Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Serunya Kegiatan Halmahera Overland 4×4

Serunya Kegiatan Halmahera Overland 4×4

  • account_circle
  • calendar_month Sen, 18 Okt 2021
  • visibility 583

Dari Rusaknya Jalan hingga Mirisnya Hidup Warga Trans Janu Halmahera Barat

Catatan Dewahyudi   

Ternate Jeep Community: The Wild Of Archipelago Expedition  Nomor Anggota 2015016

Torang di sini so pamalas kasih naik bendera, karena belum merdeka (kami di sini sudah malas menaikan bendera karena belum merdeka). So 15 tahun baru saya lihat oto lewat disini (sudah 15 tahun  baru saya lihat ada mobil lewat  di sini),” kata Priyono salah satu tokoh masyarakat daerah Trans Janu  Kabupaten Halmahera Barat.

Hari itu  saya  coba  berbincang  dengan Priono pria asal Jawa  ini  sekadar ingin menangkap sedikit informasi tentang harapan dari warga transmigrasi terutama mengenai pembangunan  infrastruktur yang selama ini mereka dapatkan.  Perjalanan saya sampai ke trans Janu ini,  karena ada agenda yang digeber oleh Ternate Jeep Community.  

Sekadar tahu, Lembaga ini adalah wadah atau organisasi automotif dan sosial yang di dalamnya berhimpun orang- orang yang mempunyai kesamaan hobi automotif dan petualangan  menggunakan kendaraan berpenggerak 4×4.

Nah, dalam menggerakkan roda organisasi, Ternate Jeep Community mempunyai program kerja yang bertujuan  mengimplementasikan tujuan organisasi sebagai organisasi hobi automotif yang peduli dengan aspek automotif dan sosial.

Jembatan darurat yang dibangun peserta Halmahera Overlang 4×4 sudah bisa dilewati kendaraan mereka, foto Dewahyudi

Halmahera Overland 4×4 adalah bagian dari program organisasi yang menjadi agenda tahunan Ternate Jeep Community. Halmahera Overland di dalamnya mengandung unsur sosial (bakti sosial, penggalangan dan pendistribusian bantuan pasca bencana), expedisi, ekplore potensi kawasan wisata dan paling penting adalah memastikan ada dan layaknya trase jalan untuk ditingkatkan oleh pemerintah daerah yang berwenang dalam penyelenggaraan jalan sesuai statusnya .

Pada 29 September hingga 10 Oktober 2021 lalu  Halmahera Overland 4×4 mengambil perjalanan dengan jalur perjalanan ke Halmahera Barat dan Halmahera Utara melintasi wilayah Sidangoli-Jailolo-Ibu-Kedi-Janu-Trans Janu-Roko.

Jalur yang dipilih dikategorikan jalur favorite, karena menyajikan sensasi track yang variatif. Pengalaman 2 kali melintasi jalur ini memberikan gambaran estimasi waktu tempuh yang tidak terlalu lama (maksimal 4 hari) bisa finish di desa Ruko Halmahera Utara. Namun di luar prediksi, estimasi waktu yang direncanakan mengalami hal  yang cukup mencengangkan. Menempuh jalur Trans Janu-Roko sepanjang 12 KM membutuhkan waktu 6 hari. Dari lama perjalanan ini menjadi gambaran betapa mirisnya kondisi infrastruktur jalan  yang ada di daerah ini.

Potret Potensi dan Keseharian Transmigran Janu

Salah satu jalur yang dilintasi saat kegiatan Halmahera Overland 4×4,  adalah jalanan dari kawasan  transmigrasi  Janu di Halmahera Barat menuju Roko di Halmahera Utara.  Dalam jarak tempuh yang hanya 12 kilometer harus menghabiskan waktu hingga 6 hari lamanya. Kawasan transmigarasi yang diharapkan menjadi pusat pertumbuhan baru terutama untuk penyediaan pangan   dan peningakatan kesejhateraan warganya ternyata berbeda dalam kenyataannya.

Padahal jika merujuk pada UU Nomor 29 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian.  dinyatakan tujuan transmigrasi adalah untuk (1) meningkatkan kesejahteraan transmigran dan masyarakat sekitar, (2) meningkatkan pemerataan pembangunan daerah, dan (3) memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Amanat undang-undang di atas, bertolak belakang dengan kenyataannya. 

Sektor infrastruktur jalan sebagai pemutus keterisolasian kawasan dan pendukung mobilisasi produksi pertanian sangat tidak mendukung untuk tujuan kesejahteraan masyarakat sekitar dan para transmigran.

Seperti digambarkan sebelumnya, bahwa  trip yang ketiga kalinya kami  lakukan tracking di jalur ini, tidak menggambarkan upaya perubahan terhadap infrastruktur jalan. Malah yang ditemukan jalan dan jembatan semakin parah dan tidak bisa dilalui kendaraan bermotor.

Menurut   Prio salah satu warga transmigran, lahan pertanian di desa trans janu  sangat  subur, tidak perlu pupuk introduksunsur hara dari luar  untuk tanaman komoditas pertanian.

“Suburunya tanah pertanian memberikan hasil melimpah. Tapi apa lacur hasil kadang  membusuk karena sulit dipasarkan. Ya alasannya karena akses jalan yang sulit akhirnya hasil produksi pertanian kita ada yang membusuk,”katanya. 

Dia bilang hasil pertanian yang dipanen warga transmigarasi kadang membusuk karena tidak bisa dipasok keluar akibat aksesibilitas jalan yang tidak mendukung. Kalaupun dipaksakan harus dipanggul dan berjalan kaki.

Selain hasil komoditas pertanian berupa hortikultura  ada juga hasil kopra  yang mencapai   50-60 ton per bulan. Begitu juga  pala bisa dalam hitungan minggu dapat mencapai ratusan kilogram. Namun semua terkendala pada rantai pasok distribusi. Hal ini juga yang membuat sebagian dari mereka pesimis. Akhirnya  sebagian  warga transmigran   memilih  meninggalkan daerah transmigrasi ini. Sekadar informasi  kawasan transmigrasi Janu adalah perpaduan transmigran dari pulau jawa dan transmigran local Maluku Utara.

Mobil peserta mencapai kampung di Pedalaman Halmahera, foto Dewahyudi

Harapan Membangun Dari Pinggiran

Bagi sebagian warga transmigrasi Janu berpendapat bahwa, secara politik memang tidak menguntungkan. Namun skema pembangunan dan upaya pemerataan pembangunan wilayah dan kemanusiaan jangan sampai terabaikan. Membangun dari pinggiran adalah skema yang paling baik dalam menjaga semangat kebangsaan dan kecintaan serta kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.

Harapan sebagai warga  transmigran Janu perhatian pemerintah jangan sampai hanya pada pemilihan kepala daerah  saja, namun perlu  berlanjut setelahnya. Tujuanya  harapan hidup  sejahtera mampu terpenuhi.

“Tidak usah ada jaringan telpon juga tidak apa-apa.Asalkan jalan yang menghubungkan ke ibu kota kabupaten dapat direalisasikan sehingga memudahkan  warga untuk melakukan interaksi dengan pemerintah sekaligus menggunakan jalan tersebut untuk memasok hasil pertanian yang diperoleh,” tutur Prio.

Warga juga berharap komunitas mobil jeep agar selalu melintasi jalur ini agar memberikan semangat sekaligus kemudahan bagi mereka dalam melintasi jalur ini setelah tapak ban yang dilalui mobil jeep membuka jarak pandang mereka dalam melakukan aktifitas berjalan kaki ke kebun.

“Demi menjaga semangat warga  kami selalu memberikan support bahwa negara akan hadir untuk masyarakatnya. Tidak ada wilayah yang terbaikan dalam bernegara,”. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • AJI: Menghalangi  Liputan di Pulau Obi dan Ucapan Merendahkan dari Hotman Paris adalah Bentuk Intimidasi 

    AJI: Menghalangi Liputan di Pulau Obi dan Ucapan Merendahkan dari Hotman Paris adalah Bentuk Intimidasi 

    • calendar_month Rab, 22 Jul 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 112
    • 0Komentar

    Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mengecam rangkaian intimidasi dan penghalangan kerja jurnalistik yang dialami sejumlah jurnalis saat melakukan peliputan di Pulau Obi, Maluku Utara. Tidak itu saja, ucapan pengacara Hotman Paris Hutapea yang merendahkan jurnalis saat menjalankan tugas jurnalistik merupakan bentuk intimidasi yang tidak sejalan dengan prinsip kebebasan pers. Ketua AliansiJurnalis Independen Indonesia Nany Afrida […]

  • WALHI:Hari Bumi Harusnya  Bukan Lagi Pernyataan Normatif dan Komitmen Kosong

    WALHI:Hari Bumi Harusnya Bukan Lagi Pernyataan Normatif dan Komitmen Kosong

    • calendar_month Kam, 23 Apr 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 223
    • 0Komentar

    Hari Bumi 2026 diperingati di tengah ironi, krisis iklim dan bencana ekologis semakin meluas.Meski begitu izin-izin yang melegalkan perusakan dan menjadikan rentan ruang hidup rakyat terus diobral. Alih-alih menghentikan eksploitasi, kebijakan pembangunan di Indonesia justru semakin memberikan karpet merah pada industri ekstraktif yang merusak daratan dan lautan, mengorbankan ruang hidup petani, nelayan, masyarakat adat dan […]

  • Sopik, Cara Orang Makean Tahane Jadikan Laut Sumber Keadilan

    • calendar_month Sel, 15 Des 2020
    • account_circle
    • visibility 920
    • 0Komentar

    Laut tidak hanya menyediakan sumber protein dan kekayaan lainnya bagi manusia. Dia juga menjadi pengadilan bagi sebagian orang di Tahane Pulau Makean/

  • Indonesia Mencari Pemimpin Pro Lingkungan

    • calendar_month Jum, 27 Okt 2023
    • account_circle
    • visibility 625
    • 1Komentar

    Kepastian capres dan cawapres yang akan bertanding di pilpres 2024 memunculkan satu pertanyaan penting. Apakah para kontestan memiliki kepedulian tinggi terhadap masalah lingkungan? Krisis iklim yang sedang terjadi dan menjadi permasalahan semua negara termasuk Indonesia membutuhkan komitmen besama untuk menanganinya. Indonesia juga sudah berkomitmen untuk menahan laju pemanasan global, dengan mengedepankan pembangunan rendah karbon yang […]

  • Raja Ampat dan Halmahera, Surga yang Terluka di Timur Indonesia

    • calendar_month Sen, 9 Jun 2025
    • account_circle
    • visibility 820
    • 0Komentar

      Penulis Badrun Ahmad Dosen Universitas Khairun Di ujung  timur Indonesia, terbentang  gugusan pulau karang nan memesona: Raja Ampat. Hamparan atol dan atolnya yang berkilau di atas lautan biru jernih menjadikannya salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. Lebih dari 500 spesies karang dan ribuan spesies ikan menjadikan Raja Ampat sebagai laboratorium […]

  • Kejar Kualitas Riset, LIPI-Unkhair Jalin Kerjasama

    • calendar_month Rab, 9 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 679
    • 1Komentar

    Untuk mendorong adanya riset yang berkualitas, hal yang utama dibutuhkan adalah adanya kerjasama  atau kolaborasi antarlembaga.  Hal inilah yang saat ini dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan  Indonesia (LIPI)  dengan Universitas Khairun Ternate (Unkhair).  Kedua lembaha ini  menjalin Kerjasama untuk tujuan ke arah tersebut.  Kesepakatan kolaborasi tertuang dalam naskah perjanjian kerja sama antara Deputi Bidang Ilmu Kebumian […]

expand_less