Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Ini Potret Desa Sumber Pangan di Pulau Morotai

Ini Potret Desa Sumber Pangan di Pulau Morotai

  • account_circle
  • calendar_month Rab, 28 Feb 2018
  • visibility 572

Gugusan pulau-pulau kecil di bawah langit terlihat biru kala mendekati Kepulauan Morotai, Maluku Utara, menumpangi kapal ferry, pada awal 2018.

Ada  Pulau Dodola, Zum-zum, dan Pulau Kolorai, tempat produksi rumput laut. Pulau-pulau kecil pun menyimpan sejarah panjang Perang Dunia ke II. Pulau Zum-zum, merupakan saksi bisu pertempuran Jepang dan sekutu Tentara Amerika yang dipimpin Jenderal MacArthur. Pulau ini dapat ditempuh dalam 15 menit dengan speedboat. Seperti dilansir Mongabay.co.id (http://www.mongabay.co.id/2018/02/24/potret-desa-sumber-pangan-di-pulau-morotai/  yang ditulis oleh Faris Bobero. Keindahan Pulau Morotai, mulai mencuat sejak Sail Morotai pada Juni-September 2012, diikuti lebih 100 peserta dari luar negeri.

Pulau inpun dikenal dunia dengan keindahan pariwisata baharinya. Ketika saya tiba di pusat kota pulau seluas 2.476 km persegi ini, langit mulai gelap, tanda hujan akan turun. Sekadar bermalam di Daruba, Ibukota Kabupaten Pulau Morotai, jadi pilihan tepat. Saya mendapat informasi dari warga soal daerah sumber pangan mereka di Desa Pilowo dan Aha. Ada juga soal kelapa bido di Desa Bido, dan lain-lain.

Badan Stastistik Morotai 2016 mencatat, pada 2015, luas padi sawah 1450 hektar, panen 314 hektar dengan produksi 943 ton. Kabupaten ini juga punya empat komoditas unggulan, yakni kelapa, cengkih, pala, dan kakao. Pada 2013, lahan kelapa 12.374 hektar, dengan produksi 11.166 ton, cengkih luas 2.124 hektar, produksi 207 ton. Lalu, luas kebun pala 2.966 hektar dengan produksi 101 ton, dan kakao 1.630 hektar dengan produksi 217 ton. Sedangkan hasil produksi perikanan pada 2014, tercatat 179.620 ton. Sektor perikanan, alat tangkap nelayan paling banyak dipakai, yaitu handline, ada 1.038 buah. Kapal penangkap ikan didominasi kapal motor tempel 694 kapal.

Keesokan hari, kami menuju Desa Aha dan Pilowo, di selatan Pulau Morotai, dengan sepeda motor, menempuh waktu sekitar 15-20 menit dari Desa Daruba.

Di tengah perjalanan, kami melihat monumen patung Teruo Nakamura, salah satu prajurit Jepang pada Perang Dunia II di Morotai.

Pada monumen tertulis,” Nakamura adalah suku asli Taiwan yang direkrut menjadi tentara sukarela kekaisaran Jepang pada Perang Dunia II, sebagai pasukan khusus Takasago IV yang terkenal sebagai pasukan khusus perang gerilya untuk mempertahankan kepulauan Morotai dari gempuran tentara sekutu.”

Monumen ini dibangun saat Sail Morotai 2012. Ia berada di samping jalan utama Desa Dehegila.

Beberapa menit kemudian terlihat rumah panggung, persis seperti rumah adat Bugis Bone, berjejer dari arah timur ke barat, berhadapan dengan berhektar-hektar ladang sawah.

Di bawah rumah panggung berdinding papan itu kosong tanpa dinding, dengan ketinggian sekitar tiga meteran. Ia dipakai buat menaruh hasil panen, seperti gabah, atau untuk meletakkan kayu bakar, dan barang lain.  Masyarakat setempat menyebut bangunan ini dengan rumah tinggi (bola soba) dalam bahasa lama Bugis Bone, Sulawesi Selatan. Konstruksi rumah sengaja dibuat demikian untuk mengingat kampung halaman mereka, yang mayoritas Suku Bugis Bone di Desa Aha.

Anwar Gani, Kepala Desa Aha, bercerita, sebelum mekar jadi satu desa otonom dari Desa Pilowo pada 2013, Desa Aha adalah hutan sagu, anak dusun dari Desa Pilowo.

Pada 1968, (alm) Sire Gani dari Bugis Bone datang ke Morotai mendiami Desa Cocomare, Morotai Selatan. Dia sering datang ke Desa Pilowo, mengunjungi kepala Desa Arsad Mahmud untuk meminta lokasi agar bisa berkebun.

Kepala desa kemudian membawa Sire Gani menuju hutan sagu, daerah berawa yang belum dimanfaatkan warga. “Karena hutan sagu ini tak terurus, kepala desa menyerahkan ke ayah saya untuk membuka lahan kebun,” kata Anwar.

Mulai dari itu, setiap waktu luang, Sire Gani berjalan kaki sekitar delapan kilometer dari Desa Cocomare ke hutan sagu untuk membuka lahan perkebunan. “Saat itu, bapak saya mulai membongkar hutan rawa lalu balik ke Cocomare jalan kaki delapan kilometer,” katanya.

Kali pertama buka lahan, Sire Gani tanam padi ladang bibit padi lokal, gogo. Kala panen, Sire kembali ke Makassar. Sebagian keluarga dia di Bone meminta Sire membawa mereka ke Morotai untuk berkebun.

“Kalian boleh ikut, namun saya tak menjamin apakah kalian senang atau berhati susah ketika di sana. Saya juga baru memulai bertani,” kata Anwar mengulangi ucapan sang ayah.

Akhirnya, tiga keluarga mengikuti Sire ke Morotai. Mereka dapat hutan lagi, terus berhasil, mereka pulang lagi. Begitu seterusnya. Jadi, migrasi ke sini bukan program pemerintah tetapi inisiatif sendiri.

Pada 1970-an, Aha baru dihuni empat keluarga asal Bugis Bone dengan persetujuan Kepala Desa Pilowo. Orang-orang Bugis ini berhasil membuka beberapa hektar padi ladang. Mereka memanen dengan cara sederhana, menumbuk benih padi pakai lesung.

Saat itu, belum pakai sistem irigasi. Mereka hanya memanfaatkan air hujan untuk padi ladang hingga bergeser ke padi sawah pada 1980-an dengan bibit dari Makassar. Pastinya, jika musim kemarau, mereka tak akan panen.

Kala panen, setiap keluarga wajib menyisihkan beberapa kilogram padi, disimpan agar tak kekurangan pangan saat kemarau tiba. Sepuluh tahun kemudian, barulah irigasi dibangun pemerintah setelah akses jalan terbuka.

Sebelum ada jalan, panen padi dijual ke Desa Daruba, mengunakan perahu sampan dari pantai Desa Pilowo.“Setelah padi panen, setiap orang memikul satu karung padi 30 kg, lalu jalan kaki tujuh km menuju Pantai Pilowo,” kata Anwar.

Setahun kemudian, beberapa petani Aha balik ke Makassar dan kembali bersama beberapa keluarga. Aha banyak dihuni Suku Bugis.

Melihat kondisi petani banyak belum menempuh pendidikan formal, Sire berinisiatif membangun sekolah, yang ditempatkan di bawah rumah panggung. Saat itu, dia mengajak satu orang jadi guru, mereka digaji dari hasil panen, sekadar mengajar berhitung dan mengeja huruf. Bahan belajar seperti buku Matematika dan Bahasa Indonesia Sire dapat dari kerabat di Desa Daruba, ketika berjualan hasil panen.

Menariknya, hingga kini, masyarakat Aha tak ketergantungan dengan pupuk meskipun setok pupuk sudah tersedia di Dinas Kehutanan Morotai. Tanah mereka memiliki kualitas baik untuk padi, sayuran, kelapa, bahkan cengkih dan pala.

“Tanah di sini berbeda dengan Makassar atau Jawa, di Makassar tak ada pupuk, padi tak jadi. Di sini, kalau dipupuk, padi roboh semua karena besar. Pupuk justeru membuat padi hancur dan menambah hama,” ucap Anwar.

Petani bertani organik, tanpa pupuk kimia. Saat ini, Desa Aha dihuni 72 keluarga, luas wilayah 4,380 hektar lebih. Anwar bilang, pada 2017, sistem irigasi mulai diperbaiki pemerintah. Dia perkirakan, dalam setahun bisa tiga-empat kali panen. Satu keluarga bisa hasilkan tiga sampai empat ton bulir padi atau gabah.

Rerata, satu keluarga panen padi lebih 100 karung. Satu karung 35 kilogram. “Jadi, hitungan saya, satu keluarga, sekali panen mengasilkan tiga ton atau 350 kg. Jika dikalikan 75 keluarga, berarti Desa Aha sekali panen 26.250 kg atau 26 ton lebih,’’ katanya.

Kalau dalam setahun tiga kali panen, Desa Aha hasilkan panen 78.750 kg atau 78 ton bulir padi.

Anwar bilang, mereka masih terus berbenah karena hingga kini, mereka masih gunakan sistem tradisional, belum didukung alat-alat modern untuk kualitas dari gabah jadi beras. Dia sedikit khawatir, kalau hasil panen kalah dengan beras luar Morotai yang mendominasi pasar.

Para petani pernah mengusulkan Bupati Morotai agar hasil panen Desa Aha bisa ditangani perusahaan daerah, terutama pemasaran.

Layang Sutanto, warga Desa Daruba mengatakan, sejak dulu, mereka suka mengkonsumsi beras dari Desa Aha. “Di Daruba, kami menyebut beras baru. Jika petani Aha belum datang jualan ke sini, kami akan datang ke Aha sekadar membeli beras. Saat ini, sekilogram Rp10.000.”

Layang bilang, sejak dahulu, sebelum dimekarkan– jadi bagian Desa Pilowo–, Aha adalah sumber pengan Kepulauan Morotai. “Dua desa bisa dikatakan, dua desa ini dapur Pulau Morotai,” katanya.

Warga Pilowo membangun rumah di pesisir pantai, sekira tiga kilometer dari Desa Aha. Di sana, kala musim melaut, secara berkelompok mereka menggerakkan bagan ikan, kala musim panen kelapa, mereka ke kebun membuat kopra.

Nelayan bagan, Almar, kala itu sedang membuat kopra di bibir Pantai Pilowo mengatakan, beberapa bulan ini tak melaut karena salah satu bagan ikan rusak. “Di sini ada empat bagan ikan, satu rusak,” kata ayah tiga anak ini. Kopra yang dia kerjakan milik majikannya, Hamid.

Upah Almar dihitung persatu karung kopra jadi Rp35.000. Dia memperperkirakan, produksi kopra sekitar 40 ton dan panen dijual ke Aha. “Harga kopra jatuh, hanya Rp6.500 perkg. Kami jual ke orang Bugis, di Aha,” katanya.

Dia bilang, panen kopra di Pilowo cukup melimpah, pada bulan ke tiga, hasil bisa 100 ton.

Supriono Ahmad, Dosen Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pasifik, Morotai, mengatakan, riset model integrasi Kementerian Kelautan dan Perikanan pada 2017, di Kepulauan Morotai, hanya ada empat bagan ikan.

Keempat bagan ada di Desa Pilowo dan Beringin yan berdekatan, sayangnya satu bagan rusak parah. “Kami sudah riset. Di Morotai, hanya empat bagan ikan. Satu rusak, tiga beroperasi di Perairan Morotai,” ucap Supriono.

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Indonesia Luncurkan Peta Jalan dan Panduan Aksi Ekosistem Karbon Biru di COP 30 Brazil

    Indonesia Luncurkan Peta Jalan dan Panduan Aksi Ekosistem Karbon Biru di COP 30 Brazil

    • calendar_month Sen, 1 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 305
    • 0Komentar

    BELEM, (19/11) – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Kementerian Lingkungan Hidup secara resmi meluncurkan Peta Jalan dan Panduan Aksi Ekosistem Karbon Biru Indonesia pada COP 30 UNFCCC di Belém, Brasil, Senin (17/11). Dokumen ini memberikan arah kebijakan dan langkah terkoordinasi untuk melindungi, memulihkan, dan mengelola ekosistem karbon biru, yakni mangrove, padang lamun, […]

  • Waspada Bahaya Di Balik Curah Hujan Ekstrim

    Waspada Bahaya Di Balik Curah Hujan Ekstrim

    • calendar_month Sen, 18 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Penulis: Mohamamd Ridwan Lessy (Dosen Ilmu kelautan dan Plt Ketua Forum PRB Kota Ternate) Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih mengguyur Kota Ternate sepanjang beberapa hari belakangn ini, dengan potensi peningkatan curah hujan pada sore hingga malam hari yang disertai petir dan angin kencang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Baabullah […]

  • Berburu Kesempatan Kerja di UI Career

    • calendar_month Rab, 15 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 557
    • 1Komentar

    Ini  jadi kesempatan emas bagi mahasiswa semester akhir maupun mereka yang kategori fresh graduate yang ada di Maluku Utara danIndonesia umumnya . Peluang kerja tersedia di berbagai perusahaan terkemuka di Indonesia. Bisa  berburu berbagai peluang itu  dalam UI CAREER, INTERNSHIP, SCHOLARSHIP  dan ENTREPENEURSHIP (CISE) EXPO MARET 2023 ini Melalui Career Development Center Universitas Indonesia (CDC […]

  • Ancaman Plastik Makin Mengerikan, Chair’s Draft Text Gagal Lindungi Planet

    • calendar_month Jum, 15 Agu 2025
    • account_circle
    • visibility 643
    • 3Komentar

      Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) mengecam keras teks baru yang dirilis oleh Chair Intergovernmental Negotiating Committee (INC) untuk Perjanjian Global Plastik pada 13 Agustus 2025. Dokumen ini merupakan kemunduran besar yang mengkhianati tiga tahun proses negosiasi yang menunjukkan dukungan luas terhadap perjanjian ambisius yang mengatur seluruh siklus hidup plastik, termasuk pembatasan produksi. Alih-alih menjadi […]

  • Birokrasi Tahan Dana Iklim, Masyarakat Adat dan Kampong Hanya Terima Sekira 10 Persen

    Birokrasi Tahan Dana Iklim, Masyarakat Adat dan Kampong Hanya Terima Sekira 10 Persen

    • calendar_month Sen, 1 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 434
    • 0Komentar

    Ironi pendanaan iklim kembali mengemuka bersamaan dengan Konferensi Iklim COP 30 di Brasil. Penelitian International Institute for Environment and Development (IIED) menemukan hanya kurang dari 10 persen dana iklim global yang benar-benar sampai ke kampung-kampung dan Masyarakat Adat. Dikutip dari   Berita | SIEJ – COP30 – BELEM, BRAZIL dari total US$17,4 miliar yang disetujui untuk proyek […]

  • 7.280 Pulau di BANUSRAMAPA Terancam

    • calendar_month Rab, 22 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 583
    • 0Komentar

    Ancaman Perubahan Iklim sangat nyata fot M Ichi

expand_less