Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Ekowisata di Punggung Gamalama

Ekowisata di Punggung Gamalama

  • account_circle
  • calendar_month Jum, 28 Agu 2020
  • visibility 574

Menikmati  Keindahan  Ternate dari  Puncak Hutan Pala dan Cengkih 

Pagi jelang siang di pertengahan Juli lalu, ketika udara hutan pala dan cengkih masih  segar, saya  coba menyusuri  punggung Gunung Gamalama. Lokasi ini berada tepat di kawasan puncak Kelurahan Moya Kota Ternate Tengah Maluku Utara. Lokasi ini dalam beberapa  bulan belakangan  menjadi salah satu spot paling diburu penggila swafoto di Ternate. Mereka talk sekadar mengabadikan keindahan   dan pemandangan alam Ternate dari ketinggian. Tempat   di titik  750 meter di atas permukaan laut  dengan kemiringan 65 derajat,dengan  luas tak cukup 1 hektar menjadi spot wisata yang banya   diburu. Selidik punya selidik  ternyata dari sini bisa menyaksikan  Ternate dari ketinggian. Jika melepas pandangan  ke selatan cukup indah  gugusan pulau-pulau  seperti Maitara, Tidore Mare dan Moti.   

Kawasan  yang  dinamai  “Taman  Cinta”  ini, menjadi  destinasi wisata bagi warga  Ternate bersama keluarga.  

Untuk mencapai lokasi, memang tidak mudah. Berjalan menanjak, hamper 1,5 kilometer dari ujung  Kelurahan Moya  yang dekat dengan puncak Gamalama.  Satu jam atau bahkan lebih  bisa sampai ke sini. Pengunjung  juga harus berjalan menyusuri jalan tanah  menanjak yang baru dalam bentuk badan jalan hampir 1  kilometer. Dari situ,     perjalanan  sampai ke puncak bukit sekira 500 meter   melewati  jalan kebun.  

Karena jalan yang menanjak, hampir semua pengunjung  susah  payah    bisa sampai spot ini. Meski begitu, ketika mencapai puncak, semua lelah bisa terobati. Udara segar, pegunungan, pemandangan kota Ternate yang menawan bisa dinikmati.  Tidak itu saja,  dalam perjalanan menuju puncak,   menghirup  aroma wangi udara  hutan cengkih dan pala. Bahkan di sepanjang perjalanan menyaksikan perkebunan pala,  cengkih dan durian yang umurnya sudah ratusan tahun. Pengunjung juga bisa menyaksikan warga yang memanen hasil pala  dan cengkih di tepi- tepi jalan.   

Kawasan ini juga terbilang ramai pengunjung karena tidak hanya  pemburu swa foto. Jalan ini juga   menjadi   perlintasan para pendaki  puncak Gunung  Gamalama  yang naik maupun turun setiap waktu.  Tidak itu saja,  belakangan tempat wisata ini menjadi lokasi camping bagi berbagai kalangan yang ingin menikmati  dinginnya  alam pegunungan  sambil melihat  indahnya Kota Ternate di malam hari.  

Tempat wisata ini, memang belum memiliki banyak fasilitas.  Baru ada tiga cottage, taman bunga dan wahana outbond  berupa flyng  fox.  Meski begitu karena memiliki panorama indah dan berada dalam kawasan hutan  sangat memikat  wisatawan lokal. Di sini juga bisa berburu foto kupu-kupu yang beterbangan dari satu bunga ke bunga  lainnya.   

Tempat wisata ini sebenarnya berada dalam kawasan hutan produksi konversi (HPK) atau berbatasan langsung dengan hutan lindung Gamalama.   Hadirnya tempat wisata ini, awalnya  digagas oleh Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Ternate Tidore. Selanjutnya  pengelolaanya diserahkan kepada kelompok Perhutanan Sosial (PS) Kelurahan Moya yang membentuk   Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Ake Balanda.  Kelompok ini diberikan izin untuk mengelola kawasan wisata ini. “Izin konsesi atau kelolanya selama 35 tahun. Modelnya pemberdayaan  masyarakat. Semua  hasil usaha  dikelola  kelompok dan warga kelurahan Moya. Hasil itu   didapatkan  warga  terutama  mereka yang memiliki lahan kebun di tempat wisata ini,” jelas Kepala KPH  Ternate Tidore  Ibrahim Tuhateru    di lokasi  wisata ini Juli lalu.

Ketua Kelompok LPHD Ake Balanda Rajab Hayat yang mengelola kawasan wisata ini menjelaskan, yang  mereka kelola ini adalah kawasan ekowisata  puncak Gamalama. “Ide awalnya dari KPH Ternate Tidore kemudian mereka mencari lokasi yang tepat dan memilih kawasan puncak Moya ini,” katanya.  Beberapa fasilitas  di taman ini  dibangun secara swadaya  oleh kelompok.  Saat ini mereka mendapatkan dukungan berupa fly fox  dari Balai Perhutanan Sosial dan Kementerian Lingkungan Hidup (BPSKL) Maluku Papua untuk menambah  fasilitas  di tempat wisata ini.

Karena masih butuh penambahan fasilitas, Rajab  berharap  ada   dukungan  pemerintah kota Ternate atau instansi terkait lainnya. “Ini demi  pengembangan tempat wisata di punggung gamalama ini.  Kita masih  kekurangan banyak fasilitas  terutama akses dan  penunjang lainnya.  Akses jalan ke lokasi juga butuh diaspal dan dibuat tangga. Ini   kami butuh dukungan pemerintah daerah,”  katanya.

Menurut dia, jika ada penambahan fasilitas, termasuk  akses jalan yang baik,  maka  tempat wisata alam ini makin   ramai  dikunjungi   dan memberikan nilai tambah ekonomi bagi warga Moya.  Warga juga akan berjualan di sepanjang jalan menuju lokasi wisata sehingga   memperoleh  tambahan penghasilan.

Saat ini saja,  di luar hari libur  pengunjung yang datang bisa mencapai 200 orang.  Jika   libur Sabtu dan Minggu  pengunjungnya  bisa 500 bahkan sampai 1000 orang.  Pengunjung yang datang ke lokasi ini ditagih  karcis parkir kendaraan di ujung jalan menuju lokasi sebesar Rp 3000/pengunjung.(*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kala Rusa Pulau Mare Tinggal Cerita

    • calendar_month Jum, 14 Sep 2018
    • account_circle
    • visibility 501
    • 0Komentar

    Hamparan ilalang  mencapai 10 hektar di bagian Timur Gunung Mare itu merupakan hutan lindung. Ada juga pohon jambulang tumbuh liar bersama tanaman perdu lain. Tempat ini oleh warga dikenal dengan Bilarung Makota, bahasa Tidore, berarti tempat bermain rusa. Warga menyebut, tempat bermain rusa, karena di sinilah sekitar 15 tahun lalu bisa menyaksikan rusa-rusa di Puncak […]

  • Raja Ampat dan Halmahera, Surga yang Terluka di Timur Indonesia

    • calendar_month Sen, 9 Jun 2025
    • account_circle
    • visibility 698
    • 0Komentar

      Penulis Badrun Ahmad Dosen Universitas Khairun Di ujung  timur Indonesia, terbentang  gugusan pulau karang nan memesona: Raja Ampat. Hamparan atol dan atolnya yang berkilau di atas lautan biru jernih menjadikannya salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. Lebih dari 500 spesies karang dan ribuan spesies ikan menjadikan Raja Ampat sebagai laboratorium […]

  • Atasi Sampah, Malut Butuh PLTSa?

    • calendar_month Sel, 28 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 886
    • 1Komentar

    Sampah menjadi masalah paling serius. Tidak hanya di kota tetapi juga di  desa- desa di seluruh Indonesia. Dia menjadi masalah dan  sangat mengancam lingkungan dan manusia  terutama sampah plastic. Sampah  jenis ini   sulit terurai  sehingga dilakukan berbagai riset  untuk mengatasi  makin banyaknya sebaran di lingkungan darat maupun laut.   Ada sejumlah cara  mengatasi sampah ini […]

  • Tambang  PT MAI Beroperasi,  Desa Sagea Kiya Makin Terancam

    Tambang  PT MAI Beroperasi,  Desa Sagea Kiya Makin Terancam

    • calendar_month Sel, 14 Okt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 764
    • 0Komentar

     Warga Desa Sagea-Kiya, Weda Utara, Halmahera Tengah, Maluku Utara, yang tergabung dalam Koalisi Save Sagea kembali menggelar aksi protes  Senin, 13 Oktober 2025. Aksi ini  dilakukan berkaitan dengan  aktivitas tambang PT Mining Abadi Indonesia (PT MAI), kontraktor dari perusahaan tambang nikel PT Zhong Hai Rare Metal Mining Indonesia dan PT First Pacific Mining. Aktivitas penambangan […]

  • Merawat Ake Sali, Warisan Air dari Kampung Tua yang Kini Jadi Hutan

    Merawat Ake Sali, Warisan Air dari Kampung Tua yang Kini Jadi Hutan

    • calendar_month Rab, 17 Des 2025
    • account_circle Penulis: Burhanuddin Jamal Warga Kelurahan Tosa Tidore Kepulauan
    • visibility 780
    • 0Komentar

    Sebuah Catatan dari Kampung Tomadou Kota Tidore Kepulauan  Di Kota Tidore Kepulauan, tepatnya di Kampung Tomadou Kelurahan Tosa Kecamatan Tidore Timur  memiliki salah satu sumber mata  air yang dikenal dengan Mata Air Ake Sali. Sekitar wilayah  mata air ini dahulunya adalah sebuah perkampungan tua yang dikenal dengan nama Kampung Buku Mira. Warga   Buku Mira ini […]

  • Climate Right Internasional Desak Hentikan Sementara Tambang Nikel di Maluku Utara

    • calendar_month Ming, 5 Nov 2023
    • account_circle
    • visibility 701
    • 1Komentar

    Pemerintah pusat harus merespons rekomendasi Dinas Lingkungan Hidup atas pencemaran sungai  yang terjadi di Sagea Kabupaten Halmahera Tengah Maluku Utara.  Demikian rilis resmi yang dikeluarkan Climate Rights International (CRI) akhir September lalu. Sekadar diketahui CRI adalah organisasi pemantauan dan advokasi iklim dan hak asasi manusia internasional yang didedikasikan untuk mencegah dan menangani pelanggaran hak asasi […]

expand_less