Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Ada Apa, Ikan di Pesisir Ternate Mati Mendadak?

Ada Apa, Ikan di Pesisir Ternate Mati Mendadak?

  • account_circle
  • calendar_month Ming, 10 Sep 2023
  • visibility 713

Peristiwa tidak biasa terjadi di pantai Kelurahan Sasa Kota Ternate Selatan Kota Ternate Maluku Utara  Minggu (10/9/2023) pagi.  Warga di  kawasan pantai  RT05/RW02  itu digegerkan adanya ribuan ikan mati terdampar. Kawasan pantai  yang juga dipenuhi berbagai jenis sampah baik plastic dan  sisa aktivitas rumah tangga itu berserakan bangkai beberapa jenis ikan.

Beberapa    yang diidentifikasi adalah  jenis ikan sembilan dan ikan baronang.  Ikan ikan ini mati dan bercampur dengan sampah di  pantai Sasa. Warga setempat mengaku baru tahu sekira pukul 09.00 WIT.

“Ikan mati ini baru ditemukan Minggu pagi ini. Saya ke sini sudah  lihat  ikan- ikan kecil mati berserakan,” kata Risno nelayan Kelurahan Sasa. Dia mengaku tak tahu penyebab ikan- ikan itu mati.

Akibat sampah juga ikan mati yang berserakan,   tercium aroma tidak sedap mengganggu kenyamanan warga yang rumahnya dekat dengan bibir pantai.  Haidir  (60 tahun) warga Sasa  mengaku, kejadian ini diketahui Minggu pagi. “Pagi tadi baru tahu, ada banyak ikan mati di pesisir pantai. Tapi, kita tidak tahu penyebabnya,”  katanya.  

Yunita juga warga Sasa menyampaikan bahwa selain ikan mati, sampah plastik yang terdampar di pesisir pantai ini  juga sangat mengganggu. Sampah diakui  berasal dari warga di ketinggian  yang membuang ke selokan atau saluran air lalu terbawa  dan menumpuk   serta mengotori  pesisir pantai Sasa. Dulunya pesisir pantai ini, menjadi tempat anak- anak  mandai di pantai. Tapi belakngan sejak banyak sampah mereka enggan  mandi di pantai lagi.

Ikan-mati-menumpuk-bersama-sampah-di-tepi-pantai-Sasa foto Cermat

Terkait kematian ikan, Yunita mengaku,kejadian seperti ini sudah beberapa kali, tapi tidak sebanyak sekarang. “Ikan yang mati sekarang ini sangat banyak,” katanya. Lalu apa penyebab kematian ikan ini?  

Pihak Dinas Lingkungan Hidup Kota Ternate mengaku sudah mengambil sampel.  Baik ikan maupun air lautnya. “Kita baru akan lakukan uji sampel untuk mengetahui sumber pencemar hingga ikan di pesisir pantai Kastela ini alami kematian massal. Sampel yang diambil  akan diuji di lab Balai/Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit  (BTLPP) Manado,” jelas Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH Kota Ternate, Syarif Tjan.

Dikonfirmasi Minggu malam dia mengaku baru mengambil sampel. Dari sampel itu  ada lima parameter yang akan diuji yakni parameter fisik, kimia, biologi, logam terlarut dan radiologi  “Ini adalah data yang nanti dbutuhkan untuk mengetahui sumber pencemar matinya ikan di pesisir pantai Sasa ini,” jelasnya..    

Doktor Muhammad Aris Peneliti  dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Khairun Ternate bilang, soal ini diperlukan analisis sampel di laboratorium. Namun katanya kalau melihat  kematian ikan secara massal seperti ini, merupakan karakteristik kematian ikan karena penyakit non pathogen.  Artinya disebabkan bahan pencemar yang masuk badan air.  “Nah ini  yang harus dideteksi lebih mendalam jenis bahan pencemarnya kira- kira apa.  Makanya perlu  dilakukan studi secepatnya,”katanya.

Dia contohkan blooming algae itu salah satu penyakit non patogen tapi lebih karena faktor kualitas air yang turun secara drastis. Dia bilang lagi,  kematian ikan massal  seperti ini faktor pemicunya kualitas air yg tercemar atau menurun secara tiba-tiba  sampai level letal/mematikan. “Air bersifat toxic atau mengandung bahan beracun,” tutupnya.   

Kawasan-Pantai-Kelurahan-Sasa-yang-kotor-sampah-dan-berlumpur. Foto Cermat

Sementara soal uji lab dan analisis sampel tidak bisa cepat  karena  tidak bisa dilakukan  di lab FPIK Unkhair. Alat di laboratoium  juga tidak ada. Karena itu sampel yang diambil mesti diuji di luar Maluku Utara. “Pengalaman saya uji sampel, dikirim ke Jakarta, Bogor atau Makassar,” katanya.

Senada, peneliti dari FPIK Unkhair lain  Doktor Nurkhalis Wahidin mengatakan, mesti ada kajian dan analisis karena perlu ada  pembuktian. Soal kematian ikan secara  massal itu, biasanya karena ada perubahan ekstrim di lingkungan laut. Diantaranya perubahan suhu yang cepat, terlalu tinggi atau terlalu rendah. Kadar racun di badan air yang meningkat tinggi, atau kadar  oksigen yang menurun drastic.  Sumbernya dari banyak faktor.

“Saya belum bisa pastikan dari mana sumber penyebab perubahan lingkungan laut ekstrim, kalau sampah, ini bukan masalah baru, tapi tidak tau apakah ada unsure-unsur lain yang terikut di sampah di lokasi kejadian. “Itu   perlu ada kajian,”tutupnya. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Buat Minyak Kelapa Kampong, Lawan Ketergantungan

    • calendar_month Sel, 29 Sep 2020
    • account_circle
    • visibility 683
    • 0Komentar

    Cerita Usaha Ibu- ibu dari  Samo Halmahera Selatan Pagi  di awal Agutus  lalu itu  masih gelap. Bulu kuduk juga belum kelihatan. Ketika melihat catatan waktu di hand phone  baru menunjukan pukul 5.40 WIT.  Meski masih pagi buta puluhan ibu  asal desa Samo Kecamatan Gane Barat Utara Halmahera Selatan itu sudah rame  di  belakang rumah ibu Jena […]

  • Jaring Nusa: Visi Indonesia Emas 2045, Wajib Pastikan Hak Masyarakat Pesisir dan Pulau Kecil  

    • calendar_month Sen, 11 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 566
    • 2Komentar

    Jaring Nusa  sebuah konsorsium   masyarakat sipil yang dideklarasikan pada 19 Agustus 2021 lalu mendesak pemerintah dalam menetapkan visi Indonesia Emas 2045 yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional RPJPN 2025 2045 memberi kepastian dan perlindungan  Hak Masyarakat Pesisir dan Pulau Kecil. Peryataan Jaring Nusa  yang di dalamnya  ada 18 lembaga dan 1 komunitas  itu, […]

  • Kawasan Segitiga Terumbu Karang  Didorong  Dapat  Pendanaan Berkelanjutan  

    • calendar_month Ming, 14 Sep 2025
    • account_circle
    • visibility 670
    • 0Komentar

    Sejumlah Negara termasuk Indonesia yang masuk kawasan segitiga terumbu karang dunia mendapat perhatian khusus. Perhatian itu salah satunya adalah dalam bentuk pendanaan berkelanjutan. Saat ini Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong penguatan skema pendanaan berkelanjutan sebagai langkah strategis mencapai tujuan Regional Plan of Action (RPOA) 2.0 Coral  Triangle Initiative on Coral Reefs, […]

  • Bahan dan Para Pembuat Tikar Pandan yang Makin Langka

    • calendar_month Sen, 1 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 1.089
    • 0Komentar

    Elisa nusa menggulung daun buro buro yang nanti dibuat kokoya

  • Miris, RPJMD Kabupaten Ini Tanpa KLHS

    • calendar_month Rab, 5 Jan 2022
    • account_circle
    • visibility 617
    • 1Komentar

    Peta Kabupaten Pulau Taliabu

  • Koalisi Masyarakat Sipil Gugat Pasal PSN UU Cipta Kerja

    • calendar_month Sab, 5 Jul 2025
    • account_circle
    • visibility 661
    • 0Komentar

    Delapan organisasi masyarakat sipil bersama sejumlah individu terdampak Proyek Strategis Nasional (PSN) resmi mengajukan permohonan judicial review terhadap Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Perppu Cipta Kerja menjadi Undang-Undang.  Gugatan tersebut diajukan ke Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia pada Jumat (4/7/2025). Sejumlah organisasi masyarakat sipil tersebut yaitu, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Wahana Lingkungan […]

expand_less