Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Kelas Estuaria: Bangun Kesadaran Anak Muda Pahami Isu Lingkungan

Kelas Estuaria: Bangun Kesadaran Anak Muda Pahami Isu Lingkungan

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sen, 24 Agu 2026
  • visibility 117

Belajar Ragam Isu, Menulis dan Kampanye hingga Bersih Pantai dan Tanam Pohon

10 anak muda duduk bersila di sebuah rumah panggung di kawasan perkemahan Pulau Tareba Danau Tolire Kota Ternate Barat 20 hingga 23 Agustus 2026 kemarin. Rumah panggung  itu  berada tepat di  punggung danau Tolire.

Musim kemarau yang kering diikuti tiupan angin kencang dari selatan  dalam beberapa bulan ini, ikut dirasakan para peserta pada hari itu. Lantai hutan Pulau Tareba   terlihat coklat dengan    dedauanan  pohon yang mengering beterbangan. Meski suasana agak gerah, tidak mengurangi semangat  a peserta untuk tetap bertahan mengikuti seluruh  materi.

Mereka tidak hanya berkemah menikmati kehidupan  di alam bebas. Ada banyak asupan informasi dan belajar tentang lingkungan serta memahami manusianya.

Tak lupa  juga diberikan  materi menulis beragam isu lingkungan dan mengampanyekan  penyelamatannya.  Kegiatan selama tiga hari itu, ditutup dengan bersih- bersih pantai dan penanaman mangrove untuk menyulam pohon  yang telah mati di  kawasan Danau Tolire Kecil.

Perkumpulan Pakativa Maluku Utara, sebuah  organisasi masyarakat sipil yang bekerja untuk isu lingkungan dengan berfokus pada masyarakat pesisir dan perubahan iklim  menggelar kegiatan bertitel  Camp Kaum Muda Estuaria Maluku Utara. Ini sudah keenam  kalinya, sejak 2021 lalu. Hasilnya banyak dari mereka tersebar di berbagai organisasi dan lembaga. Selain bekerja, mereka turut membawa nilai dan kampanye lingkungan di mana mereka berada.

Direktur Perkumpulan Pakatativa Zafira Daeng Barrang menjelaskan, kelas Estuaria ini adalah sebuah upaya untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan kaum muda kepulauan. Terutama, menyangkut pemahaman ekosistem kepulauan guna minimalisir dampak perubahan iklim.

Peserta termuda dalam kegiatan penanaman mangrove dalam Kelas Estuaria oleh perkumpulan Pakativa Maluku Utara

“Tujuan kita dengan kegiatan ini adalah bisa memberikan landasan kepada anak muda, agar berpikir dan memahami sekaligus mendapat pengetahuan tentang lingkungan. Kedua, membangun jaringan kaum muda yang responsif terhadap kerusakan lingkungan di Maluku Utara,” ujarZafira.

Selama tiga hari itu, para peserta diberikan pemahaman awal berkaitan dengan kondisi sosial budaya masyarakat pesisir. Kesempatan ini para peserta mendapatkan materi dari Sosiolog Maluku Utara Dr Herman Oesman yang memberikan pemahaman tentang bagaimana kondisi sosial masyarakat pesisir. Termasuk bagaimana mengenal beragam kerifan lokal yang dimiliki masyarakat.  Terutama mereka  memanfaatkan alam pesisir dan menjaganya.

Para peserta juga  belajar bagaimana membangun sikap cinta terhadap lingkungan pesisir serta penguatan pemahaman  pengorganisasian rakyat, resiko  dan penerapannya.

Bahkan peserta juga ikut belajar pemetaan. Materi ini bertujuan agar peserta bisa memahami dan mempraktekkan proses pemetaan lapangan ketika melakukan pendampingan.

Khsusus untuk pelatihan menulis para peserta diberi pemahaman  dasar-dasar menulis. Tujuannya bisa menuliskan kembali apa yang mereka amati atau saksikan di lapangan sebagai bagian dari menceritakan  kepada publik  kondisi alam pesisir dan laut  saat ini. Cerita tersebut terutama akibat dampak perubahan iklim, aktivitas antrposentris maupun  kegiatan industri ekstraktif.

“Ini  nantinya mereka bisa menuliskan narasi dan didukung dengan foto yang bisa dikampanyekan melalui media mainstream atau media sosial,”ujar Zafira.

Aksi bersih bersih pantai dari sampah plastik oleh peserta kelas Estuaria, foto Pakativa

Di hari terakhir, para peserta melakukan aksi bersih pantai  dan  menanam mangrove di kawasan danau  Tolire Kecil. Ada 50 pohon mangrove di tanam di kawasan itu sebagai bentuk aksi nyata mengawal kondisi pesisir, terutama di kawasan hutan mangrove yang saat ini menghadapi beragam ancaman serius. Dari perluasan pemukiman hingga  reklamasi pantai.

Laode Arman salah satu peserta kelas Estuaria mengaku senang, bisa  bergabung dalam kelas belajar ini. Pasalnya, dia tidak hanya belajar   pengetahuan  lingkungan dan kondisi sosial masyarakat pesisir dan kondisi lingkungan yang mereka hadapi. Pelajaran penting dari pelatihan ini adalah  belajar dan menuliskan apa yang diliat disaksikan dan diteliti.

“Saya mau ikut  kelas ini  sebagai cara saya mendapatkan pengetahuan di luar kampus yang bisa menjadi bekal setelah lulus,” jelas La Ode Arman yang juga mahasiswa komunikasi Universitas Muhammadiyah itu.

Bagitu juga Nurul Syakila A Kodja salah satu peserta yang datang dari Tidore, meskipun  sibuk membantu usaha orang tuanya dia masih menyempatkan diri ikut camping dan melahap berbagai materi yang diberikan selama tiga hari di lapangan.

“Selain mendapatkan pengetahuan yang tidak ada di ruang kuliah, di forum ini  bisa bertemu kawan-kawan anak muda yang baru dengan concern yang sama,”imbuhnya.

Sampah yang berhasil dikumpulkan di kawasan pantai Danau Tolire Kecil, foto Pakativa

Sementara dalam aksi bersih pantai para peserta bersama alumni Kelas Estuaria sebelumnya, dikumpulkan berkarung karung sampah plastik,  dari berbagai jenis. Mulai dari botol kemasan atau tempat air mineral, kemasan sabun shampo hingga berbagai jenis plastik lainnya. Sampah-sampah yang datang dari laut ini  adalah dari hasil buangan masyarakat yang terbawa ke laut kemudian kembali lagi ke pantai. (*)

 

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pulau Sumba Jadi Titik Nol Penetapan Hari Keadilan Ekologi   Dunia

    Pulau Sumba Jadi Titik Nol Penetapan Hari Keadilan Ekologi Dunia

    • calendar_month Sel, 23 Sep 2025
    • account_circle Mahmud Ici
    • visibility 871
    • 0Komentar

    Pulau Sumba yang dikenal dengan nama tanah humba   atau tanah marapu, menjadi titik nol ditetapkannya, hari Keadilan Ekologi dunia atau World EcologicaJustce Day. Hari penting ini digagas oleh Wahana Ligkungan Hidup Indonesia (WALHI) pada Sabtu 20 September 2025 bertepatan dengan kegiatan pertemuan nasional lingkungan  hidup (PNLH) WALHI ke XIV yang  dipusatkan di Kota Waingapu […]

  • Selamatkan Hutan Tropis Papua, Maluku dan Malut

    • calendar_month Ming, 30 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 788
    • 0Komentar

    Suasana tenang sungai Tayawi yang dikelilingi hutan lebat

  • Jaga Hutan Terakhir Halmahera Timur Lewat Olah Sagu, Berkebun dan Bentuk Forum Adat    

    Jaga Hutan Terakhir Halmahera Timur Lewat Olah Sagu, Berkebun dan Bentuk Forum Adat    

    • calendar_month Kam, 16 Okt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 955
    • 0Komentar

    Sarade Kasim 50 (tahun) dan istrinya Nurima (45 tahun) sibuk membangun sebuah rumah papan di lahan kebun mereka. Bahan rumah  dari papan serta kayu olahan lainnya, diangkut dari hutan tak jauh dari situ. Rumah itu berdiri kurang lebih 1,5 kilometer dari desa Bicoli Maba Selatan Kabupaten Halmahera Timur (Haltim) Provinsi Maluku Utara. Tepatnya di bagian […]

  • Warga “Usir” PT Priven Lestari dari Gunung Wato-wato Halmahera Timur?

    • calendar_month Sab, 9 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 779
    • 0Komentar

    Gunung Wato- wato,  yang menyerupai manusia di Halmahera Timur Maluku Utara saat ini menghadapi ancaman serius.  Ancaman itu karena adanya  rencana penambangan nikel oleh salah satu perusahaan  bernama PT PL. Aktivitas perusahaan yang belakangan memunculkan protes warga.    Protes   karena  rencana penambangan itu dikuatirkan berdampak buruk menghancurkan ruang hidup mereka.  Karena itu warga lalu bergabung […]

  • Di Mare akan Dikembangkan Jambu Mente

    • calendar_month Kam, 8 Nov 2018
    • account_circle
    • visibility 747
    • 0Komentar

    Pulau Mare Tidore Kepulauan  yang  menjadi pusat gerabah di Maluku Utara,   segera dikembangkan menjadi pusat produksi jambu mente di  Maluku Utara. Pihak Kantor Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Ternate- Tidore    berencana mengembangkan lahan hutan lindung  di  Pulau Mare ini dengan tanaman jambu mente.  Data  Kesatuan Pengelolaan   Hutan (KPH) Ternate-Tidore  menunjukan dari luas hutan lindung Pulau Mare […]

  • Nelayan Pulau Bisa Obi, Kantongi  SIPR

    • calendar_month Sen, 23 Jan 2023
    • account_circle
    • visibility 682
    • 0Komentar

    Rumpon yang pernah dibersihkan di laut Obi karena tak berizin foto DKP Malut

expand_less