Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Joko Nugroho Kembangkan Batatas Aksesi Lokal, Jadi Sumber Ekonomi Penting

Joko Nugroho Kembangkan Batatas Aksesi Lokal, Jadi Sumber Ekonomi Penting

  • account_circle Mahmud Ici
  • calendar_month Rab, 10 Sep 2025
  • visibility 652

Minggu (21/8/2025) lalu, sejak pagi hingga jelang siang,Joko Nugroho  (55) mengawasi  dua pekerja bersama istri dan satu anak perempuan nya  panen batatas atau  umbi jalar,  di kebun miliknya.

Di lahan seluas  50X50 meter persegi di desa  Sidodi Goal Sahu Timur Halmahera Barat itu, Joko mengembangkan batatas yang tidak sekadar  dimakan tetapi  juga  jadi  pangan lokal penting bagi masyarakat. Tidak itu saja  tanaman ini sekaligus  menjadi  sumber ekonomi penting keluarga. Tidak hanya  Joko dan keluarganya,  tetapi juga tetangganya di kampung  itu menjadi pekerja membantu Joko merawat dan memanen batatas. Usaha menanam batas  Joko Nugroho ini, Bisa dibilang tidak sekadar  mengembangkan  pangan lokal  tetapi jug  telah  jadi  profesi  yang digeluti dalam tiga tahun terakhir.

 

“Awalnya bertanam sayur mayur. Setelah itu beralih tanam jagung, karena hasil jagung per hektar hanya bisa dapat  Rp2 juta, saya ikut nanam batatas  untuk tanaman sela jagung. Ternyata setelah panen hasil batatas lebih bagus. Akhirnya saya menetapkan  menanam batatas atau  umbi jalar ini. Waktu itu sekali panen bisa dapat Rp8 juta ,” kisah Joko. Dari pengalaman itu pangan lokal ini terus ditanam.

 Hari itu Joko  dan keluarganya  panen  batatas yang telah berusia kurang lebih 4 bulan. Hasil  panen batatas   itu selanjutnya dikirim ke luar Halmahera Barat seperti Ternate, Halmahera Tengah hingga ke Maluku Tenggara. Panen  hari itu  diperoleh hasil  110 karung batatas.  Harga per karungnya dijual antara Rp180ribu hingga Rp200 ribu. Batatas yang sudah dikarungkan itu juga sudah ada pemesannya terutama  para pedagang pengumpul.  Ada   10 pedagang pengumpul telah memesan  dan tinggal datang dengan alat transportasi    untuk diangkut ke Jailolo Ibukota Halbar, selanjutnya dibawa  ke Kota Ternate,  Halmahera Tengah dan beberapa wilayah lain di Maluku utara.  Diakuiya,  produksi batatas yang  ia tanam ini tidak mencukupi permintaan pasar.  Pasalnya setiap hari permintaan sangat banyak.

Ibu Carolina bersama anaknya memanen ubi-jalar-yang diusahakan suaminya Joko

“Saya tidak hanya memenuhi permintaan di Maluku Utara tetapi juga di luar Maluku Utara. Ada pedagang di Maluku Tenggara minta kita kirimkan 40 karung setiap ada trayek kapal. Kita tidak mampu penuhi secara keseluruhan permintaan mereka,”katanya.

Tingginya permintaan dapat  disaksikan saat proses panen hari itu, meski sudah habis dibagi sesuai  permintaan pemesan, masih ada pembeli yang datang. Saat batatas dikarungkan, ada warga  yang lewat dengan mobil turun dan mau membeli dua karung untuk kebutuhan acara di kampung mereka. Hanya saja Joko beralasan yang  dikarungkan itu sudah ada pemesan tinggal pemiliknya datang dan diangkut ke pasar. “Kalian lihat sendiri kan permintaan pasarnya.  Setiap panen selalu tidak mencukupi permintaan pasar,” kata Joko saat itu.

Memang hamparan luasan kebun terbilang  terbatas, di tengah tingginya permintaan pasar akan kebutuhan pangan lokal batatas.   Total  luas lahan yang ditanami Joko   kurang lebih 2 hektar. Lahan seluas itu dibagi dalam  empat lahan kecil berukuran 5×50 meter. Dari 4 petak lahan itu ditanam secara bergilir. Tujuannya   proses penennya juga  berkelanjutan. Jadi jika lahan pertama ditanam maka dua bulan kemudian lahan berikutnya dan seterusnya. Dengan begitu stok batatas yang ditanam akan terus ada dan bergiliran. “Cara ini dilakukan agar panen batatas terus berkesinambungan. Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga stok produksi dan memenuhi permintaan pasar yang terbilang sangat tinggi,” ujarnya.

Memanfaatkan Bibit Lokal dengan Pupuk Organik

Ada yang menarik dari upaya penanaman  batatas ini. PasalnyaJoko benar benar mengembangkan bibit sendiri dari lahan miliknya,  yang juga adalah batatas lokal. Bibit lokal ini   dikembangkan sejak awal sekira 2022 lalu.  Dia  cerita, saat  mulai menggeluti menanam batatas ini, dia kesulitan bibit karena tidak dijual di toko-toko pertanian.  Karena itu dia mengembangkan sendiri dari bibit    lokal yang biasanya ditanam  para petani setempat.

Dari sanalah, dia terus menerus menanam bibit tersebut.  Penanaman secara bergilir ini juga karena terbentur masalah bibit karena tidak ada di tempat lain atau dijual di toko.  Saat tanaman berusia 2,5 bulan kita ambil bibit  dari tanaman yang ada di lahan   untuk ditanam di petakan lahan  baru.   Dia cerita,  awal mendapatkan bibit ini dari  umbi jalar lokal yang ditanam  para petani setempat secara turun temurun.   

Hal ini sesua kebiasaan warga suku Tobaru maupun Sahu  dua etnis asli di Halmahera Barat, yakni  di kebun mereka biasanya  batatas ini  jadi tanaman  sela di antara tanaman pangan  yang lain. Batatas ini hanya sebagai pangan tambahan umbi-umbian  dengan keladi. Tidak itu saja mereka juga menanamnya secara terbatas.   Tidak diusahakan secara massal dengan cakupan lahan yang sangat luas.

Dari bibit yang  ada itu, secara perlahan   terus dikembangkan  sampai sekarang. Ada empat  aksesi atau sampel  batatas lokal yang dikembangkan, yakni warna tinta, (ungu,red), oranye daun jari-jari, kuning daun jari-jari serta putih  daun lebar.   

bu Nora salah satu petani yang membantu panen ubi jalar milik Joko foto M Ichi

Tidak hanya menggunakan  bibit lokal, dalam hal olah tanah juga menggunakan kompos. Selain itu   juga menggunakan sistem mengistirahatkan lahan yang telah digunakan selama setahun untuk mengembalikan  kesuburannya. Untuk mengistirahatkan lahan   mengembalikan kesuburan tanah  itu dengan kompos dan dibiarkan selama setahun setelah itu ditanami kembali. Dia  bilang  untuk menanam batatas  tidak bisa menggunakan pupuk  sembarangan karena berdampak pada hasilnya. Misalnya pernah dicoba gunakan pupuk tapi ternyata bukan umbi yang dihasilkan ternyata lebih banyak daun ketimbang umbi. Dari situ,   berhenti sama sekali menggunakan  pupuk.  Tidak itu saja untuk bibi lokal yang ditanam terbilang tahan penyakit. Pasalnya  belum ditemui ada penyakit yang merusak tanaman yang diusahakan. Bibit  lokal yang dikembangkan ini juga tahan terhadap penyakit.  Meski begitu diakui hal yang paling menentukan itu berkaitan dengan iklim. Jika iklim nya seimbang maka hasil panen juga baik. “Iklim seimbang itu sangat menentukan. Tanaman ini katanya tidak terlalu banyak butuh air.Karena itu di petakan lahannya  dibuat larikan untuk mengalirkan air saat hujan. Jika airnya melimpah akan menyebabkan busuk pada umbinya.           

Pangan lokal batatas yang dikembangkan Joko sebenarnya  juga menghadapi kendala pada ketersediaan alat produksi. Salah satunya  fasilitas  pengangkutan. Saat ini Joko tidak punya alat angkutan seperti kendaraan roda tiga  yang biasa digunakan mengangkut hasil pertanian. Joko  setiap kali panen  harus menyewa alat angkutan truk mini untuk mengangkut hasil panen yang ada. Sekali angkut per karung dihitung Rp20 ribu. Karena itu Joko berharap ada perhatian pemerintah untuk bisa membantunya   pengadaan alat angkut  berupa motor tiga roda sehingga bisa mengurangi ongkos produksinya. “Saat ini kami memang belum mendapatkan bantuan dalam bentuk sarana produksi pertanian. Karena itu  berharap ada  bantuan yang bisa diberikan pemerintah  membantu kami mengembangkan usaha yang  dikelola ini. Selain  sebagai usaha juga membantu mengembangkan pangan lokal di daerah ini,” harapnya.  Harapan ini ditujukan untuk Pemkab Halmahera Barat maupun Provinsi Maluku Utara.(*)      

  • Penulis: Mahmud Ici
  • Editor: Mahmud Ici
Tags

Rekomendasi Untuk Anda

  • Buku Adalah Subversif ?

    Buku Adalah Subversif ?

    • calendar_month Sen, 30 Nov 2020
    • account_circle
    • visibility 495
    • 0Komentar

    Penulis: Syaiful Bahri Ruray Putra Wayabula A room without books is like body without soul (Cicero). Ditengah hiruk pikuk pandemik yang belum juga selesai, tiba-tiba saja jagad maya kita dikagetkan dengan tarik menarik soal buku. Dan itu berawal ketika ada postingan Anis Baswedan yang berkain sarung, sedang membaca How Democracies Die, buku karya Steven Levitsky […]

  • Berbagai Pihak Bedah Air Tanah Pulau Ternate

    • calendar_month Ming, 3 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 621
    • 1Komentar

    DPRD: RPJPD dan RPJMD Harus Akomodir Masalah Sumberdaya Air Komunita Besa ma Cahaya Kota Ternate Kamis (1/9/2023) malam, menggelar  Focus Group Discussion (FGD) membahas tema Cinta Tanah Air? Konservasi AirTanah, Selamatkan Airtanah Ternate.  FGD  ini sebgai bagian dari tindaklanjut kegiatan sedekah air hujan yang dilaksanakan komunitas Besa ma Cahaya baik di Kota Ternate maupun Pulau […]

  • Peringati Hari Primata dengan Mengedukasi Siswa

    Peringati Hari Primata dengan Mengedukasi Siswa

    • calendar_month Sen, 29 Jan 2018
    • account_circle
    • visibility 526
    • 0Komentar

    Hari Primata Indonesia (HPI) yang diperingati setiap  30 Januari   dirayakan juga di Maluku Utara dengan beragam  kegiatan. Seperti yang dilaksanakan ProFauna Indonesia yang bekerjasama dengan pemerintah Kota Tidore dan Ternate dalam dua hari ini. Dalam peringatan itu turut dilaksankaan kampanye  sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat terutama siswa  agar bisa paham  tentang upaya perlindungan primate di […]

  • Ambisi Transisi Energi Terbarukan Dibajak Pebisnis Energi Kotor

    • calendar_month Sel, 7 Okt 2025
    • account_circle
    • visibility 486
    • 0Komentar

    Koalisi Transisi Bersih, yang terdiri sejumlah organisasi masyarakat sipil seperti Satya Bumi, Trend Asia, Sawit Watch, SPKS, Greenpeace dan Walhi, menemukan, pendekatan transisi energi di Indonesia tidak mengarah pada transformasi sistem tata kelola energi, melainkan hanya pada pergantian teknologi. Pendekatan yang tidak transformatif, bertemu dengan biaya proyek yang tinggi dan kejar target bauran energi membuat […]

  • Ini Cara Antisipasi Stok Pangan Saat Pandemi

    Ini Cara Antisipasi Stok Pangan Saat Pandemi

    • calendar_month Rab, 17 Jun 2020
    • account_circle
    • visibility 688
    • 0Komentar

    Hasil kajian yang dilakukan  pemerintah provinsi Maluku Utara melalui  dokumen Food Security  and  Vurnerability  Atlas (FVSA), atau peta keamanan dan kerentanan pangan di Maluku Utara, menunjukan ada sejumlah sangat rawan pangan. Dasarnya  daerah daerah itu tidak mampu memproduksi  pangan  sendiri tetapi mengharapkan pasokan dari luar. Kabupaten  Kepulauan Sula dan Taliabu serta Tidore Kepulauan atau 23 kecamatan di […]

  • Indonesia Perkuat Diplomasi Iklim Menuju COP 30:

    • calendar_month Ming, 3 Agu 2025
    • account_circle
    • visibility 629
    • 9Komentar

    Dorongan Kolaboratif, Inklusif, dan Berbasis Sains untuk Hadapi Krisis Global Menyambut Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-30 (COP 30) yang akan digelar di Belem, Brasil pada 10-21 November 2025, Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) menyelenggarakan Workshop Jurnalis bertajuk “Amplifying COP 30 to Indonesia: Memperkuat Dampak Peliputan COP 30”. Agenda ini menjadi forum penting untuk menguatkan […]

expand_less