Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Malut » Ocean Eye akan Diuji Coba di Morotai

Ocean Eye akan Diuji Coba di Morotai

  • account_circle
  • calendar_month Ming, 11 Okt 2020
  • visibility 716

Ocean Eye merupakan aplikasi teknologi keuangan (fintech) inovatif yang dapat digunakan oleh industri pariwisata bahari. Khususnya operator selam dan wisatawan, untuk melaporkan keberadaan spesies karismatik di area KKP serta kawasan serupa lainnya.

Rilis yang dikirimkan pengelola program USAID SEA Maluku Utara diterima kabarpulau.co.id/ menyebutkan,  teknologi ini akan menginformasikan keberadaan spesies karismatik  yang nanti akan menjadi dasar dalam menentukan jumlah donasi kecil untuk masyarakat. Donas ini  sebagai kontribusi dari wisatawan yang berwisata ke daerah pesisir, guna  mendorong perlindungan biota ini.

 Dana ini dapat menjadi pendapatan alternatif dari ekstraksi sumberdaya laut secara langsung, aplikasi ini memungkinkan masyarakat untuk menerima sumber pendapatan dari upaya konservasi yang dilakukan .

“Prototipe pertama Ocean Eye dapat digunakan dan diuji coba lapangan pada triwulan akhir 2020 di Morotai. Morotai adalah salah satu pulau terluar di Indonesia yang terkenal dengan lokasi menyelam bersama hiu,” kata Alan White, Chief of Party Proyek USAID SEA.

 Dia bilang dengan adanya Kawasan Konservasi Perairan (KKP) yang baru dibentuk di Morotai pada tahun 2020 ini, Ocean Eye ingin memberdayakan dan menyediakan insentif kepada masyarakat sekitar dan operator pariwisata untuk mendukung upaya konservasi jangka panjang di daerah tersebut.

Infografis Karang Kokoya Morotai

KKP Rao-Tanjung Dehegila yang baru dibentuk di Morotai ini merupakan salah satu KKP yang di dukung pengembangannya oleh Proyek USAID SEA (2016-2021) yang bekerja sama dengan pemerintah provinsi dan kabupaten dalam merencanakan lokasi dan zona, melakukan survei dasar dan membantu pembuatan rencana pengelolaan KKP.

Kawasan Konservasi Perairan akan mendapat banyak manfaat dari penerapan Ocean Eye” kata Alan White, Chief of Party Proyek USAID SEA.

Di Morotai sendiri saat ini memiliki   tiga operator selam  yaitu Shark Diving Indonesia, Dive Morotai dan GOMO yang telah setuju untuk menggunakan dan mencoba aplikasi Ocean Eye. Selain itu ada juga   tiga komunitas masyarakat lokal yang berada di pulau-pulau kecil di tengah KKP dengan kekayaan keanekaragaman hayatinya, akan menjadi penerima dana jasa ekosistem yang dilakukan oleh wisatawan yang berkunjung. Dia bilang berdasarkan pemodelan dan proyeksi yang dilakukan, serta data pengamatan  yang dikumpulkan selama survei daya dukung pada 2019, dana pembayaran dari pertemuan dengan spesies yang diharapkan ini akan memberikan pendapatan ke masyarakat mencapai US $ 400.000 pada tahun ke-6.

Infografis Keanekragaman Hayati Dodola Kecil

Pada basis harian per penyelam, dana yang dikumpulkan diproyeksikan lebih dari dua kali lipat pada periode berbeda, dari US $4,50 di tahun pertama menjadi US $10,20 di tahun ke-6, mencerminkan peningkatan pertemuan dengan populasi spesies yang pulih dan lebih banyak wisatawan yang mengunjungi Morotai.

Di bawah ini adalah ringkasan rencana penggunaan dana yang akan diterima oleh masyarakat dari dana jasa ekosistem melalui Ocean Eye

Desa Ngele-Ngele berencana untuk menjalankan program konservasi seperti restorasi terumbu karang dan melakukan kegiatan pendidikan dan edukasi peduli lingkungan di sekolah setempat.

 Desa Galo-Galo berencana untuk mendukung kelompok usaha wanita dalam meningkatkan keterampilan, pemasaran dan produksi

Desa Kolorai berencana untuk melakukan pemantauan rutin di Kawasan Konservasi Perairan untuk menjaga wisata bahari tetap lestari dalam upaya mendukung upaya konservasi dan mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat yang berkelanjutan di Kolorai seperti penguatan Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS).

Meskipun pandemi melanda, Morotai tetap menerima beberapa turis penyelam domestik saat ini yang memungkinkan pengumpulan data frekuensi pengamatan berbagai hewan serta menetapkan harga ideal per penglihatan per spesies. Penyaluran dana untuk masyarakat akan menggunakan uang tunai untuk saat ini, tetapi pada percobaan ini,akan pula mengidentifikasi mekanisme transfer digital berbiaya rendah yang paling sesuai untuk daerah tersebut.

Infografis kekayaan bawah laut Galo galo

 Sari Tolvanen CEO Ocean Eye menjelaskan,  setelah uji coba pada triwulan akhir 2020, Ocean Eye akan siap untuk meningkatkan skala global dan membantu mengarahkan upaya konservasi di dunia pariwisata pasca pandemi. “Pandemi telah menunjukkan kepada kita dengan jelas bahwa masyarakat tidak memiliki insentif jangka panjang untuk konservasi, di banyak daerah perburuan satwa liar telah marak terjadi. Ocean Eye kini dapat membantu memastikan bahwa dengan situasi pandemi, tidak harus mengakibatkan hilangnya keanekaragaman hayati” kata Sari Tolvanen.  

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Halmahera Timur, Ayam Mati di Lumbung Padi?

    • calendar_month Sel, 22 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 791
    • 0Komentar

    Kaya Tambang, Kemiskinan Ekstrem dan Stunting Tinggi Pada November 2022 lalu, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)  mengeluarkan sebuah rilis  yang sangat menyayat hati. Rilis  itu mengangkat kondisi riil  kemiskinan ekstrem masyarakat Kabipaten Halmahera Tmur. Tidak itu saja r mengungkap kondisi anak anak yang angka stuntingnya  sangat tinggi di seluruh wilayah Maluku Utara.   Rilis […]

  • Hutan Orang Tobaru Terus Menyusut

    • calendar_month Kam, 11 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 605
    • 0Komentar

    Yusak Bulere (67 tahun) sibuk mengasapi kelapa yang telah diolah menjadi kopra. Saat ditemui di kebunnya Minggu sekira pukul 11.30 WIT pertengahan Februari 2021 lalu, Ayah tiga ini sibuk melemparkan  gonofu  (sabut kelapa dan tempurung kelapa,red) ke dalam api untuk menambah  api bafufu (pengasapan,red). Yusak sejak pagi menunggu kopra matang untuk segera dijual  kepada pedagang  […]

  • Pulau Mitita Surganya Hiu Sirip Hitam

    • calendar_month Sen, 1 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 869
    • 1Komentar

    Kabupaten Pulau Morotai memiliki 33 pulau kecil yang mengelilinginya. Pulau yang tidak berpenghuni berjumlah 26  dan yang berpenghuni   7 pulau. Pulau  yang berpenghuni adalah pulau Morotai (main island), pulau Kolorai, pulau Ngele-ngele kecil, pulau Ngele-ngele besar pulau Golo-golo, pulau Rao, dan pulau Saminyamau. Tahun 2014, Presiden Jokowi menetapkan Pulau Morotai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata […]

  • Titik Nol Jalur Rempah Dunia:(1)

    • calendar_month Sel, 11 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 934
    • 0Komentar

    Cengkih Afo cengkih tertua di dunia. Foto ini adalah gambar cengkoh afo generasi kedua yang sempat diabadikan gambarnya.

  • Harus Ada Kolaborasi Media Dorong Isu Lingkungan

    • calendar_month Jum, 17 Nov 2023
    • account_circle
    • visibility 538
    • 0Komentar

    Masalah lingkungan sudah tak mungkin “tidak” menjadi isu utama. Krisis iklim misalnya yang terjadi sudah sangat berdampak pada kehidupan banyak orang. Karena kondisi ini bukan zamannya lagi media bekerja sendiri-sendiri tetapi harus berkolaborasi mendorong isu penting ini. Wakil Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI)  Upi Asmaradana saat membuka pelatihan “Green Growth Journalism” di Makassar […]

  • Butuh Aksi Nyata Bebaskan Laut Malut dari Sampah Plastik

    • calendar_month Jum, 28 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 625
    • 0Komentar

    Provinsi Maluku Utara memiliki luas mencapai 145.801 km2.  Terdiri dari 69,08 % merupakan lautan dan sisanya 30,92 adalah daratan. Secara geografis perairan Maluku Utara berada dalam Kawasan segitiga terumbu karang (coral triangle). Karena itu, perairan Maluku Utara memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi dan menjadi rumah bagi berbagai  spesies karang, jenis ikan, lumba-lumba dan penyu. […]

expand_less