Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Ekowisata di Punggung Gamalama

Ekowisata di Punggung Gamalama

  • account_circle
  • calendar_month Jum, 28 Agu 2020
  • visibility 604

Menikmati  Keindahan  Ternate dari  Puncak Hutan Pala dan Cengkih 

Pagi jelang siang di pertengahan Juli lalu, ketika udara hutan pala dan cengkih masih  segar, saya  coba menyusuri  punggung Gunung Gamalama. Lokasi ini berada tepat di kawasan puncak Kelurahan Moya Kota Ternate Tengah Maluku Utara. Lokasi ini dalam beberapa  bulan belakangan  menjadi salah satu spot paling diburu penggila swafoto di Ternate. Mereka talk sekadar mengabadikan keindahan   dan pemandangan alam Ternate dari ketinggian. Tempat   di titik  750 meter di atas permukaan laut  dengan kemiringan 65 derajat,dengan  luas tak cukup 1 hektar menjadi spot wisata yang banya   diburu. Selidik punya selidik  ternyata dari sini bisa menyaksikan  Ternate dari ketinggian. Jika melepas pandangan  ke selatan cukup indah  gugusan pulau-pulau  seperti Maitara, Tidore Mare dan Moti.   

Kawasan  yang  dinamai  “Taman  Cinta”  ini, menjadi  destinasi wisata bagi warga  Ternate bersama keluarga.  

Untuk mencapai lokasi, memang tidak mudah. Berjalan menanjak, hamper 1,5 kilometer dari ujung  Kelurahan Moya  yang dekat dengan puncak Gamalama.  Satu jam atau bahkan lebih  bisa sampai ke sini. Pengunjung  juga harus berjalan menyusuri jalan tanah  menanjak yang baru dalam bentuk badan jalan hampir 1  kilometer. Dari situ,     perjalanan  sampai ke puncak bukit sekira 500 meter   melewati  jalan kebun.  

Karena jalan yang menanjak, hampir semua pengunjung  susah  payah    bisa sampai spot ini. Meski begitu, ketika mencapai puncak, semua lelah bisa terobati. Udara segar, pegunungan, pemandangan kota Ternate yang menawan bisa dinikmati.  Tidak itu saja,  dalam perjalanan menuju puncak,   menghirup  aroma wangi udara  hutan cengkih dan pala. Bahkan di sepanjang perjalanan menyaksikan perkebunan pala,  cengkih dan durian yang umurnya sudah ratusan tahun. Pengunjung juga bisa menyaksikan warga yang memanen hasil pala  dan cengkih di tepi- tepi jalan.   

Kawasan ini juga terbilang ramai pengunjung karena tidak hanya  pemburu swa foto. Jalan ini juga   menjadi   perlintasan para pendaki  puncak Gunung  Gamalama  yang naik maupun turun setiap waktu.  Tidak itu saja,  belakangan tempat wisata ini menjadi lokasi camping bagi berbagai kalangan yang ingin menikmati  dinginnya  alam pegunungan  sambil melihat  indahnya Kota Ternate di malam hari.  

Tempat wisata ini, memang belum memiliki banyak fasilitas.  Baru ada tiga cottage, taman bunga dan wahana outbond  berupa flyng  fox.  Meski begitu karena memiliki panorama indah dan berada dalam kawasan hutan  sangat memikat  wisatawan lokal. Di sini juga bisa berburu foto kupu-kupu yang beterbangan dari satu bunga ke bunga  lainnya.   

Tempat wisata ini sebenarnya berada dalam kawasan hutan produksi konversi (HPK) atau berbatasan langsung dengan hutan lindung Gamalama.   Hadirnya tempat wisata ini, awalnya  digagas oleh Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Ternate Tidore. Selanjutnya  pengelolaanya diserahkan kepada kelompok Perhutanan Sosial (PS) Kelurahan Moya yang membentuk   Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Ake Balanda.  Kelompok ini diberikan izin untuk mengelola kawasan wisata ini. “Izin konsesi atau kelolanya selama 35 tahun. Modelnya pemberdayaan  masyarakat. Semua  hasil usaha  dikelola  kelompok dan warga kelurahan Moya. Hasil itu   didapatkan  warga  terutama  mereka yang memiliki lahan kebun di tempat wisata ini,” jelas Kepala KPH  Ternate Tidore  Ibrahim Tuhateru    di lokasi  wisata ini Juli lalu.

Ketua Kelompok LPHD Ake Balanda Rajab Hayat yang mengelola kawasan wisata ini menjelaskan, yang  mereka kelola ini adalah kawasan ekowisata  puncak Gamalama. “Ide awalnya dari KPH Ternate Tidore kemudian mereka mencari lokasi yang tepat dan memilih kawasan puncak Moya ini,” katanya.  Beberapa fasilitas  di taman ini  dibangun secara swadaya  oleh kelompok.  Saat ini mereka mendapatkan dukungan berupa fly fox  dari Balai Perhutanan Sosial dan Kementerian Lingkungan Hidup (BPSKL) Maluku Papua untuk menambah  fasilitas  di tempat wisata ini.

Karena masih butuh penambahan fasilitas, Rajab  berharap  ada   dukungan  pemerintah kota Ternate atau instansi terkait lainnya. “Ini demi  pengembangan tempat wisata di punggung gamalama ini.  Kita masih  kekurangan banyak fasilitas  terutama akses dan  penunjang lainnya.  Akses jalan ke lokasi juga butuh diaspal dan dibuat tangga. Ini   kami butuh dukungan pemerintah daerah,”  katanya.

Menurut dia, jika ada penambahan fasilitas, termasuk  akses jalan yang baik,  maka  tempat wisata alam ini makin   ramai  dikunjungi   dan memberikan nilai tambah ekonomi bagi warga Moya.  Warga juga akan berjualan di sepanjang jalan menuju lokasi wisata sehingga   memperoleh  tambahan penghasilan.

Saat ini saja,  di luar hari libur  pengunjung yang datang bisa mencapai 200 orang.  Jika   libur Sabtu dan Minggu  pengunjungnya  bisa 500 bahkan sampai 1000 orang.  Pengunjung yang datang ke lokasi ini ditagih  karcis parkir kendaraan di ujung jalan menuju lokasi sebesar Rp 3000/pengunjung.(*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tradisi Gotong-Royong Tangkap Ikan di Mayau

    • calendar_month Sel, 26 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 740
    • 3Komentar

    Dikelola Bersama  Hasilnya Dibagi Merata Jumat (25/8/2023) pagi sekira pukul 08.00 WIT di kawasan Pantai Kelurahan Bido Pulau Mayau Kecamatan Batang Dua Kota Ternate Maluku Utara, terdengar riuh.   30 an orang nelayan beres-beres jaring/pukat   persiapan menangkap ikan cakalang. Terdengar teriakan-teriakan saling menyahuti meminta agar  percepat serta  rapikan pukat atau jaring yang ada. Kebetulan juga pagi […]

  • Bokimoruru Aset Kawasan Lindung Geologi di Halmahera

    • calendar_month Jum, 17 Jun 2022
    • account_circle
    • visibility 807
    • 0Komentar

    Sungaun Fio Bokimoruru foto Adlun Fikri

  • Wetub: Korporasi dan Negara Bungkam Suara Kritis Warga Adat

    • calendar_month Rab, 8 Okt 2025
    • account_circle
    • visibility 503
    • 0Komentar

    Jaksa Pakai UU Minerba Tuntut 11 Warga Maba Sangaji Jalan panjang 11 warga adat Maba Sangaji Kabupaten Halmahera Timur mencari keadilan  belum juga usai.  Proses  tersebut semakin menunjukan bentuk ketidakadilan Negara terhadap warganya. Di saat  tidak ditemukan bukti- bukti yang kuat dalam keterlibatan warga melakukan  perbuatan pidana,  penegak hukum menggunakan  berbagai regulasi  untuk menjerat warga […]

  • KKP Kepulauan Sula Kaya Potensi Belum Terkelola Baik

    • calendar_month Kam, 13 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 925
    • 0Komentar

    Kawasan konservasi Kepulauan Sula di Kabupaten Kepulauan Sula  di Provinsi Maluku Utara mencakup enam kecamatan, yaitu Kecamatan Sanana, Kecamatan Sulabesi Tengah, Kecamatan Sulabesi Timur, Kecamatan Mangoli Utara Timur, Kecamatan Mangoli Timur, dan Kecamatan Mangoli Tengah. Terdapat 35 desa di enam kecamatan  masuk di dalam wilayah konservasi  Kepulauan Sula. KKP Sula yang masuk dalam Taman Pesisir […]

  • Kampanye Hari  Air Sedunia Lewat Konten Digital

    • calendar_month Rab, 15 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 537
    • 1Komentar

    Warga Lingkungan Ake Gaale Kelurahan Sangaji Kota Ternate Utara  akan merayakan Hari Air Sedunia 23 Maret nanti dengan beragam kegiatan. Diawali dengan kegiatan Workshop Makin Cakap Digital pada Selasa (14/3/2023) malam. Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat pentingnya memiliki pemahaman dan pengetahuan soal pemanfaatan dan penggunaan  media social dan alat digital. Tidak […]

  • Menjaga Mangrove di Titik Nol Khatulistiwa

    • calendar_month Sel, 19 Mar 2024
    • account_circle
    • visibility 858
    • 0Komentar

    Membangun Asa dari Kampung Tawabi     Senin (11/2/2024) sekira pukul 12.00 siang itu terasa  menyengat. Matahari tegak lurus di atas ubun-ubun. Cuaca panas  itu begitu terasa karena  sedang berada di titik nol khatulistiwa.  Tepatnya di desa Tawabi Kecamatan Kayoa Kabupaten Halmahera Selatan. Sebuah patok   menjadi penanda  titik nol khatulistiwa  berada di  hutan mangrove tepi pantai […]

expand_less