Breaking News
light_mode
Beranda » Lingkungan Hidup » Pulau-pulau Makin Terancam Sampah Plastik

Pulau-pulau Makin Terancam Sampah Plastik

  • account_circle
  • calendar_month Sab, 19 Nov 2022
  • visibility 887

Kawasan Pasir Putih di Morotai Tertutupi Sampah

Pulau-pulau di Maluku Utara saat ini sangat terancam dengan sampah. Terutama sampah yang masuk ke laut  dan kemudian kembali ke pantai.  Ada beragam jenis sampah ditemui di tepi pantai. Plastic terutama kantong kresek, botol bekas minuman, sachet  berbagai makanan ringan dan beragam kebutuhan lainnya. Tidak itu saja ada  kayu bahkan batang pohon dan berbagai alat rumah tangga.  

Di laut   sejumlah pulau  saat ini, mengapung  bahkan ada yang sudah terdampar berbagai jenis sampah. Sebagian  bahkan telah terdampar dan  menutupi kawasan pantai. Di Ternate sendiri bisa disaksikan setiap saat di kala selepas hujan lebat air dari kali mati dan selokan yang menuju ke laut dipenuhi beragam jenis sampah. Begitu juga di pulau sekitarnya seperti Tidore, Maitara, Mare  Moti Makean dan masih banyak pulau lainnya. Sampah laut ini menjadi masalah paling pelik.

Terbaru terjadi di Pulau Morotai Kabupaten Pulau Morotai. Beberapa waktu belakangan ini kawasan pesisir pantai   Desa Juanga, di Kecamatan Morotai Selatan (Morsel), ditutupi berbagai jens sampah dari  plastic, kayu bahkan alat rumah tangga.  Jenis  sampah organik dan non organik itu, berserakan di  kawasan pantai berpasir putih yang dulunya (2014,red) bersih karena dijadikan  lokasi  Sail Morotai.Tumpukan sampah tak hanya di kawasan pelabuhan fery, sampah juga bertebaran  hingga ke pesisir Pantai  Army Dock.

Anak anak ikut menyaksikan tumpukan sampah di pesisir Morotai, foto HPost

Diduga kuat  sampah yang  bertebaran di pantai dan perairan itu merupakan kiriman  dari laut pasifik dan laut Halmahera. Pasalnya, sampah ini muncul di kala gelombang tinggi dan  musim hujan.

Beberapa warga Juanga terlihat mengais dan mengumpulkan sejumlah sampah plastic bekas    yang masih bisa dimanfaatkan.  Hawania salah satu warga Juanga ditemui Kamis (17/11/2022) siang   mengaku fenomena membludaknya sampah  ini  Ia baru saksikan dan ikut  mengumpulkan  sampah yang masih bisa dimanfaatkan itu.

“Kita dapatkan sampah yang didominasi plastic ini terdampar  pada pagi hari.   Sampah ini tersebar  dari Kampung Juanga hingga kawasan Pelabuhan Feri,” kata Hawania.

Dia mengaku, baru kali ini  melihat banyaknya sampah berserakan  di pesisir pantai Morotai ini.  

“Kami kaget juga melihat sampah yang terdampar begini banyak. Sampah  ini dilihat saat  pagi ini,” ujar dia.

Soal banyaknya sampah plastic yang bertebaran di laut Morotai ini, menurut akademisi Universitas Pasifik (Unipas) Morotai Muhammad Reza Kusman  sebenarnya karena kurang perhatian dari pemerintah. Terutama terkait sampah plastic yang dibuang ke laut.  

Dosen Prodi Teknik Lingkungan itu menjelaskan,   fenomena sampah organik dan anorganik  yang banyak mengapung dan terdampar ini sering menjadi  masalah di perairan.  Baik laut maupun sungai. Menurut dia, biasanya masalah sampah yang muncul  seperti saat ini  adalah sampah kiriman dari pulau terdekat, atau tempat usaha   atau   sampah domestic.  Nah dalam persoalan ini, pengelolaan sampah sebenarnya  dasarnya  pada kesadaran   serta  kebiasaan  orang membuang sampah. Jika warga atau masyarakat membuang sampah ke pantai maka akhirnya sampah itu terbawa ke laut dan kemudian kembali lagi  dan  didaptakan orang lain. “Sampah kiriman itu seperti bom waktu,” katanya.

Dia bilang,  cuaca di wilayah Morotai  yang ekstrim beberapa hari terakhir,  di mana sering turun hujan  lebat ditambah kondisi angin  dan pasang surut  air laut,  ikut membawa sampah yang dibuang ke laut di berbagai tempat  terdampar di daerah Juanga ini.

Dia lalu  usulkan  dalam kasus ini harus ada riset menyangkut problem lingkungan yang dihadapi saat ini terutama masalah sampah plastic yang masuk ke laut. Riset itu dilakukan Pemerintah Daerah melibatkan tokoh masyarakat, LSM dan akademisi agar  hasilnya bisa ditindaklanjuti dengan program   yang nyata dan bermanfaat.

Petugas kebersihan mengangkat sampah di pesisir pantai Ternate foto M Ichi

“Perlu memanfaatkan fasilitas Pemerintah untuk peduli pada soal lingkungan. Selain itu  harus ada perencanaan yang matang karena menjaga lingkungan bukan angan- angan tapi tindakan,”kata

Muhammad Reza.

Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Morotai Siti Samiun Maruapey S.Hut mengatakan, belum lama ini  DKP  sudah melakukan pembersihan.   Namun dengan munculnya sampah yang kembali memenuhi pantai ini mereka akan  kembali membersikan. “Kami segera turun untuk membersihkan tepi pantai  yang   dipenuhi sampah tersebut. Akan menjadi agenda  kegiatan bersih bersih di lokasi eks-Sail. Untuk  warga  dan stakholder yang mau  gabung dipersilakan,”tutupnya. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Merawat Ake Sali, Warisan Air dari Kampung Tua yang Kini Jadi Hutan

    Merawat Ake Sali, Warisan Air dari Kampung Tua yang Kini Jadi Hutan

    • calendar_month Rab, 17 Des 2025
    • account_circle Penulis: Burhanuddin Jamal Warga Kelurahan Tosa Tidore Kepulauan
    • visibility 1.052
    • 0Komentar

    Sebuah Catatan dari Kampung Tomadou Kota Tidore Kepulauan  Di Kota Tidore Kepulauan, tepatnya di Kampung Tomadou Kelurahan Tosa Kecamatan Tidore Timur  memiliki salah satu sumber mata  air yang dikenal dengan Mata Air Ake Sali. Sekitar wilayah  mata air ini dahulunya adalah sebuah perkampungan tua yang dikenal dengan nama Kampung Buku Mira. Warga   Buku Mira ini […]

  • Kemenag Keluarkan SE  Jaga Lingkungan Satuan Pendidikan

    • calendar_month Sen, 27 Jan 2025
    • account_circle
    • visibility 942
    • 0Komentar

    Kementerian Agama membuat imbauan dalam bentuk surat edaran (SE) yang meminta satuan pendidikan proaktif dan peduli menjaga dan memelihara lingkungan. Imbauan ini tertuang dalam Surat Edaran (SE) Direktur Jenderal Pendidkan Islam (Dirjen Pendis) Nomor 1 tahun 2025 tentang Pemeliharaan Lingkungan Satuan Pendidikan. SE yang diterbitkan 14 Januari 2025 ini merupakan tindak lanjut arahan Menteri Agama […]

  • Pulau Mitita Surganya Hiu Sirip Hitam

    • calendar_month Sen, 1 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 1.009
    • 1Komentar

    Kabupaten Pulau Morotai memiliki 33 pulau kecil yang mengelilinginya. Pulau yang tidak berpenghuni berjumlah 26  dan yang berpenghuni   7 pulau. Pulau  yang berpenghuni adalah pulau Morotai (main island), pulau Kolorai, pulau Ngele-ngele kecil, pulau Ngele-ngele besar pulau Golo-golo, pulau Rao, dan pulau Saminyamau. Tahun 2014, Presiden Jokowi menetapkan Pulau Morotai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata […]

  • Sungai Sagea Nasibmu Kini, Keruh Belum Usai   

    • calendar_month Rab, 6 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 2.649
    • 2Komentar

    6 September 2023 “Emas Coklat” Mengalir Sampai Jauh Kuning kecoklatan air sungai Sagea dan kawasan sungai Boki Moruru di Desa Sagea Weda Halmahera Tengah Maluku Utara, yang ditengarai terjadi sejak April 2023 lalu belum juga usai. Informasi yang dihimpun kabarpulau.co.id/ dari lapangan  Selasa pagi, air sungai Sagea kembali keruh setelah sempat bersih beberapa hari.   […]

  • Kisah “Kampung Tua” Tifure di Pulau Batang Dua

    • calendar_month Kam, 17 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 1.323
    • 1Komentar

    Tifure (Kiri) Pulau Gurida (Kanan) Dulu warga yang berkebun di pulau Gurida dijangkau dengan jalan kaki. Kini seiring waktu karena naiknya permukaan air laut untuk menuju pulau Gurida harus menggunakan perahu. foto koleksi pribadi Asgar Saleh

  • 91,3 Persen Nelayan Tuna Maluku Utara Kerap Alami Kelangkaan BBM

    91,3 Persen Nelayan Tuna Maluku Utara Kerap Alami Kelangkaan BBM

    • calendar_month Sen, 17 Agu 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 238
    • 0Komentar

    KPBP Bahas Perbaikan Tata Kelola Subsidi dan Rumpon     Sebanyak 91,3 persen nelayan skala kecil di Maluku Utara mengaku kerap mengalami kelangkaan stok BBM bersubsidi, sementara 63,7 persen terpaksa membeli BBM melalui supplier atau pengecer dengan harga lebih tinggi. Kondisi tersebut meningkatkan biaya operasional melaut dan berdampak pada menurunnya pendapatan nelayan. Temuan tersebut merupakan hasil […]

expand_less