Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Kisah Esau Sidemo yang Tak Hilang Harapan, 26 Hari Terombang-ambing di Samudera Pasifik

Kisah Esau Sidemo yang Tak Hilang Harapan, 26 Hari Terombang-ambing di Samudera Pasifik

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Kam, 3 Sep 2026
  • visibility 243

Minum Air Laut, Makan Ikan Mentah hingga Ada Petunjuk dari Lumba-lumba  

Fajar mulai menyingsing di ufuk Timur pada Selasa (7/07 2026).  Waktu menujukan pukul 04.30 WIT, Esau Sidemo (57 tahun) bersiap untuk melaut. Dia hendak mencari ikan untuk kebutuhan makan keluarga.Dia lantas menyiapkan berbagai peralatan mancing, mesin dan perahu berkapasitas 2 GT bersama bahan bakarnya. Dia kemudian, menuju tempat yang biasa  memancing. Jaraknya kurang lebih 2,5 mil laut dari Desa Bido Kecamatan Pulau Batang Dua, Kota Ternate, Maluku Utara.

Esau yang juga seorang pegawai negeri sipil (PNS)– pegawai di Kantor Camat Pulau Batang Dua itu, berniat   memancing setengah jam hingga  1  jam kemudian pulang,    dan masuk kantor. Karena itu juga, tidak ada bekal dan alat  penting yang dia bawa. Hanya air minum kurang 1 liter. Tidak ada  makanan atau cemilan.

Saat dalam perjalanan dan belum sempat memancing,  mesin  berkapasitas 15 PK yang digunakan  mati  total.  Dia berusaha memperbaiki namun mesin tak bisa hidup.

“Memang saya tidak ada persiapan, karena sudah biasa memancing sebentar lalu pulang. Bekal atau alat cadangan mesin juga tidak ada,” katanya memulai cerita Senin (31/8/2026).

Saat mati mesin juga dia tidak bisa mengontak keluarga dan famili karena tidak ada jaringan telpon. Dia terus berusaha memperbaiki mesinnya. Tak disadari  perahunya sudah terbawa arus cukup jauh  ke laut bebas.

 

Ada Kapal Lewat Tapi Tak Beri  Bantuan

“Saat sudah terang posisi perahu sudah sangat jauh dari Pulau   Batang Dua. Memang ada kapal sabuk  lewat tapi saya panggil panggil mereka jalan terus,” katanya. Siangnya  ada kapal fery  lewat menuju Bitung Sulawesi Utara   tetapi mereka juga tidak sempat memberikan bantuan,”kisahnya.

Ketika  hari makin sore saat perahu makin menjauh  dia mulai pasrah. Apalagi arus laut terus bergerak  membawa keluar jauh perahunya dari daratan. Ayah dua  anak dan empat  cucu ini,  nyaris hilang harapan ketika badai datang. Angin dan gelombang menghantam perahunya.  Malam pun tiba dan dia mulai menjalani hari—hari di atas perahu fiber berkapasitas 2 GT tersebut.

Upaya  memperbaiki mesin tidak membuahkan hasil dan perahu kecil itu mulai terbawa arus, angin, dan gelombang, saat itulah Esau mulai menyadari  dirinya berada dalam situasi berbahaya.

“Dari situ saya berpikir, mungkin Tuhan mengizinkan saya meninggal atas perahu ini,”katanya.

Bertahan Hidup Makan Ikan Mentah, Minum Air Laut 

Ini  pengalaman tak terlupakan oleh  Esau. Niatnya pergi memancing seperti biasa berubah menjadi perjuangan hidup dan mati.  Terombang-ambing seorang diri selama sekitar 26 hari tanpa makanan dan air di atas samudera luas.

Di hari kedua, di tengah ketiadaan makanan dan  bertahan dengan air minum sekira setengah liter, ada keajaiban datang. Ikan masuk dalam perahunya saat tidur di malam hari. Ikan ini dia konsumsi mentah untuk bertahan hidup.

“Kalau saya bilang itu mu’jizat  Tuhan,” ujarnya.

Saat ikan habis dia mencoba melepas alat pancing miliknya dan ada satu ikan  didapat, orang di kampung  biasa menyebutnya  ikan sabel— ikan tipis. Ikan ini dimakan dan usahakan sehemat mungkin.

Pada minggu pertama badan sudah mulai kurus karena tidak ada asupan makanan dan hanya  minum air laut. Meski begitu tetap punya harapan.

Di saat ikan sudah habis, dia menemukan dua buah kelapa  yang hanyut,  lalu  dibelah dan diambil dagingnya  untuk dimakan. Ada satu  daging kelapa busuk tetapi tetap dibersihkan dan dijemur agar tetap bisa dimakan.

Bertahan Hidup dengan Ikan yang Melompat ke Perahu

Hari-hari pertama menjadi ujian berat bagi Esau. Dalam kondisi lapar dan tanpa kepastian kapan akan mendapat pertolongan, ia berusaha mencari makanan dari laut.

Namun, kondisi fisiknya semakin melemah. Ia juga tidak selalu mampu memancing karena pergerakan perahu yang terus terbawa arus dan gelombang.

Di tengah situasi tersebut, sebuah kejadian yang tidak diduganya terjadi.

Seekor ikan tiba-tiba melompat ke dalam perahunya. Ikan pertama yang didapatnya merupakan ikan yang oleh masyarakat setempat disebut ikan layar atau marlin. Ukurannya tidak besar, hanya sekitar satu jengkal.

Ikan tersebut menjadi makanan yang sangat berarti bagi Esau. Beberapa hari kemudian, ia kembali mendapatkan ikan lain yang disebutnya sebagai ikan sabel.

Ikan-ikan tersebut dimanfaatkan sehemat mungkin. Dagingnya dimakan sedikit demi sedikit agar dapat bertahan lebih lama.

Sisa daging dan tulang ikan yang masih dapat dimanfaatkan bahkan dijemur untuk dibuat seperti ikan kering.

“Pokoknya harus hemat karena saya tidak tahu kapan akan mendapat pertolongan,” katanya.

Namun, persediaan tersebut akhirnya habis.

Foto bersama kru kapal, foto Esau

Menemukan Kelapa di Tengah Laut

 Selain ikan, Esau juga menemukan kelapa yang mengapung di laut. Ia menemukan dua buah kelapa. Namun, salah satunya  tidak berisi dan  satunya  tidak layak dimakan  karena busuk.

Meski demikian, Esau tidak langsung membuangnya. Bagian yang rusak dan berjamur dibersihkan. Kelapa   kemudian dijemur agar dapat dikonsumsi. Meskipun kondisinya tidak lagi baik, kelapa itu menjadi tambahan makanan dalam perjuangannya bertahan hidup.

Sementara itu, kondisi tubuh Esau semakin lemah. Memasuki minggu kedua, makanan semakin sulit diperoleh. Ikan pun sudah tidak ada. Ia mulai lebih sering mengandalkan air hujan.

Air Hujan Menjadi Penyelamat

Selama terombang-ambing di laut, Esau beberapa kali mendapatkan hujan. Hujan yang turun tidak selalu berlangsung lama. Namun, setiap kali hujan turun, ia berusaha menampung air sebanyak mungkin.

Air hujan yang didapatnya terkadang bercampur dengan air laut sehingga terasa asin.

Esau kemudian berusaha menyaringnya menggunakan kain atau bahan yang tersedia di perahu.

Air tersebut tetap diminumnya karena tidak ada pilihan lain.

Ia mengaku kondisi tersebut membuat tubuhnya semakin kehilangan tenaga. Namun, secara mengejutkan, ia tidak mengalami penyakit serius.

“Saya bersyukur setiap bangun pagi badan terasa kuat   tidak pernah sakit. Tidak demam, tidak sakit kepala, tidak sakit perut, walaupun saya makan ikan mentah dan minum air yang sudah bercampur air laut,” tuturnya.

Esau Sidemo, saat tiba di Shanghai dan dijemput petugas Imigrasi, foto Esau

Minggu Kedua: Mulai Pasrah

Memasuki minggu kedua, kondisi Esau semakin sulit.

Makanan sudah  tidak ada. Air minum juga sangat terbatas. Tenaga semakin berkurang. Saat-saat itu  ia mulai merasa bahwa hidupnya mungkin akan berakhir di tengah laut.

Dalam kondisi  seperti itu, Esau masih punya harapan dengan doa.Terus memohon kepada Tuhan agar diberikan pertolongan, makanan, dan air.

“Saya sudah pasrah. Saya katakan kepada Tuhan, kalau memang nyawa saya mau diambil, ambil saja. Saya sudah tidak punya makanan, air, dan tenaga,” katanya.

“Namun, setiap kali tertidur dan  bangun  pagi hari,  masih dalam keadaan hidup dan relatif sehat,” katanya.

Hal  ini membuatnya kembali memiliki harapan.

“Saya berpikir, mungkin Tuhan masih mengizinkan saya hidup di dunia,” ujarnya.

Dalam kesendiriannya di tengah  samudera Pasifik itu, pikirannya selalu  tertuju kepada keluarganya di rumah.

Ia juga mengaku teringat ibunya yang selalu mendoakannya, serta anak dan istrinya  di Bido Batang Dua

“Saya berpikir, siapa  mengurus keluarga saya kalau saya tidak kembali?” katanya.

 

Seekor Burung Menjadi Makanan Berikutnya

Memasuki minggu ketiga, sebuah kejadian kembali memberikan harapan hidup.

Seekor burung yang bentuknya menyerupai bebek atau itik tiba-tiba hinggap di atas perahunya.

Esau berhasil menangkap burung tersebut.

Karena ditangkap pada sore hari, ia mengikat burung itu dan baru menyembelih dan mengolahnya keesokan paginya.Burung tersebut kemudian dipotong dan dijadikan makanan.

Sama seperti ikan sebelumnya, Esau tidak langsung menghabiskan daging burung itu. Tapi dagingnya dimakan sedikit demi sedikit.

Sisa daging dan bagian yang masih bisa dimanfaatkan dijemur hingga kering. Dengan cara itu, burung tersebut dapat menjadi sumber makanan selama beberapa hari.

Namun, persediaan itu kembali hampir habis.

Esau kembali hanya bisa berharap kepada Tuhan.

Foto bersama kru kapal yang bekerja di bagian mesin dan pertama melihat Esau, foto Esau

1 Agustus 2026, Kapal Prancis jadi Dewa Penyelamat

Setelah sekitar 26 hari terombang- ambing, pertolongan akhirnya datang.

Hari itu Sabtu, 1 Agustus 2026. Esau berada jauh di kawasan Samudra Pasifik. Posisinya sudah sangat jauh dari wilayah awal tempat ia berangkat.

Sebuah kapal berbendera Prancis yang sedang melakukan perjalanan dari Australia menuju China melintas di kawasan tersebut. Kapal yang menyelamatkan Esau Sidemo adalah kapal kargo   LNG Endeavour, merupakan kapal kargo raksasa berbendera Prancis. Kapal  ini sedang berlayar dari Australia menuju Terminal LNG Yangshan di Shanghai, China.

Meskipun  perahu   Esau   tidak terdeteksi  radar kapal.  kru kapal yang melihat keberadaan Esau secara langsung  di tengah lautan  sehingga akhirnya dia diselamatkan.  

Salah seorang kru kapal yang bekerja di bagian mesin sedang berada di luar ruangan dan kemudian keluar ke area kolam renang.

Dari tempat  kru kapal itu melihat sesuatu yang ternyata merupakan perahu kecil Esau. Jaraknya diperkirakan sekitar 80 hingga 90 meter. Kru  itu kemudian berusaha menarik perhatian awak kapal lain dan memberikan tanda kepada Esau.

Saat itu  kapal yang semula melaju dan sudah melewati perahu Esau akhirnya berbalik.

“Saya waktu itu tidur. Ketika bangun, saya  lihat ada kapal menuju ke arah saya. Semakin dekat, semakin dekat. Kemudian ada kru  melihat saya. Kru yang liat saya itu bernama Raulis,  berkebangsaan Prancis,” cerita Esau.

Saat kapal semakin dekat, Esau mengaku mendapatkan tenaga yang sebelumnya sudah hampir hilang. Ia bahkan mampu melompat dari perahunya dan berenang menuju kapal.

“Saya tidak tahu dari mana tenaga itu. Mungkin karena senang melihat ada pertolongan. Rasanya tenaga saya kembali,” ujarnya.

Bagi Esau, peristiwa tersebut merupakan pertolongan Tuhan yang datang   saat dirinya sudah berada dalam kondisi sangat sulit.

Esau setelah mendapatkan perawatan di atas kapal, foto Esau

Mendapat Perawatan di Kapal

Setelah berhasil dievakuasi, Esau langsung mendapatkan pertolongan dari awak kapal.

Kendala komunikasi sempat menjadi persoalan karena sebagian besar awak kapal menggunakan bahasa Inggris.

Namun, komunikasi akhirnya dapat dilakukan dengan bantuan aplikasi penerjemah di telepon seluler.

Esau kemudian mendapatkan perawatan medis.

Selama berada di perahu kecil, kulit tubuhnya mengalami luka dan kerusakan akibat paparan sinar matahari dalam waktu lama.

Selain panas matahari, kondisi perahu berbahan fiber juga membuat kulitnya mengalami iritasi.

Di atas kapal, ia mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan yang tersedia.

Kapten kapal bersama salah seorang anak buah kapal ikut merawat Esau. Mereka juga berkomunikasi dengan dokter di Prancis untuk mendapatkan petunjuk mengenai penanganan medis yang tepat.

 

Perlahan kondisi Esau membaik.

Sekira enam hingga tujuh hari setelah berada di kapal, tenaganya mulai kembali.

Ia mulai mendapatkan makanan yang cukup dan bergizi, termasuk susu, buah-buahan, serta makanan lainnya.

Setelah sebelumnya bertahan dengan ikan, kelapa, burung, dan air hujan, Esau akhirnya dapat kembali makan dengan normal.

 

Banyak Kejadian Aneh

Selama di tengah laut, Esau juga mengaku mengalami beberapa kejadian yang menurutnya sulit dijelaskan.

Salah satunya  ketika  melihat sebuah kapal dengan lampu yang sangat terang pada malam hari.

Dia sempat memberikan tanda menggunakan senter dengan harapan kapal  itu melihat keberadaannya.

Namun, tidak ada respons.

Kapal itu kemudian terlihat semakin dekat, sebelum akhirnya menghilang dari pandangannya.

Dalam  kesempatan lain, Esau mengaku pernah melihat daratan dengan pasir putih. Ia sempat merasa sangat senang karena mengira telah menemukan daratan.

Namun, ketika perahunya semakin mendekati lokasi tersebut, pemandangan itu tiba-tiba menghilang.

Dalam hati saya ini sudah jalan Tuhan  mempertemukan dengan daratan, ternyata semakin dekat hamparan pasir  putih itu mengilang,” cerita Esau.

Pengalaman tersebut membuatnya bingung.

Esau juga mengaku pernah melihat tiga ekor lumba-lumba yang berenang melewati perahunya.

Menurut pengamatannya, ketiga lumba-lumba tersebut bergerak ke arah timur.

Saat itu, arah perahu Esau juga bergerak menuju timur setelah terbawa arus di kawasan Samudra Pasifik.

Ia kemudian menganggap kemunculan tiga lumba-lumba tersebut sebagai menjadi petunjuk menuju arah datangnya pertolongan.

Tidak lama setelah itu, ia akhirnya ditemukan oleh kapal yang menyelamatkannya.

Tiba di Shanghai dan Dipulangkan ke Indonesia

Setelah Esau ditemukan  kapal tersebut kemudian melanjutkan perjalanan hingga tiba di Shanghai, China.Kurang lebih 12 hari. Setelah tiba di pelabuhan, Esau menjalani proses pemeriksaan oleh petugas imigrasi.

Pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI)  juga datang menjemputnya.

Esau dibawa ke fasilitas kesehatan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan sebelum dipersiapkan kembali ke Indonesia.

Ia kemudian tinggal sekitar dua hari di Shanghai.

Setelah seluruh proses administrasi dan pemeriksaan selesai, Esau dipulangkan ke Indonesia.

Sesampainya di Jakarta, ia  dijemput oleh keluarganya.

Pertemuan dengan keluarga menjadi momen  sangat berarti setelah lebih dari tiga minggu berada di laut dan menghadapi ketidakpastian hidup.

Tiba di Ternate sempat dikunjungi Wali kota Ternate Tauhid Soleman

Melaut untuk Hobi, Kini Masih Trauma

Sebelum kejadian   Esau mengaku rutin  memancing. Namun, aktivitas itu  hanya merupakan hobi.Ia biasanya pergi memancing pada dini hari dan kembali sebelum memulai aktivitas kantor.Jaraknya  memancing dari daratan juga relatif dekat, sekitar dua mil laut.

Ia biasanya hanya sekitar setengah jam. Jika mendapatkan ikan, ia membawanya pulang. Jika tidak mendapatkan ikan, ia tetap kembali.

Karena itu, ia tidak pernah membayangkan aktivitas sederhana tersebut akan berubah menjadi pengalaman hidup dan mati selama 26 hari.

Kini,   Esau  masih  trauma. Ia belum berani kembali melaut karena masih terbayang  kejadian itu.

Kepulangannya ke Ternate Esau Sidemo juga dijenguk oleh Kapolda Maluku Utara Irjen. Pol. Arif Budiman dan pejabat Polda lainnya, foto Esau Sidemo

“Masih berat untuk melaut. Masih terbayang   kejadian itu,”katanya.

Pesan untuk Nelayan

Dari pengalaman  ini, Esau mengingatkan para nelayan agar tidak menganggap remeh aktivitas melaut, meskipun hanya  mencari ikan atau sekadar hobi.

Menurutnya, persiapan menjadi hal penting sebelum melaut.Bekal makanan dan air minum yang cukup, alat komunikasi, perlengkapan keselamatan, serta pemantauan kondisi cuaca merupakan hal yang harus diperhatikan.

“Kalau melaut harus ada persiapan. Untuk keselamatan harus selalu diperhatikan. Kondisi laut juga harus dilihat,” ujarnya.

Apa yang dialami Esau menjadi pengingat bahwa kondisi laut dapat berubah sewaktu- waktu. Perjalanan yang semula hanya direncanakan singkat berubah menjadi perjuangan panjang antara hidup dan mati.

Bagi Esau, 26 hari di tengah laut bukan hanya tentang bagaimana bertahan dari lapar dan haus, tetapi juga tentang mempertahankan harapan.

Di tengah keterbatasan makanan, air, tenaga, dan tanpa kepastian kapan pertolongan datang, ia memilih terus berdoa.

Akhirnya, setelah 26 hari terombang ambing di tengah samudera Pasifik dan  hampir kehilangan harapan, sebuah kapal yang semula tidak melihatnya justru berbalik arah  menolongnya dan membawa Esau kembali ke rumah dan keluarganya. (*)

Penulis: Rahmatulhaj  Jurnalis, wartawan Kabarpulau.co.id

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tubagus Soleh Ahmadi Calon Direktur Eksekutif Nasional WALHI

    • calendar_month Sel, 19 Agu 2025
    • account_circle
    • visibility 939
    • 18Komentar

    Keputusan ini Karena Amanah Perjuangan Kolektif Tubagus Soleh Ahmadi atau yang biasa disapa Bagus resmi ditetapkan sebagai salah satu Calon Direktur Eksekutif Nasional WALHI periode 2025–2029. Penetapan ini  melalui Surat Keputusan Panitia Pengarah PNLH XIV WALHI Nomor: 07/PP/PNLH-XIV/VIII/2025 tertanggal 15 Agustus 2025. Setelah lolos seluruh tahapan seleksi, termasuk verifikasi administrasi, uji publik, dan uji kompetensi. […]

  • Pulau Sumba Jadi Titik Nol Penetapan Hari Keadilan Ekologi   Dunia

    Pulau Sumba Jadi Titik Nol Penetapan Hari Keadilan Ekologi Dunia

    • calendar_month Sel, 23 Sep 2025
    • account_circle Mahmud Ici
    • visibility 878
    • 0Komentar

    Pulau Sumba yang dikenal dengan nama tanah humba   atau tanah marapu, menjadi titik nol ditetapkannya, hari Keadilan Ekologi dunia atau World EcologicaJustce Day. Hari penting ini digagas oleh Wahana Ligkungan Hidup Indonesia (WALHI) pada Sabtu 20 September 2025 bertepatan dengan kegiatan pertemuan nasional lingkungan  hidup (PNLH) WALHI ke XIV yang  dipusatkan di Kota Waingapu […]

  • Ketika Bantuan Nelayan Ternate Dipersoalkan  

    • calendar_month Sel, 28 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 781
    • 2Komentar

    Alat tangkap milik nelayan sangaji yang rata rata dibuat sendiri foto M Ichi

  • 153 Pulau Kecil Ditambang, 6  Ada di Maluku Utara   

    • calendar_month Rab, 9 Jul 2025
    • account_circle
    • visibility 1.954
    • 0Komentar

    Berapa jumlah pasti pulau kecil dan sangat kecil di Indonesia yang saat ini dieksploitasi terutama kandungan tambangnya?  Jawaban pemerintah,   ternyata mencapai ratusan pulau. Dikutip dari Liputan6.com,   Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengungkapkan ada 370 Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang tersebar di 153 pulau-pulau kecil di Indonesia. Dari jumlah izin di pulau kecil itu  ada yang […]

  • Berbagai Pihak Bedah Air Tanah Pulau Ternate

    • calendar_month Ming, 3 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 753
    • 1Komentar

    DPRD: RPJPD dan RPJMD Harus Akomodir Masalah Sumberdaya Air Komunita Besa ma Cahaya Kota Ternate Kamis (1/9/2023) malam, menggelar  Focus Group Discussion (FGD) membahas tema Cinta Tanah Air? Konservasi AirTanah, Selamatkan Airtanah Ternate.  FGD  ini sebgai bagian dari tindaklanjut kegiatan sedekah air hujan yang dilaksanakan komunitas Besa ma Cahaya baik di Kota Ternate maupun Pulau […]

  • Raja Ampat dan Halmahera, Surga yang Terluka di Timur Indonesia

    • calendar_month Sen, 9 Jun 2025
    • account_circle
    • visibility 851
    • 0Komentar

      Penulis Badrun Ahmad Dosen Universitas Khairun Di ujung  timur Indonesia, terbentang  gugusan pulau karang nan memesona: Raja Ampat. Hamparan atol dan atolnya yang berkilau di atas lautan biru jernih menjadikannya salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. Lebih dari 500 spesies karang dan ribuan spesies ikan menjadikan Raja Ampat sebagai laboratorium […]

expand_less