Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Cerita Para Perempuan Dibo-dibo Ikan

Cerita Para Perempuan Dibo-dibo Ikan

  • account_circle
  • calendar_month Jum, 5 Feb 2021
  • visibility 542

Puluhan dibo-dibo (pengepul ikan,red)  pagi di akhir Desember 2020 itu  berjejal menunggu kapal penangkap jenis pajeko (purseine) yang akan sandar. Kapal  berbahan fiber itu,  berasal dari  Pulau Hiri dan akan sandar di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Dufa-dufa Ternate Utara.

Puluhan penjual yang  juga  ibu-ibu ini, berasal dari beberapa kelurahan di Ternate. Mereka sebagian besar bertempat tinggal di Tengah dan Utara kota Ternate. “Torang dapa info (kami dapat informasi,red) pajeko (purse seine,red) dari Hiri mau masuk jadi mau beli ikan jualan,” kata Ibu Hawa pengepul  ikan asal Kelurahan Sangaji.   

Dibo dibo ikan cakalang sedang memilih stok ikan untuk dibeli foto M Ichi

Ketika kapal akan sandar, sebagian penjual berjalan menenteng baskom besar menuju tempat sandar. Sebagian ibu  harus berlari merebut tempat agar  baskom mereka diletakkan di samping kapal. Tak pelak  kadang  saling  sikut agar baskom mereka  berada paling di  depan. Dengan begitu ketika keranjang takar ikan  diangkat ke atas jembatan, langsung dipindahkan ke baskom mereka untuk selanjutnya ditimbang. Para pedagang berebut karena kuatir stok ikan yang didapat nelayan tidak mencukupi.  “Hari ini kami jual per kilo Rp17 ribu. Kali ini iko torang pe harga dulu (harga nelayan,red),” teriak salah satu lelaki yang menimbang ikan. Karena dianggap mahal  dari ibu-ibu itu ada yang menawar agar diturunkan Rp1000. Tapi pemilik ikan ngotot diharga yang telah disebutkan. “16 ribu per kilogram yaa,” kata ibu berjilbab ungu itu. Tawaran itu sepertinya tak digubris.Pada saat yang sama ikan yang ada di dalam geladak kapal terus dibongkar ke atas jembatan.

Banyaknya pedagang ikan serobot membeli ikan layang (sorihi,red) memunculkan kegaduhan sebagaimana  kondisi  berjualan  di pasar ikan.

Para dibo dibo ikan menyiapkan ikan yang sudah dibeli dan selanjutnya ke pasar foto M Ichi

Pengakuan sebagian pedagang, mereka harus lincah  bergerak karena jika lambat  sedikit  bisa gigit jari.  Ketakutan itu terbukti karena setelah kapal bersandar dan ikan  diturunkan   ada pedagang  tidak kebagian ikan.  “Stok ikan tidak terlalu banyak. Ikan yang didapat tidak cukup tiga ton,” ujar Ibu   Rahma. Ibu ini mengaku tidak kebagian ikan karena  sebelum baskomnya  terisi,    sudah habis stok di kapal.

Aktivitas ibu-ibu  yang  dikenal dengan dibo-dibo ikan  ini dijalani hamper setiap hari. Mereka bisa ditemui  di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Bastiong, PPI Dufa-dufa, Pasar Ikan Gamalama  dan Pelabuhan Tradisional Rua. Di tempat tempat ini setiap hari ditemukan aktivitas bongkar muat ikan yang dipasarkan tingkat lokal Ternate.  Beberapa tempat di atas   adalah lokasi  keseharian dibo-dibo  mengejar stok ikan yang selanjutnya di jual ke pasar.  Ikan yang dijual juga tidak hanya jenis ikan pelagis kecil. Ada juga jenis cakalang maupun  demersal atau ikan dasar.

Di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Bastiong misalnya, ada  banyak jenis ikan didaratkan. Dari pelagis besar dan kecil hingga jenis ikan dasar atau ikan karang.  

Ada yang menarik dari  hal  yang dianggap biasa di Ternate ini. Sebab ibu-ibu ini sebenarnya adalah penggerak denyut ekonomi kota. Mereka adalah pengisi perut warga kota yang  jumlahnya menyentuh  200 ribu jiwa di Kota Ternate. Dari aktivitas mereka, ikan yang ditangkap nelayan bisa terdistribusi sampai ke perut warga kota yang disibukkan keseharian mereka.

Untuk pengais rezki dari  sektor ini, mereka tidak terdata secara lengkap. Mereka juga tidak berdagang secara terus menerus seperti penjual barang kelontong atau sayur mayor. Sekali-sekali mereka harus beristrahat  karena  dampak kondisi lautan tidak bersahabat. Tidak itu saja ada yang mesti beristrahat karena  kehabisan modal. Mereka yang mengandalkan  hasil suami yang nelayan kecil misalnya, harus bersabar karena tidak setiap hari   rutin  mendapatkan hasil tangkapan. Jika tak ada hasil tangkapan  terpaksa mereka harus mengejar stok ikan  melalui pajeko  (purse seine) atau pelanggan pelanggan ikan yang sudah ada sebelumnya. “Saya sekarang harus menyediakan  sendiri untuk berjualan ikan.  karena  suami sudah tidak lagi menangkap ikan  karena  tidak punya alat tangkap,” kata Amrina salah satu pedagang ikan yang mengaku berasal dari Pulau Hiri.   

Baskom yang disiapkan para dibo dibo ketika membeli ikan di PPI Dufa dufa

Perjuangan para dibo-dibo ikan ternyata tidak mudah karena mereka  jualan atau mengejar stok ikan sejak pagi subuh. Hal ini dilakoni setiap pagi. Ketika mendengar  suara azan subuh di masjid mereka juga harus beres beres  dan berangkat menuju pasar.  Selain beres beres  jualan pagi, jika stok ikan  menipis maka  harus memutar otak mendapatkan  stok untuk berjualan lagi. “Saya biasanya mengambil ikan sorihi (ikan layang,red) di pelabuhan Bastiong. Kadang jika di situ  tidak ada kita pagi –pagi harus ke kelurahan Rua.  Di Rua setiap pagi  banyak pajeko (purse seine) dari kelurahan ini banyak menurunkan ikan setelah  ditangkap nelayan di rumpon ,” jelas Ibu Ima salah satu penjual. Para  dibo-dibo ikan terbilang luar biasa karena rata-rata dari usaha mereka selain bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari juga membantu biaya pendidikan anak  bahkan  sisanya bisa ditabung untuk bangun rumah dan kebutuhan lainnya.

“Lumayan memenuhi kebutuhan sehari-sehari termasuk untuk pendidikan anak dan biaya kesehatan terutama untuk baya BPJS,,” jelasnya.

Dia enggan menyebut angka pasti pendaptan setiap hari karena  fluktuatif. Kalau harga ikan mahal keuntungannya lumayan. Bisa sampai Rp500 ribu pendapatan bersih satu hari. Kadang juga turun sampai Rp200 ribu,” imbuhnya. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Peringati Hari Primata dengan Mengedukasi Siswa

    Peringati Hari Primata dengan Mengedukasi Siswa

    • calendar_month Sen, 29 Jan 2018
    • account_circle
    • visibility 456
    • 0Komentar

    Hari Primata Indonesia (HPI) yang diperingati setiap  30 Januari   dirayakan juga di Maluku Utara dengan beragam  kegiatan. Seperti yang dilaksanakan ProFauna Indonesia yang bekerjasama dengan pemerintah Kota Tidore dan Ternate dalam dua hari ini. Dalam peringatan itu turut dilaksankaan kampanye  sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat terutama siswa  agar bisa paham  tentang upaya perlindungan primate di […]

  • Nelayan Kecil Belajar Standar Keselamatan di Laut

    • calendar_month Sab, 25 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 624
    • 0Komentar

    Para nelayan mempraktikan cara menyelematkan korban di lautan foto MDPI

  • Dari Forum Adat Kesangadjian, Selamatkan Alam Halmahera Timur

    • calendar_month Sel, 7 Jan 2025
    • account_circle
    • visibility 1.047
    • 0Komentar

    Forum adat di bawah Kesangadjian  yang berada  di Halmahera Timur  diinisiasi pembentukannya oleh masyarakat. Gerakan  yang dilakukan Kesangadjian   Bicoli dan turut menghadirkan Sangaji  di Maba itu dilaksanakan  pada 27 dan 28 Desember 2024 lalu. Forum Adat Kesangadjian ini merupakan yang  pertama di Halmahera Timur. Kegiatan itu itu dipusatkan di Balai Desa Wayamli, Halmahera Timur Maluku […]

  • Ini 13 Komitmen Pengelolaan Pesisir dan Pulau Kecil di Indonesia

    Ini 13 Komitmen Pengelolaan Pesisir dan Pulau Kecil di Indonesia

    • calendar_month Jum, 8 Des 2023
    • account_circle
    • visibility 699
    • 0Komentar

    Konferensi Nasional ke-11 Pengelolaan Sumber Daya Laut, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil (Konas Pesisir XI)  27 – 29 November lalu di Pontianak, Kalimantan Barat menghasilkan Deklarasi Pontianak. Hasilnya, menyerukan 13 komitmen bersama pemangku kepentingan dalam sinergitas Pengelolaan Pesisir, Pulau-Pulau Kecil dan Laut  yang Terukur dan Berkelanjutan untuk Ekonomi Biru. Dikutip dari KKP.go.id, Konas Pesisir XI melibatkan lebih […]

  • Mempertegas Otonomi Kampong (1)

    • calendar_month Kam, 31 Mar 2022
    • account_circle
    • visibility 441
    • 0Komentar

    Ibu Marta si seorang ibu dari Desa Tosoa Ibu Halmahera Barat membersihkan lahan kebunnya, foto M Ichi Desember 2021

  • Bobato Adat Kie Goya, Jaga Hutan untuk Anak Cucu

    • calendar_month Kam, 28 Okt 2021
    • account_circle
    • visibility 708
    • 1Komentar

    Dikukuhkan  Saat Grand Launcing Suaka Paruh Bengkok Peranan perangkat adat dalam menjaga hutan dan lingkungan di daerah ini sangatlah penting. Ini demi  menjaga hutan dari berbagai ancaman,  gangguan    sehingga  tetap lestari.  Salah  satu  perangkat adat itu adalah  Bobato Adat Kie Goya  di Kesultanan Tidore Maluku Utara. Bobato Adat Kie Goya atau dikenal dengan Bobato yang […]

expand_less