Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Menjaga Riuh Kepak Sayap Burung di Tanah Rempah:Catatan dari Pulau Tareba

Menjaga Riuh Kepak Sayap Burung di Tanah Rempah:Catatan dari Pulau Tareba

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month 18 jam yang lalu
  • visibility 15

Pulau Tareba.  Mendengar namanya,  di benak saya adalah hampiran pulau kecil yang berada di seberang Ternate. Namun, kenyataanya kawasan ini ada di lereng Gunung Gamalama. Tepatnya  di sisi danau yang kaya  cerita rakyat, Danau Tolire di Kelurahan Takome, Ternate Barat Kota Ternate, Maluku Utara. Dari kawasan ini juga terlihat pantai dan laut biru,  memesona sejauh mata memandang.

Pulau Tareba adalah destinasi wisata minat khusus yang dikembangkan oleh masyarakat sebagai tempat camping dan juga bersantai sambil menikmati suasana alam pulau vulkanik Ternate.

Pagi di akhir  Juli  itu, saya bersama rombongan pelatihan menulis lingkungan hidup yang diselenggarakan oleh LSM Burung Indonesia, selama dua hari sejak 24 hingga 25 Juli 2026 melanjutkan agenda  pelatihan dengan  perjalanan ke kawasan Toreba untuk praktik menulis.

Tempat ini  ternyata menyimpan keunikan  dan pesona tersendiri. Agenda lanjutan pelatihan itu di digelar di sebuah rumah panggung di tepi danau Tolire di kawasan wisata Pulo Tareba.

Kurang lebih 15 meter  dari tempat pertemuan,  ada  sebuah rumah kecil berarsitektur estetis. Di dalamnya, tersusun rapi deretan buku serta beragam hasta karya berpigura  mempermanis sudut-sudut ruangan hingga ke  langit-langit rumah.

Tak lama setelah melihat rumah mini itu, kami mulai menyusuri kawasan tersebut. Langkah kaki saya terhenti pada salah satu papan informasi  yang terpampang deretan foto burung dengan kepakan warna-warni memenuhi papan informasi itu. Ternyata selain sebagai tempat camping, Pulo Tareba juga menjadi tempat konservasi  hewan endemik di Pualu Ternate.

Berdiri lalu memperhatikan gambar tersebut ada muncul rasa penasaran. Lalu  menghampiri panitia penyelenggara pelatihan yang paham soal informasi burung.  Andi namanya. Di lembaganya dia bertugas sebagai  fasilitator komunitas/masyarakat (community facilitator). Kami berdiri  tepat di papan informasi satwa   di Pulau Tareba itu.  Andi lalu menjelaskan satu per satu foto burung yang ada di papan informasi tersebut.

Beragam jenis burung yang ada di Maluku Utara dan Pulau Tareba, foto M Ici

“Ini  merupakan hasil penelitian burung di Pulau Tareba yang dilakukan  Halmahera Wildlife Photography (HWP) sebuah komunitas fortografi alam liar di Ternate,” kata Andi sambil menunjuk gambar burung   tersebut.

Setidaknya ada 30 jenis burung  sudah diteliti di kawasan itu.  Dari banyaknya jenis burung, salah satu  yang menarik adalah burung bermahkota  biru yang lebih umum dikenal dengan walik topi biru (Ptilinopus monacha).

“Ini adalah  jenis burung merpati hutan berukuran kecil  dengan ciri warna kebiruan di bagian atas kepalanya yang aktif di pohon-pohon kawasan Pulo Tareba,” ujar Andi.

Selain jenis burung ini ada juga mayoritas burung paruh bengkok yang terbang berseliweran di kawasan hutan ini.

Saat mengamati satu per satu nama dan jenis burung, tiupan kencang angin musim kemarau yang panas   menghantam ranting- ranting pepohonan kawasan hutan sekunder itu,   membuat, daun-daun kering berguguran. Suara burung  sesekali terdengar. Saya pun melangkah ke beberapa spot, termasuk pendopo tempat  berkumpul sambil belajar dan berdiskusi di situ.

Walik Topi Biru

Kesempatan itu  sempat menyaksikan  pasangan burung walik topi biru sedang bertengger di dahan pohon. Warnanya hijau dengan ekor bawah kuning. Salah satu burung terbang berpindah ke dahan lain. Spesies burung dalam keluarga Columbidae ini juga memiliki mahkota depan biru.  Burung ini bisa ditemukan sendirian, kadang bisa berkelompok seperti yang saya temukan di Toreba. Burung ini  menyukai buah-buahan kecil. Kebetulan pohon-pohon di hutan ini juga banyak tumbuh pohon jambulang.

“Burung ini  kita bisa temukan di dataran rendah dan perbukitan rendah dalam berbagai habitat berpohon, termasuk hutan, hutan bakau, dan perkebunan,” kata Andi.

Burung ini  dibedakan dari jenis-jenis walik lain. Melalui kepala gelap dengan mahkota depan biru, serta garis kuning sebagai fitur pembeda tambahan pada jantan. Seperti dahi biru yang lebih tebal pada jantan, dibatasi garis kuning tipis namun jelas. Di usia remaja burung ini memiliki tepian  bulu sayap kuning.

Jenis Walik topi biru  dari status konservasi,  tidak dilindungi. Burung  berukuran kecil 16–18 cm itu tidak termasuk spesies  dilindungi.  Padahal  akibat berkurangnya habitat dan populasi, keberadaannya sangat terancam.

International Union for Conservation of Nature (Uni Internasional untuk Konservasi Alam),  sebuah organisasi internasional yang bergerak di bidang konservasi alam dan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan, mengelompokkannya  ke dalam burung  hampir terancam (Near Threatened).

Dia juga tidak termasuk spesies burung yang diperdagangkan, sehingga tidak tercantum dalam daftar Appendix CITES.

Persoalan status konservasi ini juga dialami  sejumlah satwa endemik lainnya di Maluku Utara.  Kakatua putih, misalnya, menghadapi ancaman kepunahan yang nyata akibat tingkat perburuan yang sangat tinggi. Menyusul di belakangnya adalah Kasturi ternate yang kini berada dalam status rentan (Vulnerable).

“Untuk jenis yang paling sulit dijumpai di alam liar, bidadari halmahera dan mandar-gendang menjadi dua nama yang kian jarang menampakkan diri,” jelas Andi.

Menurutnya, burung hanyalah satu mata rantai kecil dalam kompleksitas jaring kehidupan ekosistem. Namun, perilaku merusak, seperti berburu untuk diperjualbelikan atau sekadar kesenangan semata, lahir dari sudut pandang antroposentris.

Yakni  warisan semangat keilmuan Barat abad ke-19 yang berambisi mendominasi alam raya. Pandangan ini tidak hanya menghancurkan populasi burung, tetapi juga mengancam seluruh makhluk hidup di luar manusia.

 

Ini katanya adalah sudut pandang keliru. Karena itu perlu  disadarkan kembali,. Bahwa manusia adalah bagian utuh dari alam itu sendiri. Bukan entitas yang berdiri terpisah di luarnya.

“Selama ini, kita kerap menganggap burung, satwa lain, dan hutan sebagai hal sepele yang tidak penting. Sebab, perspektif antroposentris selalu menempatkan mereka sekadar sebagai objek eksploitasi demi memuaskan hasrat manusia,” tutupnya.

Maluku Utara  adalah bagian dari kawasan Wallacea yang kaya akan keanekaragaman hayati. Khusus di Pulau Halmahera dan pulau-pulau sekitarnya (seperti Bacan, Morotai, Obi, dan Ternate), tercatat ratusan jenis burung. Sekitar 41 spesies dikategorikan sebagai burung endemik atau memiliki daerah sebaran terbatas.

Alfred Russel Wallace seorang penjelajah, naturalis, dan ahli biologi asal Inggris yang terkenal karena menemukan teori evolusi lewat seleksi alam dan memetakan Garis Wallace. Ia  Menulis makalah tentang seleksi alam yang dikirimkan dari Ternate kepada Charles Darwin pada tahun 1858.( https://jelajah.kompas.id/episode/ekspedisi-wallacea/)

Penulis: Taty Balasteng, Peserta Pelatihan Menulis Isu Lingkungan oleh Burung Indonesia dan SIEJ Maluku Utara 23 dan 24 Juli 2026 

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Alihfungsi Lahan Penyebab Banjir di Halmahera Utara?

    • calendar_month Kam, 21 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 960
    • 0Komentar

    Aktivitas penebangan di kawasan DAS Tiabo, foto Ahsun Inayah

  • Dampak Perubahan Iklim di Ternate, Kota Pesisir dan Pulau Kecil (2)

    Dampak Perubahan Iklim di Ternate, Kota Pesisir dan Pulau Kecil (2)

    • calendar_month Sab, 6 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 791
    • 0Komentar

    Nelayan Terancam di Laut,  Hasil Tangkapan Makin Menurun Gafur Kaboli (59) tahun sudah dua hari tidak melaut. Ditemui Selasa (25/11/2025) sekira pukul 12.20 WIT di rumahnya di Kelurahan Jambula Kota Ternate Selatan, dia mengaku  istrahat mengingat cuaca tidak menentu. Dia bercerita jika aktivitas melaut para nelayan Kota Ternate saat ini sangat beresiko karena cuaca yang […]

  • KPK: Kampus Harusnya Kawal Perusahaan Tambang

    • calendar_month Rab, 17 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 696
    • 2Komentar

    Sungai Wale di Halmahera Tengah yang terkontaminasi lumpur kerukan tambang PT BPN beberapa waktu lalu. foto M Ichi

  • Jumlah Pulau di Maluku Utara Bertambah

    • calendar_month Ming, 10 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 1.370
    • 1Komentar

    Dari 805 Jadi 1080 Pulau, Terbanyak di Halmahera Selatan Julukan negeri seribu pulau bagi Maluku Utara  benar adanya. Pasalnya jumlah pulau di daerah ini yang sebelumnya sesuai data resmi pemerintah hanya 805,   telah berubah menjadi 1080 pulau. Data ini berubah berdasarkan hasil revisi yang  dilakukan Badan Informasi Geospasial (BIG). Perubahan data jumlah pulau ini, juga […]

  • Kawasan Segitiga Terumbu Karang  Didorong  Dapat  Pendanaan Berkelanjutan  

    • calendar_month Ming, 14 Sep 2025
    • account_circle
    • visibility 765
    • 0Komentar

    Sejumlah Negara termasuk Indonesia yang masuk kawasan segitiga terumbu karang dunia mendapat perhatian khusus. Perhatian itu salah satunya adalah dalam bentuk pendanaan berkelanjutan. Saat ini Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong penguatan skema pendanaan berkelanjutan sebagai langkah strategis mencapai tujuan Regional Plan of Action (RPOA) 2.0 Coral  Triangle Initiative on Coral Reefs, […]

  • Opan Jacky Abadikan Jejak Kehidupan Penjaga Hutan Halmahera

    Opan Jacky Abadikan Jejak Kehidupan Penjaga Hutan Halmahera

    • calendar_month Sab, 25 Jul 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 109
    • 0Komentar

    Buat Film Dokumenter Suku O’Hongana Manyawa, Tayang Agustus   Muhammad Sofyan Ansar, atau  biasa disapa Opan Jacky,  adalah seorang videographer sudah malang melintang  di bidang ini dengan membuat berbagai  film pendek maupun. Kali ini sebagai  orang yang berlatar belakang, kehutanan  dia mengabadikan aktivitas videografinya  dengan video tentang alam dan kehidupan manusianya. Salah satunya saat ini Opan  […]

expand_less