Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Nyanyian Alam Pulo Tareba: Dari Cerita Indahnya Alam hingga Marak Perburuan Satwa Liar 

Nyanyian Alam Pulo Tareba: Dari Cerita Indahnya Alam hingga Marak Perburuan Satwa Liar 

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sen, 27 Jul 2026
  • visibility 218

 Penulis: Safri Rusdi Wartawan  Kabarpulau.co.id  

Rimbun pepohonan  dan suara burung dari kejauhan terdengar begitu menghipnotis. Laut biru yang yang terhampar luas dari punggung Danau Tolire, menyambut   hangat peserta pelatihan Jurnalisme Lingkungan yang digelar LSM Burung Indonesia bersama Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia atau The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Sabtu pagi hingga siang (25/7/2026).

Kawasan yang  lebih dikenal dengan Pulo Tareba di Kelurahan Takome, kecamatan Ternate Barat itu, dipilih panitia  karena berbagai kelebihan di dalamnya. Saat memasuki kawasan Pulo Tareba, di pintu gerbang disambut papan nama tertulis   “Pulo Tareba (Conservation and Camping Ground)”

Tak jauh dari situ ada spanduk bergambar satwa endemik seperti burung, Kasturi Ternate (Lorius garrulus), Kakatua Putih (Cacatua Alba) dan beberapa satwa endemik lainnya. Ada juga area camping  menghadap langsung  Danau Tolire dari ketinggian yang menakjubkan.

Air laut terlihat seperti lukisan alam yang indah, dengan latar hijaunya danau Tolire. Lokasinya di lereng Gunung Gamalama  di sisi Danau Tolire menjadikan Pulo Tareba  cocok  untuk wisata alam.

Pintu masuk Tareba foto, Safri Rusdi

Saat  di Pulo Tareba,   bertemu  teman pelatihan  dan ikut  diskusi bersama terkait  Pulo Tareba  dan  kondisinya saat ini.

Jandi [21 tahun]  juga  peserta pelatihan menjelaskan, Pulo Tareba menjadi lokasi wisata yang memiliki keindahan yang unik. Sudah dua kali  mengunjungi Tareba dan mendapat informasi tentang Tareba dari media sosial.

“Tempat ini sangat menenangkan, bisa mendengar suara satwa.Karena bagusnya mengunjung Tareba sudah berulangkali ,”  ujarnya.

Dia bilang di Pulo Tareba selain punya hewan endemik juga menyaksikan pemandangan dari ketinggian. Dari lebatnya   hutan  sekunder, hijaunya danau Tolire hingga menatap hamparan laut  yang luas dari ketinggian.

Menyaksikan Pulo tareba yang berhadapan langsung dengan  tolire, itu satu kenikmatan tersendiri bagi saya,” tambahnya.

Senada   Irawan Nasri [22], yang pertama kali  mengunjungi Pulo Tareba memuji keindahan Pulo Tareba.   “Pulo Tareba adalah permata di Kota Ternate ,”ucapnya.  Pemuda asal Sagea itu, berharap Tareba  harus seperti rumah yang harus terus dirawat.

Semoga Pulo Tareba ini, tetap terjaga, tetap lestari, dan   asri dari masalah sampah.” ucapnya.

Kus kus mata biru yang ditemukan di kawasan pulo Tareba, foto ist

Ancaman terhadap Kelestarian Kuskus Mata Biru

Pulau Ternate berdasarkan  data Badan Pusat Statistik (BPS)  luasnya kurang lebih 111,81 kilometer. Dari luasan  itu  menyimpan berbagai  satwa endemik yang   sebagiannya   kini terancam punah. Salah satu kawasan yang menyimpan kekayaan satwa itu adalah Pulo Tareba dengan kus-kus mata biru dan berbagai jenis burung.

Menyadari keterancamannya, sebagian pemuda di Ternate yang tergabung dalam Komunitas Pulo Tareba bergerak  melindugi dan   menjaga kawasan Pulo Tareba sekaligus sebagai salah satu destinasi penting pariwisata di Kota Ternate. Mereka menyadari bahwa  satwa endemik seperti kuskus mata biru (Phallger mata biru).  menjadi sasaran pemburu untuk di makan.  Padahal kus-kus jenis ini telah dilindungi.

Di Indonesia ada beberapa jenis kuskus telah dilindungi dalam Undang-undang (UU) Nomor 32 Tahun 2024 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Meskipun sudah dilindungi,  keberadaanya   makin terancam akibat  perburuan dan  pembangunan pemukiman  yang menyasar kawasan  hidup satwa ini.

Keberadaan satwa nokturnal ini  makin langka karena perburuan yang massif.   Akhir Desember 2025 empat  warga asal Halmahera Barat (Halbar)  berburu satwa endemik yang dalam bahasa lokal disebut kuso itu. Perburuan   di kawasan hutan Kelurahan Loto, Kecamatan Pulau Barat, Kota Ternate.

Koordinator Komunitas Pulo Tareba Junaidi Ibrahim mengaku,   Desember 2025 lalu  ada  18 ekor dan satu kadal air (soa soa layar,red)  ditembak para pemburu.

Perburuan satwa endemik ini sudah  tiga kali sejak 2023 sampai 2025. Perburuan   terbanyak terjadi 2025 lalu.

Perburuan Kuskus Matabiru di Ternate sudah   berulang kali. Sayang belum ada sikap tegas Pemerintah Kota (Pemkot)  mendorong  Perda perlindungan satwa endemic ini. Sebelumnya para aktivis lingkungan juga telah menggelar  aksi, mendesak walikota segera membuat regulasi  melindungi  Kuskus Matabiru.Hanya saja sampai saat ini belum ada tindaklanjutnya.

Sepanjang  2024, tercatat  10 pelaku pemburu kuskus yang ditangkap. Januari 2024, warga mengamankan  lima pelaku pemburu kuskus di sekitar Danau Tolire, Pulo Tareba.

Kasus terakhir  Warga Kelurahan Takome, Ternate menangkap lima orang asal Halmahera Barat   yang sedang menembak puluhan ekor kuskus di kawasan hutan lindung Danau Tolire Besar.(*)

 

 

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sampah dan Krisis Air Masalah Serius Ternate

    • calendar_month Rab, 25 Nov 2020
    • account_circle
    • visibility 775
    • 0Komentar

    Sampah yang muncul di kawasan pelabuhan Bastiong usai hujan

  • Krisis Iklim Mengancam Anak Pesisir  

    Krisis Iklim Mengancam Anak Pesisir  

    • calendar_month Jum, 26 Jun 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 265
    • 0Komentar

    Harga Mahal Harus Dibayar  oleh Pembangunan yang Abai   Krisis iklim tidak lagi bisa dibaca sebatas cuaca ekstrem. Dia  adalah ancaman terhadap keadilan antar generasi. Laporan Children’s Climate Risk Report 2026 dari UNICEF menunjukkan hampir seluruh anak di dunia terpapar risiko iklim, dengan 1,1 miliar anak menghadapi tiga ancaman sekaligus: kekeringan, panas ekstrem, dan gelombang […]

  • Hari Peduli Sampah Nasional Sepi Agenda  

    • calendar_month Sel, 21 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 667
    • 1Komentar

    KLHK: 2030 Tak Ada Lagi TPA Baru Pada 21 Februari setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Hari penting ini   bertujuan  mengingatkan semua pihak bahwa persoalan sampah harus menjadi perhatian utama. Upaya penanganan dan pengelolaan sampah harus melibatkan seluruh komponen masyarakat yang meliputi Pemerintah baik Pusat dan Daerah, akademisi, aktivis, komunitas, dunia usaha, […]

  • JustCOP Kritik Second NDC Indonesia: Minim Partisipasi, Lemah Substansi dan Komitmen terhadap Krisis Iklim

    • calendar_month Sab, 25 Okt 2025
    • account_circle
    • visibility 617
    • 0Komentar

    Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup menggelar Konsultasi Second Nationally Determined Contribution (SNDC) Indonesia, pada Kamis, 23  Oktober 2025 di Jakarta. Acara yang digelar tersebut lebih layak disebut sebagai sosialisasi SNDC Indonesia ketimbang konsultasi sebab publik tidak mempunyai  kesempatan yang adil dan bermakna dalam penyusunan SNDC yang akan disetorkan  menjelang perhelatan Conference of the Parties (COP)30- […]

  • Aksi Hari Tani, Desak Wujudkan Reforma Agraria

    • calendar_month Sel, 26 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 704
    • 1Komentar

    Peringatan Hari Tani yang diperingati setiap  24 September  diperingati juga oleh Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Maluku Utara bersama sejumlah organisasi gerakan mahasiswa  di Maluku Utara. Perayaan Hari Tani 2023 yang bertepatan dengan 63 tahun kelahiran UU Nomor 5/1960 tentang Undang–undang pokok Agraria (UUPA) itu, para aktivis turut menyuarakan  berbagai ketimpangan terkait persoalan agraria di daerah […]

  • Pulau- pulau Kecil di Malut yang Butuh Perhatian ( Bagian 1)

    • calendar_month Sab, 30 Nov 2019
    • account_circle
    • visibility 2.204
    • 0Komentar

    Maluku Utara sebagai provinsi Kepulauan memiliki luas wilayah secara keseluruhan mencapai 145.801,1 kilometer meliputi daratan 45.069,66 Km2 (23,72 persen) dan wilayah perairan seluas 100.731,44 Km2 (76,28 persen). Maluku Utara juga memiliki  panjang garis pantai 3.104 Km. Data  hasil identfikasi jumlah pulau di Maluku Utara terdiri dari 1.474 pulau, dengan jumlah pulau yang dihuni sebanyak 89  atau 1.385 […]

expand_less