Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Fenomena Meluapnya Air Laut hingga Daratan

Fenomena Meluapnya Air Laut hingga Daratan

  • account_circle
  • calendar_month Ming, 5 Des 2021
  • visibility 896

Kenaikan  air laut yang terjadi di beberapa wilayah pantai Kota Ternate  sejak   Sabtu 4 Desember 2021 sore hingga malam tadi, tidak hanya menjangkau bibir pantai, tetapi meluap hingga ke daratan.  Kejadian ini juga menyebabkan sejumlah sarana umum dan pemukiman warga dekat  pantai rusak parah. Lalu fenomena apa yang menyebabkan terjadinya luapan air hingga mencapai daratan tersebut?

Berikut penjelasan Dr, Najamuddin Ahli Oceanografi dan Staf Pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Khairun Ternate.    

Faktor pertama adalah  kejadian pasang air laut. Puncak kenaikan air laut melalui kejadian air pasang terjadi dua kali dalam sebulan yaitu setiap bulan mati/bulan baru dan bulan purnama dalam penanggalan Hijriah. Tepat hari ini  1 Jumadil Awwal yang merupakan bulan baru sehingga terjadi kenaikan air pasang maksimal. Ini adalah fenomena umum yang terjadi setiap bulannya sehingga masyarakat tidak perlu panik namun tetap waspada.

Faktor kedua  adalah kemunculan siklon tropis yang merupakan fenomena hidrometeorologi. Di tahun 2021 ini muncul beberapa kejadian siklon tropis seperti Siklon Tropis Odette di Samudera Hindia bagian Selatan Jawa Barat, Siklon Tropis Surigae di Samudera Pasifik di bagian Utara Papua, dan Siklon Tropis Seroja di Nusa Tenggara Timur yang merupakan bibit dari siklon tropis 99S. Siklon Tropis Seroja terpantau melalui Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) berada di Laut Sawu sebelah barat daya Pulau Timor, 10.0 LS – 122.7 BT dan Samudera Hindia sebelah barat daya Pulau Timor, di titik koordinat 11.3 LS – 120.4 BT.

Pada bulan Desember muncul siklon tropis Teratai di dekat perairan wilayah Indonesia. Siklon tropis Teratai merupakan siklon yang berkembang dari bibit siklon 92S. Siklon tropis Teratai mulai terbentuk di sekitar Samudera Hindia sebelah barat daya Lampung, tepatnya di posisi 9,5 LS 101,9 (sekitar 600 Km sebelah barat daya Tanjung Karang) BT pada tanggal 1 Desember 2021 pukul 19.00 WIB.


Dampak kemunculan siklon tropis akan mempengaruhi pertumbuhan awan hujan dan peningkatan kecepatan angin yang berdampak pada ketinggian gelombang air laut sehingga wilayah Indonesia secara umum akan mengalami hujan lebat hingga ekstrim dan pada saat yang bersamaan disertai angin kencang yang menimbulkan gelombang tinggi hingga mencapai 6 meter sehingga ketika mencapai wilayah pantai meluap hingga ke daratan.

Seperti namanya, siklon tropis tumbuh di perairan sekitar wilayah tropis yang memiliki suhu permukaan laut hangat lebih dari 26,5oC. Biasanya terjadi di wilayah perairan Atlantik Barat, Pasifik Timur dan Selatan, Samudra Hindia, serta Australia. Pada awal tahap pembentukannya, suhu permukaan laut yang hangat akan menyebabkan sistem tekanan rendah di wilayah tersebut. Akibatnya, terbentuklah kumpulan awan-awan konvektif (awan Cumulonimbus).  Awan-awan tersebut kemudian membentuk sabuk melingkar. Tekanan udara permukaan akan menurun mencapai kurang dari 1000 milibar (mb). Sementara itu, kecepatan angin maksimum akan meningkat hingga mencapai lebih dari 60 km/jam.

Pada tahap selanjutnya, bentuk siklon tropis cenderung lebih stabil. Di pusat siklon, terbentuk suatu wilayah dengan kecepatan angin yang relatif rendah dan tanpa awan. Wilayah ini disebut mata siklon. Mata siklon dikelilingi dengan dinding berbentuk cincin yang dapat mencapai ketebalan hingga 16 km. Di wilayah ini juga terdapat kecepatan angin tertinggi dan curah hujan terbesar.

Siklon tropis berbentuk seperti spiral yang di dalamnya terdapat aktivitas awan, angin, dan badai petir. Angin kencang yang berputar di dekat pusatnya mempunyai kecepatan lebih dari 63 km/jam. Masa hidup siklon tropis berkisar antara 3 sampai 18 hari dan akan melemah dan hilang saat bergerak memasuki wilayah perairan yang dingin atau daratan.

Faktor ketiga adalah fenomena perubahan iklim global dalam hal ini terjadinya pemanasan global yang berdampak pada kenaikan muka air laut secara global akibat pencairan es di kutub. Pemanasan global dipicu oleh peningkatan gas-gas rumah kaca di atmosfer terutama gas karbon dioksida yang dihasilkan dari hasil pembakaran bahan bakar fosil untuk keperluan industri dan akibat deforstasi.

Faktor keempat adalah fenomena La Nina yang menyebabkan tingginya curah hujan. Fenomena La Nina muncul karena kolam air hangat di Samudera Pasifik bergeser ke arah barat Samudera Pasifik dekat dengan perairan Indonesia yang mendorong tingginya penguapan sehingga menimbulkan potensi hujan lebat.

Kondisi curah hujan menjadi ekstrim karena di waktu yang bersamaan terjadi fenomena La Nina juga disertai kemunculan siklon tropis. Wilayah perairan pantai di Maluku Utara, termasuk Kota Ternate menerima dampak yang cukup signifikan karena berada di bibir perairan Samudera Pasifik.  

Faktor kelima adalah aktivitas  monsoon. Di mana posisi matahari saat ini berada di belahan bumi selatan  menyebabkan  terjadinya tekanan udara rendah  di Australia dan tekanan udara tinggi di Asia. Hal ini ini juga membuat angin  bertiup  dari Benua Asia ke Benua Australia,  melewati wilayah Indonesia  mengandung banyak uap air menimbulkan peningkatan curah hujan, umumnya pada  Desember hingga Februari.

Aiir laut yang naik dan merusak fasilitas umum di Pantai Kota Baru Ternate Slatan (foto capture video yang beredar di medsos)

Akumulasi dari beberapa faktor tersebut di atas yang secara bersamaan terjadi, menyebabkan air laut meluap sampai ke daratan. Lalu sampai kapan fenomena ini akan berakhir? Prediksi air meluap ke daratan akan berlangsung sampai satu minggu ke depan. Adapun cuaca ekstrim  berupa hujan lebat,  angin kencang dan gelombang  tinggi bisa sampai Januari mendatang.

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pulau-pulau Makin Terancam Sampah Plastik

    • calendar_month Sab, 19 Nov 2022
    • account_circle
    • visibility 784
    • 0Komentar

    Kawasan Pasir Putih di Morotai Tertutupi Sampah Pulau-pulau di Maluku Utara saat ini sangat terancam dengan sampah. Terutama sampah yang masuk ke laut  dan kemudian kembali ke pantai.  Ada beragam jenis sampah ditemui di tepi pantai. Plastic terutama kantong kresek, botol bekas minuman, sachet  berbagai makanan ringan dan beragam kebutuhan lainnya. Tidak itu saja ada […]

  • Bahan dan Para Pembuat Tikar Pandan yang Makin Langka

    • calendar_month Sen, 1 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 1.184
    • 0Komentar

    Elisa nusa menggulung daun buro buro yang nanti dibuat kokoya

  • Orang Tobaru dan Tradisi Menanam

    • calendar_month Jum, 5 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 1.055
    • 2Komentar

    Hari masih pagi. Jarum jam baru menunjukan pukul 07.25 WIT. Jumat (19/2) pagi  itu,  Rin Bodi (49) dan   suaminya    Lius Popo (57) sudah meninggalkan rumah menuju kebun dan dusun kelapa  yang berada kurang lebih 3 kilometer dari desa Podol Kecamatan Tabaru Kabupaten Halmahera Barat. Podol sendiri adalah satu dari 16 desa  di kecamatan Tabaru  yang […]

  • Awas Bahaya Limbah Tailing Nikel di Balik Transisi Energi

    • calendar_month Sab, 16 Agu 2025
    • account_circle
    • visibility 894
    • 34Komentar

    Cerita  Film Dokumenter Ungkap Korban Nyawa dan Lingkungan Indonesia, merupakan negara produsen nikel terbesar dunia dengan kontribusi 54%–61% pasokan global (diproyeksikan meningkat hingga 74% pada 2028). Sering disebut sebagai kunci transisi energi global,namun, di balik narasi optimisme hilirisasi tambang, mengintai ancaman yang jarang disorot: limbah beracun industri nikel yang mengancam lingkungan dan kesehatan manusia. Di […]

  • 55 Pulau Kecil Digempur Tambang dan Sawit Tak Dibahas Capres

    • calendar_month Rab, 20 Feb 2019
    • account_circle
    • visibility 1.203
    • 0Komentar

    Isyu  Keselamatan Rakyat dan Lingkungan  di Pesisir  serta Pulau- Pulau Kecil Terlewatkan Debat calon presiden putaran kedua tentang Energi, Pangan, Infrastruktur, Lingkungan Hidup, dan Sumber Daya Alam pada 17 Februari 2019 lalu disaksikan ratusan juta pasang rakyat Indonesia di layar   layar kaca  stasiun televisi. Dari debat itu ternyata masih menyisahkan sejumlah pertanyaan penting soal kadar […]

  • Ini 13 Komitmen Pengelolaan Pesisir dan Pulau Kecil di Indonesia

    Ini 13 Komitmen Pengelolaan Pesisir dan Pulau Kecil di Indonesia

    • calendar_month Jum, 8 Des 2023
    • account_circle
    • visibility 857
    • 0Komentar

    Konferensi Nasional ke-11 Pengelolaan Sumber Daya Laut, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil (Konas Pesisir XI)  27 – 29 November lalu di Pontianak, Kalimantan Barat menghasilkan Deklarasi Pontianak. Hasilnya, menyerukan 13 komitmen bersama pemangku kepentingan dalam sinergitas Pengelolaan Pesisir, Pulau-Pulau Kecil dan Laut  yang Terukur dan Berkelanjutan untuk Ekonomi Biru. Dikutip dari KKP.go.id, Konas Pesisir XI melibatkan lebih […]

expand_less