Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Ini Masalah Warga Pulau Kecil di Halmahera Selatan  

Ini Masalah Warga Pulau Kecil di Halmahera Selatan  

  • account_circle
  • calendar_month Jum, 4 Feb 2022
  • visibility 937

Dari Dampak Bencana Iklim, Air Bersih, Listrik dan Infrastruktur

Hidup di pulau kecil seperti meniti di atas masalah. Rentan dari berbagai bencana akibat perubahan iklim,  serta akses yang terbatas. Tak itu saja, perhatian pembangunan juga kadang  luput dari perhatian. Gambaran tersebut nyata  dirasakan oleh warga yang mendiami pulau-pulau kecil di Kabupaten Halmahera Selatan saat ini.

Saat mengunjungi sejumlah pulau di daerah ini, menemukan persoalan tersebut sangat dirasakan warga setempat. Karena itu mereka butuh   perhatian  serius dari pemerintah dan elemen terkait lainnya.

Di Januari awal pekan ini,  kabarpulau.co.id/ berkeliling ke beberapa pulau dan kampung di Bacan Timur, Pulau Kasiruta dan Pulau Moari di Kayoa Barat. Ada 8 kampung   sempat dikunjungi. Dari  kunjungan itu mayoritas warga  mengeluhkan  masalah  dan  menanti   perhatian pembangunan. Masalah yang warga hadapi di pulau pulau itu misalnya dampak perubahan iklim dan kenaikan permukaan air laut,  penerangan dan jaringan listrik, air bersih, keterbatasan akses telekomunikasi serta infrastruktur jalan dan jembatan.

Proyek air bersih yang mangkrak dan terbengkalai di desa Boki Mi Ake Pulau Moari Kayoa Barat

Hal ini turut disuarakan warga saat didatangi anggota DPRD Provinsi Maluku Utara Daerah Pemilihan IV Kabupaten Halmahera Selatan yang melakukan reses atau mendengar langsung masukan  masalah pembangunan dari  daerah pemilihan ini. Masukan ini  nanti  dibawa ke provinsi untuk dibahas selanjutnya dibiayai pembangunan penyelesaiannya.

“Reses ini bagian dari tugas DPRD, di mana  perlu datang ke  masyarakat dan mendengar langsung apa yang menjadi keluhan dan masalah pembangunan. Masalah   ini kemudian digodok dan dilihat prioritas dan urgensinya untuk dibiayai,” jelas M Rahmi  Husen saaat   reses di 8 Desa di Halmahera Selatan

Rahmi yang juga politisi partai democrat itu mendapatkan keluhan dari warga terkait berbagai persoalan pembangunan dan    mereka meminta segera ada solusi.

“Persoalan kami salah satunya penerangan atau listrik. Di desa ini jaringan listrik dari PLN  sudah hamper dua tahun terpasang tetepi sampai sekarang belum juga menyala. Beruntung  masih   ada mesin genset  pribadi dan sebagian warga menggunakan  lampu solar cell,”kata Kepala Desa Hate Jawa   Moari Kayoa  Ansar Hi Gani saat  reses anggota DPRD Malut itu. Di desa Hatejawa tidak hanya masalah listrik tetapi juga menyangkut air bersih dan jembatan laut yang saat ini kondisinya sangat memprihatinkan. Pasalnya akibat gempa beberapa tahun lalu menyebabkan jembatan laut sebagian bangunannya ambrol. Karena itu ketika pasang naik jembatan laut tersebut tenggelam.

Tambatan perahu Desa Sidanga yang rusak parah tapi mash dimanfaatkan warga setempat

Masih di pulau Moari  Kayoa Barat  di desa Boki Miaake   berkutat dengan persoalan air bersih. Pasalnya   proyek air bersih di desa ini bermasalah  atau mangkrak dan sampai saat ini tidak diselesaikan.  Proyek   Pemkab Halmahera Selatan itu dibangun sejak 2017  dan terbengkalai hingga saat ini. Jangankan airnya pipa saluran air saja tidak diselesaikan akhirnya bak penampung  yang dibangun hanya terbiar percuma. Selain masalah air bersih ada lagi  pembangunan sejumlah infrastruktur desa yang sangat dibutuhkan. Sebut saja jalan dan jembatan yang menghubungkan ke beberapa sarana umum desa tersebut. “Kita sangat butuh jembatan penghubung ke sekolah SMP di desa ini yang berada di seberang sungai Boki Miake. Jika tidak ada jembatan warga dan anak sekolah sangat kesulitan,” kata Kades Boki Miake Lutfi AK Basrah  di hadapan anggota DPRD  Minggu (31/1/2022) lalu. Hal serupa disuarakan   warga Desa  Sidanga dan Tawa. Di dua desa ini fasilitas yang paling mendesak dan perlu segera ada perhatian adalah sarana tambatan perahu atau   jembatan laut. Sarana ini sangat dibutuhkan karena menunjang aktivitas warga  sehari hari.  Di Desa Sidanga jembatan lautnya sudah rusak parah sehingga rentan   roboh atau warga bisa terperosok  masuk dari sela sela lantai jembatan laut   yang sudah rusak.

Sementara di Desa Marituso  Kasiruta Barat masalah paling mendesak yang perlu diperhatikan adalah talud penahan ombak atau air laut. Pasalnya, karena dampak gelombang pasang beberapa waktu lalu   tembok penahan ombak patah. Akibatnya saat ini  laut pasang  kampung ini  nyaris tenggelam. Air laut masuk sampai ke dalam  perkampungan.

Rumah rumah di tepi pantai Pulau Tauwale Kecil Dusun II Desa Marituso yang terancam tenggelam kala air pasang, foto M Ichi

“Masalah ini sangat serius. Jika tidak segera ditangani maka kampung  Marituso bisa tenggelam,” keluh Ketua BPD Desa Marituso Iksan Mohdar   Minggu (31/1/2022) lalu.  

Kebutuhan jembatan laut yang sangat mendesak juga disuarakan warga Desa Timlonga Bacan Timur. Pasalnya untuk memudahkan akses dan aktivitas warga  sangat dibutuhkan adanya pembangunan dermaga  atau tambatan perahu yang representative jauh  dari  terjangan  badai dan   gelombang. “Kebutuhan kami yang paling mendesak adalah membangun jembatan laut atau dermaga yang aman dari gelombang,” ujar Kepala  Desa Timlonga Bacan Timur   Nurdin M Nur.

Warga Sidanga Kasiruta Barat hadiri reses dan sampaikan aspirasi mereka

Sementara di  desa Posi posi Kayoa Selatan warga  mengeluhkan kondisi air minum mereka yang sudah mulai payau. Karena itu mereka  sangat butuh segera ada upaya perbaikan dan pembenahan. Tidak itu saja di  desa ini juga warga adanya  penyiapan tempat penampungan air berupa profil tank. Profil tenk ini sangat dibutuhkan karena desa di pulau Waidoba Kayoa ini sangat bermasalah dengan kualitas air bersihnya.

Rahmi saat menerima berbagai keluhan dan penyampaian menyangkut  masalah yang mereka hadapi menyatakan akan membawa hal ini ke DPRD untuk dibahas dan dilihat skala prioritasnya  sehingga bisa segera dibangun atau diadakan. “ Kita lihat skala prioritas  masalah yang disuarakan  karena anggaran daerah juga terbatas sementara kebutuhan yang sama juga  di 10 kabupaten/kota di Maluku Utara,” ujar Rahmi  saat  reses di beberapa desa tersebut. (*)   

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Indonesia Luncurkan Peta Jalan dan Panduan Aksi Ekosistem Karbon Biru di COP 30 Brazil

    Indonesia Luncurkan Peta Jalan dan Panduan Aksi Ekosistem Karbon Biru di COP 30 Brazil

    • calendar_month Sen, 1 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 464
    • 0Komentar

    BELEM, (19/11) – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Kementerian Lingkungan Hidup secara resmi meluncurkan Peta Jalan dan Panduan Aksi Ekosistem Karbon Biru Indonesia pada COP 30 UNFCCC di Belém, Brasil, Senin (17/11). Dokumen ini memberikan arah kebijakan dan langkah terkoordinasi untuk melindungi, memulihkan, dan mengelola ekosistem karbon biru, yakni mangrove, padang lamun, […]

  • Galala, Identitas Kampung yang Terancam Punah

    • calendar_month Kam, 16 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 1.530
    • 2Komentar

    Daun Pohon Galala

  • Masyarakat Sipil Desak Bank Stop Danai Nikel Bertenaga Batu Bara Milik Grup Harita

    • calendar_month Rab, 8 Okt 2025
    • account_circle
    • visibility 741
    • 0Komentar

    Sejumlah organisasi masyarakat sipil yang terdiri dari Market Forces, Enter Nusantara, JATAM, dan Trend Asia, bersama dua pendeta dari Obi menggelar aksi teatrikal di depan kantor bank-bank yang masih mendanai operasi smelter nikel milik grup Harita di Pulau Obi, Maluku Utara pada 1 Oktober lalu. Dalam aksi ini, para aktivis menampilkan instalasi kuda troya sebagai […]

  • Halmahera Timur, Ayam Mati di Lumbung Padi?

    • calendar_month Sel, 22 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 904
    • 0Komentar

    Kaya Tambang, Kemiskinan Ekstrem dan Stunting Tinggi Pada November 2022 lalu, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)  mengeluarkan sebuah rilis  yang sangat menyayat hati. Rilis  itu mengangkat kondisi riil  kemiskinan ekstrem masyarakat Kabipaten Halmahera Tmur. Tidak itu saja r mengungkap kondisi anak anak yang angka stuntingnya  sangat tinggi di seluruh wilayah Maluku Utara.   Rilis […]

  • 14 Lurah di Ternate Utara Jadi Mahimo Gam   

    • calendar_month Sel, 16 Agu 2022
    • account_circle
    • visibility 953
    • 1Komentar

    Ternate  dikenal sebagai negeri   adat  se atorang. Karena itu segala sesuatu mestinya berdasar pada ketentuan yang diatur  oleh adat seatorang di Kesultanan Ternate.  Dalam hal perangkat dan struktur pemerintahan baik penamaan dan penyebutannya  sudah saatnya mengikuti   pada adat se-atorang  di kesultanan Terante tersebut.  Setidaknya,  hal ini   kemudian,   14 lurah di Kota Ternate Utara, dikukuhkan sebagai […]

  • Peneliti BRIN Temukan 1.583 Spesies  Baru Indonesia    

    Peneliti BRIN Temukan 1.583 Spesies  Baru Indonesia   

    • calendar_month Sab, 6 Jun 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 510
    • 0Komentar

    Indonesia sebagai salah satu negara megabiodiversitas dunia memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga dan mengelola kekayaan hayatinya secara berkelanjutan. Penemuan spesies baru bukan sekadar capaian akademik, tetapi bagian penting dari upaya perlindungan lingkungan dan pembangunan berbasis ilmu pengetahuan. Setidaknya ini menjadi komitmen Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam upaya mengungkap kekayaan hayati Indonesia. Saat […]

expand_less