Breaking News
light_mode
Beranda » Laut dan Pesisir » Ketika Bantuan Nelayan Ternate Dipersoalkan  

Ketika Bantuan Nelayan Ternate Dipersoalkan  

  • account_circle
  • calendar_month Sel, 28 Feb 2023
  • visibility 792

Sudah  rahasia umum, bantuan untuk rakyat kecil selalu menuai masalah. Terutama yang dikhususkan bagi  warga  berkemampuan ekonomi terbatas, petani dan nelayan. Tidak sedikit bantuan  itu tidak tepat sasaran bahkan  disalah gunakan.

Dalam hal bantuan alat tangkap nelayan misalnya, selalu menuai protes. Meski tidak secara langsung  disampaikan ke pemerintah, namun dari praktek yang dilakukan ketika bantuan turun dan tidak sesuai penerimanya, selalu jadi polemik.

Seperti disuarakan beberapa nelayan kecil Kelurahan Sangaji Kota Ternate Utara. Mereka mempertanyakan  penyaluran bantuan alat tangkap nelayan perahu fiber dan mesin 15 PK  yang dibagikan tahun 2022 maupun pada tahun- tahun sebelumnya. Mereka mempertanyakan karena  selalu  tidak kebagian. Padahal mereka adalah   nelayan yang  keluar melaut dini hari dan pulang siang hingga sore.   

Bantuan itu dikeluhkan karena  mereka yang teridentifikasi bukan nelayan malah dapatkan bantuan. Sejumlah nelayan yang sehari hari menangkap ikan pelagis besar dan  kecil di laut sekitar pulau Ternate dan Halmahera itu mengungkapkan,    hamper setiap tahun  bantuan langsung dalam   bentuk alat tangkap sering memunculkan masalah terutama ketepatan  siapa sebenarnya yang berhak menerima bantuan.

 Idhar Ma’rus salah satu nelayan  kelurahan Sangaji mengatakan sudah banyak bukti  bantuan yang salah sasaran tersebut. Saat disalurkan bantuan alat tangkap berupa perahu 1 GT  dilengkapi mesinnya ternyata  bukan diterima nelayan.  Setelah bantuan diserahkan alat tangkap itu hanya menjadi sarana hiburan  mancing  hiburan  saat liburan. Dia bilang ada bantuan yang saat ini dijangkarkan di Kawasan pantai Sangaji, setelah diterima sudah hamper  dua bulan ini hanya dibiarkan begitu saja. Mesinya dibungkus dan ditarik ke kawasan pantai Sangaji.

 “Ada body perahu  yang diterima setelah itu dibiarkan begitu saja  tidak dipakai melaut,” katanya sambal menunjuk perahu yang diparkir  di Kawasan Sangaji  Pantai itu. Dia mengaku tak kenal siapa yang dapatkan bantuan itu karena bukan nelayan yang ada di Sangaji.

Dia  ungkapkan bantuan untuk nelayan   di Kelurahan Sangaji  semisal alat tangkap jarang didapatkan. Alat tangkap yang kebanyakan merupakan usaha mereka sendiri. Sementara  bantuan yang diberikan oleh pemerintah didapatkan orang  yang sebenarnya tidak berhak menerimanya.

“Kami contohkan saja beberapa tahun lalu ada pegawai bank  dapat bantuan alat tangkap. Bahkan  mereka yang  tidak berada di pesisir pantai  dan bukan nelayan juga dapat bantuan. Jadi alat tangkap tersebut hanya jadi sarana hiburan karena pekerjaan mereka  bukan sebagai nelayan,” katanya awal Februari 2023 lalu. Dia lantas  cerita,  jika bantuan alat tangkap yang tak tepat sasaran itu banyak tersebar di kota Ternate, tidak hanya yang dijangkarkan di Pantai Kelurahan Sangaji.      

kapa nelayan milik nelayan kelurahan sangaji

Dia contohkan ada beberapa alat tangkap yang dibagikan kepada mereka yang bukan nelayan, akhirnya terbiar percuma. “Saya lihat sendiri ada alat tangkap  body fiber  yang  dijangkarkan  sejak 2017 lalu sampai sekira tahun lalu masih ada.Jarang  dipakai untuk mengangkap ikan,” katanya.

Sementara Risno juga nelayan Sangaji mengatakan bantuan alat tangkap kebanyakan salah sasaran. Padahal  mereka yang benar benar nelayan sangat membutuhkan  alat tangkap  tersebut. “Kita   yang nelayan asli ini mau beli BBM saja sudah susah kenapa tidak dibantu  dengan alat tangkap seperti itu. Malah yang  dapat  diketahui kolega pejabat atau tim sukses.” katanya.

Dia lantas mempertanyakan kepada instansi terkait, apakah selama ini tidak  tidak dikroscek  penerima bantuan itu nelayan atau bukan. “Yang sebenarnya mereka mesti mengecek  penerimanya nelayan atau  pegawai. Jika tidak dilakukan,  maka praktek seperti ini tetap terjadi,” ujarnya.

Perahu bantulan yan sudah berbulan bulan tak digunakan dan ditarik di kawasan pantai Sangaji disoal nelayan Sangaji, foto M Ichi

Sebelumnya Senin (26/12/22) akhir tahun lalu. Wali Kota Ternate Dr. M. Tauhid Soleman, M.Si secara simbolis menyerahkan bantuan armada penangkap ikan kepada masyarakat kelompok nelayan di Kota Ternate. Penyerahan tersebut dilakukan di Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ternate dan dihadiri juga  Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Faisal H. Danu Husein dan jajaran.

Bantuan yang diserahkan untuk kelompok nelayan  itu  bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Alokasi Umum (DAU) tahun 2022. Bantuan  sebesar 3 miliar,   itu  terdiri dari, armada penangkap ikan tuna 2 GT sebanyak 7 unit, armada penangkapan ikan tuna 3 GT sebanyak 9 unit, mesin 15 PK sebanyak 17 unit, alat tangkap sebanyak 40 paket serta coolbox PC 600 sebanyak 30 unit. Sedangkan bantuan yang bersumber dari DAU sebesar Rp 800 juta terdiri dari, armada penagkapan ikan 2 GT sebanyak 2 unit, armada penangkapan ikan 3 GT sebanyak 13 unit, armada penangkapan ikan 1,5 GT sebanyak 1 unit, mesin 30 PK sebanyak 3 unit, rumpon sebanyak 1 unit, jaring sebanyak 1 paket. “Bantuan ini diserahkan untuk kelompok nelayan di dalam wilayah Kota Ternate, dan tiga Kecamatan di luar pulau Ternate,”  

Wali Kota Ternate, M Tauhid Soleman dalam sambutannya menyampaikan, Pemkot Ternate terus berupaya memberdayakan masyarakat Ternate termasuk kelompok-kelompok nelayan, meski dengan keterbatasan APBD.

Wali Kota berharap, pembiayaan melalui DAU untuk kelompok nelayan ini, dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat Ternate, karena salah satu penyumbang inflasi terbesar bagi Kota Ternate adalah harga ikan yang terbilang mahal. https://ternatekota.go.id/berita/pemkot-ternate-beri-bantuan-3-miliar-untuk-kelompok-nelayan)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Climate Rangers Bersama Orang Muda Sedunia Serukan Hentikan Energi Fosil

    Climate Rangers Bersama Orang Muda Sedunia Serukan Hentikan Energi Fosil

    • calendar_month Sen, 10 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 902
    • 0Komentar

    Catatan dari COP 30 di Brazil   Di tengah meningkatnya dampak krisis iklim dan melambatnya komitmen negara-negara untuk menekan suhu bumi di bawah 1,5°C, orang muda dunia menyatukan suara mereka. Melalui Global Youth Statement (GYS), ribuan orang muda dari lebih dari 150 negara menyerukan perubahan arah kebijakan iklim global menuju transisi energi yang adil, pendanaan […]

  • Tak Ada Zonasi Wilayah jadi Problem Ekowisata

    • calendar_month Sab, 16 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 739
    • 0Komentar

    Kawasan ekowisata Taman Love di puncak Moya dikuatirkan memunculkan masalah baru soal keterbukaan akses yang bisa memicu ikutya pemukiman ke kawasan ini yang masuk kawasan rawan bencana III.

  • Dugaan Korupsi Gubernur Malut, KPK Harus Sasar Praktik Korupsi Sektor Tambang  

    • calendar_month Sen, 25 Des 2023
    • account_circle
    • visibility 761
    • 3Komentar

    Thabrani: Petinggi Harita Tersangka jadi Jalan Masuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan Gubernur Maluku Utara, Abdul Gani Kasuba (AGK), sebagai tersangka korupsi lelang jabatan dan pengadaan barang dan jasa. KPK telah menetapkan 7 orang tersangka yang terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) pada Senin, 18 Desember 2023 lalu. Selain Gubernur  Malut, ada  6 tersangka lainnya, […]

  • BMKG: Elnino Menguat Waspadai Kekeringan, Karhutla dan Angin Kencang

    BMKG: Elnino Menguat Waspadai Kekeringan, Karhutla dan Angin Kencang

    • calendar_month Sel, 28 Jul 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 169
    • 0Komentar

    Angin Kencang di Maluku Utara  Masih Terjadi  Direktorat  Meteorologi   Publik  Badan Meteorlogi  Klimatologi  dan Geofisika  (BMKG)  menyampaikan   hasil pemantauan  pada  dasarian II Juli  2026,  menunjukkan   musim kemarau  terus meluas dan kondisi  kering  semakin mendominasi wilayah Indonesia. Curah hujan kategori  rendah tercatat  mencakup  92,93% wilayah, sedangkan kategori menengah sebesar 6,63%  dan  kategori  tinggi hanya 0,45%.  Kondisi […]

  • Keanekaragaman Hayati Teluk Buli Terancam

    • calendar_month Sel, 9 Jan 2018
    • account_circle
    • visibility 767
    • 0Komentar

    Butuh Perlindungan Serius Berbagai Pihak  Di seluruh  dunia, keragaman hayati semakin cepat musnah. Meski  demikian, persebaran keragaman hayati maupun ancamannya tidak merata. Karena itu organisasi konservasi perlu memusatkan kegiatan mereka pada tempat- tempat yang paling penting dan paling terancam punah. Salah satu caranya dengan melakukan identifikasi hotspot. Ini menjadi salah satu cara paling efektif menentukan […]

  • Kondisi Lingkungan Maluku Utara Butuh Perhatian

    • calendar_month Rab, 17 Jun 2020
    • account_circle
    • visibility 2.045
    • 0Komentar

    Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2020 ini mengambil  tema  “Time For Nature” yang mengajak  penduduk dunia menyadari bahwa makanan yang dimakan, air yang diminum, dan ruang hidup di planet yang ditinggali adalah sebaik-baiknya manfaat dari alam (nature) sehingga harus dijaga kelestariannya. Sayangnya apa yang didengungkan ini  berbanding terbalik dengan kondisi  saat ini.  Di Provinsi Maluku […]

expand_less