Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Fenomena Meluapnya Air Laut hingga Daratan

Fenomena Meluapnya Air Laut hingga Daratan

  • account_circle
  • calendar_month Ming, 5 Des 2021
  • visibility 443

Kenaikan  air laut yang terjadi di beberapa wilayah pantai Kota Ternate  sejak   Sabtu 4 Desember 2021 sore hingga malam tadi, tidak hanya menjangkau bibir pantai, tetapi meluap hingga ke daratan.  Kejadian ini juga menyebabkan sejumlah sarana umum dan pemukiman warga dekat  pantai rusak parah. Lalu fenomena apa yang menyebabkan terjadinya luapan air hingga mencapai daratan tersebut?

Berikut penjelasan Dr, Najamuddin Ahli Oceanografi dan Staf Pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Khairun Ternate.    

Faktor pertama adalah  kejadian pasang air laut. Puncak kenaikan air laut melalui kejadian air pasang terjadi dua kali dalam sebulan yaitu setiap bulan mati/bulan baru dan bulan purnama dalam penanggalan Hijriah. Tepat hari ini  1 Jumadil Awwal yang merupakan bulan baru sehingga terjadi kenaikan air pasang maksimal. Ini adalah fenomena umum yang terjadi setiap bulannya sehingga masyarakat tidak perlu panik namun tetap waspada.

Faktor kedua  adalah kemunculan siklon tropis yang merupakan fenomena hidrometeorologi. Di tahun 2021 ini muncul beberapa kejadian siklon tropis seperti Siklon Tropis Odette di Samudera Hindia bagian Selatan Jawa Barat, Siklon Tropis Surigae di Samudera Pasifik di bagian Utara Papua, dan Siklon Tropis Seroja di Nusa Tenggara Timur yang merupakan bibit dari siklon tropis 99S. Siklon Tropis Seroja terpantau melalui Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) berada di Laut Sawu sebelah barat daya Pulau Timor, 10.0 LS – 122.7 BT dan Samudera Hindia sebelah barat daya Pulau Timor, di titik koordinat 11.3 LS – 120.4 BT.

Pada bulan Desember muncul siklon tropis Teratai di dekat perairan wilayah Indonesia. Siklon tropis Teratai merupakan siklon yang berkembang dari bibit siklon 92S. Siklon tropis Teratai mulai terbentuk di sekitar Samudera Hindia sebelah barat daya Lampung, tepatnya di posisi 9,5 LS 101,9 (sekitar 600 Km sebelah barat daya Tanjung Karang) BT pada tanggal 1 Desember 2021 pukul 19.00 WIB.


Dampak kemunculan siklon tropis akan mempengaruhi pertumbuhan awan hujan dan peningkatan kecepatan angin yang berdampak pada ketinggian gelombang air laut sehingga wilayah Indonesia secara umum akan mengalami hujan lebat hingga ekstrim dan pada saat yang bersamaan disertai angin kencang yang menimbulkan gelombang tinggi hingga mencapai 6 meter sehingga ketika mencapai wilayah pantai meluap hingga ke daratan.

Seperti namanya, siklon tropis tumbuh di perairan sekitar wilayah tropis yang memiliki suhu permukaan laut hangat lebih dari 26,5oC. Biasanya terjadi di wilayah perairan Atlantik Barat, Pasifik Timur dan Selatan, Samudra Hindia, serta Australia. Pada awal tahap pembentukannya, suhu permukaan laut yang hangat akan menyebabkan sistem tekanan rendah di wilayah tersebut. Akibatnya, terbentuklah kumpulan awan-awan konvektif (awan Cumulonimbus).  Awan-awan tersebut kemudian membentuk sabuk melingkar. Tekanan udara permukaan akan menurun mencapai kurang dari 1000 milibar (mb). Sementara itu, kecepatan angin maksimum akan meningkat hingga mencapai lebih dari 60 km/jam.

Pada tahap selanjutnya, bentuk siklon tropis cenderung lebih stabil. Di pusat siklon, terbentuk suatu wilayah dengan kecepatan angin yang relatif rendah dan tanpa awan. Wilayah ini disebut mata siklon. Mata siklon dikelilingi dengan dinding berbentuk cincin yang dapat mencapai ketebalan hingga 16 km. Di wilayah ini juga terdapat kecepatan angin tertinggi dan curah hujan terbesar.

Siklon tropis berbentuk seperti spiral yang di dalamnya terdapat aktivitas awan, angin, dan badai petir. Angin kencang yang berputar di dekat pusatnya mempunyai kecepatan lebih dari 63 km/jam. Masa hidup siklon tropis berkisar antara 3 sampai 18 hari dan akan melemah dan hilang saat bergerak memasuki wilayah perairan yang dingin atau daratan.

Faktor ketiga adalah fenomena perubahan iklim global dalam hal ini terjadinya pemanasan global yang berdampak pada kenaikan muka air laut secara global akibat pencairan es di kutub. Pemanasan global dipicu oleh peningkatan gas-gas rumah kaca di atmosfer terutama gas karbon dioksida yang dihasilkan dari hasil pembakaran bahan bakar fosil untuk keperluan industri dan akibat deforstasi.

Faktor keempat adalah fenomena La Nina yang menyebabkan tingginya curah hujan. Fenomena La Nina muncul karena kolam air hangat di Samudera Pasifik bergeser ke arah barat Samudera Pasifik dekat dengan perairan Indonesia yang mendorong tingginya penguapan sehingga menimbulkan potensi hujan lebat.

Kondisi curah hujan menjadi ekstrim karena di waktu yang bersamaan terjadi fenomena La Nina juga disertai kemunculan siklon tropis. Wilayah perairan pantai di Maluku Utara, termasuk Kota Ternate menerima dampak yang cukup signifikan karena berada di bibir perairan Samudera Pasifik.  

Faktor kelima adalah aktivitas  monsoon. Di mana posisi matahari saat ini berada di belahan bumi selatan  menyebabkan  terjadinya tekanan udara rendah  di Australia dan tekanan udara tinggi di Asia. Hal ini ini juga membuat angin  bertiup  dari Benua Asia ke Benua Australia,  melewati wilayah Indonesia  mengandung banyak uap air menimbulkan peningkatan curah hujan, umumnya pada  Desember hingga Februari.

Aiir laut yang naik dan merusak fasilitas umum di Pantai Kota Baru Ternate Slatan (foto capture video yang beredar di medsos)

Akumulasi dari beberapa faktor tersebut di atas yang secara bersamaan terjadi, menyebabkan air laut meluap sampai ke daratan. Lalu sampai kapan fenomena ini akan berakhir? Prediksi air meluap ke daratan akan berlangsung sampai satu minggu ke depan. Adapun cuaca ekstrim  berupa hujan lebat,  angin kencang dan gelombang  tinggi bisa sampai Januari mendatang.

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Anak Muda Ternate akan Dapat Ilmu Gratis Soal Medsos

    • calendar_month Jum, 30 Nov 2018
    • account_circle
    • visibility 252
    • 0Komentar

    Kolaborasi  Greeneration- Kedubes Amerika dan  Kabarpulau    Sebuah kesempatan langka diperoleh anak muda Ternate dan sekitarnya. Di tengah perkembangan  internet yang luar biasa,  diikuti hadirnya media social  dalam keseharian hidup masyarakat,    sangat rugi jika  tidak menambah pengetahuan soal pemanfaatannya. Untuk menambah pengetahuan itu tiga lembaga berkolaborasi mendatangkan pemateri untuk kegiatan tersebut.  Kerjasama Greeneration Foundation  Kedutaan […]

  • Warga Hasilkan Produk Pangan dari Sagu dan Enau

    • calendar_month Kam, 11 Mar 2021
    • account_circle
    • visibility 284
    • 0Komentar

    Cerita KTH Mandiri Sejati Manfaatkan Hasil Hutan Warga yang tergabung dalam kelompok tani hutan (KTH) memanfaatkan pohon sagu dan enau menghasilkan berbagai produk makanan sekaligus jadi sumber pendapatan warga.   Seperti dilakukan oleh KTH  Mandiri Sejati  Ake Tobato Kelurahan Loleo Oba Tengah Kota Tidore Kepulauan  ini. Mereka mengolah dan menghasilkan beragam  produk bahan makanan dari dua […]

  • Writing Challenge Kawan GNFI

    • calendar_month Kam, 17 Nov 2022
    • account_circle
    • visibility 267
    • 0Komentar

    Halo Pembaca Setia GNFI! Ada kabar bahagia nih, sekarang situs Good News From Indonesia (GNFI) membuka kembali kesempatan bagi Kawan yang ingin menyalurkan karya tulisannya. Nah, dalam rangka memeriahkan kehadiran Kawan kembali, kami mengajak Kawan untuk ikut Writing Challenge Kawan GNF dengan mengusung tema “Kabar Baik dari Daerahku” ✨ dengan sub-tema Local Heroes, Sosial Budaya, […]

  • Galala, Identitas Kampung yang Terancam Punah

    • calendar_month Kam, 16 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 644
    • 2Komentar

    Daun Pohon Galala

  • Pertanian Organik hingga Rencana Agrowisata di Ternate

    • calendar_month Sen, 7 Mar 2022
    • account_circle
    • visibility 442
    • 3Komentar

    OM Nami di kebun cabe miliknya

  • KKP Kepulauan Sula Kaya Potensi Belum Terkelola Baik

    • calendar_month Kam, 13 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 398
    • 0Komentar

    Kawasan konservasi Kepulauan Sula di Kabupaten Kepulauan Sula  di Provinsi Maluku Utara mencakup enam kecamatan, yaitu Kecamatan Sanana, Kecamatan Sulabesi Tengah, Kecamatan Sulabesi Timur, Kecamatan Mangoli Utara Timur, Kecamatan Mangoli Timur, dan Kecamatan Mangoli Tengah. Terdapat 35 desa di enam kecamatan  masuk di dalam wilayah konservasi  Kepulauan Sula. KKP Sula yang masuk dalam Taman Pesisir […]

expand_less