Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Sampah dan Krisis Air Masalah Serius Ternate

Sampah dan Krisis Air Masalah Serius Ternate

  • account_circle
  • calendar_month Rab, 25 Nov 2020
  • visibility 775

Berdasarkan Data Studi Investigasi Desain dan Detail Pemanfaatan Air Tanah untuk Air Baku Air Minum Kota Ternate 2017  dari Balai Wilayah Sungai,  menemukan Ternate sebagai  kategori kota pulau sedang dengan luas kurang 200 kilometer dan lebar hanya 10 kilometer memiliki  ketersediaan  air di bawah rata-rata.

Jika  diasumsikan kebutuhan air  untuk  150 liter per orang perhari mengacu penduduk lebih 100.000 jiwa, pada  2030  akan alami defisit air.   

Data PDAM Ternate menyebutkan PDAM Ternate memiliki  34 sumur dalam.  Dari jumlah itu,  satu detik air tanah tersedot mencapai 330 liter. Jadi, satu hari air tersedot 30.000 kubik atau seukuran lapangan bola kaki setinggi enam meter. Kalau dikalikan sebulan, air tersedot bisa 30  bak sebesar lapangan bola dengan tinggi 6 meter.  

Secara riil,   kapasitas produksi PDAM Ternate 425 liter perdetik dengan total produksi sekitar 1 juta meter kubik pertahun.   Penggunaan air  oleh pelanggan PDAM 28.250 sambungan  dan rata-rata boros  dengan tingkat konsumsi 29 meter kubik per sambungan per bulan. Asumsi satu keluarga dengan  lima jiwa,  maka konsumsi rata-rata 190 liter per orang per hari.

 Begitu juga dengan soal sampah di Kota Ternate. Data Badan Lingkungan Hidup  Kota Ternate menyebutkan  sampah   yang dihasilkan  warga kota Ternate  sudah mencapai 80  ton setiap hari.  Dari jumlah itu  20 ton tidak terangkut. Sampah yang tidak terangkut  itu masuk barangka dan pantai.  Volume sampah  2017-2019 mencapai 60- 65 Ton per hari dan pada 2020 meningkat 80  ton per hari.

Dampai di Panta Ternate/ foto ipang Mahardika

Kategori sampah juga bervariasi. Sampah rumah tangga,  tak terduga,  daur ulang dan lainya. Pengangkutan sampah  rutin dua kali pengangkutan. Dalam satu minggu bisa 12 kali.     

Produksi   sampah  di Ternate semakin banyak sementara    ada keterbatasan armada . Mobil angkut yang melayani  hanya ada 6 unit mobil armroll, 18 unit dump truk, dan 6 unit pick up jenis L300.

Dua persoalan yang   menggurita    Kota Ternate    belum ditemukan resep mujarab mengatasinya bahkan kian hari kian menumpuk.   

Hal ini dibahas   turut dibahas  saat  Peluncuran Ekspedisi  Cinta Talaga Rano dan Gerakan Cinta DAS yang digelar Dekapala Maluku Utara Sabtu (22/11) lalu. Melalui diskusi bertema Air, Hutan dan Manusia, tiga pembicara yang menjadi pemantik yakni Asih Yunani Kepala BPDASHL,  M  Rahmi Husen Wakil Ketua DPRD  Provinsi Malut dan Wakapolda Maluku Utara Brigjen Pol Lukas Abriari turut menyentil dua persoalan serius ini. Peserta kegiatan peluncuran dan diskusi  dari Mahasiswa Pecinta ALam (Mapala)  ikut mempersoalkan  hal ini.    

 M Arwin  Mahasiswa  FKIP jurusan Fisika yang hadir dalam acara   sempat curhat soal kondisi air yang dia rasakan. Sebagai mahasiswa yang ngekost  merasakan betul  air yang bermasalah  itu.  “Saya  tinggal di Kelurahan Dufa- dufa merasakan masalah air di Ternate. Air dari PDAM  hanya bisa jalan malam hari. Sementara siang  hari  mati total.  Ini  tanda bahwa daerah ini sudah krisis air.  Pernah juga saya bersama teman melakukan advokasi di kawasan Tabona puncak, menemukan  warga tidak terlayani air bersih.  Kalau dilihat  lebih jauh soal air itu memiliki hubungan dengan hutan. Dimana saat air jatuh di daratan diserap akar pohon dan ditampung dalam tanah.  Sementara  di Ternate saat ini ada tindakan yang  mengancam ketersediaan air. Yaitu  aktivitas tambang galian C  di kawasan perkebunan pala dan cengkih. Material pasir dan tanah yang dikeruk selain  jadi bahan bangunan,   juga  dibawa ke tepi laut untuk reklamasi pantai.  Jika seperti begini kondisinya, 2030 Ternate benar- benar  alami  krisis air,”ujarnya.

Kawasan pemukiman yang terus naik ke puncak Gamalama turus mengancam hutan dan lahan ikut menurunkan ketersediaan air Ternate.foto M ichi

Apa yang disentil ini sebelumnya  dibahas  ketiga pameteri. Asih Yunani misalnya menyoal ancaman krisis air di pulau kecil ini dan meminta perlu adanya perbaikan lingkungan dengan menanam  membuat biopori dan sumur resapan. Dengan begitu bisa mengembalikan  kondisi air tanah di Pulau Ternate. Asih tak hanya menyoal  kondisi air tanah di pulau Ternate dia juga menyebutkan  yang perlu mendapat perhatian adalah soal sampah.  

Menurut  Asih  izin tambang termasuk galian C  memang tidak bisa terhindarkan dalam pembangunan. Tetapi jika izin-izin yang diberikan, dikelola secara benar bisa dipulihkan kondisinya. Ambil contoh jika ada izin tambang mengeruk 1000 hektar maka wajib  reklamasi lahan yang digusur dan  penanaman. Jika aturan ini ditaati, kerusakannya bisa diminimalisir.  

“Khusus generasi muda perlu dibangun kesadarannya. Tidak hanya menanam mengembalikan kondisi hutan yang rusak, tetapi juga  menjaga lingkungan.  Di Ternate sampah plastik menjadi masalah. Karena itu, penting  membangun kesadaran anak muda peduli dengan sampah. Sampah di Ternate terutama di kali mati, pantai  dan laut sangat memprihatinkan. Karena itu perlu segera ada langkah konkrit,”katanya.

 M Rahmi Husen, menyinggung soal kerusakan hutan   dan air di Maluku Utara.   Di  pulau Ternate yang kecil ini meski sudah krisis air,   pemukiman terus bertambah naik  ke daerah puncak gunung dan membabat   kawasan hutan  dan perkebunan. Hal ini jika dibiarkan akan berdampak buruk bagi lingkungan. Bahkan  semakin berbahaya bagi warga kota Ternate.  “Sudah sulit menemukan sungai    memiliki air di Ternate. Sungai- sungai di pulau kecil kering kerontang,” katanya.   Bahkan  di Pulau Halmahera saja, banyak sungai mengalami kekeringan.  Ini menandakan bahwa,  hutan semakin kritis.  Rahmi meminta semua pihak memiliki kesadaran sama. Terutama  pemerintah berhenti menggelontorkan izin-izin tambang dan perkebunan raksasa.   

Kesempatan itu dia  ikut cerita pengalamannya menjadi pecinta alam  dengan mendaki gunung  35 tahun lalu yang masih indah dan hutannya lebat. “Maluku Utara ini negeri indah. Perlu dinikmati dan dijaga sama-sama. Laut,  darat, gunung  pantai semuanya indah.  perlu dijaga bersama,”pesannya.

Wakapolda  Brigjen (Pol) Lucas  memotivasi pecinta alam   dengan mengingatkan agar menjaga alam. Dia memuji keindahan alam laut, hutan dan gunung di  Maluku Utara. Meski demikian, tidak menampik minimnya kesadaran  warga Kota Ternate  dan sekitarnya  dalam pengelolan sampah. Kali mati dan pantai Ternate  banyak sampah plastik. Pasca hujan  pantai dan laut dipenuhi berbagai jenis sampah. Ini produk masyarakat berhuungan dengan perilaku maka  perlu ada kesadaran semua pihak dalam pengelolaan sampah. Mapala sebagai elemen muda yang peduli lingkungan perlu mendorong hal ini,” harapnya. (*)  

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • 326 Peserta Ramaikan Mancing Mania Dies Natalis Unkhair

    • calendar_month Jum, 4 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 635
    • 1Komentar

    MaPanitia Mancing Maniia bersiap menuju Modayama Kayoa Halmahera Se;latan

  • Ekspedisi Talaga Rano Halmahera Dimulai

    • calendar_month Ming, 22 Nov 2020
    • account_circle
    • visibility 833
    • 0Komentar

    Pesan Jaga Alam, Tanam Pohon dan Peduli  Sampah     Sebuah upaya menjaga dan memperkenalkan alam untuk kaum muda dilakukan  Duta  Kreator Pecinta Alam Maluku Utara (Dekapala). Bertitel Ekspedisi Cinta Talaga Rano dan Gerakan Cinta DAS Maluku Utara, ekspedisi ini dihelat dengan beberapa agenda dan  dikerjasamakan dengan  Forum Daerah Aliran Sungai (FORDAS), Balai Pengelolaan Daerah Aliran […]

  • Pulau Sumba Jadi Titik Nol Penetapan Hari Keadilan Ekologi   Dunia

    Pulau Sumba Jadi Titik Nol Penetapan Hari Keadilan Ekologi Dunia

    • calendar_month Sel, 23 Sep 2025
    • account_circle Mahmud Ici
    • visibility 900
    • 0Komentar

    Pulau Sumba yang dikenal dengan nama tanah humba   atau tanah marapu, menjadi titik nol ditetapkannya, hari Keadilan Ekologi dunia atau World EcologicaJustce Day. Hari penting ini digagas oleh Wahana Ligkungan Hidup Indonesia (WALHI) pada Sabtu 20 September 2025 bertepatan dengan kegiatan pertemuan nasional lingkungan  hidup (PNLH) WALHI ke XIV yang  dipusatkan di Kota Waingapu […]

  • Kelas Estuaria: Bangun Kesadaran Anak Muda Pahami Isu Lingkungan

    Kelas Estuaria: Bangun Kesadaran Anak Muda Pahami Isu Lingkungan

    • calendar_month Sen, 24 Agu 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 146
    • 0Komentar

    Belajar Ragam Isu, Menulis dan Kampanye hingga Bersih Pantai dan Tanam Pohon 10 anak muda duduk bersila di sebuah rumah panggung di kawasan perkemahan Pulau Tareba Danau Tolire Kota Ternate Barat 20 hingga 23 Agustus 2026 kemarin. Rumah panggung  itu  berada tepat di  punggung danau Tolire. Musim kemarau yang kering diikuti tiupan angin kencang dari […]

  • Mulai Dirintis Pembentukan Jejaring Kawasan Konservasi Perairan

    • calendar_month Sab, 17 Jun 2017
    • account_circle
    • visibility 1.770
    • 0Komentar

    Hingga Desember 2018  sudah diresmikan 177 Kawasan Konservasi Perairan. Dari jumlah itu , 35 KKP yang menjadi prioritas sudah dimasukkan ke Bappenas. Hal ini terungkap  dalam Lokakarya Petunjuk Teknis Jejaring Kawasan Konservasi Perairan Rabu (13/6) lalu di Jakarta. Lokakarya ini oleh  pemerintah Indonesia (Kementerian Kelautan dan Perikanan), Kementerian Lembaga Terkait, USAID Indonesia dan USAID SEA […]

  • Kapan Malut Miliki Kedokteran Kelautan untuk Lindungi Laut Kita?

    • calendar_month Sel, 25 Sep 2018
    • account_circle
    • visibility 579
    • 0Komentar

    Pemerintah Indonesia mengakui sektor kemaritiman, khususnya di bidang keselamatan kerja maritim dan pariwisata masih belum berkembang dengan baik. Salah satunya, adalah kedokteran kelautan yang potensinya sangat besar untuk dikembangkan di seluruh Negeri. Kehadiran profesi tersebut, hingga saat ini masih sangat minim walaupun berbagai kejadian banyak bermunculan di wilayah kelautan. Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Agus […]

expand_less