Breaking News
light_mode
Beranda » Lingkungan Hidup » Pulau- pulau di Malut Kaya Sumberdaya Hayati

Pulau- pulau di Malut Kaya Sumberdaya Hayati

  • account_circle
  • calendar_month Rab, 9 Jun 2021
  • visibility 803

LIPI Temukan Empat Spesies Baru Kumbang

Hutan dan alam pulau-pulau di Maluku Utara benar benar kaya sumberdaya hayati. Terbaru sesuia hasil publikasi yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)  ada  temuan  empat speies baru jenis kumbang. Atas  temuan ini semakin mengukuhkan bahwa hutan dan alam  di Maluku Utara kaya dan menjadi laboratorium   riset untuk pengembangan  ilmu pengetahuan di masa depan.   

Dikutip dari LIPI.go.id empat spesies baru kumbang Chafer (Coleoptera: Scarabaeidae) dari genus Epholcis ditemukan di Maluku Utara oleh peneliti Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Peneliti yang mempublikasikan temuannya itu adalah, Raden Pramesa Narakusumo bersama Michael Balke dari Zoologische Staatssammlung München, Jerman.

Keempat spesies baru tersebut adalah Epholcis acutus, Epholcis arcuatus, Epholcis cakalele, dan Epholcis obiensis. Selanjutnya satu lectotipe yaitu Maechidius moluccanus Moser, dipertelakan kembali dan dipindahkan (synonymy) ke marga  Epholcis  sebagai  Epholcis moluccanus (Moser). Publikasi temuan ini juga   dimuat dalam Jurnal Treubia Vol. 46 yang terbit pada Desember 2019 lalu.

Hingga saat ini tercatat sudah sepuluh spesies Epholcis yang berhasil ditemukan. Enam diantaranya teridentifikasi tahun 1957 oleh Britton di New Queensland dan New South Wales, Australia. Sedangkan empat spesies baru yang ditemukan ini merupakan catatan baru di wilayah Indonesia dan berasal dari Kepulauan Maluku Utara yaitu, Halmahera, Obi, dan Ternate. “Dari bukti ini terlihat kesenjangan utama spesies Epholcis di wilayah Papua karena belum pernah ada laporan sebelumnya. Kemungkinan  karena pendeskripsian beberapa spesies Epholcis  sebagai  Maechidius masih kurang seksama, adanya kemiripan kedua kumbang tersebut dan kurangnya pengumpulan spesimen,” ujar Pramesa.

Pramesa menjelaskan, kumbang  Epholcis merupakan serangga malam (nocturnal) yang memakan daun pohon Eucalyptus di Australia dan juga bunga cengkeh (Syzigium sp.). “Sedangkan di Maluku, keduanya memakan tumbuhan dari familia Myrtaceae  atau jambu jambuan,” jelasnya.

Dikutip dari  jurnal  Jurnal Treubia Vol. 46 yang terbit pada Desember 2019 lalu  dalam riset berjudul Four  New Species  of Waterhouse , 1875  (Coleoptera  : Scarabaeidae: Melolonthinae: Maechindiini ) From  The Moluccas  Indonesia  oleh  Raden Pramesa Narakusumo   and Michael Balke,  menyebutkan bahwa  Suku kumbang chafer Maechidiini (Coleoptera: Melolonthinae) berisi  tujuh yakni genus: Epholcis Waterhouse, 1875, Harpechys Britton, 1957, Maechidius Macleay, 1819, Microcoenus Britton, 1957, Microthopus Burmeister, 1855,  Paramaechidius Frey, 1969 dan Termitophilus Britton, 1957.  Kumbang ini tersebar dari Australia hingga pulau-pulau di sebelah timur Garis Weber, Nugini dan Kepulauan Maluku (Moser, 1920; Moser, 1926; Britton, 1957, 1959; Frey, 1969; Prokofiev, 2018; Weir et al., 2019).

Tiga spesies Maechidiini telah direkam dari Wallacea: yakni Maechidius peregrinus Lansberge, 1886, di Sulawesi Selatan, Maechidius moluccanus Moser, 1920, dari pulau Gorom dan Paramaechidius agnellus Prokofiev, 2018, dari pulau Seram (Prokofiev, 2018). Ada lima spesies Epholcis yang diketahui dari Australia (Britton, 1957), tetapi sampai saat ini tidak ada catatan tentang genus ini dari New Guinea atau Wallacea.

Hutan Pulau Halmahera kekayaan sumberdayahayati tak terkira, foto opan jacky

Dalam koleksi Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) dan Museum Leiden (RMNH), ditemukan empat spesies Maechidiini yang belum terdeskripsikan dari Kepulauan  Maluku Utara  yang  ditetapkan ke dalam genus Epholcis.

“Kami juga mendeskripsikan ulang Maechidius moluccanus Moser, 1920 berdasarkan lektotipe yang ditunjuk di sini dan mentransfernya ke Epholcis,” jelasPrames lagi. 

Genus Epholcis dan Maechidius mirip satu sama lain, tetapi Britton (1957) menggunakan karakter diagnostik dari hipomera pronotal diperpanjang yang membentuk kantong untuk penerimaan antena untuk membedakan Maechidius dari Epholcis. Di Maechidius moluccanus,  tidak ditemukan tepi bebas hipomera pronotal untuk membentuk kantong khusus. Oleh karena itu,  dipindahkan spesies ini ke Epholcis.  “Kami menggambarkan empat spesies baru dari koleksi MZB dan RMNH setelah meneliti karakter morfologi, terutama alat kelamin laki-laki, dan membandingkannya  dengan Maechidiini lainnya dalam koleksi BMNH, NHMB dan ZMB,” jelasnya  dalam dokumen riset tersebut.

Sebaran Epholcis di Kepulauan Maluku dan Maluku Utara adalah Ternate, Halmahera, Obi, dan Pulau Gorom. Mereka dapat ditemukan dari permukaan laut hingga 700 m.(*)  

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • BMKG: Elnino Menguat Waspadai Kekeringan, Karhutla dan Angin Kencang

    BMKG: Elnino Menguat Waspadai Kekeringan, Karhutla dan Angin Kencang

    • calendar_month Sel, 28 Jul 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 244
    • 0Komentar

    Angin Kencang di Maluku Utara  Masih Terjadi  Direktorat  Meteorologi   Publik  Badan Meteorlogi  Klimatologi  dan Geofisika  (BMKG)  menyampaikan   hasil pemantauan  pada  dasarian II Juli  2026,  menunjukkan   musim kemarau  terus meluas dan kondisi  kering  semakin mendominasi wilayah Indonesia. Curah hujan kategori  rendah tercatat  mencakup  92,93% wilayah, sedangkan kategori menengah sebesar 6,63%  dan  kategori  tinggi hanya 0,45%.  Kondisi […]

  • Suara Kaum Disabilitas dari Ternate untuk Keadilan Iklim Dunia

    • calendar_month Ming, 31 Agu 2025
    • account_circle
    • visibility 1.065
    • 0Komentar

    Dampak perubahan iklim  bisa menghantam berbagai kelompok. Tidak hanya petani, nelayan, kaum buruh, perempuan dan anak-anak. Salah satu yang turut merasakan  hasil dari proses industrialisasi itu adalah kaum difabel/disabilitas. Sebagai kelompok yang memiliki kebutuhan khusus mereka sangat terdampak dengan  perubahan iklim yang terjadi saat ini. Apalagi untuk mereka yang berada di pesisir dan pulau-pulau seperti […]

  • Titik Nol Jalur Rempah Dunia:(1)

    • calendar_month Sel, 11 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 1.067
    • 0Komentar

    Cengkih Afo cengkih tertua di dunia. Foto ini adalah gambar cengkoh afo generasi kedua yang sempat diabadikan gambarnya.

  • Atasi Sampah, Malut Butuh PLTSa?

    • calendar_month Sel, 28 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 1.114
    • 1Komentar

    Sampah menjadi masalah paling serius. Tidak hanya di kota tetapi juga di  desa- desa di seluruh Indonesia. Dia menjadi masalah dan  sangat mengancam lingkungan dan manusia  terutama sampah plastic. Sampah  jenis ini   sulit terurai  sehingga dilakukan berbagai riset  untuk mengatasi  makin banyaknya sebaran di lingkungan darat maupun laut.   Ada sejumlah cara  mengatasi sampah ini […]

  • Perempuan Mapala Bicara Perubahan Iklim

    • calendar_month Kam, 13 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 2.363
    • 0Komentar

    Soroti  Reklamasi hingga  Sampah Pembalut Wanita  Perkumpukan Paka Tiva Maluku Utara,  sebuah lembaga non profit yang bekerja untuk pendampingan warga  dan concern  untuk isu literasi,  budaya dan ekologi,  menggelar Seri Diskusi Pencinta Alam Maluku Utara.  Diskusi Rabu (12/8) di jarod cafe BTN, adalah   kedua kalinya. Pesertanya  Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala)  dari berbagai perguruan tinggi di […]

  • Merawat Ake Sali, Warisan Air dari Kampung Tua yang Kini Jadi Hutan

    Merawat Ake Sali, Warisan Air dari Kampung Tua yang Kini Jadi Hutan

    • calendar_month Rab, 17 Des 2025
    • account_circle Penulis: Burhanuddin Jamal Warga Kelurahan Tosa Tidore Kepulauan
    • visibility 1.052
    • 0Komentar

    Sebuah Catatan dari Kampung Tomadou Kota Tidore Kepulauan  Di Kota Tidore Kepulauan, tepatnya di Kampung Tomadou Kelurahan Tosa Kecamatan Tidore Timur  memiliki salah satu sumber mata  air yang dikenal dengan Mata Air Ake Sali. Sekitar wilayah  mata air ini dahulunya adalah sebuah perkampungan tua yang dikenal dengan nama Kampung Buku Mira. Warga   Buku Mira ini […]

expand_less