Nyanyian Alam Pulo Tareba: Dari Cerita Indahnya Alam hingga Marak Perburuan Satwa Liar
- account_circle Redaksi
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 75

Danau Tolire dilihat dari kawasan Pulo Tareba, foto Safri Rusdi
Penulis: Safri Rusdi Wartawan Kabarpulau.co.id
Rimbun pepohonan dan suara burung dari kejauhan terdengar begitu menghipnotis. Laut biru yang yang terhampar luas dari punggung Danau Tolire, menyambut hangat peserta pelatihan Jurnalisme Lingkungan yang digelar LSM Burung Indonesia bersama Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia atau The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Sabtu pagi hingga siang (25/7/2026).
Kawasan yang lebih dikenal dengan Pulo Tareba di Kelurahan Takome, kecamatan Ternate Barat itu, dipilih panitia karena berbagai kelebihan di dalamnya. Saat memasuki kawasan Pulo Tareba, di pintu gerbang disambut papan nama tertulis “Pulo Tareba (Conservation and Camping Ground)”
Tak jauh dari situ ada spanduk bergambar satwa endemik seperti burung, Kasturi Ternate (Lorius garrulus), Kakatua Putih (Cacatua Alba) dan beberapa satwa endemik lainnya. Ada juga area camping menghadap langsung Danau Tolire dari ketinggian yang menakjubkan.
Air laut terlihat seperti lukisan alam yang indah, dengan latar hijaunya danau Tolire. Lokasinya di lereng Gunung Gamalama di sisi Danau Tolire menjadikan Pulo Tareba cocok untuk wisata alam.

Pintu masuk Tareba foto, Safri Rusdi
Saat di Pulo Tareba, bertemu teman pelatihan dan ikut diskusi bersama terkait Pulo Tareba dan kondisinya saat ini.
Jandi [21 tahun] juga peserta pelatihan menjelaskan, Pulo Tareba menjadi lokasi wisata yang memiliki keindahan yang unik. Sudah dua kali mengunjungi Tareba dan mendapat informasi tentang Tareba dari media sosial.
“Tempat ini sangat menenangkan, bisa mendengar suara satwa.Karena bagusnya mengunjung Tareba sudah berulangkali ,” ujarnya.
Dia bilang di Pulo Tareba selain punya hewan endemik juga menyaksikan pemandangan dari ketinggian. Dari lebatnya hutan sekunder, hijaunya danau Tolire hingga menatap hamparan laut yang luas dari ketinggian.
“Menyaksikan Pulo tareba yang berhadapan langsung dengan tolire, itu satu kenikmatan tersendiri bagi saya,” tambahnya.
Senada Irawan Nasri [22], yang pertama kali mengunjungi Pulo Tareba memuji keindahan Pulo Tareba. “Pulo Tareba adalah permata di Kota Ternate ,”ucapnya. Pemuda asal Sagea itu, berharap Tareba harus seperti rumah yang harus terus dirawat.
“Semoga Pulo Tareba ini, tetap terjaga, tetap lestari, dan asri dari masalah sampah.” ucapnya.

Kus kus mata biru yang ditemukan di kawasan pulo Tareba, foto ist
Ancaman terhadap Kelestarian Kuskus Mata Biru
Pulau Ternate berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) luasnya kurang lebih 111,81 kilometer. Dari luasan itu menyimpan berbagai satwa endemik yang sebagiannya kini terancam punah. Salah satu kawasan yang menyimpan kekayaan satwa itu adalah Pulo Tareba dengan kus-kus mata biru dan berbagai jenis burung.
Menyadari keterancamannya, sebagian pemuda di Ternate yang tergabung dalam Komunitas Pulo Tareba bergerak melindugi dan menjaga kawasan Pulo Tareba sekaligus sebagai salah satu destinasi penting pariwisata di Kota Ternate. Mereka menyadari bahwa satwa endemik seperti kuskus mata biru (Phallger mata biru). menjadi sasaran pemburu untuk di makan. Padahal kus-kus jenis ini telah dilindungi.
Di Indonesia ada beberapa jenis kuskus telah dilindungi dalam Undang-undang (UU) Nomor 32 Tahun 2024 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
Meskipun sudah dilindungi, keberadaanya makin terancam akibat perburuan dan pembangunan pemukiman yang menyasar kawasan hidup satwa ini.
Keberadaan satwa nokturnal ini makin langka karena perburuan yang massif. Akhir Desember 2025 empat warga asal Halmahera Barat (Halbar) berburu satwa endemik yang dalam bahasa lokal disebut kuso itu. Perburuan di kawasan hutan Kelurahan Loto, Kecamatan Pulau Barat, Kota Ternate.
Koordinator Komunitas Pulo Tareba Junaidi Ibrahim mengaku, Desember 2025 lalu ada 18 ekor dan satu kadal air (soa soa layar,red) ditembak para pemburu.
Perburuan satwa endemik ini sudah tiga kali sejak 2023 sampai 2025. Perburuan terbanyak terjadi 2025 lalu.
Perburuan Kuskus Matabiru di Ternate sudah berulang kali. Sayang belum ada sikap tegas Pemerintah Kota (Pemkot) mendorong Perda perlindungan satwa endemic ini. Sebelumnya para aktivis lingkungan juga telah menggelar aksi, mendesak walikota segera membuat regulasi melindungi Kuskus Matabiru.Hanya saja sampai saat ini belum ada tindaklanjutnya.
Sepanjang 2024, tercatat 10 pelaku pemburu kuskus yang ditangkap. Januari 2024, warga mengamankan lima pelaku pemburu kuskus di sekitar Danau Tolire, Pulo Tareba.
Kasus terakhir Warga Kelurahan Takome, Ternate menangkap lima orang asal Halmahera Barat yang sedang menembak puluhan ekor kuskus di kawasan hutan lindung Danau Tolire Besar.(*)
- Penulis: Redaksi
