Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Opan Jacky Abadikan Jejak Kehidupan Penjaga Hutan Halmahera

Opan Jacky Abadikan Jejak Kehidupan Penjaga Hutan Halmahera

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sab, 25 Jul 2026
  • visibility 241

Buat Film Dokumenter Suku O’Hongana Manyawa, Tayang Agustus  

Muhammad Sofyan Ansar, atau  biasa disapa Opan Jacky,  adalah seorang videographer sudah malang melintang  di bidang ini dengan membuat berbagai  film pendek maupun.

Kali ini sebagai  orang yang berlatar belakang, kehutanan  dia mengabadikan aktivitas videografinya  dengan video tentang alam dan kehidupan manusianya. Salah satunya saat ini Opan  membuat sebuah film documenter yang  bercerita tentang kehidupan orang O’hongana Manyawa  di Halmahera. Atau para peneliti menyebutnya dengan orang Tobelo Dalam.

Film ini sebenarnya lahir dari kepedulian terhadap pentingnya menjaga warisan budaya masyarakat adat agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.

Melalui  dukungan atau   bantuan dari program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku Utara Opan merekam dan mengabadikan kehidupan O’Hongana Manyawa yang kehidupan mereka saat ini semakin  terdampak oleh industry tambang.

Baginya,  ini bukan hanya tentang merekam kehidupan Suku Tobelo Dalam (O’Hongana Manyawa), tetapi  menjadi sebuah upaya menghadirkan kisah mereka dengan penuh rasa hormat.

“Kami ingin tunjukkan kepada dunia bahwa mereka memiliki pengetahuan, nilai-nilai kehidupan, dan hubungan yang sangat kuat dengan alam. Semoga film ini menjadi jembatan yang menghubungkan masyarakat luas dengan kearifan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun, sekaligus mengajak semua pihak  bersama menjaga kelestarian hutan dan menghormati hak-hak masyarakat adat,”kata Sofyan.

Khusus film dokumenter ini Opan mulai menggarapnya sejak Mei  hingga Juli ini untuk pengambilan gambar di lapangan. Sementara  target ahir  finish di akhir  Juli hingga awal Agustus ini.

“Semoga Agustus film dokumnter itu sudah rampung. Saat ini kita (Juli 2026,red)  film dokumenter tentang kehidupan Suku Tobelo Dalam (O’Hongana Manyawa) tengah digarap  prosesnya diproduksinya.

Proses produksi dilakukan di kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata dan sejumlah wilayah adat di pedalaman Pulau Halmahera dengan mengedepankan prinsip penghormatan terhadap adat istiadat, budaya, dan ruang hidup masyarakat adat. Tim produksi bekerja melalui pendekatan partisipatif, membangun komunikasi dengan tokoh adat, masyarakat setempat, serta pihak-pihak terkait agar seluruh proses dokumentasi berlangsung secara etis dan menghormati hak-hak masyarakat adat.

Dokumenter ini akan menampilkan berbagai aspek kehidupan masyarakat Tobelo Dalam. Dari pola hidup yang bergantung pada hutan, sistem pengetahuan lokal, tradisi berburu dan meramu, nilai gotong royong, hingga hubungan spiritual mereka dengan alam. Selain itu, juga merekam berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat adat di tengah perubahan zaman, termasuk tekanan terhadap ruang hidup dan pentingnya menjaga kelestarian hutan sebagai sumber kehidupan.

Melalui pendekatan sinematik yang humanis, dokumenter ini berupaya menghadirkan sudut pandang yang menghargai martabat masyarakat adat, bukan sekadar menampilkan keunikan budaya, tetapi juga memperlihatkan nilai-nilai universal tentang kehidupan, keberlanjutan, dan keharmonisan manusia dengan alam.

“Seluruh proses produksi dilakukan dengan mengedepankan etika dokumenter, membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat adat, serta memastikan setiap proses pengambilan gambar menghormati adat istiadat, privasi, dan ruang hidup komunitas yang didokumentasikan,”tambahnya.

Karena itu dokumenter ini diharapkan menjadi media edukasi sekaligus sarana pelestarian warisan budaya Indonesia yang semakin langka. Apalagi istilah “Togutil” yang menjadi sebutan  bagi O Hongana Manyawa masih sering digunakan di masyarakat. Padahal  banyak dari anggota komunitas dan peneliti lebih memilih penyebutan Tobelo Dalam atau O’Hongana Manyawa.

“Kami percaya bahwa setiap budaya memiliki cerita yang layak didengar. Dokumenter ini adalah bentuk penghormatan kepada masyarakat adat yang selama ini menjadi penjaga hutan Halmahera. Besar harapan kami, film ini dapat menginspirasi generasi muda untuk lebih mencintai budaya Indonesia dan ikut berperan dalam menjaga keberagaman yang menjadi kekayaan bangsa,” harapnya.

Dokumenter ini  rencana diputar dalam berbagai forum kebudayaan, lembaga pendidikan, festival film dokumenter, serta platform digital sebagai media pembelajaran dan promosi kebudayaan Indonesia.

“Melalui karya ini diharapkan semakin banyak masyarakat mengenal kehidupan O’Hongana Manyawa secara lebih utuh, menghargai hak-hak masyarakat adat, serta mendukung berbagai upaya pelestarian budaya dan lingkungan demi keberlangsungan warisan budaya Indonesia bagi generasi mendatang,” harapnya.(*)

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Warga Diimbau Jaga Pola Hidup Bersih

    • calendar_month Sen, 14 Sep 2020
    • account_circle
    • visibility 654
    • 0Komentar

    Penyuluhan kesehatan yang digelar Pakativa dan Mayana di kawasan Jembatan Jiko Cobo Tidore

  • Hari Air Sedunia Warga Gelar Ritual Sigofi Ake

    • calendar_month Sel, 22 Mar 2022
    • account_circle
    • visibility 657
    • 0Komentar

    Bagian dari Upaya Konservasi Ake Gaale Selasa 22 Maret 2022 hari ini, menjadi momentum penting memperingati Hari Air Sedunia. Di berbagai belahan bumi, masyarakat  atau komunitas memperingati hari air dengan berbagai kegiatan, baik ceremony maupun aksi nyata.   Di Ternate Maluku Utara  terutama masyarakat yang bermukim di sekitar sumber mata air Ake Gaale di Kelurahan […]

  • Seni dan Tradisi Togal Tergerus Zaman?

    • calendar_month Jum, 20 Nov 2020
    • account_circle
    • visibility 1.603
    • 0Komentar

    Ditinggal Muda-mudi, Digandrungi Kaum Tua      Ibu-ibu berkebaya memakai sarung dan selendang  itu usianya sudah di atas 50 tahun. Mereka duduk berbaris di bawah tenda, sambil menunggu bapak-bapak yang datang dan ikut  pesta ronggeng togal. Ini adalah cara warga Desa Samo di Halmahera Selatan meramaikan  Festival Kampung Pulau dan Pesisir yang diinisiasi perkumpulan PakaTiva bersama […]

  • Tradisi Gotong-Royong Tangkap Ikan di Mayau

    • calendar_month Sel, 26 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 946
    • 3Komentar

    Dikelola Bersama  Hasilnya Dibagi Merata Jumat (25/8/2023) pagi sekira pukul 08.00 WIT di kawasan Pantai Kelurahan Bido Pulau Mayau Kecamatan Batang Dua Kota Ternate Maluku Utara, terdengar riuh.   30 an orang nelayan beres-beres jaring/pukat   persiapan menangkap ikan cakalang. Terdengar teriakan-teriakan saling menyahuti meminta agar  percepat serta  rapikan pukat atau jaring yang ada. Kebetulan juga pagi […]

  • Apa Kabar Deforestasi di Indonesia?

    • calendar_month Sen, 3 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 820
    • 1Komentar

    Pemerintah Klaim Turun  8,4 Persen Deforestasi Indonesia tahun 2021-2022 turun 8,4% dibandingkan hasil pemantauan tahun 2020-2021. Deforestasi netto Indonesia tahun 2021 -2022 adalah sebesar 104 ribu ha. Sementara, deforestasi Indonesia tahun 2020-2021 adalah sebesar 113,5 ribu ha. Demikian rilis resmi yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia sebagaimana dimuat dalam situs resmi […]

  • WALHI Malut Kirim Pesan untuk Sidang COP

    • calendar_month Jum, 29 Okt 2021
    • account_circle
    • visibility 694
    • 1Komentar

    Spanduk besar yang dibentangkan di laut Pantai Falajawa Ternate, foto WALHI

expand_less