Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Kelas Estuaria: Bangun Kesadaran Anak Muda Pahami Isu Lingkungan

Kelas Estuaria: Bangun Kesadaran Anak Muda Pahami Isu Lingkungan

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month 15 jam yang lalu
  • visibility 43

Belajar Ragam Isu, Menulis dan Kampanye hingga Bersih Pantai dan Tanam Pohon

10 anak muda duduk bersila di sebuah rumah panggung di kawasan perkemahan Pulau Tareba Danau Tolire Kota Ternate Barat 20 hingga 23 Agustus 2026 kemarin. Rumah panggung  itu  berada tepat di  punggung danau Tolire.

Musim kemarau yang kering diikuti tiupan angin kencang dari selatan  dalam beberapa bulan ini, ikut dirasakan para peserta pada hari itu. Lantai hutan Pulau Tareba   terlihat coklat dengan    dedauanan  pohon yang mengering beterbangan. Meski suasana agak gerah, tidak mengurangi semangat  a peserta untuk tetap bertahan mengikuti seluruh  materi.

Mereka tidak hanya berkemah menikmati kehidupan  di alam bebas. Ada banyak asupan informasi dan belajar tentang lingkungan serta memahami manusianya.

Tak lupa  juga diberikan  materi menulis beragam isu lingkungan dan mengampanyekan  penyelamatannya.  Kegiatan selama tiga hari itu, ditutup dengan bersih- bersih pantai dan penanaman mangrove untuk menyulam pohon  yang telah mati di  kawasan Danau Tolire Kecil.

Perkumpulan Pakativa Maluku Utara, sebuah  organisasi masyarakat sipil yang bekerja untuk isu lingkungan dengan berfokus pada masyarakat pesisir dan perubahan iklim  menggelar kegiatan bertitel  Camp Kaum Muda Estuaria Maluku Utara. Ini sudah keenam  kalinya, sejak 2021 lalu. Hasilnya banyak dari mereka tersebar di berbagai organisasi dan lembaga. Selain bekerja, mereka turut membawa nilai dan kampanye lingkungan di mana mereka berada.

Direktur Perkumpulan Pakatativa Zafira Daeng Barrang menjelaskan, kelas Estuaria ini adalah sebuah upaya untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan kaum muda kepulauan. Terutama, menyangkut pemahaman ekosistem kepulauan guna minimalisir dampak perubahan iklim.

Peserta termuda dalam kegiatan penanaman mangrove dalam Kelas Estuaria oleh perkumpulan Pakativa Maluku Utara

“Tujuan kita dengan kegiatan ini adalah bisa memberikan landasan kepada anak muda, agar berpikir dan memahami sekaligus mendapat pengetahuan tentang lingkungan. Kedua, membangun jaringan kaum muda yang responsif terhadap kerusakan lingkungan di Maluku Utara,” ujarZafira.

Selama tiga hari itu, para peserta diberikan pemahaman awal berkaitan dengan kondisi sosial budaya masyarakat pesisir. Kesempatan ini para peserta mendapatkan materi dari Sosiolog Maluku Utara Dr Herman Oesman yang memberikan pemahaman tentang bagaimana kondisi sosial masyarakat pesisir. Termasuk bagaimana mengenal beragam kerifan lokal yang dimiliki masyarakat.  Terutama mereka  memanfaatkan alam pesisir dan menjaganya.

Para peserta juga  belajar bagaimana membangun sikap cinta terhadap lingkungan pesisir serta penguatan pemahaman  pengorganisasian rakyat, resiko  dan penerapannya.

Bahkan peserta juga ikut belajar pemetaan. Materi ini bertujuan agar peserta bisa memahami dan mempraktekkan proses pemetaan lapangan ketika melakukan pendampingan.

Khsusus untuk pelatihan menulis para peserta diberi pemahaman  dasar-dasar menulis. Tujuannya bisa menuliskan kembali apa yang mereka amati atau saksikan di lapangan sebagai bagian dari menceritakan  kepada publik  kondisi alam pesisir dan laut  saat ini. Cerita tersebut terutama akibat dampak perubahan iklim, aktivitas antrposentris maupun  kegiatan industri ekstraktif.

“Ini  nantinya mereka bisa menuliskan narasi dan didukung dengan foto yang bisa dikampanyekan melalui media mainstream atau media sosial,”ujar Zafira.

Aksi bersih bersih pantai dari sampah plastik oleh peserta kelas Estuaria, foto Pakativa

Di hari terakhir, para peserta melakukan aksi bersih pantai  dan  menanam mangrove di kawasan danau  Tolire Kecil. Ada 50 pohon mangrove di tanam di kawasan itu sebagai bentuk aksi nyata mengawal kondisi pesisir, terutama di kawasan hutan mangrove yang saat ini menghadapi beragam ancaman serius. Dari perluasan pemukiman hingga  reklamasi pantai.

Laode Arman salah satu peserta kelas Estuaria mengaku senang, bisa  bergabung dalam kelas belajar ini. Pasalnya, dia tidak hanya belajar   pengetahuan  lingkungan dan kondisi sosial masyarakat pesisir dan kondisi lingkungan yang mereka hadapi. Pelajaran penting dari pelatihan ini adalah  belajar dan menuliskan apa yang diliat disaksikan dan diteliti.

“Saya mau ikut  kelas ini  sebagai cara saya mendapatkan pengetahuan di luar kampus yang bisa menjadi bekal setelah lulus,” jelas La Ode Arman yang juga mahasiswa komunikasi Universitas Muhammadiyah itu.

Bagitu juga Nurul Syakila A Kodja salah satu peserta yang datang dari Tidore, meskipun  sibuk membantu usaha orang tuanya dia masih menyempatkan diri ikut camping dan melahap berbagai materi yang diberikan selama tiga hari di lapangan.

“Selain mendapatkan pengetahuan yang tidak ada di ruang kuliah, di forum ini  bisa bertemu kawan-kawan anak muda yang baru dengan concern yang sama,”imbuhnya.

Sampah yang berhasil dikumpulkan di kawasan pantai Danau Tolire Kecil, foto Pakativa

Sementara dalam aksi bersih pantai para peserta bersama alumni Kelas Estuaria sebelumnya, dikumpulkan berkarung karung sampah plastik,  dari berbagai jenis. Mulai dari botol kemasan atau tempat air mineral, kemasan sabun shampo hingga berbagai jenis plastik lainnya. Sampah-sampah yang datang dari laut ini  adalah dari hasil buangan masyarakat yang terbawa ke laut kemudian kembali lagi ke pantai. (*)

 

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Warga “Usir” PT Priven Lestari dari Gunung Wato-wato Halmahera Timur?

    • calendar_month Sab, 9 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 764
    • 0Komentar

    Gunung Wato- wato,  yang menyerupai manusia di Halmahera Timur Maluku Utara saat ini menghadapi ancaman serius.  Ancaman itu karena adanya  rencana penambangan nikel oleh salah satu perusahaan  bernama PT PL. Aktivitas perusahaan yang belakangan memunculkan protes warga.    Protes   karena  rencana penambangan itu dikuatirkan berdampak buruk menghancurkan ruang hidup mereka.  Karena itu warga lalu bergabung […]

  • Kelola Sampah untuk Kesejahteraan

    • calendar_month Sab, 18 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 737
    • 1Komentar

    Sampah di Pulau pulau yang belum dikelola jadi masalah cukup pelik foto M Ichi

  • Keppres Moratorium Sawit Segera Terbit?

    • calendar_month Jum, 26 Jan 2018
    • account_circle
    • visibility 471
    • 0Komentar

    Ini Poin- poinnya   Ini kabar baik bagi warga Maluku Utara yang saat ini sedang  berjuang membebaskan daerahnya dari  industry perkebunan sawit. Pasalnya, saat ini  sedang digodok inpres yang mengatur tentang  moratorium perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Seperti dilansir )Mongabay.co.id http://www.mongabay.co.id/2018/01/25/moratorium-sawit-segera-terbit-berikut-poin-poin-draf-inpresnya/) Setelah hampir dua tahun—sejak April 2016– rencana pemerintah keluarkan aturan tunda sementara (moratorium) izin […]

  • Ini Rencana Pesta Pesisir dan Pulau-pulau Kecil di Malut

    • calendar_month Jum, 16 Nov 2018
    • account_circle
    • visibility 684
    • 0Komentar

    Digelar di Kalaodi  dan  Kayoa  17  hingga 19 November Sebuah  pesta  berbasis  lingkungan   segera digelar  Wahana Lingkungan  Hidup (WALHI) Maluku Utara. Pekan lingkungan ini akan  digelar  di  Kalaodi  puncak Kota Tidore Kepualuan  dan Kayoa Halmahera Selatan.  Bertitel Pekan Lingkungan Hidup Pesisir Laut dan Pulau-pulau Kecil  akan   digelar sejumlah  acara.  Mulai dari  seminar lingkungan hidup  dan […]

  • Kiprah KTH Ake Guraci Marikurubu Ternate

    • calendar_month Sel, 2 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 752
    • 3Komentar

    Bibit yang siap ditanam di lokasi izin KTH Ake Guraci Marikurubu/foto FB Juliaty Rahma Tuhulel

  • Fitako Sumber Energi Terbarukan yang Belum Dilirik

    • calendar_month Kam, 6 Jan 2022
    • account_circle
    • visibility 689
    • 1Komentar

    Buah fitako ataunyamplung yang telah matang dan jatuh foto Mongabay Indonrsia

expand_less