Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Nyanyian Alam Pulo Tareba: Dari Cerita Indahnya Alam hingga Marak Perburuan Satwa Liar 

Nyanyian Alam Pulo Tareba: Dari Cerita Indahnya Alam hingga Marak Perburuan Satwa Liar 

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sen, 27 Jul 2026
  • visibility 346

 Penulis: Safri Rusdi Wartawan  Kabarpulau.co.id  

Rimbun pepohonan  dan suara burung dari kejauhan terdengar begitu menghipnotis. Laut biru yang yang terhampar luas dari punggung Danau Tolire, menyambut   hangat peserta pelatihan Jurnalisme Lingkungan yang digelar LSM Burung Indonesia bersama Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia atau The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Sabtu pagi hingga siang (25/7/2026).

Kawasan yang  lebih dikenal dengan Pulo Tareba di Kelurahan Takome, kecamatan Ternate Barat itu, dipilih panitia  karena berbagai kelebihan di dalamnya. Saat memasuki kawasan Pulo Tareba, di pintu gerbang disambut papan nama tertulis   “Pulo Tareba (Conservation and Camping Ground)”

Tak jauh dari situ ada spanduk bergambar satwa endemik seperti burung, Kasturi Ternate (Lorius garrulus), Kakatua Putih (Cacatua Alba) dan beberapa satwa endemik lainnya. Ada juga area camping  menghadap langsung  Danau Tolire dari ketinggian yang menakjubkan.

Air laut terlihat seperti lukisan alam yang indah, dengan latar hijaunya danau Tolire. Lokasinya di lereng Gunung Gamalama  di sisi Danau Tolire menjadikan Pulo Tareba  cocok  untuk wisata alam.

Pintu masuk Tareba foto, Safri Rusdi

Saat  di Pulo Tareba,   bertemu  teman pelatihan  dan ikut  diskusi bersama terkait  Pulo Tareba  dan  kondisinya saat ini.

Jandi [21 tahun]  juga  peserta pelatihan menjelaskan, Pulo Tareba menjadi lokasi wisata yang memiliki keindahan yang unik. Sudah dua kali  mengunjungi Tareba dan mendapat informasi tentang Tareba dari media sosial.

“Tempat ini sangat menenangkan, bisa mendengar suara satwa.Karena bagusnya mengunjung Tareba sudah berulangkali ,”  ujarnya.

Dia bilang di Pulo Tareba selain punya hewan endemik juga menyaksikan pemandangan dari ketinggian. Dari lebatnya   hutan  sekunder, hijaunya danau Tolire hingga menatap hamparan laut  yang luas dari ketinggian.

“Menyaksikan Pulo tareba yang berhadapan langsung dengan  tolire, itu satu kenikmatan tersendiri bagi saya,” tambahnya.

Senada   Irawan Nasri [22], yang pertama kali  mengunjungi Pulo Tareba memuji keindahan Pulo Tareba.   “Pulo Tareba adalah permata di Kota Ternate ,”ucapnya.  Pemuda asal Sagea itu, berharap Tareba  harus seperti rumah yang harus terus dirawat.

“Semoga Pulo Tareba ini, tetap terjaga, tetap lestari, dan   asri dari masalah sampah.” ucapnya.

Kus kus mata biru yang ditemukan di kawasan pulo Tareba, foto ist

Ancaman terhadap Kelestarian Kuskus Mata Biru

Pulau Ternate berdasarkan  data Badan Pusat Statistik (BPS)  luasnya kurang lebih 111,81 kilometer. Dari luasan  itu  menyimpan berbagai  satwa endemik yang   sebagiannya   kini terancam punah. Salah satu kawasan yang menyimpan kekayaan satwa itu adalah Pulo Tareba dengan kus-kus mata biru dan berbagai jenis burung.

Menyadari keterancamannya, sebagian pemuda di Ternate yang tergabung dalam Komunitas Pulo Tareba bergerak  melindugi dan   menjaga kawasan Pulo Tareba sekaligus sebagai salah satu destinasi penting pariwisata di Kota Ternate. Mereka menyadari bahwa  satwa endemik seperti kuskus mata biru (Phallger mata biru).  menjadi sasaran pemburu untuk di makan.  Padahal kus-kus jenis ini telah dilindungi.

Di Indonesia ada beberapa jenis kuskus telah dilindungi dalam Undang-undang (UU) Nomor 32 Tahun 2024 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Meskipun sudah dilindungi,  keberadaanya   makin terancam akibat  perburuan dan  pembangunan pemukiman  yang menyasar kawasan  hidup satwa ini.

Keberadaan satwa nokturnal ini  makin langka karena perburuan yang massif.   Akhir Desember 2025 empat  warga asal Halmahera Barat (Halbar)  berburu satwa endemik yang dalam bahasa lokal disebut kuso itu. Perburuan   di kawasan hutan Kelurahan Loto, Kecamatan Pulau Barat, Kota Ternate.

Koordinator Komunitas Pulo Tareba Junaidi Ibrahim mengaku,   Desember 2025 lalu  ada  18 ekor dan satu kadal air (soa soa layar,red)  ditembak para pemburu.

Perburuan satwa endemik ini sudah  tiga kali sejak 2023 sampai 2025. Perburuan   terbanyak terjadi 2025 lalu.

Perburuan Kuskus Matabiru di Ternate sudah   berulang kali. Sayang belum ada sikap tegas Pemerintah Kota (Pemkot)  mendorong  Perda perlindungan satwa endemic ini. Sebelumnya para aktivis lingkungan juga telah menggelar  aksi, mendesak walikota segera membuat regulasi  melindungi  Kuskus Matabiru.Hanya saja sampai saat ini belum ada tindaklanjutnya.

Sepanjang  2024, tercatat  10 pelaku pemburu kuskus yang ditangkap. Januari 2024, warga mengamankan  lima pelaku pemburu kuskus di sekitar Danau Tolire, Pulo Tareba.

Kasus terakhir  Warga Kelurahan Takome, Ternate menangkap lima orang asal Halmahera Barat   yang sedang menembak puluhan ekor kuskus di kawasan hutan lindung Danau Tolire Besar.(*)

 

 

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ancaman Plastik Makin Mengerikan, Chair’s Draft Text Gagal Lindungi Planet

    • calendar_month Jum, 15 Agu 2025
    • account_circle
    • visibility 829
    • 3Komentar

      Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) mengecam keras teks baru yang dirilis oleh Chair Intergovernmental Negotiating Committee (INC) untuk Perjanjian Global Plastik pada 13 Agustus 2025. Dokumen ini merupakan kemunduran besar yang mengkhianati tiga tahun proses negosiasi yang menunjukkan dukungan luas terhadap perjanjian ambisius yang mengatur seluruh siklus hidup plastik, termasuk pembatasan produksi. Alih-alih menjadi […]

  • Ruas Jalan Botonam–Saketa Halmahera Selatan Hancur

    • calendar_month Ming, 5 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 925
    • 1Komentar

    Salah satu sarana membuka keterisolasian akses dan ekonomi masyarakat adalah tersedianya infrastruktur jalan yang memadai. Ternyata, infrstruktur dan sarana ini   masih sangat memprihatinkan di sejumlah tempat terutama di Halmahera dan pulau  kecil lainnya di Maluku Utara. Di Halmahera terutama di bagian selatan, akses jalan daratnya belum terbuka secara keseluruhan. Tidak itu saja wilayah yang sudah […]

  • Sagu, Pangan Lokal dan Identitas Warga Sagea (2)

    • calendar_month Ming, 7 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 1.394
    • 0Komentar

    Terjualnya kebun sagu ikut memunculkan kekuatiran luar biasa terkait nasib pangan warga Sagea Weda Utara Halmahera Tengah Maluku Utara  di masa depan. Saat ini pangan lokal seperti pisang, singkong dan keladi saja hamper semua didatangkan dari luar daerah. Karena itu jika lahan sagu yang sudah terjual digusur perusahaan, pupuslah harapan warga setempat bisa mendapatkan sagu […]

  • Kondisi Bumi Kian Mengkhawatirkan

    • calendar_month Kam, 23 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 812
    • 2Komentar

    Bencana Akibat Perubahan Iklim Makin Mangancam Bumi Rabu 23 Maret 2023 hari ini bertepatan dengan Peringatan Hari Meteorologi Dunia (HMD) ke-73. Sebagai informasi, peringatan HMD yang jatuh pada 23 Maret merupakan tanggal yang mengacu pada konvensi meteorologi 23 maret 1950. Konvensi tersebut merupakan rangkaian panjang dari berdirinya badan cuaca di bawah Perserikatan Bangsa-bangsa, yaitu Organisasi […]

  • Tak Ada Zonasi Wilayah jadi Problem Ekowisata

    • calendar_month Sab, 16 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 823
    • 0Komentar

    Kawasan ekowisata Taman Love di puncak Moya dikuatirkan memunculkan masalah baru soal keterbukaan akses yang bisa memicu ikutya pemukiman ke kawasan ini yang masuk kawasan rawan bencana III.

  • Warga Hasilkan Produk Pangan dari Sagu dan Enau

    • calendar_month Kam, 11 Mar 2021
    • account_circle
    • visibility 754
    • 0Komentar

    Cerita KTH Mandiri Sejati Manfaatkan Hasil Hutan Warga yang tergabung dalam kelompok tani hutan (KTH) memanfaatkan pohon sagu dan enau menghasilkan berbagai produk makanan sekaligus jadi sumber pendapatan warga.   Seperti dilakukan oleh KTH  Mandiri Sejati  Ake Tobato Kelurahan Loleo Oba Tengah Kota Tidore Kepulauan  ini. Mereka mengolah dan menghasilkan beragam  produk bahan makanan dari dua […]

expand_less