Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Kuso Endemik Ternate, Terus Diburu untuk Dikonsumsi

Kuso Endemik Ternate, Terus Diburu untuk Dikonsumsi

  • account_circle
  • calendar_month Sen, 5 Feb 2024
  • visibility 1.138

Perburuan kuso mata biru yang juga salah satu hewan endemic pulau Ternate,  benar- benar massive. Akibatnya  hewan bermata unik ini semakin sulit ditemukan. Pengakuan sejumlah warga di Pulau Ternate yang bertempat tinggal di kawasan barat  pulau, menjelaskan bahwa kuso  ini sudah jarang terlihat sekarang.

Jaib Sadek warga Sulamadaha Kota Ternate mengaku, dulu  hamper setiap saat kuso jenis ini sering  ditemukan. Bahkan  sampai mendatangi pohon  buah tak jauh dari pemukiman. Tetapi sekarang ini hewan tersebut sudah sangat jarang terlihat. Dia mengaku tidak tahu penyebabnya. Meski begitu dia curiga, karena ada sebagian orang menangkap dan mengkonsumsinya. “Sering kali ada yang bawa senapan angin dan menembaknya,”ujarnya. Dia mengaku, jika hamper setiap saat  berburu kuso ini tetap dilakukan baik terang- terangan maupun  sembunyi sembunyi.

Apa yang disampaikan warga Sulamadaha ini ada benarnya. Terbukti dengan adanya laporan yang diterima Kantor Seksi  BKSDA  Kota Ternate   yang terpaksa menjemput empat warga  dan diperiksa intensif.

“Pada  23 Januari 2024 kami periksa satu orang. Sebelumnya ada warga Takome  tahan para pemburu kuso tersebut kemudian melapor ke kami (BKSDA,red),” jelas Kepala Seksi BKSDA Ternate Abas Hurasan.   

Pihaknya  mendapatkan informasi dari warga Takome yang menahan   4 orang   lakukan perburuan terhadap kuskus di wilayah itu.  Mereka kemudian  dibawa ke kantor  untuk diminta  keterangan.  Ternyata kata Abas mereka menangkap kus-kus itu untuk dikonsumsi. Mereka beralasan  tidak tahu bahwa kus-kus Ternate itu masuk jenis dilindungi.

“Mereka  hanya  kami  berikan pembinaan sekaligus membuat pernyataan dan senjata yang mereka gunakan kami tahan,” jelas Abas.  

Kalau dilihat kondisi kus-kus  mata biru di Ternate kelihatannya sudah langka. Pihaknya  sering berpatroli untuk pencegahan. Tetapi selalu saja ada yang memburu hewan ini.

Untuk memastikan populasi hewan ini di Pulau Ternate  dan Tidore untuk tahun ini akan mereka lakukan kajian.Tahun ini rencananya di Tidore. Sementara untuk di Pulau Ternate akan diusulkan tahun depan.  

“Kami rencana kegiatan survey di Ternate itu tahun depan mudah-mudahan BKSDA wilayah Maluku dan Malut  menyetujui usulan tersebut,” harapnya.

Sementara Kepala Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pulau Ternate dan Tidore Ibrahim Tuhater dihubungi kabarpulau.co.id/ mengaku    belakangan ini memang marak perburuan kus kus terutama mata biru yang adalah endemik Ternate. Hal ini katany  perlu upaya bersama dan kolektif terutama untuk para aktivis lingkungan, Perlu  mendorong berbagai pihak peduli pada hewan yang masuk langka dan terancam ini. Dia bilang memang perlu ada  gerakan   dari pecinta lingkungan, namun perlu diinisiasi pemerintah.  Posisi KPH Ternate Tidore sendiri katanya  dari tahun lalu telah menyurat ke seluruh kelurahan untuk melarang warganya lakukan perburuan satwa.  Bukan hanya kus kus tapi juga satwa lain terutama endemik Maluku Utara.

“Kita sudah sampaikan surat resmi ke masing-masing kelurahan di kota Ternate untuk melarang warganya melakukan aksi penangkapan maupun membunuh satawa  terutama yang masuk endemic Malut termasuk kus kus dan hewan lainya termasuk jenis burung,” jelasnya.  

Sekadar diketahui ancaman terhadap hewan endemic sebenarnya tidak hanya karena masivenya perburuan. Masifnya pembangunan dan padatnya pemukiman selalu menjadi alasan status hewan endemik makin terancam, terutama seperti Kuskus mata biru ini.

Sekadar diketahui,  kuskus mata biru adalah hewan endemik  dari Pulau Ternate, Maluku Utara. Hewan omnivora pemakan serangga, daun, dan buah. Orang Ternate menyebutnya kuso atau nama  latinnya Phalanger matabiru. Hewan ini memiliki  kantung mata besar dan berwarna biru. Beda dengan kuskus  daerah lain seperti  dari Sulawesi  yang  bermata hitam. ‘Keberadaanya juga sudah langka. Di Ternate,  selain karena perburuan juga karena  ekosistemnya  makin terancam. Terutama karena  bertambahnya pemukiman dan dibukanya  hutan ke daerah puncak pulau Ternate.  

Salah satu kawasan yang   jadi rumah Kuskus mata biru adalah di Kelurahan Takome yang juga  salah satu kawasan  ekowisata di Kota Ternate yakni Pulo Tareba.  Hewan nokturnal  dan   menyendiri ini beberapa spesies  telah dikategorikan kritis, terancam punah dan menuju kepunahan.

Lebih dari 18 jenis kuskus di Indonesia berstatus dilindungi.  Internasional Union Conservation of Nature (IUCN) memasukan kuskus dalam redlist (buku merah) sebagai hewan vulnerable atau terancam   dan juga terdaftar dalam CITES Appendiks II. Dalam  daftar ini spesies ini berpotensi terancam punah  apabila diperdagangkan tanpa pengaturan.

Kuskus   telah dilindungi sejak tahun 1990 melalui Peraturan Perburuan Binatang Liar (PPBL) Nomor 226/1931, Undang-Undang Nomor 5/1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, dan Undang-Undang Nomor 7/1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • “Oji” Si Yakis Bacan akan Dikembalikan ke Alam Liar

    • calendar_month Rab, 10 Mar 2021
    • account_circle
    • visibility 984
    • 0Komentar

    Seekor monyet atau “yakis Bacan” berjenis kelamin laki-laki yang dipelihara oleh salah satu warga Guraping Kecamatan Oba Kota Tidore Kepulauan, akhirnya diamankan pihak petugas Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata. Yakis Bacan ini   selanjutnya diserahkan ke Balai Konservasi Sumber daya Alam (BKSDA) untuk dirawat sebelum dilepas ke alam liar. Pengambilan  satwa dilindungi ini dilakukan petugas dari […]

  • Kala Pantai Kota Ternate Nyaris Habis karena Reklamasi

    • calendar_month Rab, 20 Feb 2019
    • account_circle
    • visibility 1.433
    • 0Komentar

    Beberapa  kawasan di Kota Ternate yang dulunya masih memiliki pantai  dengan pasir pantainya yang menawan kini nyaris habis  karena adanya reklamasi.  Tengoklah ke kawasan selatan kota Ternate  di wilayah  Kayu Merah dan Kalumata.  Proyek reklamasi yang dikerjakan sepanjang  2017 lalu itu mulai merambah  pantai kawasan itu.  Bahkan proyek rekmalasi   untuk tahap berikutnya  dalam program multi year segera […]

  • Cerita Miris Warga Pulau Terluar Kota Ternate (2) Habis

    • calendar_month Ming, 10 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 845
    • 1Komentar

    Dari Ibu Hamil Melahirkan di Perjalanan hingga Menelpon Harus Jalan 9 Kilometer    Terlalu banyak yang mesti direkam dari perjalanan jurnalistik 4 hari di Pulau Mayau Kecamatan Batang Dua akhir Agustus 2023 lalu. “Sebagai kecamatan yang berada di pulau terluar memiliki banyak masalah. Soal air, jalan sarana komunikasi sarana kesehatan dan banyak lagi,” kata Plt […]

  • Dua Masalah di Tiga Pulau Halmahera Selatan   

    • calendar_month Jum, 11 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 989
    • 3Komentar

    Transportasi Tak  Aman, Energi Terbarukan Tak Terurus Jika Anda berangkat menuju  bagian Selatan Halmahera Maluku Utara, menuju  gugusan pulau Guraici,  Moari dan Kasiruta maka akan menyinggahi kampong- kampong di pulau tersebut.  Akhir Juli 2023 tepatnya 25 hingga 1 Agustus lalu kabarpulau.co.id/  mendatangi  beberapa pulau di kawasan itu, dalam satu tugas liputan mengenai pemanfaatan sumberdaya energy […]

  • Literasi Keuangan Nelayan, Seperti Apa?

    • calendar_month Rab, 15 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 640
    • 1Komentar

    Kegiatan Literasi Keuangan Nelayan yang dilakukan MDPI di Seram Maluku foto MDPI

  • Senjakala Hutan dan Lahan di Maluku Utara

    • calendar_month Sen, 19 Okt 2020
    • account_circle
    • visibility 995
    • 0Komentar

    WALHI: 2019 Malut Kehilangan 7.041 Ha Hutan Primer Maluku Utara terdiri dari pulau-pulau. Ada yang menyebut jumlahnya 805, dimana  berpenghuni  85 pulau  dan tak berpenghuni  723 pulau. Ada  juga data yang menyebutkan  jumlah pulau di Maluku Utara  ada1474. Dari jumlah itu 89 berpenghuni dan 1385 tidak berpenghuni.  Terlepas dari data jumlah pulau yang masih diperdebatkan, […]

expand_less