Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Opan Jacky Abadikan Jejak Kehidupan Penjaga Hutan Halmahera

Opan Jacky Abadikan Jejak Kehidupan Penjaga Hutan Halmahera

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sab, 25 Jul 2026
  • visibility 152

Buat Film Dokumenter Suku O’Hongana Manyawa, Tayang Agustus  

Muhammad Sofyan Ansar, atau  biasa disapa Opan Jacky,  adalah seorang videographer sudah malang melintang  di bidang ini dengan membuat berbagai  film pendek maupun.

Kali ini sebagai  orang yang berlatar belakang, kehutanan  dia mengabadikan aktivitas videografinya  dengan video tentang alam dan kehidupan manusianya. Salah satunya saat ini Opan  membuat sebuah film documenter yang  bercerita tentang kehidupan orang O’hongana Manyawa  di Halmahera. Atau para peneliti menyebutnya dengan orang Tobelo Dalam.

Film ini sebenarnya lahir dari kepedulian terhadap pentingnya menjaga warisan budaya masyarakat adat agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.

Melalui  dukungan atau   bantuan dari program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku Utara Opan merekam dan mengabadikan kehidupan O’Hongana Manyawa yang kehidupan mereka saat ini semakin  terdampak oleh industry tambang.

Baginya,  ini bukan hanya tentang merekam kehidupan Suku Tobelo Dalam (O’Hongana Manyawa), tetapi  menjadi sebuah upaya menghadirkan kisah mereka dengan penuh rasa hormat.

“Kami ingin tunjukkan kepada dunia bahwa mereka memiliki pengetahuan, nilai-nilai kehidupan, dan hubungan yang sangat kuat dengan alam. Semoga film ini menjadi jembatan yang menghubungkan masyarakat luas dengan kearifan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun, sekaligus mengajak semua pihak  bersama menjaga kelestarian hutan dan menghormati hak-hak masyarakat adat,”kata Sofyan.

Khusus film dokumenter ini Opan mulai menggarapnya sejak Mei  hingga Juli ini untuk pengambilan gambar di lapangan. Sementara  target ahir  finish di akhir  Juli hingga awal Agustus ini.

“Semoga Agustus film dokumnter itu sudah rampung. Saat ini kita (Juli 2026,red)  film dokumenter tentang kehidupan Suku Tobelo Dalam (O’Hongana Manyawa) tengah digarap  prosesnya diproduksinya.

Proses produksi dilakukan di kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata dan sejumlah wilayah adat di pedalaman Pulau Halmahera dengan mengedepankan prinsip penghormatan terhadap adat istiadat, budaya, dan ruang hidup masyarakat adat. Tim produksi bekerja melalui pendekatan partisipatif, membangun komunikasi dengan tokoh adat, masyarakat setempat, serta pihak-pihak terkait agar seluruh proses dokumentasi berlangsung secara etis dan menghormati hak-hak masyarakat adat.

Dokumenter ini akan menampilkan berbagai aspek kehidupan masyarakat Tobelo Dalam. Dari pola hidup yang bergantung pada hutan, sistem pengetahuan lokal, tradisi berburu dan meramu, nilai gotong royong, hingga hubungan spiritual mereka dengan alam. Selain itu, juga merekam berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat adat di tengah perubahan zaman, termasuk tekanan terhadap ruang hidup dan pentingnya menjaga kelestarian hutan sebagai sumber kehidupan.

Melalui pendekatan sinematik yang humanis, dokumenter ini berupaya menghadirkan sudut pandang yang menghargai martabat masyarakat adat, bukan sekadar menampilkan keunikan budaya, tetapi juga memperlihatkan nilai-nilai universal tentang kehidupan, keberlanjutan, dan keharmonisan manusia dengan alam.

“Seluruh proses produksi dilakukan dengan mengedepankan etika dokumenter, membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat adat, serta memastikan setiap proses pengambilan gambar menghormati adat istiadat, privasi, dan ruang hidup komunitas yang didokumentasikan,”tambahnya.

Karena itu dokumenter ini diharapkan menjadi media edukasi sekaligus sarana pelestarian warisan budaya Indonesia yang semakin langka. Apalagi istilah “Togutil” yang menjadi sebutan  bagi O Hongana Manyawa masih sering digunakan di masyarakat. Padahal  banyak dari anggota komunitas dan peneliti lebih memilih penyebutan Tobelo Dalam atau O’Hongana Manyawa.

“Kami percaya bahwa setiap budaya memiliki cerita yang layak didengar. Dokumenter ini adalah bentuk penghormatan kepada masyarakat adat yang selama ini menjadi penjaga hutan Halmahera. Besar harapan kami, film ini dapat menginspirasi generasi muda untuk lebih mencintai budaya Indonesia dan ikut berperan dalam menjaga keberagaman yang menjadi kekayaan bangsa,” harapnya.

Dokumenter ini  rencana diputar dalam berbagai forum kebudayaan, lembaga pendidikan, festival film dokumenter, serta platform digital sebagai media pembelajaran dan promosi kebudayaan Indonesia.

“Melalui karya ini diharapkan semakin banyak masyarakat mengenal kehidupan O’Hongana Manyawa secara lebih utuh, menghargai hak-hak masyarakat adat, serta mendukung berbagai upaya pelestarian budaya dan lingkungan demi keberlangsungan warisan budaya Indonesia bagi generasi mendatang,” harapnya.(*)

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kawasan Konservasi di Malut Terancam Industri Tambang?

    • calendar_month Sen, 15 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 865
    • 1Komentar

    Kawasan konservasi dikuatirkan dimasuki  kegiatan tambang. Banyaknya izin tambang yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi yang telah ditetapkan menjadi Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata (TNAL) di Kabupaten Halmahera Tengah itu. resisten dimasuki tambang. Merujuk revisi RTRW Kabupaten Halmahera Tengah 2012 -2032 yang disampaikan Kepala Badan Perencanan Penelitian Pembangunan (Bappelitbang) Kabupaten Halmahera Tengah Salim Kamaluddin di […]

  • Perkuat Ketahanan Masyarakat Pesisir,  MDPI Gelar Festival Kesehatan dan Pelatihan Keselamatan di Pulau Buru

    Perkuat Ketahanan Masyarakat Pesisir, MDPI Gelar Festival Kesehatan dan Pelatihan Keselamatan di Pulau Buru

    • calendar_month Ming, 12 Apr 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 295
    • 0Komentar

    Kesehatan dan keselamatan nelayan menjadi semakin penting. Di tengah tingginya risiko kerja yang dihadapi saat melaut. Bagi keluarga nelayan, akses terhadap layanan kesehatan preventif yang rutin dan dekat dengan aktivitas sehari-hari menjadi kebutuhan mendasar dalam menjaga produktivitas dan keselamatan. Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) memandang bahwa kesehatan dan keselamatan nelayan merupakan fondasi penting dalam membangun […]

  • KLHK Sosialisasikan FOLU Net Sink 2030 di Maluku Utara

    • calendar_month Rab, 22 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 589
    • 0Komentar

    Indonesia Forestry and Other Land Uses (FOLU) Net-Sink 2030 merupakan suatu kondisi dimana tingkat serapan karbon sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya sudah berimbang atau bahkan lebih tinggi dari tingkat emisi yang dihasilkan sektor tersebut pada tahun 2030 merupakan   Komitmen Indonesia  untuk mendorong tercapainya tingkat emisi GRK sebesar -140 juta ton CO2e pada tahun 2030 […]

  • 153 Pulau Kecil Ditambang, 6  Ada di Maluku Utara   

    • calendar_month Rab, 9 Jul 2025
    • account_circle
    • visibility 1.957
    • 0Komentar

    Berapa jumlah pasti pulau kecil dan sangat kecil di Indonesia yang saat ini dieksploitasi terutama kandungan tambangnya?  Jawaban pemerintah,   ternyata mencapai ratusan pulau. Dikutip dari Liputan6.com,   Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengungkapkan ada 370 Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang tersebar di 153 pulau-pulau kecil di Indonesia. Dari jumlah izin di pulau kecil itu  ada yang […]

  • Makna Lelayan Bagi Orang Patani, Maba dan Weda

    • calendar_month Sel, 2 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 1.134
    • 0Komentar

    Leleyan dalam pengertain umum  orang Maluku Utara adalah sebuah gerakan gotong royong yang terus dilestarikan hingga kini.   Tidak sekadar gotong royong,  tradisi ini  adalah  sebuah kecerdasan lokal (local genious) atas pandangan hidup masyarakat. Terutama untuk masyarakat  Patani, Maba dan Weda untuk saling membantu, mengasihi, memberi dukungan, baik materi maupun non materi terhadap dua peristiwa […]

  • Warga Gane Timur Minta Pemerintah Perhatikan Produksi Sagu

    • calendar_month Sen, 30 Jan 2023
    • account_circle
    • visibility 612
    • 3Komentar

    Masyarakat Desa Kotalou Kecamatan Gane Timur, saat ini  banyak yang mengolah pohon sagu menjadi tepung.    Hasilnya  lalu  dijual ke daerah sekitar Halmahera Selatan dan Weda  Halmahera Tengah.    Dalam mengolah sagu warga tidak lagi melakukannya  secara manual tetapi  menggunakan  mesin penggilingan. Produksi sagunya  setiap orang menghasilkan 5 sampai 6 karung dalam sepekan. Sementara tiap karung […]

expand_less