Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Fenomena Meluapnya Air Laut hingga Daratan

Fenomena Meluapnya Air Laut hingga Daratan

  • account_circle
  • calendar_month Ming, 5 Des 2021
  • visibility 907

Kenaikan  air laut yang terjadi di beberapa wilayah pantai Kota Ternate  sejak   Sabtu 4 Desember 2021 sore hingga malam tadi, tidak hanya menjangkau bibir pantai, tetapi meluap hingga ke daratan.  Kejadian ini juga menyebabkan sejumlah sarana umum dan pemukiman warga dekat  pantai rusak parah. Lalu fenomena apa yang menyebabkan terjadinya luapan air hingga mencapai daratan tersebut?

Berikut penjelasan Dr, Najamuddin Ahli Oceanografi dan Staf Pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Khairun Ternate.    

Faktor pertama adalah  kejadian pasang air laut. Puncak kenaikan air laut melalui kejadian air pasang terjadi dua kali dalam sebulan yaitu setiap bulan mati/bulan baru dan bulan purnama dalam penanggalan Hijriah. Tepat hari ini  1 Jumadil Awwal yang merupakan bulan baru sehingga terjadi kenaikan air pasang maksimal. Ini adalah fenomena umum yang terjadi setiap bulannya sehingga masyarakat tidak perlu panik namun tetap waspada.

Faktor kedua  adalah kemunculan siklon tropis yang merupakan fenomena hidrometeorologi. Di tahun 2021 ini muncul beberapa kejadian siklon tropis seperti Siklon Tropis Odette di Samudera Hindia bagian Selatan Jawa Barat, Siklon Tropis Surigae di Samudera Pasifik di bagian Utara Papua, dan Siklon Tropis Seroja di Nusa Tenggara Timur yang merupakan bibit dari siklon tropis 99S. Siklon Tropis Seroja terpantau melalui Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) berada di Laut Sawu sebelah barat daya Pulau Timor, 10.0 LS – 122.7 BT dan Samudera Hindia sebelah barat daya Pulau Timor, di titik koordinat 11.3 LS – 120.4 BT.

Pada bulan Desember muncul siklon tropis Teratai di dekat perairan wilayah Indonesia. Siklon tropis Teratai merupakan siklon yang berkembang dari bibit siklon 92S. Siklon tropis Teratai mulai terbentuk di sekitar Samudera Hindia sebelah barat daya Lampung, tepatnya di posisi 9,5 LS 101,9 (sekitar 600 Km sebelah barat daya Tanjung Karang) BT pada tanggal 1 Desember 2021 pukul 19.00 WIB.


Dampak kemunculan siklon tropis akan mempengaruhi pertumbuhan awan hujan dan peningkatan kecepatan angin yang berdampak pada ketinggian gelombang air laut sehingga wilayah Indonesia secara umum akan mengalami hujan lebat hingga ekstrim dan pada saat yang bersamaan disertai angin kencang yang menimbulkan gelombang tinggi hingga mencapai 6 meter sehingga ketika mencapai wilayah pantai meluap hingga ke daratan.

Seperti namanya, siklon tropis tumbuh di perairan sekitar wilayah tropis yang memiliki suhu permukaan laut hangat lebih dari 26,5oC. Biasanya terjadi di wilayah perairan Atlantik Barat, Pasifik Timur dan Selatan, Samudra Hindia, serta Australia. Pada awal tahap pembentukannya, suhu permukaan laut yang hangat akan menyebabkan sistem tekanan rendah di wilayah tersebut. Akibatnya, terbentuklah kumpulan awan-awan konvektif (awan Cumulonimbus).  Awan-awan tersebut kemudian membentuk sabuk melingkar. Tekanan udara permukaan akan menurun mencapai kurang dari 1000 milibar (mb). Sementara itu, kecepatan angin maksimum akan meningkat hingga mencapai lebih dari 60 km/jam.

Pada tahap selanjutnya, bentuk siklon tropis cenderung lebih stabil. Di pusat siklon, terbentuk suatu wilayah dengan kecepatan angin yang relatif rendah dan tanpa awan. Wilayah ini disebut mata siklon. Mata siklon dikelilingi dengan dinding berbentuk cincin yang dapat mencapai ketebalan hingga 16 km. Di wilayah ini juga terdapat kecepatan angin tertinggi dan curah hujan terbesar.

Siklon tropis berbentuk seperti spiral yang di dalamnya terdapat aktivitas awan, angin, dan badai petir. Angin kencang yang berputar di dekat pusatnya mempunyai kecepatan lebih dari 63 km/jam. Masa hidup siklon tropis berkisar antara 3 sampai 18 hari dan akan melemah dan hilang saat bergerak memasuki wilayah perairan yang dingin atau daratan.

Faktor ketiga adalah fenomena perubahan iklim global dalam hal ini terjadinya pemanasan global yang berdampak pada kenaikan muka air laut secara global akibat pencairan es di kutub. Pemanasan global dipicu oleh peningkatan gas-gas rumah kaca di atmosfer terutama gas karbon dioksida yang dihasilkan dari hasil pembakaran bahan bakar fosil untuk keperluan industri dan akibat deforstasi.

Faktor keempat adalah fenomena La Nina yang menyebabkan tingginya curah hujan. Fenomena La Nina muncul karena kolam air hangat di Samudera Pasifik bergeser ke arah barat Samudera Pasifik dekat dengan perairan Indonesia yang mendorong tingginya penguapan sehingga menimbulkan potensi hujan lebat.

Kondisi curah hujan menjadi ekstrim karena di waktu yang bersamaan terjadi fenomena La Nina juga disertai kemunculan siklon tropis. Wilayah perairan pantai di Maluku Utara, termasuk Kota Ternate menerima dampak yang cukup signifikan karena berada di bibir perairan Samudera Pasifik.  

Faktor kelima adalah aktivitas  monsoon. Di mana posisi matahari saat ini berada di belahan bumi selatan  menyebabkan  terjadinya tekanan udara rendah  di Australia dan tekanan udara tinggi di Asia. Hal ini ini juga membuat angin  bertiup  dari Benua Asia ke Benua Australia,  melewati wilayah Indonesia  mengandung banyak uap air menimbulkan peningkatan curah hujan, umumnya pada  Desember hingga Februari.

Aiir laut yang naik dan merusak fasilitas umum di Pantai Kota Baru Ternate Slatan (foto capture video yang beredar di medsos)

Akumulasi dari beberapa faktor tersebut di atas yang secara bersamaan terjadi, menyebabkan air laut meluap sampai ke daratan. Lalu sampai kapan fenomena ini akan berakhir? Prediksi air meluap ke daratan akan berlangsung sampai satu minggu ke depan. Adapun cuaca ekstrim  berupa hujan lebat,  angin kencang dan gelombang  tinggi bisa sampai Januari mendatang.

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Malut Masuk 10 Provinsi yang Terus Alami Deforesfasi

    • calendar_month Sab, 19 Mar 2022
    • account_circle
    • visibility 834
    • 2Komentar

    Hutan yang berada di sejumlah pulau di Maluku Utara    terus alami deforestasi. Walau lajunya cenderung turun, faktanya hingga kini masih banyak  pulau  yang kehilangan tutupan hutannya. Data Yayasan Auriga Nusantara, menunjukan tutupan hutan alam nasional di Indonesia mencapai 88 juta hektare. Dari angka tersebut, 80% berada di 10 provinsi kaya-hutan, seperti Papua, Papua Barat, Kalimantan […]

  • Alokasi PS- TORA dan Pelepasan HPK-TP Perlu Kajian Mendalam

    • calendar_month Jum, 5 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 825
    • 0Komentar

    Aktivitas menanam KTH Ake Guraci yang memperoleh Izin seluas 100 hektar foto Juliaty penyuluh Ps

  • Desentralisasi  atau  Sentralisasi  Kelautan?

    • calendar_month Rab, 28 Feb 2024
    • account_circle
    • visibility 830
    • 2Komentar

    Penulis: Abdul Motalib Angkotasan  Mahasiswa S3 IPB dan Dosen Ilmu Kelautan  Universitas  Khairun   Otonomi daerah yang dicetuskan sejak 2001 bertujuan mendistribusikan kewenangan pusat ke daerah. Termasuk pengelolaan sumberdaya alam kelautan. Sejak berlakunya UU No 32/2004 tentang pemerintahan daerah, hak pengelolaan laut berada di tangan pemerintah daerah kabupat/kota. Kabupaten/Kota mengelola wilayah lautnya sejauh 0-4 mil […]

  • Menguak Kekayaan Tersembunyi dari Ternate (1)

    • calendar_month Sab, 17 Feb 2024
    • account_circle
    • visibility 766
    • 1Komentar

    Seri Tulisan Mengungkap Kehidupan Liar Gamalama    Cerita tentang Ternate dengan segala keunikannya, sudah banyak diulas. Tidak hanya dalam tulisan dan gambar bergerak (video dan film,red). Perjalanan waktu pulau dan isinya juga banyak dikisahkan melalui buku sejarah, novel hingga cerita lisan  turun- temurun. Jika diselami lebih dalam, di pulau ini akan ditemukan  begitu banyak kekayaan […]

  • Ini Hasil Kajian Climate Right Internasional

    • calendar_month Kam, 18 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 798
    • 1Komentar

    Proyek Nikel Raksasa di Halmahera Rusak  Lingkungan, Iklim dan  Pelanggaran HAM Hasil kajian yang dikeluarkan Climate Right Internasional di Jakarta pada Kamis 17 Januari 2024  menyebutkan  industri nikel raksasa bernilai milyaran dollar di Maluku Utara dan pertambangan nikel di sekitarnya telah melanggar hak asasi penduduk lokal, termasuk Masyarakat Adat, menyebabkan deforestasi yang signifikan, pencemaran udara […]

  • Ini Hasil Riset Scooping Nikel untuk Electric Vehicle (EV)

    • calendar_month Sen, 11 Des 2023
    • account_circle
    • visibility 682
    • 1Komentar

    Indonesia Belum  Punya Roadmap Hulu-Hilir Maluku Utara adalah salah satu wilayah di Indonesia  yang dikaruniai kekayaan sumber daya alam melimpah, salah satunya nikel. Hampir seluruh perut bumi  Halmahera dan pulau-pulau kecil lainya menyimpan kekayaan tambang nikel. Karena itu tidak salah terdapat tiga kawasan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dijadikan pusat pengolahan nikel, termasuk salah satunya […]

expand_less