Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Merawat Ake Sali, Warisan Air dari Kampung Tua yang Kini Jadi Hutan

Merawat Ake Sali, Warisan Air dari Kampung Tua yang Kini Jadi Hutan

  • account_circle Penulis: Burhanuddin Jamal Warga Kelurahan Tosa Tidore Kepulauan
  • calendar_month Rab, 17 Des 2025
  • visibility 1.052

Sebuah Catatan dari Kampung Tomadou Kota Tidore Kepulauan 

Di Kota Tidore Kepulauan, tepatnya di Kampung Tomadou Kelurahan Tosa Kecamatan Tidore Timur  memiliki salah satu sumber mata  air yang dikenal dengan Mata Air Ake Sali.

Sekitar wilayah  mata air ini dahulunya adalah sebuah perkampungan tua yang dikenal dengan nama Kampung Buku Mira. Warga   Buku Mira ini adalah cikal bakal warga kampong Tomadou. Mereka turun ke bawah kurang lebih 5 kilometer dan membuat kampong Tomadou sekarang.

Perkampungan Buku Mira memang kini tinggal kenangan.  Sudah hamper 80 tahun ditinggalkan dan telah kembali menjadi hutan berupa area perkebunan  masyarakat setempat. Meski telah ditinggalkan turun temurun, tetapi tetap dijaga sebagai kawasan penyangga sumber air bagi kehidupan mereka.

Kampung tua dan sumber air  Ake Sali berada di kawasan pegunungan dengan jarak sekitar lima kilometer dari  permukiman warga.  Mata air ini tetap dirawat dan dijaga.  Dari sumber mata air  ini warga membuat pipanisasi air yang menyusuri   medan berat. Melewati tebing dan lereng curam, perbukitan, hutan rimba, hingga kebun pala dan cengkeh milik warga.

Ternyata nilai dan warisan airnya hidup dan tetap dijaga.  Model menjaganya  tercermin dari  kegiatan gotong royong lintas generasi keturunan Buku Mira   merawat  jalur pipa air dari mata air Ake Sali menuju Kampung Tomadou Kelurahan Tosa,Tidore Timur.
Kegiatan gotong royong ini dilakukan secara rutin sebulan sekali atas inisiatif bersama warga keturunan  Buku Mira.  Tujuannya memastikan pipa air tidak tersumbat oleh material dari alam serta menjaga aliran air pegunungan tetap lancar.

Air dari Ake Sali tidak hanya dimanfaatkan warga Kampung Tomadou, tetapi juga  digunakan  oleh masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir.

Tetua masyarakat Buku Mira Jojo Biji, menuturkan  kurang lebih  80 tahun lalu, saat Buku Mira masih dihuni, Ake Sali merupakan sumber utama kehidupan warga. Pada masa itu, air dialirkan menggunakan belahan bambu yang disambung-sambung sepanjang kurang lebih 2,5 kilometer.

“Dari dulu kami hidup dari Ake Sali. Air dialirkan dengan belahan bambu, sederhana tapi penuh makna. Itu sumber kehidupan kami,” cerita Jojo Biji.

Seiring perpindahan permukiman ke Kampung Tomadou dan perkembangan zaman, saluran bambu  diganti  pipa paralon. Pergantian tersebut dilakukan agar warisan leluhur tidak hilang dan manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Soal  kegiatan gotong royong  menurut  Dahlan Mahmud, salah satu keturunan  Kampung Buku Mira  bahwa yang dilakukan ini adalah simbol keterhubungan lintas generasi antara sejarah, pengabdian, dan tanggung jawab sosial.

“Setiap warisan itu bermakna. Dia adalah sejarah dan seni yang tak terlupakan. Indahnya warisan kita adalah ketika orang lain bahagia menikmati setiap tetesan air yang kita usahakan bersama,” tutur Dahlan Mahmud.

Keberadaan air ini sebenarnya sangat bermakna bagi warga di perkampungan di daerah puncak Tidore. “Kalau nanti kamu minum air Ake Sali, ingatlah saya, kakek  Ba Himen,” celoteh  Ba Himen salah satu tetua kampong saat kegiatan gotong royong pembersihan sumber air ini.

Bagi warga kampong setempat  dalam konservasi dan sosial budaya, kegiatan ini menunjukkan hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Gotong royong menarik pipa untuk air bisa mengalir sampai ke kampung,foto Jamal

Bekas perkampungan Buku Mira kini menjadi hutan rimba yang tidak dieksploitasi. Wilayah perkampungan ini tetap dirawat sebagai sumber kehidupan bersama. Gotong royong lintas generasi ini sekaligus menegaskan bahwa masyarakat  dari wilayah yang kerap dianggap terpencil mampu memberi kontribusi nyata bagi banyak orang.

Dari hutan bekas kampung Buku Mira, Ake Sali terus mengalirkan air, sejarah, dan nilai kebersamaan yang menghidupi desa hari ini dan masa depan.(*)

 

  • Penulis: Penulis: Burhanuddin Jamal Warga Kelurahan Tosa Tidore Kepulauan
  • Editor: Mahmud Ici

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ini Rekomendasi untuk Selamatkan Pulau Hiri

    • calendar_month Sen, 6 Jan 2025
    • account_circle
    • visibility 925
    • 0Komentar

    Embung Hiri Perlu Dievaluasi Sebelum Muncul Masalah Forum Koordinasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Moloku Kie Raha (FKDAS-MKR) Provinsi Maluku Utara merekomendasikan kepada pemerintah daerah Kota Ternate  dan pihak terkait perlu mengevaluasi embung air hujan yang  sudah dibangun di Pulau Hiri. Embung Hiri adalah salah satu poin penting dari 10 rekomendasi yang dikeluarkan FORDAS MKR untuk […]

  • Laut Malut, Kuburan Bagi Mamalia Laut?

    • calendar_month Rab, 8 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 838
    • 0Komentar

    Bangkai-Paus-yang-mulai-hancur-dan-menmbulkan-bau-menyengat-di-Morotai-beberapa-waktu-lalu-foto-Hamsor-Yusuf

  • Mtu Mya Halteng, Destinasi Eksotis yang Terancam Abrasi

    • calendar_month Ming, 17 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 1.140
    • 0Komentar

    Hamparan pasir putih menghiasi pulau kecil berukuran sekira 70  meter  persegi itu. Di kiri kanannya terlihat  laut biru tosque dan terumbu karang yang sebagian sudah mulai mulai mati. Pulau tersebut tak lagi berpohon. Pohon yang dulu rindang dan tumbuh lebat di ekosistem pantai ini, telah mati. Baru ada beberapa pohon ditanam kembali oleh warga dan […]

  • WALHI: Jangan “Jual” Halmahera dan Pulau Lainnya

    • calendar_month Kam, 17 Nov 2022
    • account_circle
    • visibility 756
    • 0Komentar

    AKSI kampanye yang digelar WALHI Malut dan Koalisi Barisan rakyat (KOBAR ) pada Senin 14 November 2022 foto WALHI

  • CONSERVE, Kegiatan Pengarusutamaan Kehati Lintas Sektor

    • calendar_month Ming, 26 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 676
    • 0Komentar

    Kakatua Putih salah satu jenis burung yang dilindungi di Maluku Utara foto M Ichi

  • Dampak Perubahan Iklim di Ternate, Kota Pesisir dan Pulau Kecil (2)

    Dampak Perubahan Iklim di Ternate, Kota Pesisir dan Pulau Kecil (2)

    • calendar_month Sab, 6 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 957
    • 0Komentar

    Nelayan Terancam di Laut,  Hasil Tangkapan Makin Menurun Gafur Kaboli (59) tahun sudah dua hari tidak melaut. Ditemui Selasa (25/11/2025) sekira pukul 12.20 WIT di rumahnya di Kelurahan Jambula Kota Ternate Selatan, dia mengaku  istrahat mengingat cuaca tidak menentu. Dia bercerita jika aktivitas melaut para nelayan Kota Ternate saat ini sangat beresiko karena cuaca yang […]

expand_less