Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Ini Masalah Warga Pulau Kecil di Halmahera Selatan  

Ini Masalah Warga Pulau Kecil di Halmahera Selatan  

  • account_circle
  • calendar_month Jum, 4 Feb 2022
  • visibility 798

Dari Dampak Bencana Iklim, Air Bersih, Listrik dan Infrastruktur

Hidup di pulau kecil seperti meniti di atas masalah. Rentan dari berbagai bencana akibat perubahan iklim,  serta akses yang terbatas. Tak itu saja, perhatian pembangunan juga kadang  luput dari perhatian. Gambaran tersebut nyata  dirasakan oleh warga yang mendiami pulau-pulau kecil di Kabupaten Halmahera Selatan saat ini.

Saat mengunjungi sejumlah pulau di daerah ini, menemukan persoalan tersebut sangat dirasakan warga setempat. Karena itu mereka butuh   perhatian  serius dari pemerintah dan elemen terkait lainnya.

Di Januari awal pekan ini,  kabarpulau.co.id/ berkeliling ke beberapa pulau dan kampung di Bacan Timur, Pulau Kasiruta dan Pulau Moari di Kayoa Barat. Ada 8 kampung   sempat dikunjungi. Dari  kunjungan itu mayoritas warga  mengeluhkan  masalah  dan  menanti   perhatian pembangunan. Masalah yang warga hadapi di pulau pulau itu misalnya dampak perubahan iklim dan kenaikan permukaan air laut,  penerangan dan jaringan listrik, air bersih, keterbatasan akses telekomunikasi serta infrastruktur jalan dan jembatan.

Proyek air bersih yang mangkrak dan terbengkalai di desa Boki Mi Ake Pulau Moari Kayoa Barat

Hal ini turut disuarakan warga saat didatangi anggota DPRD Provinsi Maluku Utara Daerah Pemilihan IV Kabupaten Halmahera Selatan yang melakukan reses atau mendengar langsung masukan  masalah pembangunan dari  daerah pemilihan ini. Masukan ini  nanti  dibawa ke provinsi untuk dibahas selanjutnya dibiayai pembangunan penyelesaiannya.

“Reses ini bagian dari tugas DPRD, di mana  perlu datang ke  masyarakat dan mendengar langsung apa yang menjadi keluhan dan masalah pembangunan. Masalah   ini kemudian digodok dan dilihat prioritas dan urgensinya untuk dibiayai,” jelas M Rahmi  Husen saaat   reses di 8 Desa di Halmahera Selatan

Rahmi yang juga politisi partai democrat itu mendapatkan keluhan dari warga terkait berbagai persoalan pembangunan dan    mereka meminta segera ada solusi.

“Persoalan kami salah satunya penerangan atau listrik. Di desa ini jaringan listrik dari PLN  sudah hamper dua tahun terpasang tetepi sampai sekarang belum juga menyala. Beruntung  masih   ada mesin genset  pribadi dan sebagian warga menggunakan  lampu solar cell,”kata Kepala Desa Hate Jawa   Moari Kayoa  Ansar Hi Gani saat  reses anggota DPRD Malut itu. Di desa Hatejawa tidak hanya masalah listrik tetapi juga menyangkut air bersih dan jembatan laut yang saat ini kondisinya sangat memprihatinkan. Pasalnya akibat gempa beberapa tahun lalu menyebabkan jembatan laut sebagian bangunannya ambrol. Karena itu ketika pasang naik jembatan laut tersebut tenggelam.

Tambatan perahu Desa Sidanga yang rusak parah tapi mash dimanfaatkan warga setempat

Masih di pulau Moari  Kayoa Barat  di desa Boki Miaake   berkutat dengan persoalan air bersih. Pasalnya   proyek air bersih di desa ini bermasalah  atau mangkrak dan sampai saat ini tidak diselesaikan.  Proyek   Pemkab Halmahera Selatan itu dibangun sejak 2017  dan terbengkalai hingga saat ini. Jangankan airnya pipa saluran air saja tidak diselesaikan akhirnya bak penampung  yang dibangun hanya terbiar percuma. Selain masalah air bersih ada lagi  pembangunan sejumlah infrastruktur desa yang sangat dibutuhkan. Sebut saja jalan dan jembatan yang menghubungkan ke beberapa sarana umum desa tersebut. “Kita sangat butuh jembatan penghubung ke sekolah SMP di desa ini yang berada di seberang sungai Boki Miake. Jika tidak ada jembatan warga dan anak sekolah sangat kesulitan,” kata Kades Boki Miake Lutfi AK Basrah  di hadapan anggota DPRD  Minggu (31/1/2022) lalu. Hal serupa disuarakan   warga Desa  Sidanga dan Tawa. Di dua desa ini fasilitas yang paling mendesak dan perlu segera ada perhatian adalah sarana tambatan perahu atau   jembatan laut. Sarana ini sangat dibutuhkan karena menunjang aktivitas warga  sehari hari.  Di Desa Sidanga jembatan lautnya sudah rusak parah sehingga rentan   roboh atau warga bisa terperosok  masuk dari sela sela lantai jembatan laut   yang sudah rusak.

Sementara di Desa Marituso  Kasiruta Barat masalah paling mendesak yang perlu diperhatikan adalah talud penahan ombak atau air laut. Pasalnya, karena dampak gelombang pasang beberapa waktu lalu   tembok penahan ombak patah. Akibatnya saat ini  laut pasang  kampung ini  nyaris tenggelam. Air laut masuk sampai ke dalam  perkampungan.

Rumah rumah di tepi pantai Pulau Tauwale Kecil Dusun II Desa Marituso yang terancam tenggelam kala air pasang, foto M Ichi

“Masalah ini sangat serius. Jika tidak segera ditangani maka kampung  Marituso bisa tenggelam,” keluh Ketua BPD Desa Marituso Iksan Mohdar   Minggu (31/1/2022) lalu.  

Kebutuhan jembatan laut yang sangat mendesak juga disuarakan warga Desa Timlonga Bacan Timur. Pasalnya untuk memudahkan akses dan aktivitas warga  sangat dibutuhkan adanya pembangunan dermaga  atau tambatan perahu yang representative jauh  dari  terjangan  badai dan   gelombang. “Kebutuhan kami yang paling mendesak adalah membangun jembatan laut atau dermaga yang aman dari gelombang,” ujar Kepala  Desa Timlonga Bacan Timur   Nurdin M Nur.

Warga Sidanga Kasiruta Barat hadiri reses dan sampaikan aspirasi mereka

Sementara di  desa Posi posi Kayoa Selatan warga  mengeluhkan kondisi air minum mereka yang sudah mulai payau. Karena itu mereka  sangat butuh segera ada upaya perbaikan dan pembenahan. Tidak itu saja di  desa ini juga warga adanya  penyiapan tempat penampungan air berupa profil tank. Profil tenk ini sangat dibutuhkan karena desa di pulau Waidoba Kayoa ini sangat bermasalah dengan kualitas air bersihnya.

Rahmi saat menerima berbagai keluhan dan penyampaian menyangkut  masalah yang mereka hadapi menyatakan akan membawa hal ini ke DPRD untuk dibahas dan dilihat skala prioritasnya  sehingga bisa segera dibangun atau diadakan. “ Kita lihat skala prioritas  masalah yang disuarakan  karena anggaran daerah juga terbatas sementara kebutuhan yang sama juga  di 10 kabupaten/kota di Maluku Utara,” ujar Rahmi  saat  reses di beberapa desa tersebut. (*)   

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Waspada Bahaya Di Balik Curah Hujan Ekstrim

    Waspada Bahaya Di Balik Curah Hujan Ekstrim

    • calendar_month Sen, 18 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 211
    • 0Komentar

    Penulis: Mohamamd Ridwan Lessy (Dosen Ilmu kelautan dan Plt Ketua Forum PRB Kota Ternate) Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih mengguyur Kota Ternate sepanjang beberapa hari belakangn ini, dengan potensi peningkatan curah hujan pada sore hingga malam hari yang disertai petir dan angin kencang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Baabullah […]

  • Perempuan Mapala Bicara Perubahan Iklim

    • calendar_month Kam, 13 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 1.327
    • 0Komentar

    Soroti  Reklamasi hingga  Sampah Pembalut Wanita  Perkumpukan Paka Tiva Maluku Utara,  sebuah lembaga non profit yang bekerja untuk pendampingan warga  dan concern  untuk isu literasi,  budaya dan ekologi,  menggelar Seri Diskusi Pencinta Alam Maluku Utara.  Diskusi Rabu (12/8) di jarod cafe BTN, adalah   kedua kalinya. Pesertanya  Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala)  dari berbagai perguruan tinggi di […]

  • Melihat Kehati Halmahera Lewat Bird Race Competition   

    Melihat Kehati Halmahera Lewat Bird Race Competition   

    • calendar_month Sel, 28 Jul 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 61
    • 0Komentar

    Halmaherapedia– International Bird Race Competition 2026 pertama digelar di  Maluku Utara. Acara  ini secara resmi dibuka pada Senin (27/7/2026). Kegiatan yang diinisiasi oleh Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (BTNAL) ini diikuti  puluhan peserta dari berbagai latar belakang.  Mahasiswa, sektor swasta, fotografer profesional, hingga  dari mancanegara. Acara ini digelar sebagai bentuk memperkenalkan potensi pusat keanekaragaman hayati di […]

  • Kala Pantai Kota Ternate Nyaris Habis karena Reklamasi

    • calendar_month Rab, 20 Feb 2019
    • account_circle
    • visibility 1.446
    • 0Komentar

    Beberapa  kawasan di Kota Ternate yang dulunya masih memiliki pantai  dengan pasir pantainya yang menawan kini nyaris habis  karena adanya reklamasi.  Tengoklah ke kawasan selatan kota Ternate  di wilayah  Kayu Merah dan Kalumata.  Proyek reklamasi yang dikerjakan sepanjang  2017 lalu itu mulai merambah  pantai kawasan itu.  Bahkan proyek rekmalasi   untuk tahap berikutnya  dalam program multi year segera […]

  • O Hongana Manyawa Penjaga Bumi Halmahera

    • calendar_month Rab, 15 Des 2021
    • account_circle
    • visibility 872
    • 0Komentar

    O Hongana Manyawa di Sungai Ake Jira foto AMAN Malut

  • Sagu, Pangan Lokal dan Identitas Warga Sagea (2)

    • calendar_month Ming, 7 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 1.226
    • 0Komentar

    Terjualnya kebun sagu ikut memunculkan kekuatiran luar biasa terkait nasib pangan warga Sagea Weda Utara Halmahera Tengah Maluku Utara  di masa depan. Saat ini pangan lokal seperti pisang, singkong dan keladi saja hamper semua didatangkan dari luar daerah. Karena itu jika lahan sagu yang sudah terjual digusur perusahaan, pupuslah harapan warga setempat bisa mendapatkan sagu […]

expand_less