Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Climate Rangers Bersama Orang Muda Sedunia Serukan Hentikan Energi Fosil

Climate Rangers Bersama Orang Muda Sedunia Serukan Hentikan Energi Fosil

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sen, 10 Nov 2025
  • visibility 86

Catatan dari COP 30 di Brazil  

Di tengah meningkatnya dampak krisis iklim dan melambatnya komitmen negara-negara untuk menekan suhu bumi di bawah 1,5°C, orang muda dunia menyatukan suara mereka. Melalui Global Youth Statement (GYS), ribuan orang muda dari lebih dari 150 negara menyerukan perubahan arah kebijakan iklim global menuju transisi energi yang adil, pendanaan tanpa utang, dan keterlibatan bermakna bagi kelompok muda serta masyarakat rentan.

Dalam forum Conference of Children and Youth ke-20 (COY20) yang digelar di Belém, Brasil, suara itu secara resmi diserahkan kepada pimpinan COP30 dan perwakilan UNFCCC sebagai mandat global bagi para pemimpin dunia.

Dari Indonesia, Climate Rangers menjadi satu-satunya organisasi yang hadir dan memastikan aspirasi orang muda Indonesia yang tertuang dalam National Children and Youth Statement (NYS) turut menjadi bagian dari mandat global tersebut.

Dari Lokal ke Dunia: Mandat Anak dan Orang Muda Indonesia

Penyusunan NYS Indonesia melibatkan lebih dari 900 anak dan orang muda dari 30 provinsi, melalui rangkaian Local Conference of Children and Youth (LCOY) yang digelar sejak pertengahan tahun 2025. Dari pesisir hingga pegunungan, mereka mengangkat isu yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari—mulai dari banjir, kekeringan, polusi tambang, hingga ketimpangan akses energi.

Mandat anak dan orang muda Indonesia menyoroti tiga hal mendasar yang kini juga tercermin dalam mandat global.

Pertama  Transisi energi harus adil dan berpihak pada rakyat, bukan proyek elite yang memperpanjang ketergantungan pada batu bara dan industri ekstraktif. Pendanaan iklim tidak boleh berbasis utang yang membebani generasi muda, melainkan berbentuk hibah dan dukungan langsung bagi komunitas rentan. Partisipasi orang muda dan masyarakat adat harus diakui sebagai hak, bukan sekadar simbolik dalam forum kebijakan.

Koordinator Climate Rangers Indonesia, Ginanjar Ariyasuta, menegaskan bahwa keadilan iklim bukan sekadar tentang teknologi atau target emisi, tapi tentang nasib generasi:

“Kami tumbuh di bumi yang jauh lebih panas, lebih bising, dan lebih rapuh daripada yang diwariskan orang tua kami,” ujar Ginanjar. “Generasi kami sudah kehilangan banyak hal—udara bersih, laut yang sehat, dan musim yang bisa diprediksi. Dan jika kebijakan hari ini masih terus memihak industri fosil, maka generasi setelah kami akan tumbuh di dunia yang lebih tidak adil dari yang kami alami sekarang.”

“Karena itu, kami menegaskan: anak dan orang muda bukan penerima dampak pasif, tetapi aktor utama dalam menyiapkan bumi untuk generasi yang akan datang.” lanjutnya.

Mandat untuk Dunia: Hentikan Energi Kotor, Biayai Solusi Bersih

Dalam GYS, seruan orang muda dunia disampaikan dengan bahasa yang tegas. Mereka menuntut negara-negara untuk menghentikan seluruh proyek batu bara sebelum 2030, menghentikan pendanaan terhadap energi fosil, dan mempercepat transisi ke energi bersih yang dikelola secara demokratis oleh masyarakat.

GYS juga menyoroti ketimpangan global — di mana negara maju masih menunda tanggung jawab pendanaan iklim sambil terus membuka ruang bagi investasi berbasis ekstraksi di negara berkembang.

Perwakilan Climate Rangers, Fadilla Miftahul, yang menjadi pembicara di sesi bertema Youth as Drivers for Just Energy Transition milik International Energy Agency (IEA), menekankan pentingnya orang muda dalam transisi energi yang adil.

“Orang muda memiliki peran vital dalam transisi energi. Kami telah melihat bagaimana orang muda di Indonesia mengorganisir diri: menolak pendanaan kotor dari bank untuk proyek batu bara, hingga membangun energi terbarukan secara mandiri di desa-desa. Semua gerakan ini menunjukkan bahwa solusi sejati bisa datang dari komunitas, bukan hanya dari korporasi besar.”

“Apalagi jika kita mempertimbangkan bahwa sistem energi yang didominasi oleh energi fosil yang eksploitatif ini adalah desain dari generasi tua. Saatnya kita menantang paradigma tersebut, bagaimana pembangunan harus berbasis ke komunitas dan keberlanjutan, bukan hanya keuntungan ekonomi.” lanjutnya.

Dari Amazon ke Nusantara: Suara yang Sama

Pesan GYS dan NYS Indonesia berpadu dalam satu semangat: keadilan iklim antargenerasi. Apa yang disuarakan orang muda di Amazon, Afrika, atau Eropa Selatan sejatinya sejalan dengan jeritan orang muda Indonesia — yang hidup berdampingan dengan tambang, banjir dan cuaca panas ekstrim tahunan, dan udara beracun dari PLTU.

“Ini adalah mandat bersama dari orang muda dunia,” tegas Fadilla pada penutupan COY20. “Dari masyarakat pesisir hingga pemuda adat, semua membawa pesan yang sama: wujudkan keadilan iklim demi masa depan yang adil, lestari, dan sejahtera” tutupnya Acara ditutup dengan penyerahan resmi GYS kepada Ana Toni, CEO dari COP 30, dan representasi UNFCCC.

 

 

 

  • Penulis: Redaksi
Tags

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wacana Konsesi Tambang untuk Kampus Harus Ditolak

    • calendar_month Rab, 12 Feb 2025
    • account_circle
    • visibility 413
    • 0Komentar

    Wacana konsesi tambang untuk kampus melalui revisi UU 3/2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba) mesti ditolak. Lewat wacana itu, pemegang otoritas berupaya menggerus independensi kampus sebagai institusi pendidikan yang berorientasi pada tridarma. Kampus seyogianya menjadi kompas moral dan intelektualitas, bukan jadi alat negara untuk mencuci  Praktik-praktik buruk industri ekstraktif. Ilham Majid, dosen Universitas […]

  • Warga Diimbau Jaga Pola Hidup Bersih

    • calendar_month Sen, 14 Sep 2020
    • account_circle
    • visibility 138
    • 0Komentar

    Penyuluhan kesehatan yang digelar Pakativa dan Mayana di kawasan Jembatan Jiko Cobo Tidore

  • Nasib Reptil di Hutan dan Pulau di Maluku Utara 

    • calendar_month Jum, 24 Nov 2023
    • account_circle
    • visibility 573
    • 0Komentar

    Terus Diburu, Rawan Diselundupkan   Masa depan berbagai jenis reptile di hutan Halmahera dan pulau pulau lainya di Maluku Utara akan terus terancam. Terutama untuk jenis reptil yang memiliki harga jual tinggi. Sebut saja jenis kadal, biawak ular bahkan kura kura darat. Berulangkali jenis hewan   ini diamankan petugas karena dijual ke luar daerah dan diamankan […]

  • Fitako Sumber Energi Terbarukan yang Belum Dilirik

    • calendar_month Kam, 6 Jan 2022
    • account_circle
    • visibility 163
    • 1Komentar

    Buah fitako ataunyamplung yang telah matang dan jatuh foto Mongabay Indonrsia

  • Jumlah Pulau di Maluku Utara Bertambah

    • calendar_month Ming, 10 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 587
    • 1Komentar

    Dari 805 Jadi 1080 Pulau, Terbanyak di Halmahera Selatan Julukan negeri seribu pulau bagi Maluku Utara  benar adanya. Pasalnya jumlah pulau di daerah ini yang sebelumnya sesuai data resmi pemerintah hanya 805,   telah berubah menjadi 1080 pulau. Data ini berubah berdasarkan hasil revisi yang  dilakukan Badan Informasi Geospasial (BIG). Perubahan data jumlah pulau ini, juga […]

  • Ini Cara Mendorong Warga Memetakkan Wilayah Adatnya

    • calendar_month Kam, 26 Jul 2018
    • account_circle
    • visibility 149
    • 0Komentar

    AMAN- Burung Indonesia dan CEPF Latih Masyarakat Adat Warga terutama kelompok masyarakat adat perlu didorong melakukan pemetaan wilayah kelolanya, termasuk  agar mereka bisa mengetahu klaim wilayah adatnya. Upaya ini memerlukan pelatihan atau training  pemetaan wilayah kelola mereka,    Dengan pemetaan itu juga masyarakat adat  bisa melakukan  proses penyatuan, mencatat dan mengesahkan pengetahuan tradisional yang  sudah tumbuh dalam […]

expand_less