Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Merawat Ake Sali, Warisan Air dari Kampung Tua yang Kini Jadi Hutan

Merawat Ake Sali, Warisan Air dari Kampung Tua yang Kini Jadi Hutan

  • account_circle Penulis: Burhanuddin Jamal Warga Kelurahan Tosa Tidore Kepulauan
  • calendar_month Rab, 17 Des 2025
  • visibility 938

Sebuah Catatan dari Kampung Tomadou Kota Tidore Kepulauan 

Di Kota Tidore Kepulauan, tepatnya di Kampung Tomadou Kelurahan Tosa Kecamatan Tidore Timur  memiliki salah satu sumber mata  air yang dikenal dengan Mata Air Ake Sali.

Sekitar wilayah  mata air ini dahulunya adalah sebuah perkampungan tua yang dikenal dengan nama Kampung Buku Mira. Warga   Buku Mira ini adalah cikal bakal warga kampong Tomadou. Mereka turun ke bawah kurang lebih 5 kilometer dan membuat kampong Tomadou sekarang.

Perkampungan Buku Mira memang kini tinggal kenangan.  Sudah hamper 80 tahun ditinggalkan dan telah kembali menjadi hutan berupa area perkebunan  masyarakat setempat. Meski telah ditinggalkan turun temurun, tetapi tetap dijaga sebagai kawasan penyangga sumber air bagi kehidupan mereka.

Kampung tua dan sumber air  Ake Sali berada di kawasan pegunungan dengan jarak sekitar lima kilometer dari  permukiman warga.  Mata air ini tetap dirawat dan dijaga.  Dari sumber mata air  ini warga membuat pipanisasi air yang menyusuri   medan berat. Melewati tebing dan lereng curam, perbukitan, hutan rimba, hingga kebun pala dan cengkeh milik warga.

Ternyata nilai dan warisan airnya hidup dan tetap dijaga.  Model menjaganya  tercermin dari  kegiatan gotong royong lintas generasi keturunan Buku Mira   merawat  jalur pipa air dari mata air Ake Sali menuju Kampung Tomadou Kelurahan Tosa,Tidore Timur.
Kegiatan gotong royong ini dilakukan secara rutin sebulan sekali atas inisiatif bersama warga keturunan  Buku Mira.  Tujuannya memastikan pipa air tidak tersumbat oleh material dari alam serta menjaga aliran air pegunungan tetap lancar.

Air dari Ake Sali tidak hanya dimanfaatkan warga Kampung Tomadou, tetapi juga  digunakan  oleh masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir.

Tetua masyarakat Buku Mira Jojo Biji, menuturkan  kurang lebih  80 tahun lalu, saat Buku Mira masih dihuni, Ake Sali merupakan sumber utama kehidupan warga. Pada masa itu, air dialirkan menggunakan belahan bambu yang disambung-sambung sepanjang kurang lebih 2,5 kilometer.

“Dari dulu kami hidup dari Ake Sali. Air dialirkan dengan belahan bambu, sederhana tapi penuh makna. Itu sumber kehidupan kami,” cerita Jojo Biji.

Seiring perpindahan permukiman ke Kampung Tomadou dan perkembangan zaman, saluran bambu  diganti  pipa paralon. Pergantian tersebut dilakukan agar warisan leluhur tidak hilang dan manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Soal  kegiatan gotong royong  menurut  Dahlan Mahmud, salah satu keturunan  Kampung Buku Mira  bahwa yang dilakukan ini adalah simbol keterhubungan lintas generasi antara sejarah, pengabdian, dan tanggung jawab sosial.

“Setiap warisan itu bermakna. Dia adalah sejarah dan seni yang tak terlupakan. Indahnya warisan kita adalah ketika orang lain bahagia menikmati setiap tetesan air yang kita usahakan bersama,” tutur Dahlan Mahmud.

Keberadaan air ini sebenarnya sangat bermakna bagi warga di perkampungan di daerah puncak Tidore. “Kalau nanti kamu minum air Ake Sali, ingatlah saya, kakek  Ba Himen,” celoteh  Ba Himen salah satu tetua kampong saat kegiatan gotong royong pembersihan sumber air ini.

Bagi warga kampong setempat  dalam konservasi dan sosial budaya, kegiatan ini menunjukkan hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Gotong royong menarik pipa untuk air bisa mengalir sampai ke kampung,foto Jamal

Bekas perkampungan Buku Mira kini menjadi hutan rimba yang tidak dieksploitasi. Wilayah perkampungan ini tetap dirawat sebagai sumber kehidupan bersama. Gotong royong lintas generasi ini sekaligus menegaskan bahwa masyarakat  dari wilayah yang kerap dianggap terpencil mampu memberi kontribusi nyata bagi banyak orang.

Dari hutan bekas kampung Buku Mira, Ake Sali terus mengalirkan air, sejarah, dan nilai kebersamaan yang menghidupi desa hari ini dan masa depan.(*)

 

  • Penulis: Penulis: Burhanuddin Jamal Warga Kelurahan Tosa Tidore Kepulauan
  • Editor: Mahmud Ici

Rekomendasi Untuk Anda

  • Warga Obi Sulit Air Bersih, Tagih Janji Bupati  

    • calendar_month Sab, 11 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 666
    • 1Komentar

    Air bersih menjadi kebutuhan paling urgen. Mulai dari makan minum hingga  mandi, cuci dan kakus (MCK). Setidaknya, hal ini juga sedang dialami warga  Desa Aer Mangga Kecamatan Obi Pulau Obi Halmahera Selatan. Saat kabarpulau co.id mengunjungi Desa itu Senin (6/2/2023) pekan lalu, tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat menyuarakan  keluhannya terkait masalah yang mereka hadapi […]

  • Para Pihak Bahas Renja FOLU Net Sink di Malut  

    • calendar_month Kam, 23 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 614
    • 2Komentar

    Foto bersama usai pemaparan materi workshop, foto Ahmad David

  • Koalisi CSO dan Masyarakat Sipil Kawal RUU Masyarakat Adat

    • calendar_month Kam, 10 Sep 2020
    • account_circle
    • visibility 623
    • 0Komentar

    Masyarakat Adat Tobelo Dalam di Hutan Halmahera Benteng Terakhir Hutan Halmahera foto Opan Jacky Polhut TNAL

  • Krisis Iklim Mengancam Anak Pesisir  

    Krisis Iklim Mengancam Anak Pesisir  

    • calendar_month Jum, 26 Jun 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 247
    • 0Komentar

    Harga Mahal Harus Dibayar  oleh Pembangunan yang Abai   Krisis iklim tidak lagi bisa dibaca sebatas cuaca ekstrem. Dia  adalah ancaman terhadap keadilan antar generasi. Laporan Children’s Climate Risk Report 2026 dari UNICEF menunjukkan hampir seluruh anak di dunia terpapar risiko iklim, dengan 1,1 miliar anak menghadapi tiga ancaman sekaligus: kekeringan, panas ekstrem, dan gelombang […]

  • Air Sungai Sagea Tercemar Kerukan Tambang?

    • calendar_month Sel, 15 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 935
    • 0Komentar

    Peneliti: Partikel Terlarut Berbahaya Bagi Biota dan Manusia Sudah hamper dua minggu ini, yakni sejak 28 Juli 2023 lalu warna air Sungai Sagea di Kecamatan Weda Utara Kabupaten Halmahera Tengah Maluku Utara seperti  tanah kerukan tambang. Air yang bisanya bening dan menjadi tempat wisata Bokimoruru,   hilang entah ke mana. Yang ada air berwarna kuning seperti […]

  • Banjir dan Longsor, Perparah Jalan Sayoang-Yaba

    • calendar_month Rab, 3 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 791
    • 1Komentar

    Berikut Ini Foto dan Videonya Kondisi jalan Sayoang-Yaba di Bacan Halmahera Selatan  tidak hanya rusak parah. Jika sebelumnya sempat tertutup longsor dan belum  diperbaiki, jalan tersebut kini kembali longsor hingga  badan jalan tertutup dan tak bisa dilewati kendaraan. Akibatnya, warga makin kesulitan menggunakan ruas jalan milik pemerintah Provinsi Maluku Utara ini. Longsor yang terjadi di […]

expand_less