Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Cerita Para Perempuan Dibo-dibo Ikan

Cerita Para Perempuan Dibo-dibo Ikan

  • account_circle
  • calendar_month Jum, 5 Feb 2021
  • visibility 621

Puluhan dibo-dibo (pengepul ikan,red)  pagi di akhir Desember 2020 itu  berjejal menunggu kapal penangkap jenis pajeko (purseine) yang akan sandar. Kapal  berbahan fiber itu,  berasal dari  Pulau Hiri dan akan sandar di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Dufa-dufa Ternate Utara.

Puluhan penjual yang  juga  ibu-ibu ini, berasal dari beberapa kelurahan di Ternate. Mereka sebagian besar bertempat tinggal di Tengah dan Utara kota Ternate. “Torang dapa info (kami dapat informasi,red) pajeko (purse seine,red) dari Hiri mau masuk jadi mau beli ikan jualan,” kata Ibu Hawa pengepul  ikan asal Kelurahan Sangaji.   

Dibo dibo ikan cakalang sedang memilih stok ikan untuk dibeli foto M Ichi

Ketika kapal akan sandar, sebagian penjual berjalan menenteng baskom besar menuju tempat sandar. Sebagian ibu  harus berlari merebut tempat agar  baskom mereka diletakkan di samping kapal. Tak pelak  kadang  saling  sikut agar baskom mereka  berada paling di  depan. Dengan begitu ketika keranjang takar ikan  diangkat ke atas jembatan, langsung dipindahkan ke baskom mereka untuk selanjutnya ditimbang. Para pedagang berebut karena kuatir stok ikan yang didapat nelayan tidak mencukupi.  “Hari ini kami jual per kilo Rp17 ribu. Kali ini iko torang pe harga dulu (harga nelayan,red),” teriak salah satu lelaki yang menimbang ikan. Karena dianggap mahal  dari ibu-ibu itu ada yang menawar agar diturunkan Rp1000. Tapi pemilik ikan ngotot diharga yang telah disebutkan. “16 ribu per kilogram yaa,” kata ibu berjilbab ungu itu. Tawaran itu sepertinya tak digubris.Pada saat yang sama ikan yang ada di dalam geladak kapal terus dibongkar ke atas jembatan.

Banyaknya pedagang ikan serobot membeli ikan layang (sorihi,red) memunculkan kegaduhan sebagaimana  kondisi  berjualan  di pasar ikan.

Para dibo dibo ikan menyiapkan ikan yang sudah dibeli dan selanjutnya ke pasar foto M Ichi

Pengakuan sebagian pedagang, mereka harus lincah  bergerak karena jika lambat  sedikit  bisa gigit jari.  Ketakutan itu terbukti karena setelah kapal bersandar dan ikan  diturunkan   ada pedagang  tidak kebagian ikan.  “Stok ikan tidak terlalu banyak. Ikan yang didapat tidak cukup tiga ton,” ujar Ibu   Rahma. Ibu ini mengaku tidak kebagian ikan karena  sebelum baskomnya  terisi,    sudah habis stok di kapal.

Aktivitas ibu-ibu  yang  dikenal dengan dibo-dibo ikan  ini dijalani hamper setiap hari. Mereka bisa ditemui  di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Bastiong, PPI Dufa-dufa, Pasar Ikan Gamalama  dan Pelabuhan Tradisional Rua. Di tempat tempat ini setiap hari ditemukan aktivitas bongkar muat ikan yang dipasarkan tingkat lokal Ternate.  Beberapa tempat di atas   adalah lokasi  keseharian dibo-dibo  mengejar stok ikan yang selanjutnya di jual ke pasar.  Ikan yang dijual juga tidak hanya jenis ikan pelagis kecil. Ada juga jenis cakalang maupun  demersal atau ikan dasar.

Di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Bastiong misalnya, ada  banyak jenis ikan didaratkan. Dari pelagis besar dan kecil hingga jenis ikan dasar atau ikan karang.  

Ada yang menarik dari  hal  yang dianggap biasa di Ternate ini. Sebab ibu-ibu ini sebenarnya adalah penggerak denyut ekonomi kota. Mereka adalah pengisi perut warga kota yang  jumlahnya menyentuh  200 ribu jiwa di Kota Ternate. Dari aktivitas mereka, ikan yang ditangkap nelayan bisa terdistribusi sampai ke perut warga kota yang disibukkan keseharian mereka.

Untuk pengais rezki dari  sektor ini, mereka tidak terdata secara lengkap. Mereka juga tidak berdagang secara terus menerus seperti penjual barang kelontong atau sayur mayor. Sekali-sekali mereka harus beristrahat  karena  dampak kondisi lautan tidak bersahabat. Tidak itu saja ada yang mesti beristrahat karena  kehabisan modal. Mereka yang mengandalkan  hasil suami yang nelayan kecil misalnya, harus bersabar karena tidak setiap hari   rutin  mendapatkan hasil tangkapan. Jika tak ada hasil tangkapan  terpaksa mereka harus mengejar stok ikan  melalui pajeko  (purse seine) atau pelanggan pelanggan ikan yang sudah ada sebelumnya. “Saya sekarang harus menyediakan  sendiri untuk berjualan ikan.  karena  suami sudah tidak lagi menangkap ikan  karena  tidak punya alat tangkap,” kata Amrina salah satu pedagang ikan yang mengaku berasal dari Pulau Hiri.   

Baskom yang disiapkan para dibo dibo ketika membeli ikan di PPI Dufa dufa

Perjuangan para dibo-dibo ikan ternyata tidak mudah karena mereka  jualan atau mengejar stok ikan sejak pagi subuh. Hal ini dilakoni setiap pagi. Ketika mendengar  suara azan subuh di masjid mereka juga harus beres beres  dan berangkat menuju pasar.  Selain beres beres  jualan pagi, jika stok ikan  menipis maka  harus memutar otak mendapatkan  stok untuk berjualan lagi. “Saya biasanya mengambil ikan sorihi (ikan layang,red) di pelabuhan Bastiong. Kadang jika di situ  tidak ada kita pagi –pagi harus ke kelurahan Rua.  Di Rua setiap pagi  banyak pajeko (purse seine) dari kelurahan ini banyak menurunkan ikan setelah  ditangkap nelayan di rumpon ,” jelas Ibu Ima salah satu penjual. Para  dibo-dibo ikan terbilang luar biasa karena rata-rata dari usaha mereka selain bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari juga membantu biaya pendidikan anak  bahkan  sisanya bisa ditabung untuk bangun rumah dan kebutuhan lainnya.

“Lumayan memenuhi kebutuhan sehari-sehari termasuk untuk pendidikan anak dan biaya kesehatan terutama untuk baya BPJS,,” jelasnya.

Dia enggan menyebut angka pasti pendaptan setiap hari karena  fluktuatif. Kalau harga ikan mahal keuntungannya lumayan. Bisa sampai Rp500 ribu pendapatan bersih satu hari. Kadang juga turun sampai Rp200 ribu,” imbuhnya. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Malut Masuk Wilayah Penangkapan Ikan Terukur

    • calendar_month Sel, 4 Apr 2023
    • account_circle
    • visibility 585
    • 0Komentar

    Kegiatan Pengukuran ikan oleh staf MDPI dalam program fair trade di Malku Utara, foto MDPI

  • Riset Kehati dan Lingkungan BRIN–UNIERA Kolaborasi

    • calendar_month Kam, 14 Mar 2024
    • account_circle
    • visibility 614
    • 0Komentar

    Maluku Utara merupakan bagian dari Kawasan Wallacea yang mempunyai keanekaragaman hayati (kehati) dan endemisitas yang tinggi. Karena kekayaan yang dimiliki tersebut   Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi (PREE), Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan (ORHL) dan Lembaga Penelitian Pengabdian Pada Masyarakat dan Publikasi (LPPMP) Universitas Halmahera (UNIRA) sepakat untuk menjalin […]

  • Tambang Hadir, Burung di Kawasan Goa Bokimoruru Terancam

    • calendar_month Kam, 15 Feb 2024
    • account_circle
    • visibility 832
    • 2Komentar

    Penulis Sofyan A Togubu Berbagai jenis burung beterbangan, juga cuitan mereka, pernah menjadi pemandangan lumrah bagi warga di Desa Sagea. Namun suasana yang indah tersebut kini berubah, seiring hadirnya industri pertambangan nikel di kawasan tersebut. Desa yang terletak di Kecamatan Weda Utara, Halmahera Tengah, Maluku Utara itu sesungguhnya berada dalam koridor Key Biodiversity Area (KBA)–lokasi […]

  • Hari Peduli Sampah Nasional Sepi Agenda  

    • calendar_month Sel, 21 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 552
    • 1Komentar

    KLHK: 2030 Tak Ada Lagi TPA Baru Pada 21 Februari setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Hari penting ini   bertujuan  mengingatkan semua pihak bahwa persoalan sampah harus menjadi perhatian utama. Upaya penanganan dan pengelolaan sampah harus melibatkan seluruh komponen masyarakat yang meliputi Pemerintah baik Pusat dan Daerah, akademisi, aktivis, komunitas, dunia usaha, […]

  • Safri Bubu, Pahlawan Konservasi Mamua dari Galela Halmahera

    • calendar_month Rab, 10 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 734
    • 1Komentar

    “Saya hanya ingin suatu saat generasi  dari Galela, Maluku Utara bahkan dunia,  pada 50 atau 100 tahun mendatang masih bisa menyaksikan burung mamua/ bertelur dan berkembang biak di pantai Simau. Ini jadi dasar saya memperjuangkan dengan segala upaya konservasi burung Mamua ini. Konservasi ini saya gagas meski awalnya  dicemooh. Akhirnya semua orang di kampong ini  […]

  • Kemandirian Desa Jangan jadi Nyanyian

    • calendar_month Sen, 23 Nov 2020
    • account_circle
    • visibility 435
    • 0Komentar

    Catatan dari Sekolah Transformasi Sosial  (STS) di Desa Samo Halmahera Selatan Desa harus benar– benar mandiri. Mampu menghidupi warganya. Baik pangan  maupun energi. Desa juga harus menjadi basis berbagai program pembangunan yang dijalankan pemerintah. Bahwa kemandirian desa bukan sebuah nyanyian atau slogan. Bukan  nyanyi kepiluan untuk orang kampong. Dia adalah pengejawantahan kerja kerja riil yang  dilakukan […]

expand_less