Breaking News
light_mode
Beranda » Lingkungan Hidup » Pulau- pulau di Malut Kaya Sumberdaya Hayati

Pulau- pulau di Malut Kaya Sumberdaya Hayati

  • account_circle
  • calendar_month Rab, 9 Jun 2021
  • visibility 644

LIPI Temukan Empat Spesies Baru Kumbang

Hutan dan alam pulau-pulau di Maluku Utara benar benar kaya sumberdaya hayati. Terbaru sesuia hasil publikasi yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)  ada  temuan  empat speies baru jenis kumbang. Atas  temuan ini semakin mengukuhkan bahwa hutan dan alam  di Maluku Utara kaya dan menjadi laboratorium   riset untuk pengembangan  ilmu pengetahuan di masa depan.   

Dikutip dari LIPI.go.id empat spesies baru kumbang Chafer (Coleoptera: Scarabaeidae) dari genus Epholcis ditemukan di Maluku Utara oleh peneliti Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Peneliti yang mempublikasikan temuannya itu adalah, Raden Pramesa Narakusumo bersama Michael Balke dari Zoologische Staatssammlung München, Jerman.

Keempat spesies baru tersebut adalah Epholcis acutus, Epholcis arcuatus, Epholcis cakalele, dan Epholcis obiensis. Selanjutnya satu lectotipe yaitu Maechidius moluccanus Moser, dipertelakan kembali dan dipindahkan (synonymy) ke marga  Epholcis  sebagai  Epholcis moluccanus (Moser). Publikasi temuan ini juga   dimuat dalam Jurnal Treubia Vol. 46 yang terbit pada Desember 2019 lalu.

Hingga saat ini tercatat sudah sepuluh spesies Epholcis yang berhasil ditemukan. Enam diantaranya teridentifikasi tahun 1957 oleh Britton di New Queensland dan New South Wales, Australia. Sedangkan empat spesies baru yang ditemukan ini merupakan catatan baru di wilayah Indonesia dan berasal dari Kepulauan Maluku Utara yaitu, Halmahera, Obi, dan Ternate. “Dari bukti ini terlihat kesenjangan utama spesies Epholcis di wilayah Papua karena belum pernah ada laporan sebelumnya. Kemungkinan  karena pendeskripsian beberapa spesies Epholcis  sebagai  Maechidius masih kurang seksama, adanya kemiripan kedua kumbang tersebut dan kurangnya pengumpulan spesimen,” ujar Pramesa.

Pramesa menjelaskan, kumbang  Epholcis merupakan serangga malam (nocturnal) yang memakan daun pohon Eucalyptus di Australia dan juga bunga cengkeh (Syzigium sp.). “Sedangkan di Maluku, keduanya memakan tumbuhan dari familia Myrtaceae  atau jambu jambuan,” jelasnya.

Dikutip dari  jurnal  Jurnal Treubia Vol. 46 yang terbit pada Desember 2019 lalu  dalam riset berjudul Four  New Species  of Waterhouse , 1875  (Coleoptera  : Scarabaeidae: Melolonthinae: Maechindiini ) From  The Moluccas  Indonesia  oleh  Raden Pramesa Narakusumo   and Michael Balke,  menyebutkan bahwa  Suku kumbang chafer Maechidiini (Coleoptera: Melolonthinae) berisi  tujuh yakni genus: Epholcis Waterhouse, 1875, Harpechys Britton, 1957, Maechidius Macleay, 1819, Microcoenus Britton, 1957, Microthopus Burmeister, 1855,  Paramaechidius Frey, 1969 dan Termitophilus Britton, 1957.  Kumbang ini tersebar dari Australia hingga pulau-pulau di sebelah timur Garis Weber, Nugini dan Kepulauan Maluku (Moser, 1920; Moser, 1926; Britton, 1957, 1959; Frey, 1969; Prokofiev, 2018; Weir et al., 2019).

Tiga spesies Maechidiini telah direkam dari Wallacea: yakni Maechidius peregrinus Lansberge, 1886, di Sulawesi Selatan, Maechidius moluccanus Moser, 1920, dari pulau Gorom dan Paramaechidius agnellus Prokofiev, 2018, dari pulau Seram (Prokofiev, 2018). Ada lima spesies Epholcis yang diketahui dari Australia (Britton, 1957), tetapi sampai saat ini tidak ada catatan tentang genus ini dari New Guinea atau Wallacea.

Hutan Pulau Halmahera kekayaan sumberdayahayati tak terkira, foto opan jacky

Dalam koleksi Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) dan Museum Leiden (RMNH), ditemukan empat spesies Maechidiini yang belum terdeskripsikan dari Kepulauan  Maluku Utara  yang  ditetapkan ke dalam genus Epholcis.

“Kami juga mendeskripsikan ulang Maechidius moluccanus Moser, 1920 berdasarkan lektotipe yang ditunjuk di sini dan mentransfernya ke Epholcis,” jelasPrames lagi. 

Genus Epholcis dan Maechidius mirip satu sama lain, tetapi Britton (1957) menggunakan karakter diagnostik dari hipomera pronotal diperpanjang yang membentuk kantong untuk penerimaan antena untuk membedakan Maechidius dari Epholcis. Di Maechidius moluccanus,  tidak ditemukan tepi bebas hipomera pronotal untuk membentuk kantong khusus. Oleh karena itu,  dipindahkan spesies ini ke Epholcis.  “Kami menggambarkan empat spesies baru dari koleksi MZB dan RMNH setelah meneliti karakter morfologi, terutama alat kelamin laki-laki, dan membandingkannya  dengan Maechidiini lainnya dalam koleksi BMNH, NHMB dan ZMB,” jelasnya  dalam dokumen riset tersebut.

Sebaran Epholcis di Kepulauan Maluku dan Maluku Utara adalah Ternate, Halmahera, Obi, dan Pulau Gorom. Mereka dapat ditemukan dari permukaan laut hingga 700 m.(*)  

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Masyarakat Adat Terancam  Program Biofuel

    Masyarakat Adat Terancam  Program Biofuel

    • calendar_month Sen, 17 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 582
    • 0Komentar

    Ikrar Belém 4x akan Sia-Sia bila Hutan dan Masyarakat Adat terus Dieksploitasi Bersama lebih dari 1.900 organisasi masyarakat sipil yang tergabung dalam Climate Action Network (CAN), Greenpeace menolak “Belém 4x Pledge,” inisiatif guna melipatgandakan produksi bahan bakar berkelanjutan (biofuel) hingga empat kali lipat dalam satu dekade mendatang. Kepala Kampanye Solusi untuk Hutan Global Greenpeace, Syahrul […]

  • KLHK dan Warga Tanam Mangrove di Desa Toseho Tidore Kepulauan

    • calendar_month Kam, 8 Feb 2024
    • account_circle
    • visibility 870
    • 2Komentar

    Penanaman pohon secara serentak seluruh Indonesia    dilakukan juga di Maluku Utara pada Rabu 7/2/2024). Kegiatan  Kementerian  Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) itu, dihadiri Staf Khusus Menteri LHK, Kelik Wirawan Wahyu Widodo mewakili Menteri LHK Siti Nurbaya. Hadir juga  pejabat dan pegawai  instansi di bawah KLHK, Dinas Kehutanan provinsi polisi dan TNI serta beberapa instansi pemerintah […]

  • Pemerintah Tetapkan Kawasan Konservasi Perairan PABISAY Halteng-Haltim

    • calendar_month Jum, 11 Jul 2025
    • account_circle
    • visibility 893
    • 2Komentar

    Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia resmi merilis penetapan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Patani – Bicoli – Pulau Sayafi yang disingkat Pabisay  18 Juni 2025 lalu.  Dikutip dari laman KKP. go.id tanggal 11 Juli 2025  keputusan  itu  telah ditandatangani secara elektronik oleh Menteri KKP Sakty Wahyu Trenggono. Di dalam SK itu diputuskan terkait beberapa […]

  • Makna Lelayan Bagi Orang Patani, Maba dan Weda

    • calendar_month Sel, 2 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 1.001
    • 0Komentar

    Leleyan dalam pengertain umum  orang Maluku Utara adalah sebuah gerakan gotong royong yang terus dilestarikan hingga kini.   Tidak sekadar gotong royong,  tradisi ini  adalah  sebuah kecerdasan lokal (local genious) atas pandangan hidup masyarakat. Terutama untuk masyarakat  Patani, Maba dan Weda untuk saling membantu, mengasihi, memberi dukungan, baik materi maupun non materi terhadap dua peristiwa […]

  • Survei Kecil Kondisi Listrik Pulau-pulau di Maluku Utara

    • calendar_month Jum, 19 Agu 2016
    • account_circle
    • visibility 1.443
    • 0Komentar

    Kondisi Listrik Yang Miris,  hingga  Interkoneksi Kabel Bawah Laut Maluku Utara termasuk salah satu provinsi kepulauan dan kelautan di Indonesia. Provinsi ini, berdasarkan data Badan Pusat  Statistik  (BPS) 75 persen wilayahnya adalah  laut dengan dihiasi ribuan pulau. Data terbaru Dinas Kelautan dan Perikanan,  Provinsi Maluku Utara memiliki 875  pulau baik yang sudah memiliki nama maupun […]

  • Ancaman Di Masa Depan Sangat Serius Perlu Kolaborasi Lintas Sektor

    • calendar_month Sab, 14 Mar 2020
    • account_circle
    • visibility 1.044
    • 0Komentar

    Jurnalis dan Aktivis Samakan Persepsi Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim   Dampak perubahan iklim, sudah nyata di depan mata. Berbagai bencana telah terjadi. Tidak  hanya menyababkan korban harta tetapi juga nyawa. Karena itu perlu ada gerakan bersama,  diawali  dengan penyamaan persepsi elemen tingkat atas–pengambil kebijakan, kelompok menengah hingga masyarakat  umum.   Perlu dipahami, perubahan iklim terjadi setidaknya diakibatkan berbagai hal. Laju kerusakan lingkungan yang […]

expand_less