musim hujan berton- ton sampah termasuk plastik  masuk ke laut. Sampah  yang berasal dari barangka (kali mati,red) dan saluran drainase menuju laut terbilang sangat banyak.

Jumat (30/10/2020) pagi lalu misalnya, ketika   hujan di daerah hulu  sekira 30 menit, sampah sudah memenuhi kawasan laut Pelabuhan Bastiong. Sampah sampah itu turun ke laut  dibawa banjir, dicurigai berasal dari rumah- rumah warga yang berada tidak jauh dari kali mati dan barangka di daerah hulu. 

Hamparan sampah yang menghiasi laut Halmahera foto/m ichi

Wartawan media ini melihat langsung sampah yang masuk ke laut pagi itu. Saat hendak ke Pulau Makian  Halmahera Selatan  untuk tugas liputan,  dan  saat itu menunggu kapal  berangkat, tiba-tiba  banjir sampah datang  memenuhi   kawasan laut tersebut.  Banyak penumpang  kapal melihat kejadian ini turut prihatin dan angkat bicara. Mereka, menganggap  kesadaran warga kota masih rendah  dalam  penanganan sampah.  “Tidak sadar dorang ini (mereka,rd)  yang tinggal di pinggir barangka (kali mati, red). Mereka buang sampah ke barangka ahirnya ketika datang hujan, sampah dibawa banjir dan mengotori laut,” komentar Mahmud Tawari  penumpang kapal Lola Jaya asal Tahane Makean Pulau. Dia bilang kesadaran yang rendah  membuat laut dan darat dipenuhi sampah.

Selasa (9/11/2020) pekan  lalu ketika dalam perjalanan dari Gane Barat  ke Ternate dengan kapal menyaksikan   laut di depan pulau Tidore dan  Halmahera  sepanjang mata memandang terlihat sampah plastic terhampar menghiasi laut. Sampah-sampah itu terhampar seluas dua kali lapangan sepak bola.  Diduga kuat sampah-sampah ini   kiriman dari Ternate dan Tidore  usai banjir.

Mirisnya, kondisi sampah plastic di laut Ternate dan Tidore ini belum menjadi perhatian semua pihak untuk diperangi. Hingga kini sampah masih bebas dibuang di barangka dan masuk ke saluran drainase.

Pemerintah Kota Ternate melalui Kabid Persampahan Dinas Lingkuhan Hidup Kota Ternate, Yus Karim  mengaku dari 80 ton sampah yang diproduksi  warga kota, setiap hari, sekira 20 ton tidak terangkut. Akhirnya masuk ke  barangka dan saluran air atau drainase.  Produksi sampah tiap saat terus meningkat karena penduduk Kota Ternate  terus bertambah. Volume sampah  2017- 2019 mencapai 60-65 Ton per hari dan pada 2020 meningkat 80  ton per hari.

Sampah di laut kawasan Pelabuhan Bastiong usai banjir

Kategori sampah bervariasi, antara lain sampah rumah tangga, sampah tak terduga, sampah daur ulang dan lainya. Pengangkutan sampah memang dalam satu hari dilakukan rutin dua kali pengangkutan. Dalam satu minggu bisa 12 kali.  Meski demikian tidak bisa teratasi secara keseluruhan.  

Produksi   sampah semakin banyak, sementara dari sisi  armada  terbatas. Mobil angkut yang melayani  hanya ada 6 unit mobil armroll, 18 unit dump truk , dan 6 unit pick up jenis L300.  Artinya  fasilitas yang dibutuhkan masih sangat minim.

Soal sampah yang masuk ke laut ini menjadi masalah tersendiri. Yang paling dirasakan dampaknya adalah alat transportasi laut terutama speedboat dan kapal.

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Maluku Utara  Armin Zakaria belum lama ini di Sofifi mengaku, ikut gerah dengan sampah plastic di laut ini. Sebenarnya ini persoalan serius dihadapi Maluku Utara. Dia bilang sampah plastik   tersebar di tepi pantai  dan bantaran kali mati. Sampahnya  sangat banyak. Karena itu ketika turun hujan  dan terjadi banjir, langsung dibawa ke laut sehingga ikut mengancam transportasi laut. “Kita perlu mencontoh daerah lain seperti Labuan Bajo Pulau Komodo, sampah plastik itu didaur ulang. Ada perusahaan air mineral danone  membeli botol botol bekas yang digunakan  para wisatawan untuk minum  langsung diolah kembali,”katanya.

Beragam sampah yang menghiasi laut Halmahera foto/michi

Dia bilang, banyak dampak sampah plastik. Baik terhadap transportasi maupun biota laut.  Sudah banyak sekali kejadian akibat sampah. Misalnya karung plastic yang melingkari mesin speedboat. Ini sangat membahayakan keselamatan.  Masalah ini jika terus dibiarkan  akan mengancam  masa depan laut ini. Masalah ini kata dia bagi orang kebanyakan mungkin dianggap biasa saja. Padahal dampaknya  sangat mengkhawatirkan, terutama untuk transportasi laut dan  biota yang memakan sampah plastik.  Karena masalah ini dia meminta mereka yang bertarung dalam Pemilihan Kepala Daerah agar tidak lupa memasukan isu ini,  sebagai salah satu program yang mesti ikut didorong.  Dia bilang, sampah- sampah ini memang sumber utamanya dari warga Kota di Pulau Ternate  kemudian itu dikirim ke laut  dan terdampar ke mana-mana. Akhirnya  pulau lain di Maluku Utara juga ikut terkena imbas. Dia berharap ada perhatian serius dari pemerintah kota menyangkut persoalan ini. Jika tidak dan dibiarkan terus menerus, maka  sampah plastik dan ancamannya terhadap laut semakin mengkhawatirkan. “Kita perlu gerakan yang massif  mengatasi masalah ini, didukung dengan regulasi berupa Perda mengatur  sampah plastik ini,” katanya.

Maluku Utara yang juga daerah kepulauan didorong pariwisatanya. Sementara banyak wisatwan datang mengeluhkan banyaknya sampah plastic di laut. Karena kondisi ini  dia lantas mengimbau pemilik transportasi kapal  menyiapkan tempat sampah di atas kapal. Terutama  transportasi antar pulau.

 “Kami segera membuat imbauan untuk pemilik speedboat dan kapal antarpulau menyiapkan tempat sampah  di kapal mereka,”jelas Armin. (*)   

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dulu Kaya dari  Perkebunan, Kini  Lahannya Lenyap (2)

    • calendar_month Sab, 31 Mei 2025
    • account_circle
    • visibility 1.299
    • 0Komentar

    Kabupaten Halmahera Tengah sebelum massivenya tambang nikel seperti sekarang, dikenal sebagai salah satu daerah pertanian dan perkebunan, kelapa, pala, cengkih dan kakao. Daerah ini juga  memiliki beberapa kawasan transmigrasi sebagai lumbung pangan Halmahera Tengah. Luas Kabupaten Halmahera Tengah mencapai 227.683 hektar.  Namun dari luasan daratan itu saat ini  terbebani 66 izin usaha pertambangan (IUP) dengan […]

  • Dampak Industri Ekstraktif di Malut Sangat Serius

    • calendar_month Jum, 23 Agu 2024
    • account_circle
    • visibility 912
    • 0Komentar

    BRIN: Kelestarian dan Kelangsungan Ekosistem Pulau-pulau Makin Terancam   Dampak industry ekstraktif bagi kelestarian dan kelangsungan ekosistem  terutama di pulau pulau kecil seperti di Maluku Utara sangat serius. Kehadiran industry padat modal  terutama pertambangan mineral diberbagai tempat termasuk di Maluku Utara disebut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)  mengancam lingkungan, biodiversitas dan manusia di dalamnya. […]

  • Cara Tangkap Tuna Nelayan Maluku Utara Dipresentasikan di World Expo 2025

    • calendar_month Rab, 4 Jun 2025
    • account_circle
    • visibility 1.548
    • 0Komentar

    Indonesia  membawa isu keberlanjutan perikanan tuna dalam  World Expo 2025  di Osaka, Jepang. Isu ini muncul karena tuna adalah komoditas penting bagi Indonesia, terutama para nelayan kecil dan tradisional.  World Expo 2025 Osaka  sendiri adalah pameran dunia  yang diselenggarakan di Osaka, Jepang, dari 13 April hingga 13 Oktober 2025 dengan  tema “Merancang Masyarakat Masa Depan untuk Kehidupan […]

  • Wilayah Kelola Hutan Oleh KPH Bertambah

    • calendar_month Jum, 25 Mar 2022
    • account_circle
    • visibility 1.117
    • 1Komentar

    BPHP- KPH  Bahas Update  Peta Arahan HP-HL di Malut  Arahan pemanfaatan hutan produksi- hutan lindung mulai dibahas. Pembahasan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Balai Pengelolaan Hutan Produksi (BPHP) Wilayah XIV Ambon itu, dilaksanakan di hotel Muara Ternate, Kamis (24/3/2022). BPHP yang membawahi wilayah Maluku dan Maluku Utara membahasnya  dengan  gelar Focus Discussion Group […]

  • Fragmentasi Habitat, Burung di Pulau Ternate Terancam

    • calendar_month Ming, 13 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 881
    • 2Komentar

    Burung Srigunting lencana

  • Muslimat NU Morotai Diharapkan Bantu Pemda

    • calendar_month Sen, 21 Feb 2022
    • account_circle
    • visibility 553
    • 1Komentar

    Organisasi Perempuan Nahdlatul Ulama, Muslimat NU  resmi hadir di Kabupaten Pulau Morotai. Pengurus organisasi ini dilantik pada  Kamis (10/2/2022) malam lalu. Pelantikanya dipusatkan di Islamic Center  Morota,  dirangkai  dengan  dzikir dan doa bersama keluarga besar NU Pulau Morotai, pemerintah daerah, tokoh agama   serta tokoh masyarakat setempat.  Sementara Pengurus Muslimat NU Morotai yang dilantik adalah […]

expand_less