Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Ada Apa, Ikan di Pesisir Ternate Mati Mendadak?

Ada Apa, Ikan di Pesisir Ternate Mati Mendadak?

  • account_circle
  • calendar_month Ming, 10 Sep 2023
  • visibility 946

Peristiwa tidak biasa terjadi di pantai Kelurahan Sasa Kota Ternate Selatan Kota Ternate Maluku Utara  Minggu (10/9/2023) pagi.  Warga di  kawasan pantai  RT05/RW02  itu digegerkan adanya ribuan ikan mati terdampar. Kawasan pantai  yang juga dipenuhi berbagai jenis sampah baik plastic dan  sisa aktivitas rumah tangga itu berserakan bangkai beberapa jenis ikan.

Beberapa    yang diidentifikasi adalah  jenis ikan sembilan dan ikan baronang.  Ikan ikan ini mati dan bercampur dengan sampah di  pantai Sasa. Warga setempat mengaku baru tahu sekira pukul 09.00 WIT.

“Ikan mati ini baru ditemukan Minggu pagi ini. Saya ke sini sudah  lihat  ikan- ikan kecil mati berserakan,” kata Risno nelayan Kelurahan Sasa. Dia mengaku tak tahu penyebab ikan- ikan itu mati.

Akibat sampah juga ikan mati yang berserakan,   tercium aroma tidak sedap mengganggu kenyamanan warga yang rumahnya dekat dengan bibir pantai.  Haidir  (60 tahun) warga Sasa  mengaku, kejadian ini diketahui Minggu pagi. “Pagi tadi baru tahu, ada banyak ikan mati di pesisir pantai. Tapi, kita tidak tahu penyebabnya,”  katanya.  

Yunita juga warga Sasa menyampaikan bahwa selain ikan mati, sampah plastik yang terdampar di pesisir pantai ini  juga sangat mengganggu. Sampah diakui  berasal dari warga di ketinggian  yang membuang ke selokan atau saluran air lalu terbawa  dan menumpuk   serta mengotori  pesisir pantai Sasa. Dulunya pesisir pantai ini, menjadi tempat anak- anak  mandai di pantai. Tapi belakngan sejak banyak sampah mereka enggan  mandi di pantai lagi.

Ikan-mati-menumpuk-bersama-sampah-di-tepi-pantai-Sasa foto Cermat

Terkait kematian ikan, Yunita mengaku,kejadian seperti ini sudah beberapa kali, tapi tidak sebanyak sekarang. “Ikan yang mati sekarang ini sangat banyak,” katanya. Lalu apa penyebab kematian ikan ini?  

Pihak Dinas Lingkungan Hidup Kota Ternate mengaku sudah mengambil sampel.  Baik ikan maupun air lautnya. “Kita baru akan lakukan uji sampel untuk mengetahui sumber pencemar hingga ikan di pesisir pantai Kastela ini alami kematian massal. Sampel yang diambil  akan diuji di lab Balai/Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit  (BTLPP) Manado,” jelas Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH Kota Ternate, Syarif Tjan.

Dikonfirmasi Minggu malam dia mengaku baru mengambil sampel. Dari sampel itu  ada lima parameter yang akan diuji yakni parameter fisik, kimia, biologi, logam terlarut dan radiologi  “Ini adalah data yang nanti dbutuhkan untuk mengetahui sumber pencemar matinya ikan di pesisir pantai Sasa ini,” jelasnya..    

Doktor Muhammad Aris Peneliti  dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Khairun Ternate bilang, soal ini diperlukan analisis sampel di laboratorium. Namun katanya kalau melihat  kematian ikan secara massal seperti ini, merupakan karakteristik kematian ikan karena penyakit non pathogen.  Artinya disebabkan bahan pencemar yang masuk badan air.  “Nah ini  yang harus dideteksi lebih mendalam jenis bahan pencemarnya kira- kira apa.  Makanya perlu  dilakukan studi secepatnya,”katanya.

Dia contohkan blooming algae itu salah satu penyakit non patogen tapi lebih karena faktor kualitas air yang turun secara drastis. Dia bilang lagi,  kematian ikan massal  seperti ini faktor pemicunya kualitas air yg tercemar atau menurun secara tiba-tiba  sampai level letal/mematikan. “Air bersifat toxic atau mengandung bahan beracun,” tutupnya.   

Kawasan-Pantai-Kelurahan-Sasa-yang-kotor-sampah-dan-berlumpur. Foto Cermat

Sementara soal uji lab dan analisis sampel tidak bisa cepat  karena  tidak bisa dilakukan  di lab FPIK Unkhair. Alat di laboratoium  juga tidak ada. Karena itu sampel yang diambil mesti diuji di luar Maluku Utara. “Pengalaman saya uji sampel, dikirim ke Jakarta, Bogor atau Makassar,” katanya.

Senada, peneliti dari FPIK Unkhair lain  Doktor Nurkhalis Wahidin mengatakan, mesti ada kajian dan analisis karena perlu ada  pembuktian. Soal kematian ikan secara  massal itu, biasanya karena ada perubahan ekstrim di lingkungan laut. Diantaranya perubahan suhu yang cepat, terlalu tinggi atau terlalu rendah. Kadar racun di badan air yang meningkat tinggi, atau kadar  oksigen yang menurun drastic.  Sumbernya dari banyak faktor.

“Saya belum bisa pastikan dari mana sumber penyebab perubahan lingkungan laut ekstrim, kalau sampah, ini bukan masalah baru, tapi tidak tau apakah ada unsure-unsur lain yang terikut di sampah di lokasi kejadian. “Itu   perlu ada kajian,”tutupnya. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Air Sungai Sagea Tercemar Kerukan Tambang?

    • calendar_month Sel, 15 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 1.051
    • 0Komentar

    Peneliti: Partikel Terlarut Berbahaya Bagi Biota dan Manusia Sudah hamper dua minggu ini, yakni sejak 28 Juli 2023 lalu warna air Sungai Sagea di Kecamatan Weda Utara Kabupaten Halmahera Tengah Maluku Utara seperti  tanah kerukan tambang. Air yang bisanya bening dan menjadi tempat wisata Bokimoruru,   hilang entah ke mana. Yang ada air berwarna kuning seperti […]

  • PakaTiva Kumpul Kaum Muda Belajar Climate Change  

    • calendar_month Ming, 5 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 764
    • 0Komentar

    Puluhan anak muda yang tergabung dalam komunitas  aktivis lingkungan Maluku Utara akan dikumpulkan untuk diberi pemahaman menyangkut dampak perubahan iklim  (climate change,red)  yang saat ini melanda dunia. Pertemuan dalam bentuk  Kelas Camp Kaum Muda Estuaria   ini  akan dilaksanakan selama 3 hari. Mereka   akan diberi penyadaran dan pengetahuan  terkait penyelamatan  hutan tersisa di Maluku Utara.Sebagai bagian […]

  • Jaring Nusa: Visi Indonesia Emas 2045, Wajib Pastikan Hak Masyarakat Pesisir dan Pulau Kecil  

    • calendar_month Sen, 11 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 780
    • 2Komentar

    Jaring Nusa  sebuah konsorsium   masyarakat sipil yang dideklarasikan pada 19 Agustus 2021 lalu mendesak pemerintah dalam menetapkan visi Indonesia Emas 2045 yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional RPJPN 2025 2045 memberi kepastian dan perlindungan  Hak Masyarakat Pesisir dan Pulau Kecil. Peryataan Jaring Nusa  yang di dalamnya  ada 18 lembaga dan 1 komunitas  itu, […]

  • Pelanggaran HAM Berat di Papua  Meningkat  Setelah  Indonesia  Jadi Presiden  Dewan  HAM PBB

    Pelanggaran HAM Berat di Papua  Meningkat  Setelah  Indonesia  Jadi Presiden  Dewan  HAM PBB

    • calendar_month Rab, 29 Apr 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 385
    • 0Komentar

    “Presiden Republik Indonesia Segera Menghentikan Seluruh Operasi Militer di Wilayah Papua Dan Membuka Ruang Dialog Untuk Menyelesaikan Persoalan Politik Antara Indonesia Dan Papua Yang Merupakan Akar Konflik Bersenjata Penyebab Pelanggaran HAM Di Papua Selama 60 Tahun Terakhir” Hasil riset Project Multatuli per-Desember 2025 menunjukkan  setidaknya ada 83.177 tentara dan polisi organik di tanah Papua saat […]

  • Akibat Tambang Nikel, Pesisir dan Sawah di Halmahera Timur Tercemar

    Akibat Tambang Nikel, Pesisir dan Sawah di Halmahera Timur Tercemar

    • calendar_month Sel, 2 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 828
    • 0Komentar
  • Kenalkan Kehati Malut Lewat Pameran Kehidupan Liar

    • calendar_month Ming, 13 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 809
    • 1Komentar

    Foto yang ditampilkam dalam pameran pertama yang dilaksanakan pada 2020 lalu

expand_less