Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Tugu Kenari dan Diaspora Minang di Makean

Tugu Kenari dan Diaspora Minang di Makean

  • account_circle
  • calendar_month Rab, 6 Sep 2023
  • visibility 879

Kuliah Bersama Masyarakat (Kubermas) tahap I Universitas Khairun Ternate  di Desa Sebelei Kecamatan  Makean Barat, Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara selama satu bulan (Agustus 2023) telah tuntas. Program kerja mereka,salah satunya membuat Tugu Kenari sebagai salah satu ikon Desa Sebelei.   

Sekadar diketahui, tugu ini memiliki makna filosofis mendalam. Pohon kenari  disebut- sebut sebagai  salah satu tanaman kehidupan warga pulau Makeang termasuk warga  di Sebelei dipilih sebagai symbol utamanya.

Buah dari pohon kenari sebenarnya menjadi mesin penghasil uang, selain cengkih dan pala. Dari kenari banyak  warga  bisa naik haji, menyekolahkan anak hingga dijadikan tabungan hari tua. Pohon kenari juga menjadi identitas.  Banyak pihak mengidentikan Makean sebagai pulau Kenari.

Beberapa literature menyebutkan,  kenari menjadi salah satu tumbuhan yang diintroduksi  Belanda ke di saat VOC, perusahaan dagang Belanda di zaman penjajahan,  membeli dan membumihanguskan cengkih dari Pulau Makean.  Kegiatan ini lebih dikenal dengan  istilah  pelayaran  hongi  atau hongitochten.

Dosen Sejarah Universitas Khairun Ternate Irfan Ahmad pernah menjelaskan,  keberadaan kenari  tidak terlepas  dari sejarah cengkih zansibar.

Berdasarkan Histoy Das Maluccas laporan Gubernur  Antonio Galvao,  sejak dahulu kualitas cengkih terbaik  berada di Pulau Makean.  Hal ini diakui para pedagang Eropa sebagaimana isi laporan Gubernur Antonio Galvao dalam “History Das Maluccas”. Karena  itu juga  pulau Makean selalu menjadi rebutan.

Bahkan sempat memunculkan kemarahan Sultan Khairun di zamannya karena ada intervensi Portugis dalam melakukan transaksi dagang langsung ke pulau Makean.

Pulau Makean  menjadi  salah satu wilayah sasaran  program penebangan tersebut.  Pada 1652-1654 terjadi penebangan besar-besaran cengkih. Untuk menghindari konflik terbuka masyarakat Makeang dengan VOC-Ternate maka dibuatlah cerita bahwa pembelian  harga akar dan batang cengkeh itu lebih mahal dari buahnya. Di saat yang sama VOC juga memperkenalkan jenis tanaman baru  yakni Kenari.

Tipu daya penjajah Belanda membeli batang hingga akar cengkih ini membuat masyarakat Makeang berlomba-lomba menjual akar dan batang cengkih lalu diganti  menanam pohon kenari. 

Pohon kenari ternyata memiliki banyak manfaat. Menjelang abad 19 Belanda mengajarkan cara membuat minyak goreng mengunakan kenari jauh sebelum orang Makean mengetahui minyak goreng dari kelapa.

Hingga kini, kenari selain menjadi pelindung pulau tumbuh dari pesisir pantai hingga ke puncak puncak bukit, dia sudah menjadi pohon sumber kehidupan  warga  15 desa yang mendiami pulau ini. “Jadi kenari di Makean   didatangkan Belanda dan khusus untuk orang Makean. Beda dengan kenari di tempat lain seperti Ambon, Seram dan Hitu yang juga menjadi sasaran “penebangan  cengkih kala itu,” jelas Irfan.

Hubungannya  dengan tugu kenari yang dibangun para mahasiswa  dengan masyarakat Desa Sabelei, ternyata  tidak sekadar soal kenari.  Tetapi juga memiliki hubungan keterkaitan dengan masuknya orang Minang Sumatera Barat ke Pulau Makean.

Kepala Desa Sebelei Samiun Asari  mengatakan apa yang dibangun para mahasiswa bersama masyarakat di sana adalah sebuah kegiatan fenomenal.  Kehadiran tugu ini memiliki filosofi penting bagi masyarakat sebelei dan Makean umumnya.

“Pembuatan tugu kenari termasuk fenomenal. Memiliki  filosofi  sejarah masyarakat di Desa Sebelei,” ujar Samiun.  Tugu yang dirancang dengan simbolisasi kenari menjadi pembeda bagi masyarakat  Desa Sebelei. Tugu  ini berisikan 11 buah kenari yang menjadi symbol  kedatangan orang Minang pertama kali di Maluku Utara.

“Konon nama Sebelei  sendiri adalah penyebutan dalam bahasa Minang sabakle yang artinya angka 11. Konon pada waktu orang Minang menginjakkan kaki di Desa Sebelei, di situ hanya terdapat 10 rumah penduduk. Mereka lantas meminta izin membangun satu buah rumah dan hidup di tengah-tengah masyarakat. Selanjutnya mereka menyebut kampung 11 (artinya terdapat 11 rumah) dengan penyebut Sabakle, yang kemudian dituturkan   penduduk  setempat dengan sebutan Sebelei,” paparnya.

Tugu kenari yang dikerjakan  bersama  mahasiswa Kubermas dengan masyarakat Sebelei ini akan menjadi kenangan terindah  masyarakat  di Desa Sebelei.

Lalu bagaimana dengan diaspora Minang di Pulau Makean?

Sekadar diketahui, suku bangsa Makean di Maluku Utara  memiliki  akar cerita yang kuat dengan Minang. Beberapa kampong di Pulau Makean  diduga  memiliki keterikatan turunan dari Minang Sumatera Barat.  Mau bukti?  Ada marga besar Minangkabau di  Makeang. Marga ini tersebar di sejumlah kampong di Makeang Timur dan Makeang Barat.

Sebut saja Di Desa Ngoifa Kiaha, Desa Mailoa  Makeang Timur serta sebagian desa  di Makeang Barat.  Desa Sabelei menjadi bukti bahwa nama itu, berasal dari  Bahasa Minang  yang artinya sebelas. 

Sayangnya, cerita soal kedatangan orang Minang ke Pulau Kenari ini hanya dituturkan  turun temurun dan  hingga kini  belum ada riset atau referensi  awal kehadiran mereka,  karena apa dan seperti apa proses kedatangan mereka.

Banyak tuturan dengan berbagai versi berkembang turun temurun di kampong kampong yang memiliki marga Minangkabau.  Di  Desa Mailoa misalnya, ada peti dan  beberapa piring antic serta keris yang diklaim sebagai barang tinggalan orang Minang pertama yang   menginjakan kaki di Makean. Sementara di Sebelei ada begitu banyak bukti seperti nama Sebelei  sendiri  dan tinggalan  tuturan  cerita  diwariskan turun temurun.

Irfan Ahmad  Dosen Sejarah Fakultas Sastera  Universitas Khairun Ternate yang coba diminta  tanggapannya soal sejarah diaspora orang Minang di Pulau Makeang,   mengaku  soal ini juga dia  dengar melalui cerita cerita namun belum dalam bentuk hasil riset yang mengungkapnya. Karena itu dia mengusulkan perlu  dilakukan riset mendalam mengumpulkan data dan informasi keterkaitan diaspora Minang dengan Makean.

Dia bilang, ada hal menarik karena selain diaspora ini  juga memiliki hubungan dengan Gamrange.

“Turunan Minangkabau sangat banyak di Pulau Makeang. Sayang  tidak teridentifikasi  karena  belum adanya riset. Di sekitar abad ke 19 ada satu pemukiman Minang  di Kecamatan Patani Halmahera Tengah. Sayangnya pemukiman itu  sekarang  telah hilang. Kampong Minang di Patani itu bersebelahan dengan Kampung Banemo sekarang,” jelas Irfan.

Sementara Dr Syaiful Bahri Ruray salah satu peminat sejarah di Maluku Utara bercerita, dia punya sedikit catatan tentang orang Sebelei  dan  diaspora Minang di Makean. Di Sebelei  yang dalam bahasa Padang berarti sebelas itu masih  tersisa kultur berdagangnya. 

Dari hasil percakapannya dengan almarhum dokter Zein Patiiha salah satu dokter yang meminati sejarah dan diaspora orang Minang di Malut  pernah beberapa kali berkunjung ke Sebelei  dan menyebutkan,  jika di kampong ini dulu ada peninggalan mangkuk porselen  tua yang diyakini  dari Padang. Barang  tersebut  sebagai  artefak tersisa  di Sebelei.

Saiful juga bilang, dari hasil obrolan dengan dokter Zein kala itu, kemudian dia cross chek ke pasar dan ruko di kawasan Bastiong,  ditemukan warga dari Sebelei  banyak dan ulet berbisnis atau berdagang. “Ini menunjukan karakter berdagang orang Minang turun di sebagian warga Sebelei.

Wartawan dan penulis asal Sumatera Barat Syofiardy  Bachyul bilang ada persoalan mendasar sejarah  Minangkabau. Menurutnya, catatan Minang nyaris tidak ada sebelum masuknya kolonial Belanda.  Apalagi bicara soal diaspora orang Minang di berbagai tempat di Indonesia.  “Ada persoalan serius  tidak ada yang mencatat di masa lalu atau di mana hal ini dicatat.  Kalau dari sisi sejarah Sumatera yang saya telusuri dari literature Portugis, Prancis Inggris,  dan Belanda sama sekali tidak ada,” katanya saat diskusi via aplikasi WhatsApp. Karean itu katanya yang bisa dilakukan adalah   membuat  catatan melalui tutur lisan.

Termasuk misalnya refrensi diaspora Minang di Makeang ini. “Beberapa tahun lalu saya sudah coba  telusuri secara literature  Makeang dan diaspora lain  di Kalimantan dan kawasan timur Indonesia.  Sayang sekali data data yang  lama dikumpulkan  di hardisk itu alami masalah sehingga  datanya tidak bisa diakses lagi,”sesalnya.

Meski demikian kata Syofiardi Sebelei atau Makeang  sulit terlacak. Karena itu yang bisa dilakukan adalah mengumpulkan story lisan dari penduduk yang berusia lebih tua  dan mengetahui cerita ini, akan menjadi semakin bagus. “Akan lebih bagus jika didukung  peninggalan kuno. Diaspora Minang ini tidak hanya di Makeang ada juga di Waerebo Flores. Di sana juga banyak artefaknya,”katanya. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ini Cara Perkuat Kapasitas Warga Kampung

    • calendar_month Rab, 10 Agu 2022
    • account_circle
    • visibility 466
    • 0Komentar

    Belajar Pemetaan  dan Perencanaan Wilayah Kelola Rakyat   Puluhan anak muda   dari  beberapa lembaga dan pemuda kampung berkumpul di Training Centre Wahana Lingkungan Hidup (WALHI)  Maluku Utara Selasa hingga Sabtu (9-13/8/2022). Mereka mengikuti Pelatihan, Pemetaan serta Perencanaan Wilayah Kelola Rakyat (WKR) dan Perlindungan  Hutan Kampung. Pelatihan  ini  digelar oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) PAKATVA Maluku […]

  • Sektor Perikanan di Malut Dianaktirikan?

    • calendar_month Rab, 19 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 497
    • 2Komentar

    Nelayan kecil Pulau Obi yang menangkap tuna. Foto MDPI

  • Warga Kasubibi Kembangkan Padi Ladang

    • calendar_month Ming, 18 Jun 2023
    • account_circle
    • visibility 429
    • 2Komentar

    Program TEKAD Dampingi dan Buat Sekolah Lapang Program pemerintah bernama Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD) menunjukan hasil menggembirakan.  Program yang didanai APBN dan International Fund for Agriculture Development (IFAD)  ini,  di Maluku Utara  difokuskan di Kabupaten Halmahera Selatan, Halmahera  Barat  dan Halmahera Tengah di  4 kecamatan dan 20 desa.   Salah satu daerah dampingan TEKAD […]

  • Anak Muda Pulau Bacan Dorong Literasi, Konservasi dan Ekonomi

    • calendar_month Ming, 5 Okt 2025
    • account_circle
    • visibility 550
    • 0Komentar

    Bentuk Komunitas, Kampanye Lindungi  Satwa, Buat Perdes dan  Kelompok Tani Suasana di kawasan zero point pusat Kota Labuha Halmahera Selatan terlihat sibuk. Jumat (11/7/2025) siang  itu  sejumlah anak muda tengah menyiapkan acara pendukung kegiatan Merayakan Hari Keragaman Burung Indonesia  (MKBI) yang dilaksanakan  LSM Burung Indonesia.  Kegiatan ini  adalah bagian dari Festival Konservasi Satwa  Liar Maluku […]

  • Ini 13 Komitmen Pengelolaan Pesisir dan Pulau Kecil di Indonesia

    Ini 13 Komitmen Pengelolaan Pesisir dan Pulau Kecil di Indonesia

    • calendar_month Jum, 8 Des 2023
    • account_circle
    • visibility 695
    • 0Komentar

    Konferensi Nasional ke-11 Pengelolaan Sumber Daya Laut, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil (Konas Pesisir XI)  27 – 29 November lalu di Pontianak, Kalimantan Barat menghasilkan Deklarasi Pontianak. Hasilnya, menyerukan 13 komitmen bersama pemangku kepentingan dalam sinergitas Pengelolaan Pesisir, Pulau-Pulau Kecil dan Laut  yang Terukur dan Berkelanjutan untuk Ekonomi Biru. Dikutip dari KKP.go.id, Konas Pesisir XI melibatkan lebih […]

  • Hari Air Sedunia Warga Gelar Ritual Sigofi Ake

    • calendar_month Sel, 22 Mar 2022
    • account_circle
    • visibility 414
    • 0Komentar

    Bagian dari Upaya Konservasi Ake Gaale Selasa 22 Maret 2022 hari ini, menjadi momentum penting memperingati Hari Air Sedunia. Di berbagai belahan bumi, masyarakat  atau komunitas memperingati hari air dengan berbagai kegiatan, baik ceremony maupun aksi nyata.   Di Ternate Maluku Utara  terutama masyarakat yang bermukim di sekitar sumber mata air Ake Gaale di Kelurahan […]

expand_less